"Terkadang kita harus merelakan sesuatu hal bukan karena kita menyerah tapi mengerti bahwa ada hal yg tidak bisa dipaksakan."
Itulah yang dipikirkan Devinta Dwi Suseno saat mengetahui pria yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya ternyata kembali menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya .
Namun setelah 5 tahun menghindar , takdir berkata lain . Ia kembali di pertemukan dengan Arnold Prayoga , pria yang paling tidak ingin Ia temui .
Bagaimana kelanjutan lika liku hubungan Devi dan Arnold ? Bisakah Devi keluar dari bayang bayang penghianatan Arnold di masa lalu ? Apakah kisah mereka akan berakhir bahagia bersama ?
" Sebab sepanjang kita berjalan, menghindar, berpura-pura tidak mengetahui atau apapun itu, kita akan tetap akan bertemu apa yang ditakdirkan untuk bertemu . "
"Karena pada waktunya, tanpa kau rencanakan pun, jodoh tak akan pernah tertukar."
( Inilah karya pertamaku , Karena Kamu Jodohku )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShasaVinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 . Kali ini biar aku menunggumu
Arnold POV.
Pagi ini aku sengaja bangun lebih awal karena ingin berangkat kerumah sakit untuk melihat kondisi Nanny dan juga untuk bertemu dengan wanita yang sangat kurindukan .
Semalam aku memilih untuk pulang ke apartement lamaku saja karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit.
Apartemen ini juga adalah salah satu saksi betapa bahagianya dulu hubunganku dengan Devi.
Walaupun singkat namun banyak kenangan kami ditempat ini.
Bahkan foto-foto kami berdua masih dengan rapih terpajang ditempatnya.
Dulu saat Devi pergi dan aku bersama Angel, Ia tidak pernah ingin kuajak keapartemen ini.
Alasannya karena disini ada kenanganku bersama Devi.
Jadi Ia memintaku membelikannya sebuah apartemen baru yang lokasinya dekat dengan kantorku. Dan ternyata apartemen itu kini telah dijual olehnya.
Lucu sekali jika mengingat Angel.
Aku sangat bodoh sampai bisa tertipu berkali-kali olehnya.
Bahkan Aku sampai menyakiti wanita yang saat itu tulus mencintaiku .
Saat aku akan masuk kemobil yang kuparkirkan di basement apartemen, dari kejauhan kulihat seorang wanita berjalan kearahku dan menyebut namaku .
" Arnold... kamu disini rupanya " ucapnya.
" Kamu ingin kerumah sakit menengok Nyonya Grace. Aku ikut bersamamu yah " pintanya.
Yah.. wanita itu adalah Dasha. Sekertaris sekaligus teman kecilku.
" Baiklah . Ayo masuk ", ucapku lalu aku segera masuk mobil dan melajukannya ke rumah sakit.
Didalam mobil Dasha terus saja protes karena aku tak mengabarinya soal Nanny yang dibawa ke rumah sakit kemarin.
Dan seperti biasa pula. Aku mengabaikannya jika hal itu bukan menyangkut pekerjaan.
Kini pikiranku tertuju pada Devi. Wanita yang sangat kurindukan . Namun sayangnya kini Ia menghindariku .
Setelah beberapa menit, mobilku melaju memasuki halaman parkir rumah sakit yang masih sepi.
Setelah itu aku masuk ke dalam rumah sakit dan menaiki lift menuju lantai 18 dengan Dasha yang terus saja menempeliku .
Saat aku masuk diruang perawatan Nanny ku lihat Devi sudah ada disana. Sedang duduk berbincang dengan Daddy dan Mommy .
Setelah menyapa Nanny, aku iku bergabung duduk di samping Daddy agar bisa duduk berhadapan dan menatap wajah Devi .
Tak lama Dasha masuk , menyapa Mommy dan Daddy lalu mengambil posisi duduk disampingku.
Sungguh aku melupakan kehadiran Dasha.
Karena tadi saat akan masuk dia ijin untuk menerima panggilan telepon .
Dasha bahkan dengan sengaja memberi perhatian lebih padaku dan hal itu membuat Devi terlihat sedikit tidak nyaman kemudian Ia pamit meninggalkan ruangan Nanny .
" Perhatikan sikapmu. Jangan bersikap berlebihan padaku apalagi di depan orang lain ", aku menegur Dasha dengan ketus .
" Sialan Dasha.. bagaimana kalau Devi sampai salah paham ", batinku .
" Tapi baguslah, sepertinya Devi tidak suka Dasha dekat denganku. Apa itu berarti masih ada aku dihatinya ? " batinku bersorak gembira .
Setelah tindakan angiografi jantung dilakukan pada Nanny, salah satu dokter yang selalu mengikuti Devi menghampiri kami yang sedang menunggu Nanny .
Dokter itu mengatakan bahwa prosedur angiografi telah selesai dan Devi menunggu kami di ruangannya untuk menjelaskan hasilnya .
Aku dan Daddy bergegas keruangan Devi sesuai instruksi dari dokter tadi.
Suster Eva mempersilahkan kami masuk kedalam ruangan Devi. Aku masih mengingat dulu perawat itu juga yang sering aku temui jika mengunjungi Devi kerumah sakit .
Saat kami masuk, Devi sedang memandangi tampilan dirinya pada cermin yang ada di ruangannya.
Kini Ia terlihat makin dewasa dan makin cantik.
Saat Ia menjelaskan kondisi Nanny dan tindakan yang akan Ia ambil, tak henti-henti ku kagumi kecantikan wanita dihadapanku .
Bahkan tak kusadari kini Daddy telah beranjak dari tempatnya.
Sebuah ide muncul tiba-tiba. Kalau Devi ingin menghindariku, maka aku yang akan berusaha mendekatinya kembali.
Aku memaksa untuk mengajaknya makan siang bersama. Sampai akhirnya Ia menyetujui dan memintaku menunggu di salah satu ruangan yang ku duga adalah ruang kerjanya .
Sekitar 30 menit menunggu, akhirnya Devi selesai memeriksa pasiennya dan kamipun berangkat menuju restauran untuk makan siang bersama.
" Aku akan manfaatkan kesempatanku siang ini untuk mendapat maaf dari Devi " , batinku .
Kini Aku dan Devi sudah berada di salah satu restauran yang tak jauh dari rumah sakit. Sesuai permintaan Devi, karena dua jam lagi Ia memiliki jadwal operasi .
Kami sedang menunggu pesanan makanan kami.
Sampai saat inipun Devi masih saja menghindariku .
" Devi... kamu masih marah padaku ? ", tanyaku ragu .
Devi menatapku sesaat, lalu berkata " Aku tidak pernah marah padamu. Aku marah pada diriku sendiri dan Aku kecewa padamu . Itu saja ", jawabnya .
" Maafkan aku. Sungguh aku menyadari telah berbuat kesalahan padamu. Bahkan aku tersiksa saat kamu meninggalkanku. Tapi aku sadar bahwa rasa sakitku tidak bisa dibandingkan dengan kesakitan yang kamu rasakan ", ucapku jujur .
" Aku sudah memaafkanku tepat di hari kamu membiarkanku pergi . Aku tak pernah meninggalkanmu, tapi kamu yang merelakanku pergi " , balas Devi .
" Kulihat dari tatapannya banyak sekali menyimpan kesedihan. Seberapa besar aku telah menyakitinya ", batinku.
" Sejujurnya kepergianku ke London sudah sejak lama kurencanakan. Namun aku ragu karena harus meninggalkanmu saat itu. Tapi ternyata kejadian itu membuatku yakin dengan pergi ke London tidak hanya untuk menggapai impianku tapi juga untuk menyembuhkan rasa sakitku ", lanjut Devi .
" Tapi sudahlah...biarkan itu menjadi masa lalu kita. Kita sudah bahagia dengan pilihan kita masing-masing ", Ucapnya lalu tersenyum padaku .
" Bagaimana jika aku bilang aku tidak bahagia dengan pilihanku. Aku telah salah karena menghianatimu. Aku merasakan kehilangan cinta yang tulus saat kepergianmu ", aku mengungkapkan semua yang ada di hatiku .
" Maksudmu ? Bukannya kamu sendiri yang lebih memilih untuk bersama Angel. Oh yah, bagaimana kabarnya kini ? ", tanya Devi . Sepertinya Ia belum tau kejadian yang kualami 4 tahun lalu .
" Entahlah. Aku bahkan sudah 4 tahun tidak bertemu dengan wanita itu ", ucapku datar.
" Kok bisa ? " tanyanya .
Sebenarnya aku malu kalau Devi sampai tahu bahwa saat itu Angel telah menipuku lagi.
Tapi sejak bertemu dengan Devi kembali aku sudah berjanji pada diriku , jika aku diberi kesempatan untuk bersamanya lagi maka aku akan selalu berkata jujur padanya. Sudah cukup dulu aku sering membohonginya .
" Sekitar enam bulan setelah kepergianmu, aku mengetahui bahwa Angel berselingkuh dariku . Bahkan kejadian dulu sewaktu pertama kali Ia meninggalkanku itu juga karena Nanny mengetahui bahwa Ia berselingkuh. Itulah kenapa Nanny meminta Angel meninggalkanku ."
Kulihat Devi terkejut mendengar apa yang baru saja ku ucapkan.
Ia memintaku untuk menceritakan kejadiannya seperti apa. Dan akupun menurutinya.
Aku menceritakan pada Devi semuanya tentang Angel.
Juga bagaimana menyesalnya diriku saat kusadari bahwa aku benar benar telah bersalah karena lebih memilih Angel.
Ku beritahu juga tentang janjiku pada Nanny yang tidak akan mencari atau menemuinya lagi.
" Lalu kenapa kini kamu menemuiku ? Itu artinya kamu melanggar janjimu ", ucapnya mengejekku .
" Aku tak sepenuhnya melanggar janjiku. Takdir yang mempertemukan kita . Dan kini aku tak akan lagi membiarkanmu pergi dariku . Biarkan kini aku yang berusaha mendapatkan kepercayaanmu lagi. Biarkan kini aku yang menunggu kamu membuka hatimu lagi padaku ", aku menurunkan semua egoku dan memohon pada Devi .
" Maaf. Tapi mungkin tak akan mudah. Kini aku sudah membuat dirimu sangat jauh dari hati dan pikiranku . Aku bahagia dengan hidupku yang sekarang ", ucapnya .
" Aku mengerti tak akan mudah. Aku memohon ijinmu. Ijinkan aku menghapus semua luka yang pernah kubuat. Kamu cukup diam dan membuat dirimu nyaman ditempatmu saja. Biarkan aku yang akan menghampirimu . Kumohon ", aku terus meyakinkannya .
" Terserah padamu. Namun aku sudah memberitahumu kalau aku sudah menghapus semua rasaku padamu, jadi kamu jangan terlalu berharap ", ucapnya lalu Ia beralih fokus pada makanan yang sudah terhidang dihadapannya.
.
.
.
.
.
.
.
"*Aku tahu aku salah, dan aku menyadari kebodohanku. Maka, izinkan aku yang bodoh ini mencintaimu lagi*."
.
.
.
.
.
.
to be continue
Semoga Willi dapat rumah ya