NovelToon NovelToon
Membawa Benih Sang Casanova

Membawa Benih Sang Casanova

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Action / Romantis / Mafia
Popularitas:71.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ibu.peri

Demi biaya pengobatan ibunya, Alisha rela bekerja di klub malam. Namun kepercayaannya dikhianati sang sahabat—ia terjerumus ke sebuah kamar hotel dan bertemu Theodore Smith, cassanova kaya yang mengira malam itu hanya hiburan biasa.
Segalanya berubah ketika Theodore menyadari satu kenyataan yang tak pernah ia duga. Sejak saat itu, Alisha memilih pergi, membawa rahasia besar yang mengikat mereka selamanya.
Ketika takdir mempertemukan kembali, penyesalan, luka, dan perasaan yang tak direncanakan pun muncul.
Akankah cinta lahir dari kesalahan, atau masa lalu justru menghancurkan segalanya?
Benih Sang Cassanova

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu.peri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBERI KESEMPATAN

Pintu apartemen terbuka lebar, dan dua wanita muda langsung berdiri terpaku di ambang pintu.

Mata Alisha membelalak. Napasnya tercekat. Rasanya seperti dunia berhenti berputar sesaat, ketika ia melihat pria yang selama ini terus mengusik pikirannya—Theo—sedang duduk santai di sofa ruang tamu… dengan Thea, putri kecilnya, berada di pangkuannya.

"Mommy!! Aunty!!!," Panggil Thea saat melihat Alisha dan Elsa masuk.

Alisha menelan ludah. Ia menoleh cepat ke arah Thea yang masih nyaman duduk di pangkuan Theo, menggenggam permen dengan mata berbinar.

"Thea! Turun dari situ!" seru Alisha, panik sekaligus bingung.

Thea mendongak dengan wajah heran. "Kenapa, Mommy? Ini kan Uncle Bau. Thea kangen, jadi Thea main sama Uncle."

Uncle Bau.

Sebutan itu menghantam dada Alisha lebih keras dari yang ia bayangkan. Dia masih mengingat jelas saat pertama kali Thea menyebut itu dengan polos. Dan sekarang? Sosok ‘uncle bau’ itu duduk tepat di depannya. Bukan hanya melihat Thea… tapi menyentuhnya. Menggendongnya. Mengusap kepalanya.

Itu… ayah kandung Thea.

Seketika tubuh Alisha kaku. Jantungnya berdebar cepat. Kepalanya penuh dengan suara gemuruh—antara panik, marah, takut, dan rasa bersalah yang sudah lama ia kubur.

"Ini anakmu dan suamimu?" tanya Theo tiba-tiba, namun jelas terdengar sinis. Senyumannya hambar, tatapannya tajam menusuk ke arah Alisha.

Seolah disengat listrik, Alisha langsung menghampiri Thea dan menarik lengan anaknya cukup keras. Refleks, Thea meringis.

"Mommy... sakit," keluh gadis kecil itu sambil mencoba menarik lengannya yang dicengkeram.

Theo sontak bereaksi. Ia maju satu langkah, berniat mendekat.

"Hei.. Jangan kasar padanya!" tegur Theo, nada suaranya naik.

Namun Alisha lebih cepat. Ia langsung menyerahkan Thea ke Elsa yang ikut masuk di belakangnya.

"Bawa Thea pergi," ucapnya tanpa berpaling, matanya masih terkunci pada Theo yang kini mulai terlihat murka.

Elsa mengangguk cepat dan segera membawa Thea keluar dari ruang tengah. Thea yang tak mengerti apa yang sedang terjadi, hanya menoleh dengan tatapan bingung ke arah Theo dan mommy-nya.

Bibi Martha yang sejak awal mengamati dalam diam, ikut melangkah keluar. Ia tahu dua orang ini punya banyak hal yang harus dibicarakan—sendirian.

Setelah pintu kamar tertutup, ruangan mendadak hening.

"Itu anakku, kan?" tanya Theo akhirnya, suaranya berat menahan emosi. "Jangan berbohong lagi. Dia... dia darah dagingku, kan? Aku bisa merasakannya."

Alisha menatap tajam, bibirnya gemetar. Tapi ia menahan air matanya, seperti biasa. Menjadi kuat adalah satu-satunya cara ia bertahan selama lima tahun terakhir.

"Itu tidak penting," jawab Alisha akhirnya, suaranya dingin, penuh tekanan. "Dia anakmu atau bukan, itu bukan urusanmu. Aku yang mengandungnya sendirian, aku yang melahirkannya, membesarkannya, memberinya makan, tempat tinggal, kasih sayang."

Ia mendekat, wajahnya hanya berjarak sejengkal dari Theo.

"Jadi, kalau kau bertanya... siapa orang tua Thea, jawabannya cuma satu—aku!" ucapnya lantang.

Theo terdiam sejenak. Tiba-tiba sorot matanya melembut. Ia menghela napas dalam, setelah mendengar ucapan Alisha. Memang benar.. Alisha lah yang mengurus Thea dari kecil. Dan dia... Tidak turut andil apapun.

"Kenapa kau bicara seperti itu... seolah-olah aku ingin merebut dia darimu?" lirihnya.

Ia melangkah mendekat. Tangannya terangkat, menyentuh pipi Alisha dengan lembut, seakan mencoba meredakan badai yang ada di hati wanita itu.

"Thea butuh ayah, dan aku... aku adalah ayah kandungnya. Dia berhak tahu siapa aku. Aku tak ingin merebutnya darimu. Aku hanya ingin membawa kalian berdua bersamaku. Menikahlah denganku. Kita hidup bersama. Demi Thea."

Suara Theo terdengar tulus, matanya memancarkan ketulusan yang tak pernah Alisha bayangkan dari seorang pria seperti dia. Tangannya masih menempel di pipinya, hangat dan menenangkan.

Namun, Alisha memejamkan matanya. Napasnya bergetar. Lalu dalam satu gerakan cepat, ia menepis tangan Theo dan mundur dua langkah.

"Tidak!" serunya. "Aku... aku tidak bisa. Aku tidak mau menikah denganmu."

Theo terpaku. Senyum kecil yang mulai tumbuh di sudut bibirnya lenyap seketika.

Alisha menunduk sejenak, lalu menatap kembali. Matanya menyiratkan konflik batin yang dalam.

"Bukan karena aku membencimu," ujarnya pelan. "Tapi aku tak bisa mempertaruhkan hidup Thea untuk pria sepertimu. Aku tak ingin dia tumbuh melihat ayahnya mempermainkan wanita."

Theo menghela napas panjang. Ia berjalan kembali mendekat, kali ini lebih tenang. Lalu, ia memegang lengan Alisha, menatap mata wanita itu penuh kesungguhan.

"Aku dulu memang brengsek. Aku mempermainkan banyak wanita, hidup ugal-ugalan. Tapi semua itu... berhenti sejak malam itu. Sejak kau hadir di hidupku. Sejak satu malam yang mengubah segalanya."

Nafasnya berat. Ia mengusap rambutnya dengan frustrasi.

"Kau pikir mudah bagiku? Setelah malam itu, aku tak bisa bersama wanita lain. Bahkan menatap mereka saja rasanya... hambar. Aku cuma bisa memikirkanmu. Aku tak peduli masa lalumu, tapi... aku ingin masa depan kita."

Alisha menatapnya dalam-dalam. Seolah mencari celah, mencari satu kebohongan di balik kata-kata itu. Tapi yang ia temukan justru kejujuran, yang begitu gamblang terpampang di sorot mata pria di hadapannya.

Hatinya tergetar.

"Aku butuh waktu..." bisiknya akhirnya. "Beri aku waktu. Ini juga demi Thea."

Theo menunduk pelan. "Baiklah," jawabnya lirih. "Aku akan membuktikannya dalam satu bulan. Bahwa aku bisa menjadi pria yang kau percaya, Daddy yang layak untuk Thea..."

Lalu matanya menajam. Kali ini tegas.

"Tapi jangan pernah pisahkan aku dari anakku. Jangan larang aku untuk bertemu Thea. Dia darah dagingku juga."

Alisha menahan napas. Tatapannya goyah.

Tapi untuk kali ini... ia tak menjawab.

Mereka berdua saling bertatapan dalam diam. Tatapan yang penuh dengan beban masa lalu dan luka yang belum sembuh. Tapi di balik itu, ada sesuatu yang tumbuh—perasaan yang tak bisa lagi Theo sangkal.

Untuk pertama kalinya, Theo merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan lagi sekadar ketertarikan fisik, bukan hanya keinginan untuk memiliki tubuh Alisha. Tapi lebih dari itu. Ia butuh Alisha… Ia ingin mencintai dan dicintai olehnya.

Ucapan Juna yang dulu sering ia anggap bercanda, kini terdengar seperti kebenaran mutlak yang menghantam keras ke dalam hatinya.

Kini, Theo baru menyadari... ya, dia jatuh cinta. Dalam. Diam-diam. Dan sepenuhnya.

Theo melangkah perlahan, tanpa melepaskan tatapan matanya dari wajah Alisha yang memerah karena gugup. Ada desir di dada keduanya. Debaran yang saling beradu, dalam jarak yang semakin menipis.

Langkah Theo membawa tubuhnya semakin dekat. Ia merunduk pelan, mencoba meraih bibir merah ceri itu. Alisha terpaku, matanya mulai memejam, seakan mengizinkan. Detik itu terasa abadi, hingga jarak mereka hanya tinggal satu sentimeter saja.

Namun...

CREK!

Suara pintu yang tiba-tiba terbuka membuat mereka berdua tersentak.

“APA UNCLE MAU MAKAN MOMMY?!”

Suara nyaring Thea menggema dalam ruangan, polos dan jujur seperti anak kecil pada umumnya. Theo langsung membeku, sementara Alisha menahan napas, wajahnya merah padam sampai ke telinga.

Elsa berdiri di belakang Thea dengan wajah penuh rasa bersalah dan senyum canggung. Ia buru-buru mengangkat kedua tangan, seperti menyerah.

“Maaf, Alish. Thea maksa membuka pintu. Katanya dia khawatir padamu. Aku sudah menahannya, tapi dia terus teriak-teriak...”

Theo mendecak pelan, berusaha menahan tawa. Alisha memutar tubuh, menunduk menutupi wajahnya yang memanas karena malu. Sementara Thea masih berdiri di ambang pintu, mengerutkan dahi.

“Kenapa Uncle mau makan Mommy? Mommy kan bukan ayam goreng.”

Kalimat itu membuat Elsa akhirnya tertawa pelan, dan bahkan Theo tak bisa menahan senyum geli yang merekah di wajahnya. Di tengah momen canggung dan intens tadi, bocah kecil itu datang sebagai penyelamat… atau pengacau?

*

Sementara itu, di tempat lain...

Sebuah layar menampilkan tayangan dari kamera CCTV yang tersembunyi di dalam ruang tamu rumah Alisha.

Seorang wanita muda duduk di depan monitor dengan wajah tak puas. Bibirnya manyun dan matanya penuh kekesalan.

“Huh, tidak seru! Kenapa Theo cepat sekali menemukan anaknya? Padahal aku maunya dia menderita dulu. Lama. Biar merasa menyesal setengah mati…”

Suaranya kesal, seperti anak kecil yang mainannya dirampas. Di belakangnya, seorang wanita dewasa sedang menyeruput teh dengan tenang.

“Salahkan kakakmu sendiri. Dia yang membocorkan informasi ke Theo. Kalau tidak, mungkin mafia bodoh itu masih sibuk ngamuk-ngamuk dan melamun tidak jelas. Dan mungkin, belum menemukan anaknya sampai sekarang,” ucap wanita itu dengan nada datar namun tajam.

Gadis muda itu mendecak.

Wanita dewasa yang tak lain adalah Alexa—ibu kandung Damian dan Cleo—tersenyum tipis. Matanya menyipit, menatap ke layar yang kini menampilkan wajah mungil Thea.

“Mungkin… sudah saatnya Megan melihat cucunya.”

Nada suaranya rendah, tapi mengandung banyak arti. Tatapannya mengeras, penuh perhitungan.

Theo memang sudah tahu siapa Thea.

Tapi Megan, sahabat Alexa yang selama ini berharap Theo menikah—belum tahu apa-apa.

Senyum kecil menghiasi bibir Alexa. Kali ini bukan senyum lembut seorang ibu… tapi senyum licik dari seorang mantan agen rahasia yang sedang menyiapkan langkah besar berikutnya.

1
ArchaBeryl
Dasar ya Daddy thea gak tau tempat 🤣🤣🤣🤣
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍😍
vj'z tri
Dady nya Thea kah 🤭🤭🤭🤭
vj'z tri
tenang sebelum badai datang🤣🤣🤣🤣
Ros Ani
semangat 💪
ArchaBeryl
lanjutkan kak💪💪
vj'z tri
Lo B2 yg mati 😅😅😅
ArchaBeryl
kak nambah 1 bab lagi dunk
takutnya dak bisa tidur malam ne karna penasaran 🤭🤭🤭
vj'z tri
i love u too Thea sayang 🤧🤧🤧🤧
Bu Dewi
ditunggu kelanjutannya kak🤭🤭🤭🤭
ArchaBeryl
lagi dunk kak
aq bacanya Sampai tahan nafas
seru banget kak💪💪💪
ArchaBeryl: siap kak💪💪
total 2 replies
saljutantaloe
up lagi thor lg seru2nya loh malah di gantung ibarat kata nih ditinggal pas lg sayang2nya nyesek bgt kan hah
Ndha: kk bisa aja🤭🤭
total 1 replies
vj'z tri
amnesia ni bocah ...kalau pasukan nya banyak yang tewas 🤧🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 kata nya suruh pakai otak ,Dady ya pakai otak dan otot 🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
waduh kalau thea tahu maminya diajari tembak-tembak dor dor dor iri dia🤭🤭🤭🤭
ArchaBeryl
Mantap makin seru kak💪💪💪
ayudya
temui orang tua Alisha dan kk nya, minta restu.., pasti mereka mau Terima kamu sebagai menantu apa lagi thea sangat sayang sama kamu.
vj'z tri
😅😅😅😅 sabar mom ini demi keamanan cucu dan menantu kesayangan mu
vj'z tri
ngadepin horang licik ya harus lebih licik lah 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
yey kalian masuk jebakan slah tangkap 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🎉🎉🎉🎉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!