NovelToon NovelToon
Terlambat Mencintaiku

Terlambat Mencintaiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.

Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.

Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.

Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.

Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan di Cafe

Susan mulai merasa… terpinggirkan.

Awalnya hanya rasa sepele, pesan yang dibalas lebih lambat, janji makan siang yang sering ditunda. Tapi perlahan, ruang di sekitar Arman yang dulu selalu terbuka untuknya kini terasa seperti pintu yang setengah tertutup.

Suatu sore, Susan datang ke rumah Arman dengan alasan sederhana: mengantar dokumen yang tertinggal.

Anggun menyambutnya ramah, seperti biasa.

“Arman belum pulang, Sus,” katanya sambil menuang teh. “Katanya masih ada rapat.”

Susan tersenyum, menunggu.

Setengah jam.

Satu jam.

Hingga matahari turun dan Arman tetap tidak muncul.

Ponsel Susan akhirnya bergetar.

Masih ada urusan. Jangan tunggu. Kita bahas besok di kantor.

Kalimatnya singkat. Tanpa sapaan. Tanpa penjelasan.

Susan menatap layar lebih lama dari seharusnya.

Ada perasaan kecil yang berdesak di dadanya—sesuatu antara kecewa dan takut.

Besoknya di kantor, ia datang lebih pagi dari biasanya.

Susan membawa dua kotak makan kecil yang ia siapkan sendiri. Salah satunya jelas untuk Arman.

Ketika Arman muncul di koridor, Susan menyapanya dengan senyum yang terlalu berusaha terlihat biasa.

“Aku bawa bekal. Kamu belum sarapan, kan?”

Arman berhenti sebentar. Seperti orang yang baru ingat ada sesuatu yang tertinggal.

“Oh. Maaf, Sus. Aku ada janji.”

“Janji?” Susan mengerjap. “Dengan siapa?”

“CEO Valencia Group.”

Nama itu seperti batu kecil yang dijatuhkan ke dalam air tenang.

Dara.

Susan berusaha tersenyum. “Oh… kerjaan, ya.”

“Ya,” jawab Arman cepat. Terlalu cepat. “Nanti saja.”

Ia mengambil map dari tangan Susan tanpa menyentuh jemarinya, lalu melangkah pergi.

Susan berdiri sendiri di lorong kantor dengan dua kotak makan yang masih utuh.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa ditolak secara terang-terangan.

Justru itu yang lebih menyakitkan.

Ia mulai menyadari satu hal yang membuat tengkuknya dingin:

Arman tidak sedang menjauh darinya.

Arman sedang… bergerak menuju orang lain.

Dan Susan bahkan belum tahu harus bersaing dengan siapa.

.

Susan tidak berniat menguntit.

Setidaknya… begitu yang ia katakan pada dirinya sendiri.

Ia hanya kebetulan keluar gedung kantor sedikit lebih lambat, dan kebetulan juga melihat Arman masuk ke mobil tanpa sopir. Tidak menuju arah rumah. Tidak juga ke restoran langganan mereka. Mobil itu melaju ke pusat kota, ke area yang lebih sibuk—lebih… mahal.

Ada sesuatu di nalurinya yang bergerak.

Susan memanggil taksi.

Jaraknya cukup aman. Dua mobil di belakang. Kadang tiga. Ia tidak ingin terlihat mencurigakan—ia hanya ingin tahu.

Mobil Arman akhirnya berhenti di depan sebuah kafe eksklusif yang menyatu dengan galeri seni. Tempat yang jarang Arman datangi dulu. Terlalu “publik”. Terlalu penuh mata.

Susan menahan napas ketika ia melihat Arman turun.

Lalu… perempuan itu muncul.

Tinggi. Tegap. Rambut rapi. Aura yang seperti memotong ruangan bahkan dari kejauhan.

Susan membeku.

Tidak mungkin.

Perempuan itu berbalik sedikit—dan cahaya pagi menyentuh wajahnya.

Dara Valencia.

Atau… Zizi?

Jantung Susan seperti dihantam dari dalam. Ia pernah melihat wajah itu di foto-foto lama Arman. Di album keluarga. Di sudut-sudut rumah yang tidak pernah disentuh lagi.

“Itu… Zizi,” bisiknya tak percaya.

Namun yang berdiri di sana bukanlah perempuan yang dulu berjalan dua langkah di belakang Arman.

Perempuan itu menyambut Arman dengan anggukan singkat, bukan senyum manis. Tatapannya datar, profesional, nyaris dingin.

Arman mengatakan sesuatu. Dara menjawab pendek. Lalu mereka masuk bersama ke kafe.

Susan masih di dalam taksi.

Tangannya gemetar ketika meraih tasnya.

“Berhenti di sini,” katanya cepat. Ia turun, berdiri di trotoar seperti orang yang baru terlempar dari mimpi buruk ke dunia nyata.

Zizi tidak mati.

Zizi tidak hilang.

Zizi berdiri di hadapan Arman… sebagai seseorang yang bahkan Susan sendiri merasa lebih kecil di hadapannya.

Susan menatap pintu kaca kafe itu. Dan untuk pertama kalinya sejak mengenal Arman, ia merasa benar-benar takut.

Bukan takut kehilangan.

Takut menghadapi seseorang yang dulu mereka injak—dan kini kembali dengan kekuatan untuk membalikkan segalanya.

.

Dara sudah tahu Arman akan mengajaknya duduk.

Bukan karena ia membaca pikirannya—melainkan karena lelaki seperti Arman selalu butuh panggung kecil untuk merasa kembali berkuasa.

Kafe itu sunyi, penuh cahaya pagi yang jatuh miring di meja-meja kayu. Arman menarik kursi, memberi isyarat sopan yang rapi—sopan yang dulu selalu ia gunakan untuk terlihat seperti pria baik.

Dara duduk.

Tenang.

Tidak ragu.

Tidak menunggu izin.

Dan di dalam dirinya, ada senyum yang tidak pernah sampai ke bibir.

Jadi inilah caramu mendekat lagi, pikirnya.

Arman memesan minum. Ia berbicara tentang rapat, tentang kerja sama, tentang betapa mengesankannya Dara memimpin Valencia Group. Kata-katanya mengalir halus, seperti orang yang tidak pernah menyadari bahwa ia sedang diukur.

Dara hanya mendengarkan.

Matanya tidak tajam. Justru terlalu tenang. Ia mengenal ritme itu. Dulu, setiap kali Arman mulai memuji, itu selalu diikuti keinginan: ingin didengar, ingin dipuji balik, ingin dikagumi.

“CEO Dara,” katanya akhirnya, sedikit lebih dekat, “saya pikir akan menarik kalau kita bisa membicarakan peluang kolaborasi… lebih privat.”

Lebih privat.

Kata yang sama yang dulu ia gunakan ketika ingin membuat Zizi merasa istimewa.

Dara mengangguk kecil. “Silakan.”

Ia tidak memotongnya. Tidak menolak. Membiarkannya melangkah satu petak ke depan di papan catur yang hanya ia lihat.

Bicaralah. Mendekatlah, batinnya dingin. Semakin dekat kamu berdiri… semakin jelas aku bisa melihat celahmu.

Arman mulai merasa nyaman. Ia tersenyum lebih sering. Lebih hangat.

Dan Dara tahu, lelaki itu tidak sedang membangun kerja sama.

Ia sedang membangun perasaan.

Dan ia, Dara Valencia, sedang mengizinkannya… dengan jarak yang terukur.

Di luar, Susan menatap mereka melalui kaca.

Sesuatu di dadanya mulai runtuh perlahan.

Ia tidak tahu siapa perempuan itu sebenarnya, tapi ia tahu satu hal: Arman sedang jatuh… lagi.

Dan kali ini, bukan padanya.

Dalam kafe, suasana tetap tenang—terlalu tenang untuk dua orang yang pikirannya sama-sama tidak sedang di sana.

Arman memutar cangkir kopinya perlahan. “Aku ini orang yang terbiasa berbicara terus terang,” katanya akhirnya. “Jadi akan aku katakan dengan jujur. Aku tertarik padamu.”

Dara tidak terlihat terkejut.

Ia mengangkat alis sedikit, bukan sebagai respon emosional, tapi sebagai tanda sedang menilai. “Menarik,” ucapnya ringan. “Tapi kamu tertarik pada apa, Arman? Pada pikiranku… atau pada bayangan yang kamu bawa sendiri?"

Arman terdiam sesaat. “Kau berbeda dari perempuan yang pernah kukenal,” katanya. “Itu yang membuatku ingin lebih dekat.”

Dara menyandarkan punggung ke kursi. Tatapannya tidak lembut, tapi juga tidak kejam.

“Biasanya orang mengatakan itu saat mereka tidak ingin menyebut nama orang yang sebenarnya sedang mereka cari.”

Arman tersenyum kecil. “Kau tajam.”

“Dan kamu terlalu mudah terbaca.”

Kalimat itu tidak menghina. Hanya fakta.

1
Kam1la
terimakasih....😍
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo hadir kak🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
🌹hadiah bwt kaka🤗
Kam1la: terimakasih....😍😍
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
👋
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo kak maaf bru mampir lagi🤗
Kam1la: ok Kak, semoga terhibur
total 1 replies
Ma Em
Arman dan Bu Anggun kaget setelah tau Zizi atau Dara menjadi orang sukses wanita yg selalu diacuhkan dan selalu dihina dan diremehkan sekarang jadi wanita yg sangat berkelas tdk tersentuh , menyesalkan Arman dan Bu Anggun karena sdh membuang berlian .
Kam1la: iya kak.... menyesal banget!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Semangat terus kak🤗
Kam1la: ok Kak.. pasti !
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo aku mampir lagi kak 🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo👋
Kam1la: halo, juga Kak !!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo aku mampir lagi kak🤗
Miu Miu 🍄🐰
ayo Zizi bikinlah si congcorang itu menyesal
Miu Miu 🍄🐰
lanjut kak Thor makin seru😍
Kam1la: mampir juga Kak, di karya author yang lain, ayah anakku CEO amnesia
total 2 replies
Ma Em
Mampir Thor cerita awal saja sdh membuat hati panas , semoga Zizi bisa sukses dan balas perbuatan Arman dan keluarganya hingga menyesal seumur hdp nya 💪💪👍👍😘😍
Kam1la: terima kasih Kak, mampir juga donk di karya author Ayah Anakku CEO AMNESIA, semoga terhibur....
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!