Demi menjalankan sebuah misi penting, Dinda rela melakukan apa saja untuk mendekati tetangga barunya yang super cuek dan dingin.
Tapi setelah dia mendapatkan yang ia inginkan dan berhenti mengejar lelaki itu, lelaki itulah yang berbalik mendekatinya.
Dan ternyata ada rahasia besar di antara keduanya.
jangan lupa like dan komen 💛
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinta Kuning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 (POV Author)
Rangkaian akad nikah telah selesai. Semua keluarga inti sudah berkumpul di meja khusus untuk sarapan bersama. Di hadapan Dinda sudah tersedia berbagai macam makanan yang di ambilkan langsung oleh suaminya.
Jonie yang duduk tidak jauh dari pengantin tersebut geram sendiri dibuatnya, “Dan, lo pengantin atau pelayan sih?” sindir Jonie saat Aydan masih akan mengambil makanan lagi untuk Dinda, sedari tadi ia menahan-nahan untuk berbicara.
Aydan menutup mulutnya, lelaki itu hanya diam, ia tetap fokus dengan pekerjaannya.
“Udah Yang, biarin. Kamu ini ganggu aja.” omel Aira dengan suara hampir berbisik. Mumpung Dinda lupa tentang konser, pikirnya.
“Tapi Sayang—”
“Ini bakso spesial kesukaan istriku.” kata Aydan saat meletakkan mangkok terakhir sebelum duduk di samping Dinda.
Netra gadis itu seketika berbinar, sebab sedari tadi yang suaminya berikan hanyalah makanan sehat yang tidak ia sukai. “Terima kasih, dokter.” ucap Dinda senang, lalu ia mencium pipi Aydan.
Lelaki itu pun tersipu sampai wajahnya memerah, membuat Aira dan Jonie yang memperhatikan mereka, saling pandang.
“Kita bukan pasien dan dokter sekarang, kamu panggil Kakanda seperti biasa. Mengerti, Dindaku?” kata Aydan lagi. Membuat bulu kuduk Jonie merinding.
“Iya, Kakanda.” sahut Dinda biar cepat, ia sudah tidak sabar untuk makan bakso. Hampir dua bulan lamanya ia tidak makan daging yang dibentuk bulat tersebut. “Mana sambalnya?” tanyanya.
“Nggak usah pakai sambal, nanti kamu sakit perut. Ini masih pagi dan masih ada acara lagi setelah ini.” jelas Aydan.
Bibir Dinda mengerucut, mana enak makan bakso kalau tidak pedas, pikirnya.
“Ya udah, nanti Kakanda ambilkan. Kamu tunggu sebentar.” lelaki itu mengalah, ia tidak mau di hari pernikahan mereka istrinya merajuk, ia ingin pastikan sang istri harus bahagia di hari spesial mereka.
Dinda seketika tersenyum lebar, ia mengangguk cepat.
Aydan menunjuk pipinya sebelum bangkit.
Cup. Dinda langsung paham.
Dengan begitu langkahnya semakin ringan untuk mengambilkan keinginan sang istri, meski ia sempat melarang.
Tidak butuh lama, Aydan membawa nampan berisi perlengkapan penyedap bakso. “Ini untuk tuan putri.” ujarnya.
“Terima kasih, dok—Kakanda.” ralat Dinda cepat.
Dan lagi-lagi lelaki itu menunjuk pipinya.
Cup.
Aydan pun tersenyum lebar.
“Sayang, ayo pindah. Kita cari meja lain.” ajak Jonie. Tingkah Aydan benar-benar diluar nalar, dia rasa Aydan sudah kerasukan penunggu pantai karena melamun kemarin.
“Ayo, Yang.” Aira setuju. Ia pun sedari tadi juga khawatir Dinda melabraknya. “Kamu bawa makanan, aku bawa minuman.”
Belum sempat keduanya berdiri, Dinda dengan cepat menoleh. “Jangan kemana-mana ya lo, kita punya banyak urusan dan harus di bahas.” ujar Dinda dengan mata memicing.
“Dan, tolongin Dan.” kata Jonie kepada Aydan. Tapi lelaki itu acuh dan menikmati makanannya sendiri.
“Ayo duduk lagi.” perintah Dinda.
Aira dan Jonie pun terpaksa menurut. Meletakkan kembali makanan dan minuman yang hendak mereka bawa.
Glek! Aira menelan ludah. Ia kira sahabatnya itu tidak ingat.
“Apa aja yang lo bilang sama Kakanda gue?” tanya Dinda.
“Se-semuanya.” cicit Aira.
“Apa?”
Sontak atensi semua orang di meja itu menatap ke arahnya.
“Ada apa, Din?” tanya ibu Elyana.
“Nggak papa, Bu. Aman.” Dinda terkekeh. “Silahkan dilanjutkan sarapannya semuanya.” kata Dinda santun. Ada Abi mertua soalnya.
“Sini lo deket-deket lagi duduknya. Geser sini kursi lo.” titah Dinda.
Sekali lagi Aira menelan ludah, Jonie membantu mendekatkan kursi Aira dengan kursi Dinda.
“Dan tolongin bini gue, Dan.” pinta Jonie.
“Udah biarin Jon, istriku nggak mungkin nyakitin istrimu.” Aydan membalas ucapan Jonie saat di rumah sakit.
Jonie mendengus kesal, sebab Aydan hari ini begitu menyebalkan di matanya.
“Kak Jonie silahkan kembali ke tempatnya ya.” ucap Dinda. Dan lelaki itu mendelik ke arah Aydan yang tersenyum miring mengejeknya.
“Sejak kapan lo jadi pengkhianat, huh?” tanya Dinda sembari mengunyah bakso.
“Sejak dapat undangan, hehe.”
Mata Dinda melotot. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Aira, “Jadi lo udah tau lama? Kok lo nggak bilang sih kalau suami gue Kim Taehyung kw?” bisiknya.
“Semua orang juga sudah kasih lo spil banyak, lo-nya aja yang nggak sadar-sadar, mantan istrinya Kim Taehyung!” jawab Aira kesal.
Dinda berdecak, “Ya mana juga gue bakal kepikiran kesana, karena dalam otak pintar gue ini cuma nonton konser BTS—”
Tubuh Aira membatu karena Dinda tidak menyelesaikan ucapannya, ia tidak berani menoleh ke arah sahabatnya itu.
“Ra, kenapa lo tega bohongin gue?” seloroh Dinda, ia menatap sendu sahabatnya itu.
Aira hanya mampu menggigit bibir dalamnya, ia juga tidak tega. Tapi ini juga demi kebahagiaan hakiki hidup Dinda.
“Terus gimana nasib tiket konser kita, Ra?”
“Udah gue jual.” cicit Aira pendek.
Dinda tertegun.
“Ya dijual lah, emang buat apa lagi. Lagian ada yang nawar dengan harga dua kali lipat. Karena war beli tiket tidak lah mudah Kim Dinda. Gue dulu belinya mudah karena melalui orang dalam.” Aira memberitahu.
“Terus?”
“Gantinya gue beliin tiket bulan madu buat lo ke Korea.”
Dinda melemaskan bahu, pasalnya yang ia inginkan bertemu Kim Taehyung, bukan negaranya.
“Lagian laki lo udah mirip benget nget nget sama Kim Taehyung, mau liat apanya sih? Udah deh lo nggak perlu lagi ketemu sama yang nggak halal.” ujar Aira membuat Dinda mencibir.
“Jon, nanti kamu sama istrimu aku izinkan menginap di kamarku.” ucap Aydan, ia mendengar ucapan Aira. Dan itu sebagai hadiahnya.
“Siap, Dan. Nah itu baru teman gue.” seru Jonie.
Pasalnya, Jonie juga baru saja melaksanakan ijab kabul, mereka sempat meminta ingin menyewa kamar yang Aydan tempati semalam, sebab view-nya di bandingkan dengan kamar yang lain tidak lah sama. Toh, pikirnya Aydan mulai malam ini tidur di kamar Dinda.
“Nah itu satu lagi alasannya gue mantap nggak pergi. Karena gue juga nikah Kim Dinda, emangnya lo aja yang mau nikah?“ kata Aira.
“Kenapa lo tiba-tiba nikah? Lo hamil ya?” selidik Dinda, ia pun membalas ucapan Aira tempo hari.
“Sembarangan! Kita tuh sudah di nasehatin sama ummi Laila, jadi lebih baik kita akad nikah dulu biar nggak dosa. Nanti baru deh ngurus tetek bengek resepsi,” jelas Aira, “Lagian tadi tuh lumayan banget jadi hemat budget nebeng akad nikah di nikahan lo.” Aira tertawa jahat.
Dinda mencibir, anak orang kaya mikirin hemat budget? Sungguh pemikiran yang sia-sia, batinnya.
“Jadi lo sama kak Jonie beneran sudah akad nikah juga? Kapan?” tanya Dinda bingung.
Aira mengangkat tangan dan menunjukkan punggung tangannya, di jari manisnya sudah tersemat cincin kawin bermata berlian, “Tadi kita akad saat lo sedang sibuk dibucinin sama laki lo.”
“Oh ya?” Dinda benar-benar tidak tau.
“Iya, Kim Dinda! Waktu lo heboh mau ke toilet, dan lo minta bantu ibu El tapi laki lo maksa dia aja yang bantu. Nah, saat itu tuh!” jelas Aira, Dinda hanya ber-oh ria. “Jadi waktu dokter Aydan mengurus berkas pernikahan kalian, Ayang gue ‘kan nemenin tuh, jadi sekalian deh ngurus buat yang kita juga.” ceritanya.
Dinda mengangguk-angguk seolah mengerti.
“Jadi udah ya, lo nggak marah lagi sama gue. Tuh Kim Taehyung sudah ada di samping lo, kecintaan banget lagi sama lo.” bisik Aira.
Dinda menoleh ke arah Aydan, dan lelaki itu pun menyadari.
“Kenapa, Dindaku? Butuh sesuatu, ‘uhm?” tanya lelaki itu dengan intonasi selembut sutra, tangannya mengelap pelan sudut bibir Dinda dengan jari jempolnya.
Jonie yang mendengarnya merinding sebadan-badan. Sebab ia juga bucin dengan istrinya bahkan dari sebelum menikah. Tapi baginya Aydan sungguh-sungguh berlebihan. “Huek!” ejeknya.
Dinda melihatnya, “Jadi yang hamil kak Jonie?”
‘Laki bini nyebelin!’ batin Jonie berteriak.
***