Ia datang membawa cinta yang dipinjamkan dalam kehidupan Aira Maheswari.
cukup hangat untuk dipercaya, cukup palsu untuk menghancurkan.
Keluarga Aira runtuh, ekonomi hampir patah, dan jiwanya perlahan kehilangan arah.
Ketika dendam menunaikan tugasnya dan ia ditinggalkan di titik paling sunyi,
Hingga seorang lelaki yang mencintainya sejak bangku SMP akhirnya mengetuk pintu terakhir.
Ia datang bukan untuk melukai,
melainkan menyelamatkan.
Di antara dendam yang menyamar sebagai cinta
dan cinta yang setia menunggu dalam diam,
pintu mana yang akan Aira pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Langit tidak pulang ke kos malam itu.
Ia duduk di mobil terlalu lama, mesin mati, tangan menggenggam setir seolah itu satu-satunya benda yang masih bisa ia kendalikan.
Percakapan dengan Aira terus berputar di kepalanya, seperti lagu rusak yang diputar berulang-ulang.
Aku memilih diriku.
Kalimat itu tidak terdengar seperti penolakan.
Itu terdengar seperti vonis.
Pagi berikutnya, Langit datang ke perusahaan itu tanpa janji, tanpa izin, tanpa rencana matang. Ia hanya tahu satu hal, ia harus melihat Aira. Harus bicara. Harus meluruskan sesuatu yang menurutnya sedang diambil orang lain.
Resepsionis menatapnya heran.
“Mau ketemu siapa, Pak?”
“Aira,” jawab Langit cepat. “Aira Maheswari.”
Resepsionis ragu. “Mbak Aira lagi kerja. Tidak bisa...”
“Aku pacarnya.”
Kalimat itu meluncur begitu saja.
Dan entah kenapa, resepsionis mengalah.
Langit berjalan masuk dengan langkah keras. Terlalu keras untuk gedung yang sedang berusaha bertahan hidup.
Aira sedang mengarsip dokumen ketika suara itu datang.
“Aira.”
Satu kata. Tapi nadanya membuat ruangan seakan menyempit.
Aira menoleh. Wajahnya langsung tegang.
“Langit? Kamu ngapain ke sini?”
“Kita bicara. Sekarang.”
“Tidak di sini.”
Langit tertawa pendek. “Kenapa? Takut kelihatan dekat sama bos baru kamu?”
Beberapa kepala menoleh. Bisik-bisik mulai tumbuh.
Aira berdiri. Tangannya gemetar, tapi suaranya tetap dijaga rendah.
“Keluar.”
Langit tidak bergerak. “Aku pacar kamu.”
Aira menatapnya tajam. “Kalau kamu terus seperti ini, aku mundur.”
Kalimat itu seperti korek api.
“Jadi benar,” suara Langit meninggi. “Kamu tinggalin aku karena dia.”
“Berhenti,” Aira berbisik tajam. “Ini tempat kerja.”
“Kerja apa?” Langit tertawa pahit. “ sama orang yang jelas-jelas naksir kamu?”
“Aku tidak...”
“Kamu berubah!” bentaknya. “Kamu dingin. Kamu sok kuat. Kamu bahkan tidak butuh aku lagi!”
Beberapa orang berdiri. Situasi tidak terkendali.
Dan saat itulah suara lain masuk. Tenang. Rendah. Tapi menghentikan segalanya.
“Cukup.”
Kartik berdiri di ambang pintu. Jasnya masih rapi. Wajahnya datar. Tapi sorot matanya tidak sama seperti biasanya.
Langit menoleh. “Oh. Akhirnya keluar juga.”
“Kamu tidak berhak ada di sini,” kata Kartik.
“Dan kamu pikir kamu berhak atas dia?” tantang Langit.
Kartik melangkah maju satu langkah.
“Saya berhak menjaga tempat ini tetap aman.”
Aira menoleh cepat. “Kartik...”
“Masuk,” kata Kartik padanya, tanpa menoleh. “Sekarang.”
Aira ragu. Tapi kemudian masuk.
Langit tertawa keras. “Lihat? Dia nurut sama kamu sekarang.”
Setelah sekian lama rahang Kartik mengeras.
“Kamu keluar,” katanya pelan. “Sebelum saya panggil keamanan.”
“Kamu takut?” Langit mendekat. “Atau kamu takut Aira tahu niat kamu sebenarnya?”
Hening.
Lalu Kartik berkata, sangat pelan
“Satu kali lagi kamu menaikkan suara di sini, saya pastikan kamu tidak akan pernah mendekati Aira lagi.”
Nada itu bukan ancaman kosong.
Dan Langit merasakannya.
Langit pergi. Melemparkan bara yang di laluinya
Dua hari kemudian Aira sakit
Awalnya hanya pusing. Lalu mual. Lalu tubuhnya menggigil meski cuaca panas. Ia tetap datang. Tetap bekerja. Tetap duduk terlalu tegak.
Sampai suatu siang, dokumen di tangannya jatuh.
Dan Aira ikut jatuh bersamanya.
Ruangan panik. Kartik datang lebih cepat dari yang seharusnya.
“Aira.”
Tidak ada jawaban.
Rumah sakit kembali menjadi tempat yang terlalu akrab.
Dokter berbicara panjang. Kelelahan ekstrem. Dehidrasi. Tekanan mental. Kurang tidur.
“Kami sarankan istirahat total,” kata dokter.
Kartik mengangguk. Tapi matanya tidak lepas dari Aira yang terbaring pucat.
Ia berdiri terlalu lama di sana.
Seolah jika ia pergi, sesuatu akan hilang.
Ibunya Aira menangis pelan.
“Kamu terlalu keras sama diri kamu, Nak…”
Aira ingin menjawab. Tapi tidak ada tenaga.
Malam itu, Kartik duduk di kursi rumah sakit sendirian. Lampu redup. Koridor sepi.
Ia memijat pelipisnya. Untuk pertama kalinya, pikirannya kacau.
Ia menepati janji.
Ia menjaga perusahaan itu.
Ia menjaga Aira tetap berdiri.
Tapi ia lupa satu hal:
bahwa berdiri terlalu lama bisa membuat orang runtuh.
Langit datang ke rumah sakit keesokan harinya.
Tidak izin. Tidak permisi.
Ia melihat Kartik di lorong.
“Menjauh dari dia,” kata Langit langsung.
Kartik menoleh. Mata mereka bertemu.
“Dia sakit karena kamu,” tuduh Langit.
Dan, Karena Satu kalimat itu.
Kartik bergerak.
Bukan memukul.
Bukan berteriak.
Ia mencengkeram kerah jaket Langit dan mendorongnya ke dinding.
Satu kali.
Cukup untuk membuat Langit terdiam.
“Dengar baik-baik,” suara Kartik rendah, nyaris bergetar. “Kamu tidak akan pernah datang ke hidup Aira lagi. Tidak hari ini. Tidak besok. Tidak selamanya, jika kamu terus-menerus menyakiti Aira”
Langit menelan ludah. Matanya melebar.
“Kalau kamu masih punya sedikit rasa peduli pada diri kamu” lanjut Kartik, “pergilah. Dan biarkan dia sembuh.”
Kartik melepaskannya.
Tangannya gemetar.
Ia mundur satu langkah. Menarik napas panjang.
Ini pertama kalinya dalam hidupnya ia kehilangan kontrol.
Dan ia membencinya.
Di dalam kamar, Aira terbangun pelan.
Ia tidak tahu apa yang terjadi di luar.
Ia hanya tahu,
saat Kartik masuk dan berdiri di samping ranjangnya,
ia merasa aman.
Tidak dicintai.
Tidak dimiliki.
Hanya aman.
Dan itu, bagi Aira,
lebih dari cukup.
...####...
Aira tidak langsung pulang dari rumah sakit.
Dokter menyarankan dua hari observasi, dan ibunya bersikeras menemani. Kartik datang pagi dan sore, tidak pernah terlalu lama, tidak pernah sendirian di ruangan. Selalu ada jarak yang dijaga rapi, seperti garis yang tidak boleh dilewati lagi.
Ia berdiri di dekat jendela. Membaca laporan di ponsel. Sesekali menoleh.
Aira menyadarinya.
“Kamu nggak harus ke sini,” kata Aira Suaranya masih lemah, tapi lebih stabil.
Kartik tidak menoleh. “Saya tahu.”
“Terus kenapa datang?”
“Karena saya bertanggung jawab,” jawabnya datar.
Aira tersenyum tipis. “Kamu selalu punya alasan yang aman.”
Kartik Hanya diam.
“Kapan aku boleh kerja lagi?” tanya Aira.
“Belum,” jawab Kartik cepat. Terlalu cepat.
Aira menatapnya. “Aku bukan barang pecah belah.”
Kartik akhirnya menoleh. “Tubuh kamu bukan alat pembuktian.”
Kalimat itu menghentikan Aira.
Ibunya mengangguk pelan. “Dengar. Sekali ini saja ya nak.”
Aira menarik napas panjang. Ia Mengalah, untuk saat ini Aira belum punya tenaga untuk berdebat, apalagi melihat wajah ibunya yang tampak khawatir
...####...
Langit duduk di bangku taman kampus sore itu. Buku terbuka di pangkuannya, tapi matanya kosong. Ponselnya di genggaman, layar mati.
Ia tidak datang ke rumah sakit lagi.
Bukan karena tidak mau, tapi ancaman Kartik membuat dia harus menyusun rencana lebih rapi lagi.
Raka datang. Duduk tanpa bicara.
“Ada urusan apa?” tanya Langit ketus
Raka mengangkat bahu. “mana Aira.”
“Dia berubah,” suara Langit serak. “Dan aku nggak enggak mau, kehilangan Aira”
Raka menatapnya lama. “Takut kehilangan Aira Atau kehilangan kendali?”
Langit terdiam.
“Aira nggak ninggalin Lo buat orang lain,” lanjut Raka pelan. “Dia ninggalin versi dirinya yang hampir hancur, karna Lo ”
Langit menutup wajah dengan tangan, ia ingin Aira hancur sehancur-hancurnya, kalau Aira sudah tidak di kendalinya saat ini, maka Aira belum sepenuhnya hancur, dan balas dendam nya dengan Salman Maheswari tidak akan berjalan sesuai rencana
Sudah dua hari Aira berada di rumah sakit.
Dua hari yang berjalan lambat, seperti jarum jam yang sengaja ditahan agar tidak bergerak terlalu cepat.
Kartik tetap datang setiap hari.
Pagi. Sore. Kadang malam.
Ia tidak pernah duduk terlalu dekat. Tidak pernah menyentuh. Tidak pernah bertanya berlebihan. Ia berdiri di dekat jendela atau duduk di kursi paling ujung, cukup jauh untuk tidak mengganggu, cukup dekat untuk memastikan Aira baik-baik saja.
Ibunya Aira memperhatikan itu.
“Nak Kartik,” katanya suatu sore, “duduk saja dekat sini.”
Kartik menggeleng halus. “Tidak apa-apa, Tan saya di sini saja.”
bukan karena tidak peduli.
Itu karena Kartik sedang menjaga sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan, batas.
Hari ketiga, pagi terasa lebih ringan.
Aira sudah bisa duduk. Warna wajahnya perlahan kembali. Meski tubuhnya masih lemah, matanya tidak lagi kosong.
Pintu kamar terbuka dengan suara gaduh yang terlalu ceria untuk rumah sakit.
“WOI, pasien favorit kami!” suara Bima muncul lebih dulu.
“Nggak sopan,” Naya menyusul, membawa plastik buah. “Ini rumah sakit, bukan kantin kampus.”
Raka tersenyum lebar. “Tapi Aira kelihatan jauh lebih hidup ngeliat kedatangan kita”
Aira tertawa kecil. Suara itu serak, tapi nyata.
“Benar kata naya Kalian terlalu ribut.”
“Syukurlah,” kata Raka. “Masih bisa ngomel.”
Mereka duduk mengelilingi ranjang. Cerita mengalir tanpa beban. Tentang dosen killer yang suka tiba-tiba kuis. Tentang nilai yang ‘hampir enggak lulus’. Tentang Raka yang salah masuk kelas dan tetap duduk sampai setengah jam.
Aira tertawa. Tertawa sungguhan.
Untuk pertama kalinya sejak dua hari itu, dadanya terasa longgar.
Di luar, Kartik berdiri bersandar di dinding koridor.
Ia tidak masuk.
Ia hanya melihat dari kaca kecil di pintu.
Ia melihat Aira tertawa dengan kepala sedikit mendongak. Cara matanya menyempit. Cara tangannya bergerak saat bercerita.
Dan Kartik tersenyum, sangat tipis.
Bukan karena ia bagian dari tawa itu.
Tapi karena Aira akhirnya punya alasan untuk tersenyum.
“Itu bagus,” gumamnya pelan.
Seolah meyakinkan diri sendiri.
Ia berbalik dan berjalan menjauh, memberi ruang.
...###...
Sore itu, ibu Aira pulang sebentar untuk mengambil pakaian. Kartik turun ke bawah untuk mengurus administrasi. Kamar Aira kosong, hanya tersisa suara mesin dan cahaya sore yang masuk dari jendela.
Dan di saat itulah Langit datang.
Ia mengetuk pelan.
Sangat pelan.
“Aira?”
Aira menoleh. Tubuhnya langsung menegang.
“Kamu ngapain ke sini?” suaranya lemah tapi waspada.
Langit masuk perlahan. Wajahnya terlihat berbeda. Lebih pucat. Lebih… rapuh.
“Aku cuma mau minta maaf,” katanya lirih. “Aku tahu aku salah.”
Aira diam.
“Aku panik,” lanjut Langit. “Aku takut kehilangan kamu. Aku nggak mikir.”
Ia menunduk. Suaranya bergetar.
“Aku cuma khawatir. Dua hari ini aku bolak-balik ke sini.”
Aira mengernyit. “Dua hari?”
“Iya,” Langit mengangguk cepat. “Tapi… aku nggak dibolehin masuk.”
Aira terdiam.
Langit mendekat sedikit. Ia mengangkat tangannya. Di dahi, ada luka memar yang terlihat sengaja tidak ditutup sempurna. Tangannya diperban.
“Ini gara-gara dia,” kata Langit pelan. “Kartik.”
Aira membeku.
“Dia bilang kamu miliknya,” lanjut Langit cepat, suaranya seolah menahan tangis. “Dia bilang aku harus menjauh, atau… ini yang terjadi.”
Aira menatap luka itu. Napasnya tercekat.
“Dia… mukul kamu?”
Langit mengangguk. Air mata jatuh.
“Aku cuma mau ketemu kamu.”
Hening menggantung.
Aira ingin berkata tidak mungkin.
Ingin percaya pada ketenangan Kartik.
Pada jarak yang selalu ia jaga.
Tapi tubuhnya lemah. Pikirannya rapuh. Dan Langit tahu persis di mana harus menusuk.
“Kamu boleh marah sama aku,” kata Langit. “Tapi jangan percaya orang yang datang ke hidup kamu pas kamu paling jatuh.”
Kalimat itu
menemukan tempatnya.
Pintu terbuka.
Ibunya Aira masuk bersama Kartik.
Langit mundur satu langkah, wajahnya berubah panik, tepat seperti orang yang ketahuan maling.
“Kamu ngapain di sini?” suara ibu Aira meninggi.
Langit menoleh ke Kartik. Matanya merah.
“Anda puas sekarang?”
Kartik berhenti.
Ia melihat luka itu.
Ia melihat ekspresi Aira.
Dan ia tahu
sesuatu sedang diputarbalikkan.
“Kartik,” suara Aira pelan, gemetar. “Apa… kamu pernah bilang aku milik kamu?”
Ruangan membeku.
Kartik menatap Aira lama. Tidak kaget. Tidak defensif.
“Tidak,” jawabnya singkat.
“Dia bohong!” Langit memotong. “Aku punya bukti luka ini!”
Kartik menarik napas. Dalam.
“Saya memang pernah mengepal kemeja kamu,” katanya jujur. “Tapi saya tidak memukul.”
Ia menoleh ke Aira.
“Dan saya tidak pernah menganggap kamu milik saya.”
Aira menatap Kartik.
Mencari sesuatu di wajahnya.
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada amarah.
Tidak ada usaha meyakinkan.
Ibunya Aira menggenggam tangan putrinya.
“Aira capek. Tolong pergi,” katanya ke Langit.
Langit menatap Aira lama.
“Kamu percaya siapa?”
Aira menutup mata sejenak.
Tubuhnya lelah.
Jiwanya lebih lelah.
“Aku butuh istirahat,” katanya akhirnya. “Aku mintak semuanya keluar selesai ibu.”
Langit ingin bicara, tapi ia tahu rencananya akan berhasil.langit pergi dengan wajah yang di buat seperti korban.
Kartik melangkah mundur satu langkah.
“Aku di luar,” katanya pelan.
Dan lagi-lagi, ia memilih jarak.
Bersambung.
Menurut kalian gussy Aira percaya sama Kartik atau langit?