Ditinggalkan oleh calon suami seminggu sebelum pernikahan nya membuat hati Alina hancur lebur. Belum mendapatkan jawaban akan maksud calon suaminya yang meninggalkan dirinya, Alina kembali dikejutkan beberapa bulan kemudian akan permintaan pria yang belum menghilang dari hatinya itu.
"Aku mohon padamu, tolong rawat bayi ini. Aku memohon padamu Alina. Jaga Rosa dengan baik." Setelah mengucapkan itu, Edwin menghembuskan nafas terakhirnya.
Bagaimanakah kelanjutan nya? Apakah Alina akan membesarkan nya? atau justru mengikuti egonya? Dan bayi siapa itu sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Nilam Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liontin
Langit masih tampak dirajai oleh mentari. Meksipun sinar nya tidak seterang di awal kedatangannya. Alina melihat bayangannya yang terpantul di kanal yang jernih itu.
"Orang baru?" Seorang wanita usia lanjut bertanya dengan ramah.
"Benar. Pindah saat musim salju kemarin." Ujar Alina dengan senyuman manis.
"Oh, ya yayaya. Putrinya.... Visser?" Lanjut wanita tua itu menatap Alina.
"Anda kenal dengan ayahku?" Tanya Alina.
"Hahahahahaha, tentu saja. Saat dia remaja, dia membantu di ladang ku. Membawa sapi di ladang rumput yang hijau, bersemi setelah diliputi oleh salju. Dia pria yang baik dan hangat. Tapi, setelah menikah dia hanya bertahan beberapa waktu disini." Jelasnya mengingat masa lalu.
"Iya, itu benar." Ujar Alina.
"Ternyata putrinya sangat cantik dan manis. Kau memiliki senyum seperti nya, dan matanya." Jelas wanita itu memandang Alina.
"Terimakasih, anda juga cantik meksipun di usia senja ini." Ujar Alina.
"Akhahaha, kau bisa saja. Aku sudah tua, mataku mulai bermasalah. Tapi setidaknya tidak melupakan rupa ayahmu yang terpantul dari wajah mu. Ibumu pasti cantik, aku tidak mengingatnya dengan jelas. Tapi dia baik."
"Terimakasih, sudah baik dengan kedua orang tua ku."
"Tidak nak, orang tua mu layak untuk itu. Dan ya, orang-orang baik diambil begitu cepat." Ucapan itu membuat Alina tersenyum tipis dengan mata sendu.
"Kau sendiri saja?" Tanya nya kembali.
"Tidak." Jawab Alina.
"Baiklah, mungkin lain kali kau bisa berkunjung ke rumahku. Sudah sampai, aku pulang dulu. Sampai jumpa..... "
"Elina." Ujar Alina, disini, ayahnya menyebut nya dengan Elina dan itu memang nama aslinya.
"Ah ya, Elina. Sampai jumpa lagi."
"Sampai jumpa lagi." Balas Alina. Wanita tua itu mengambil langkah dengan hati-hati dengan punggung yang tidak tegak lagi.
"Bibi, aku pulang!" Ujar Alina memasuki halaman rumah.
"Mamamamamaa!" Rosa, dia sudah ada didepan pintu sesaat dibuka oleh bibi.
"Rosa... Lihat! Apa yang aku bawa." Alina mengeluarkan kue basah yang dibelinya, kue dengan adonan lembut itu akan cocok dengan mulut dan gigi Rosa yang bisa dihitung jari.
"Bibi, aku beli untuk kita. Aku yakin bibi akan suka." Jelas Alina.
"Terimakasih nona. Rosa terlihat menyukainya."
"Ya, aku cukup lama memilih rasa nya."
"Bibi lelah? Bibi bisa istirahat. Apa Rosa terlalu hiperaktif?" Tanya Alina dengan gurat khawatir.
"Tidak nona, tapi..... Bibi ingin bicara sesuatu." Jelas bibi.
"Oh ya? Tentang apa?"
"Tentang Rosa." Seketika Alina berhenti mengecup pipi gembul Rosa yang mengunyah kue nya.
"Nona, bibi membuka kotak yang ada di dalam koper saat Rosa datang ke rumah." Jelas bibi. Alina diam mendengarkan.
"Masalahnya, ada surat..... Dan itu, ditulis oleh....." Bibi mengeluarkan surat itu dan membukanya.
"Tulisan Ed...." Ujar Alina seketika.
"Iya nona. Bibi juga tau, tapi isinya.... Membuat bibi khawatir. Mungkin, berkaitan dengan orang-orang itu dan juga meninggalnya tuan Ed." Jelas bibi.
"Keluarga Noud?" Bibir Alina mengatakannya saat dia melihat tulisan itu.
"Iya nona. Jujur saja, bibi khawatir, bibi tidak tau. Kalau dilihat, pastinya bukan dari Indonesia, itu nama barat." Ujar bibi gelisah.
"Apa tuan Ed memiliki nama itu?" Tanya bibi, tapi Alina menggeleng.
"Aku bahkan tidak tau apakah Ed adalah nama aslinya atau tidak bi. Dia membohongi ku, dengan keluarga palsu, bisa saja dengan identitas palsu kan?" Jelas Alina.
"Kalau begitu, bagaimana nona?"
"Bibi jangan khawatir, Rosa akan aman. Tidak akan ada yang membawanya ataupun menemukan nya. Kita aman disini bibi."
"Bibi berharap begitu nona. Bibi berharap...."
"Lalu apalagi?" Tanya Alina.
"Ada liontin nona. Ada foto bayi, mungkin itu Rosa dengan namanya. Hanya Rosa." Jelas bibi, Alina memperhatikan liontin itu, ada ukiran bunga rose diluar dan saat dibuka ada foto bayi.
"Ini liontin emas, sepertinya dibuat khusus." Ujar Alina.
"Iya nona, dan pastinya mahal. Mungkin Rosa dari keluarga kaya."
"Bisa saja."
Alina menjalani hari-harinya dengan baik. Menikmati pekerjaan nya sebagai resepsionis dan mengumpulkan pundi-pundi uang. Dia harus memiliki tabungan dan membuka kembali usahanya. Dia tidak bisa hanya menjadi bawahan orang lain, ya... Meskipun gajinya bisa dibilang bagus.
"Mungkin, dalam waktu 3 tahun lagi. Aku bisa menyewa toko." Ujar Alina menghitung uang nya. Sudah dua tahun dia bekerja di hotel bintang lima nan mewah itu.
"Apa sudah siap mommy?" Suara menggemaskan itu langsung membuat Alina tersenyum cerah.
"Sudah sayang."
"Mommy, lihat! Uang ku, banyak kan?" Rosa datang membawa tabungan nya dengan susah payah.
"Ya, Rosa ingin beli apa?" Tanya Alina.
"Untuk mommy!" Ujar Rosa mengarahkan tabungan nya pada sang mommy.
"Untuk mommy?" Rosa mengangguk.
"Oh sayangku! Putriku, putriku yang manis." Alina memeluk tubuh yang sudah bisa berjalan dengan baik dan melakukan banyak hal diusianya.
"Rosa sayang mommy."
"Mommy juga." Pelukan itu membuat Alina melihat dengan jelas rupa Rosa. Wajah gembul dengan rambut coklat muda dan manik biru.
'Mata itu.... Aku merasa tidak asing saat melihat nya.' pikir Alina.
*******************
"Apa-apaan kau ini?" sentak nya tidak terima.
"Justru aku yang bertanya Daddy. Apa-apaan ini? Hampir 4 tahun, Daddy tidak tau foto wanita yang membawa little kita? Hah?" jelasnya.
"Apa maksudmu, tentu saja ini!" balasnya sengit.
"Papa, je bent stom!"
"Hoe durf je!"
"Ya, aku katakan dengan lantang! Bukan hanya itu, tapi begitu mudah dikelabui! Wanita ini, wanita yang fotonya dikirimkan oleh kepercayaan mu itu adalah palsu! Itu bukan dia! Karena itu, sampai kapanpun tidak akan ketemu!"
"Kalau begitu, katakan, siapa dia?"
"Aku tidak perlu katakan, aku akan bertindak sendiri. Dan jangan menganggu jalanku ataupun ikut campur, aku harap.... Daddy paham." Tekannya dengan tegas dan mata yang menyala melebihi lampu yang bersinar di atas mereka.
"Kalau Daddy ingin Rhea sembuh. Dengarkan kata-kata ku." Lanjutnya.
Dengan cepat, dia memasuki mobil dengan supir yang siap mengemudi. "Sekarang apa tuan?"
"Amsterdam, kita kesana. Elina, dia wanita itu.... Wanita yang merupakan kekasih pria itu!" Titah nya, matanya menatap foto seorang wanita yang tersenyum bahagia dengan pria yang menjadi buronan nya.
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak 🥰 🙏