Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Bertemu lagi.
Semua perkataan Ibu Nurmala masih membekas dalam ingatan Bang Rama. Gadis di hadapannya ini memang tidak punya siapapun di dunia ini.
'Kita seperti pernah jumpa, meskipun entah dimana'.
Tak lama Dinda tersentak dan terbangun, dia gemetar ketakutan. "Dinda.. Dinda belum kirim uang ke ibunya Bang Ardi."
Bang Rama langsung menenangkan Dinda. "Nggak perlu lagi..!! Sekarang kamu sudah bersama Abang."
Dinda mengatur nafasnya dengan susah payah. Jelas sekali Dinda seperti merasakan kecemasan yang luar biasa.
"Kita nggak usah nikah, Dinda nggak mau mengkhianati Bang Ardi." Kata Dinda.
"Nggak usah bagaimana maksudmu? Berkas kita sudah masuk dan Danyon sudah melihatnya di awal." Ujar Bang Rama.
"Batalkan saja, Bang Ardi pasti marah kalau tau Dinda selingkuh."
Kepala Bang Rama rasanya seperti mau pecah, kesabarannya pun mendadak hilang, ia mengambil ponselnya lalu menunjukannya pada Dinda.
"Lihat semua foto itu..!! Siapa disana??"
"Bang Ardi???" Dinda terkejut melihat foto yang ada di dalam group letting Bang Rama satu persatu. "Mereka tunangan??" Tanya Dinda tidak percaya.
"Kau kira apa?? Main congklak?????" Jawab Bang Rama kesal.
Dinda terdiam, air matanya menetes membasahi pipi namun kemudian ia segera menghapusnya lalu kembali merebahkan diri dan memunggungi Bang Rama. "Dinda mau sendiri.."
:
Bang Arben, Bang Sanca, Dira dan Fia kembali pulang. Mereka melihat Bang Rama duduk melantai sendirian di dekat pintu ruang tamu. Wajah Bang Rama nampak kusut.
"Kalian ke kamar dan jangan ganggu Dinda dulu..!!" Perintah Bang Arben pada Dira dan Fia.
Dira dan Fia mengerti, mereka langsung menuju kamar tengah sedangkan Bang Arben dan Bang Sanca duduk menemani Bang Rama.
"Seharusnya pintunya tidak kau tutup rapat. Ada apa kamu semrawut begini?? Karena Ardi mau datang?" Tanya Bang Arben.
Bang Rama menyandarkan kepalanya pada dinding, ia mengangguk menguraikan kecemasannya.
"Nama Dinda sudah 'naik', dia tidak akan berani mendekati Dinda. Lagipula dia punya tunangan, kan?" Kata Bang Sanca.
"Posisi Ardi mungkin marah sama Dinda, tapi Dinda masih cinta sama Ardi."
Bang Sanca tersenyum melihat sahabatnya nampak 'hancur' merasakan permasalahan hidupnya namun semua sekaligus menjelaskan bahwa Bang Rama perlahan sudah melabuhkan hatinya pada Dinda.
"Kau kan 'suaminya'."
Bang Arben pun menepuk bahu Bang Rama, dukungan moral sebagai sahabat. "Cinta tak berbalas?? Pil kera sakti solusinya."
"Aahh gila." Bang Rama semakin pusing dengan ide Bang Arben dan Bang Sanca.
Tak berapa lama ada info dari Bang Garin kalau Bang Ardi sudah tiba bersama dengan Vania, tunangannya.
Merasa tak enak hati, Bang Arben mengarahkan agar Bang Ardi membawa tunangannya menuju rumah dinas itu agar sesama calon istri prajurit bisa tinggal bersama hingga pengajuan nikah selesai.
:
Para sahabat tetap menyambut Bang Ardi, begitu pula dengan Dinda, Dira dan Fia. Dari ketiga gadis yang awalnya tidak saling kenal menjadi dekat karena pada akhirnya sesama perantauan akan senasib sepenanggungan bagai saudara.
"Biar Vania disini saja sama yang lain, nanti kita juga akan tinggal berjajar di rumdis." Kata Bang Sanca.
"Vania tinggal di mess transit saja." Tolak Bang Ardi.
"Daripada sendirian. Kalau disini kan, ada temannya." Imbuh Bang Arben.
"Vania tidak boleh terpengaruh sifat buruk perempuan yang suka menggoda pria. Kau jaga istri-istri kalian, takutnya tertular sifat liarnya." Jawab Bang Ardi.
Kata-kata itu seperti kilat menyambar Bang Rama. Wajahnya memerah, dia melangkah cepat ke depan Ardi. "Apa???? kau bilang apa barusan??? Jangan sembarangan mencaci Dinda..!!!!!!"
"Kau lihat sendiri kan?" jawab Ardi tanpa takut. "Dulu dia bersikap seolah bisa hidup tanpaku. Tapi sekarang malah ke kamu. Kalau bukan menggoda, lantas apalagi??? Sudah kenyang kau dengannya??? Enak service nya??????"
Bang Rama hendak menghantam wajah Bbang Ardi namun ketiga temannya segera menghadang dan menahan tubuhnya, itupun dengan susah payah.
Dinda yang masih belum pulih dari kondisinya seketika lemas, tiba-tiba air matanya menetes, tangannya menutupi wajah. "Bukan begitu, Bang........"
"Alah lo*t*..!!!" Sambar Bang Ardi.
Tak ingin mendebat lagi, Bang Rama melayangkan kakinya hingga menghantam rahang Bang Ardi. Vania yang melihatnya syok hingga menjerit histeris.
Dinda terdiam namun matanya melihat amarah yang meledak-ledak dari diri Bang Rama.
"B*****t, sini..!!! Ku sobek juga mulutmu yang lancang itu. Tidak ada yang bisa menghinanya, tak terkecuali kau..!!!!!!!!" Bang Rama tak terima sampai nyaris baku hantam dengan Bang Ardi.
Lagi-lagi para sahabat kewalahan menangani Bang Rama hingga akhirnya Dinda beranjak dan memeluknya.
"Cukup Bang..!!"
Setelah Dinda memeluknya, sekujur tubuh Bang Rama yang semula kaku perlahan melunak, selunak hatinya. Ia menurunkan tangannya yang masih terasa gemetar, kepalanya bersandar pada pundak Dinda. Suara nafasnya mulai stabil meskipun wajahnya masih memerah menahan amarah.
"Sudah, Bang... cukup..!! Dinda nggak apa-apa." bisik Dinda perlahan, tangannya memeluk pinggang Bang Rama erat. Air matanya masih menetes, tapi suaranya terbata.
Para sahabat pun melepaskan genggaman mereka pada Bang Rama. Bang Arben mengangkat bahu Ardi yang terjatuh ke lantai, rahangnya sudah memerah. "Cukup lah, Ar. Kamu sudah terlalu jauh ngomongnya, itu keterlaluan." ujarnya serius.
"Kurang bagaimana saya menyayangimu, nyatanya kamu memilih laki-laki lain. Ternyata menjadi pramugari membuatmu jadi seperti ini." Kata Bang Ardi.
"Tidak ada yang kurang. Abang hanya hilang kepercayaan pada Dinda." Jawab Dinda.
"Lalu siapa yang kau percaya?? Rama??" Tanya Bang Ardi.
Dinda masih memejamkan matanya dalam dekapan Bang Rama.
Mata Bang Ardi masih menatap Bang Rama tanpa beralih dengan kemarahan. Tapi ketika melihat Dinda yang masih memeluk Bang Rama, wajahnya tiba-tiba berubah seolah ada rasa iba yang menyelinap, tapi dia segera menyembunyikannya.
"Iya.. Hari ini Dinda pasrah mempercayakan hidup dan diri ini pada Bang Rama." Jawab Dinda namun terdengar lirih. Pandangannya mulai kabur.
Bang Rama tak melepaskan pelukan Dinda,
tangannya terus mendekapnya. "Keluar dari sini, Ar. Jangan pernah datang kalau hanya berniat membuat Dinda sedih," ujarnya dengan nada tegas tapi sudah bisa mengontrol emosi.
.
.
.
.
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara