NovelToon NovelToon
#SALAHFOLLOW

#SALAHFOLLOW

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Berbaikan
Popularitas:117
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.

Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.

#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: TUHAN BERNAMA ALGORITMA

Hari ke-1 Eksperimen: "Break Your Routine"

Pukul 06.15. Alarm berbunyi. Bukan suara biasa, tapi notifikasi khusus dari MatchMade.

MatchMade: Good morning, A & K! Your first guided task: Switch your morning beverage. A, if you usually drink coffee, have tea. K, if you usually have matcha or water, have a strong black coffee. Document the experience.

Ardi yang biasa minum kopi sasetan, merengut. Kinan yang hanya minum air hangat atau matcha, merasa jijik.

"Gue benci kopi hitam," keluh Kinan lewat voice note di grup mereka.

"Gue juga benci teh. Rasanya kayak rumput basah," balas Ardi.

Tapi mereka patuh, demi "eksperimen" dan kemungkinan retreat gratis. Ardi minum teh celup rasa melati dengan ekspresi seperti meminum racun. Kinan minum kopi hitam pekat dan hampir muntah. Mereka mengunggah foto ekspresi menjijikkan itu ke aplikasi. Engagement melonjak. Orang-orang senang melihat "perfectionist" Kinan dan "easygoing" Ardi menderita karena hal sepele.

Hari ke-2: "Wardrobe Swap"

MatchMade: Today's challenge: Wear something from each other's style. A, wear something 'aesthetic' and put together. K, wear something 'comfortable' and 'lived in'.

Kinan mengirim Ardi kaus oversized warna sage dan celana linen lebar. Ardi mengirim Kinan kaus bandnya yang sobek dan celana jeans belel.

Hasilnya: Ardi terlihat seperti anak kecil yang dipaksa pakai baju orang dewasa. Kinan terlihat... anehnya, cukup nyaman. Dia bahkan mendapat pujian dari Rara: "Wah, lo keliatan lebih relax, Kin!"

Ardi, di sisi lain, mendapat komentar dari Bima: "Bro, lo mau interview kerja?"

Mereka bertemu cepat di kampus untuk foto. Saat berdiri bersebelahan Ardi dengan linen yang membuatnya gatal, Kinan dengan jeans yang ternyata cukup enak mereka tertawa.

"Ini gila," kata Kinan. "Tapi... gue agak suka jeans ini."

"Gue benci kain ini. Tapi lo keliatan... berbeda. Bagus," sahut Ardi.

Ada keheningan sebentar. Mata mereka bertemu. Lalu Kinan cepat-cepat melihat ke HP nya. "Udah, foto. Unggah."

Hari ke-3: "Music Exchange"

MatchMade: Share your favorite song with your match. Listen to it on loop for one hour. Then discuss.

Ardi mengirim lagu rock indie yang noisy tentang kegalauan eksistensial. Kinan mengirim instrumental piano yang lembut dan melankolis.

Satu jam kemudian, mereka video call.

"Jujur, gue hampir sakit kepala," akui Kinan. "Tapi... ada satu bagian melodi di detik ke 120 yang lumayan."

"Lagu lo bikin gue ngantuk. Tapi pas lagi ngerjakan tugas, cocok banget," kata Ardi. "Jadi... kita belajar sesuatu."

"Kita belajar bahwa selera kita bertolak belakang."

"Tapi kita bisa nerima."

Challenge ini tidak dramatis, tapi diam-diam membuka jendela kecil ke dunia masing-masing.

Hari ke-4: "The Unfollow Day"

MatchMade: Temporarily unfollow 3 accounts that fuel your comparison or anxiety. Share which accounts and why.

Ini yang berat. Bagi Kinan, unfollow akun-akun aesthetic rival adalah seperti mengakui kekalahan. Bagi Ardi, unfollow akun musisi yang sudah "sukses" terasa seperti menyerah.

Mereka melakukannya. Kinan unfollow akun lifestyle yang selalu membuatnya merasa kurang. Ardi unfollow akun produser yang membuatnya merasa tidak berbakat.

"Rasanya... aneh. Kayak ngebebasin diri dari mata yang selalu ngintip," aku Kinan di vlog mereka.

"Gue malah merasa lega. Kayak nggak perlu lagi buat bandingin diri sama orang lain," tambah Ardi.

Malamnya, mereka mendapat notifikasi pribadi dari aplikasi.

MatchMade (Personal): We noticed your anxiety indicators (based on typing speed & app usage) decreased by 15% today. Well done.

Kinan merasa merinding. Aplikasi ini tidak hanya memantau pilihan mereka, tapi juga keadaan psikologis mereka?

Hari ke-5: "The Vulnerability Challenge"

MatchMade: Share one insecurity you've never told anyone online. Voice note only. No text.

Ini melampaui batas. Ardi dan Kinan setuju untuk tidak benar-benar membagikan kelemahan terdalam mereka ke aplikasi. Sebagai gantinya, mereka membuat voice note palsu.

Ardi: "Gue takut jadi beban buat orang tua karena gue ngejar musik."

Kinan:"Gue takut semua yang gue bangun cuma facade, dan suatu hari orang akan tahu gue nggak sepintar yang mereka kira."

Mereka mengunggahnya. Tapi anehnya, meski direkayasa, ada kebenaran di dalamnya. Setelah mengunggah, Kinan mendapat pesan dari Ardi di luar aplikasi.

Ardi: Jujur, yang gue rekam tadi... beneran sih. Cuma dikurangi dikit.

Kinan: Gue juga.

Mereka tidak membahasnya lebih lanjut. Tapi sesuatu bergeser.

Hari ke-6: "The Collaborative Decision"

MatchMade: You have a budget of 200k. Plan a Saturday outing together. You must agree on every detail.

Ini adalah ujian sebenarnya. Ardi ingin nonton film horor murah lalu makan mie ayam. Kinan ingin pameran seni digital gratis lalu minum smoothie bowl.

Perdebatan terjadi di chat aplikasi, yang dipantau oleh algoritma.

A: Film horor seru! Nggak mahal!

K:Pameran itu stimulating dan gratis. Budget bisa untuk makanan yang lebih sehat.

A:Smoothie bowl itu overpriced grass!

K:Mie ayam bikin ngantuk!

Setelah 30 menit, mereka mencapai kompromi: nonton film horor tapi yang ada nilai seni sinematografinya (pilihan Kinan), lalu makan di tempat yang menjual kedua smoothie bowl dan mie ayam (mereka menemukan satu kafe aneh yang menawarkan kedua menu itu).

"Kompromi itu melelahkan," keluh Kinan di voice note akhir hari.

"Tapi kita dapetin kedua hal yang kita mau,"balas Ardi. "Sedikit."

Algoritma memberi mereka skor: "Conflict Resolution: B+. Compromise reached with minor emotional fatigue."

Hari ke-7: "The Final Test: Digital Silence"

MatchMade: Spend 4 hours together without any digital devices. Location will be provided. A trusted observer will ensure compliance.

Ini yang paling menyeramkan. "Trusted observer"? Mereka diinstruksikan untuk datang ke sebuah taman kecil di tengah kota yang tidak mereka kenal. Saat tiba, mereka melihat Pak Suryo duduk di bangku, membaca koran, dengan tas kain di sampingnya.

"Pak Suryo?!" seru Ardi.

"Observasi adalah bagian dari ilmu penelitian," kata Pak Suryo dengan santai, menyembunyikan kameranya di balik koran. "Dan mereka bayar saya dengan... satu set dadu edisi spesial. Sekarang, serahkan HP kalian."

Dengan ragu, mereka menyerahkan HP. Pak Suryo memasukkannya ke dalam tas terkunci.

"Sekarang, ngobrol lah. Atau jalan-jalan. Empat jam. Saya mengawasi dari sini."

Awalnya canggung. Tanpa HP, tanpa panduan, tanpa distraction. Mereka duduk di tepi kolam, menyaksikan anak-anak memberi makan bebek.

"Jadi..." mulai Ardi. "Apa yang biasanya lo lakukan di hari Minggu?"

"Edit konten, riset tren, balas email," jawab Kinan. "Sedih ya?"

"Iya. Gue biasanya... tidur, lalu kepikiran kenapa gue tidur, lalu bikin lagu tentang itu."

Mereka tertawa. Percakapan mengalir tanpa struktur. Mereka membicarakan masa kecil, ketakutan yang paling tidak rasional (Ardi takut pada suara blender, Kinan takut pada boneka porselen), dan mimpi yang paling gila (Ardi ingin konser di stadion, Kinan ingin punya studio desain sendiri).

Waktu berlalu cepat. Tanpa mereka sadari, empat jam hampir habis.

"Gue nggak nyangka hari tanpa HP bisa... tenang," aku Kinan.

"Gue juga. Padahal biasanya gue cemas kalau nggak cek notifikasi."

Pak Suryo mendekat, membuka tas, mengembalikan HP mereka. "Waktu habis. Dan menurut pengamatan saya... kalian tidak berkelahi. Bahkan terlihat cukup akur."

Begitu HP menyala, notifikasi dari MatchMade membanjir.

"CONGRATULATIONS! You have completed The Social Experiment. Based on biometric data (via your wearable devices & voice stress analysis from your recordings), mutual compatibility has increased by 22%. You are the WINNING COUPLE!"

Layar dipenuhi konfetti digital. Hadiahnya: "A 5 day Digital Detox Retreat at 'Camp Grounded' in Puncak. All expenses paid. For two."

Ardi dan Kinan saling memandang, bukan dengan sorak kemenangan, tapi dengan keheranan yang dalam.

"Biometric data? Voice stress analysis?" Kinan berbisik. "Mereka memantau semua itu?"

"Sepanjang minggu ini... kita diawasi," kata Ardi, merasa sedikit mual.

Pak Suryo mengangguk-angguk, sambil mengemas kamera tersembunyinya. "Teknologi memang mengerikan sekaligus menarik. Tapi, selamat ya. Jalan-jalan gratis."

---

Malam itu, di server MatchMade, Genta dan timnya sedang menganalisis data final Pair 047.

"Peningkatan signifikan dalam affective empathy dan conflict tolerance," lapor seorang analis. "Algoritma 'Growth Through Friction' terbukti efektif. Mereka yang awalnya hanya kenal di permukaan, sekarang telah membangun shared vulnerability."

"Bagus," kata Genta. "Siapkan laporan untuk investor. Dan... siapkan fase berikutnya."

"Fase berikutnya? Bukankah mereka sudah menang?"

Genta tersenyum tipis. "Retreat itu bukan hadiah. Itu adalah Fase 2. Lingkungan terkontrol tanpa gangguan digital. Di sana, kita bisa menguji hal yang lebih dalam. Attachment formation."

Di layar, foto Ardi dan Kinan di taman diambil diam-diam dari kamera Pak Suryo muncul. Mereka sedang tertawa, tanpa menyadari bahwa setiap tawa, setiap pandangan, telah menjadi data titik di dalam algoritma yang sedang belajar bagaimana membangun ikatan manusia.

---

Di kosan masing-masing, Ardi dan Kinan mendapat email resmi dari Camp Grounded. Detail retret. Aturannya ketat: tidak ada gadget, tidak ada konten, hanya kegiatan alam dan sesi kelompok.

"Lo masih mau pergi?" tanya Ardi melalui panggilan.

"Gue nggak tau," jawab Kinan. "Ini semakin dalam. Tapi... setelah seminggu ini, gue penasaran. Apa yang akan terjadi kalau kita benar-benar lepas dari semua ini? Dan... kita bisa bikin dokumentasi setelah pulang. Bukan during."

"Gue setuju. Tapi kita harus punya batasan. Kita pergi bukan sebagai 'couple' yang diciptakan aplikasi. Tapi sebagai... dua orang yang mau tahu sejauh mana eksperimen ini akan berjalan."

"Sebagai partner dalam kriminalitas digital," tambah Kinan, mencoba bercanda, tapi suaranya serius.

"Deal."

Mereka mengkonfirmasi keikutsertaan.

Sementara itu, di feed Instagram mereka, pengumuman kemenangan mereka diunggah oleh akun MatchMade. Komentar berdatangan:

"Wah, jadian nih pasti!"

"Ini semua cuma konten kan?"

"Algoritma emang sakti!"

Kinan tidak membalas. Dia melihat notifikasi lain, dari Rara: "Ini beneran lo menang? Atau lo dimanfaatkan?"

Pertanyaan yang sama bergema di kepalanya. Apakah mereka pemenang, atau sekadar subjek penelitian yang bersedia?

Dia membuka aplikasi MatchMade, melihat profil "A" gambar burung hantu, musik rock, dan semua jawaban kuis yang bertolak belakang dengannya. Di bagian bawah, ada ikon baru: "Bond Level: Deepening".

Algoritma sudah memberi label pada hubungan mereka. Dan Kinan mulai bertanya-tanya: apakah perasaan yang mulai dia rasakan rasa nyaman, ketertarikan, keinginan untuk tahu lebih banyak adalah asli? Atau hanya respon yang diprediksi dan diharapkan oleh sebuah kode komputer?

Dia menutup aplikasi. Minggu depan, mereka akan pergi ke pegunungan, meninggalkan sinyal dan notifikasi. Mungkin di sana, jauh dari pengawasan algoritma, mereka akan menemukan jawabannya.

Atau mungkin, justru di sanalah eksperimen yang sebenarnya dimulai.

#ToBeContinued

(Next: Camp Grounded. Di mana pohon-pohon lebih tinggi daripada tower sinyal, api unggun lebih terang daripada layar HP, dan kebenaran mungkin lebih menyakitkan daripada algoritma mana pun.)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!