"Saat kesetiaan hanyalah topeng dan kasih sayang adalah alat untuk merampas, Karin memilih untuk tidak menjadi korban."
Karin mengira hidupnya sempurna dengan suami setia bernama Dirga, sahabat sejati seperti Laura, dan kasih sayang Mama Mona. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan Laura hamil anak Dirga. Kehancuran Karin memuncak ketika Mama Mona, ibu yang sangat ia cintai, justru memihak Laura dan memaksanya untuk dimadu.
Di balik pengkhianatan itu, terbongkar rahasia besar: Karin bukanlah anak kandung Mona. Sebaliknya, Laura adalah putri kandung Mona yang selama ini dirahasiakan. Mona sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Karin untuk masa depan Laura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Malam itu terasa begitu panjang bagi Laura. Ia terus terjaga, bergelut dengan rasa lapar yang melilit dan tak kunjung reda. Dalam kondisi hamil, tubuhnya tak lagi mampu menanggung beban itu hingga akhirnya kesadarannya meredup. Laura jatuh pingsan di tengah kesunyian malam.
"Laura... Laura, bangun!" suara Dirga memecah keheningan, penuh nada panik saat mendapati istrinya terkulai lemas.
Dengan tangan gemetar, Dirga meraih minyak kayu putih dan mendekatkannya ke hidung Laura, berharap aroma tajam itu mampu menarik kembali kesadaran istrinya.
"Uhuk... Hoek..."
Laura tersentak. Kelopak matanya terbuka perlahan, terasa sangat berat seolah tertimpa beban yang amat besar. Pandangannya buram, dunianya terasa berputar.
"Mas Dirga... aku kenapa? Kenapa kepalaku pusing sekali?" tanyanya lirih dengan suara serak.
"Kamu pingsan, Ra," jawab Dirga, napasnya sedikit lebih teratur meski guratan cemas belum hilang dari wajahnya.
"Aku lapar, Mas... perutku perih banget," bisik Laura. Wajahnya pucat pasi, menyiratkan rasa sakit yang tertahan.
Hati Dirga mencelos mendengarnya. "Kamu sabar ya. Sebentar lagi subuh. Mas akan keluar cari makanan, siapa tahu ada warung yang sudah buka."
Tanpa membuang waktu, Dirga bergegas keluar menyisir jalanan yang masih gelap. Namun, harapannya pupus. Jarum jam baru menunjukkan pukul lima subuh, dan deretan warung di sepanjang jalan masih tertutup rapat.
"Sial! Kenapa semuanya masih tutup?" umpat Dirga frustrasi. Keringat dingin mulai membasahi keningnya mengingat kondisi Laura di rumah.
Tak mau menyerah, ia berhenti di depan salah satu warung. "Aku coba ketuk saja, siapa tahu pemiliknya sudah bangun di dalam."
Dirga mengetuk pintu kayu itu berkali-kali. "Permisi... Pak... Bu..."
Hening. Tidak ada jawaban dari balik pintu. Dirga berdiri mematung di tengah udara pagi yang dingin, berkejaran dengan waktu dan rasa cemas mengingat keadaan Laura yang sudah sangat lemas.
Dirga pun pergi mencari warung lain. Setelah berjalan cukup jauh dari kontrakannya, akhirnya ia menemukan sebuah warung yang sudah buka.
"Alhamdulillah, akhirnya ada warung yang buka," ucapnya lega.
Namun sayang, Dirga tidak membawa uang tunai karena ia belum sempat mengambil uang di ATM.
"Ah, sial. Kenapa aku bisa lupa? Aku belum tarik uang. Gimana ini, aku sudah jauh lagi dari rumah," gumamnya kesal.
Untungnya, keberuntungan masih berpihak padanya. Saat merogoh saku celananya, ia menemukan selembar uang lima ribu rupiah.
"Syukurlah masih ada uang ini. Setidaknya aku bisa membelikan Laura roti untuk mengganjal perutnya," pungkasnya.
Tanpa membuang waktu, Dirga melangkah masuk ke dalam warung. Tangannya langsung menyambar sebungkus roti dari rak kaca yang paling depan.
"Permisi, Bu. Roti yang ini harganya berapa, ya?" tanya Dirga, suaranya sedikit terengah.
Ibu pemilik warung yang sedang merapikan dagangan menoleh. "Oh, yang itu lima ribu saja, Mas."
Dirga mengembuskan napas lega. Ia segera menyerahkan uang lecek yang sejak tadi digenggamnya. "Ini uangnya, Bu. Pas, ya. Terima kasih banyak."
"Iya, Mas, sama-sama," jawab si Ibu, sedikit heran melihat raut wajah pelanggannya yang tampak sangat terburu-buru.
Setelah roti itu dibayar Dirga langsung berbalik arah. Ia nyaris berlari, menembus dinginnya udara subuh yang kian menusuk. Pikirannya melayang pada Laura yang terbaring pucat di kontrakan. Sambil mendekap roti itu erat-erat agar tidak jatuh, ia terus memacu langkah, berharap sebungkus roti sederhana itu cukup untuk menyelamatkan istri dan calon buah hatinya dari rasa lapar yang menyiksa.
Begitu pintu kontrakan terbuka, Dirga langsung menghambur ke sisi tempat tidur. Ia mendapati Laura masih terbaring lemah dengan napas yang pendek. Dengan tangan gemetar, ia merobek bungkus plastik roti itu.
"Laura, bangun sayang. Ini, Mas sudah bawakan roti. Makan sedikit ya, Mas suapin," bisik Dirga lembut sambil membantu Laura bersandar pada bantal.
"Mas... kok kamu lama sekali?" rintih Laura. Suaranya nyaris hilang, matanya tampak layu dan cekung.
Dirga menghela napas panjang, ada rasa bersalah yang terpancar dari tatapannya. "Maaf ya, tadi warung di sekitar sini tutup semua. Mas harus jalan cukup jauh sampai dapat warung yang buka. Sudah, sekarang jangan banyak bicara dulu. Ini, ayo makan."
Laura menerima suapan demi suapan dengan lahap, seolah roti itu adalah penyelamat nyawanya. Melihat istrinya yang seperti itu, hati Dirga mendadak perih. Ia mengusap sisa remahan roti di sudut bibir Laura.
"Maafin Mas, ya. Gara-gara Mas, kamu jadi harus menderita seperti ini," ucap Dirga dengan suara yang berat.
Laura menggeleng pelan, mencoba memberikan senyum tipis untuk menenangkan suaminya. "Nggak apa-apa, Mas. Aku mengerti."
Setelah beberapa suapan, Dirga merapikan duduknya. "Ra, setelah ini Mas harus berangkat kerja. Kamu nggak apa-apa, kan, Mas tinggal sendirian di rumah?"
Gerakan tangan Laura yang sedang mengunyah terhenti sejenak. Ia menatap suaminya dengan cemas.
"Mas mau kerja ke mana? Apa Mas masih mau kerja dikantor papanya Karin?"
"Iya, Ra. Cuma itu harapan kita sekarang."
"Mas, kamu yakin?" suara Laura mulai bergetar. "Karin sudah mengusir kamu dari rumahnya. Aku takut dia juga bakal menekan papanya untuk memecat kamu."
Dirga mencoba tersenyum, meski ada keraguan yang ia sembunyikan rapat-rapat. Ia menggenggam tangan Laura yang dingin.
"Karin nggak akan sejauh itu, Ra. Mas ini memegang posisi penting di perusahaan Pak Sanjaya. Selama ini kinerjaku bagus, dan Mas selalu menyelesaikan proyek besar dengan sukses. Pak Sanjaya pasti akan berpikir dua kali kalau mau memecat Mas hanya karena masalah pribadi Karin."
Dirga melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 07.10 pagi. Ia tersentak, waktu seolah mengejarnya. Dengan terburu-buru, ia segera menyambar tas kerja dan bersiap untuk berangkat sebelum terlambat sampai di kantor.
"Mas berangkat kerja dulu ya, Ra," pamitnya lembut. Ia membungkuk, mendaratkan kecupan hangat di kening Laura yang masih pucat. "Kalau terasa sakit lagi atau butuh apa-apa, langsung telepon Mas, ya. Jangan ditahan sendiri."
"Iya, Mas," sahut Laura lirih. Suaranya masih terdengar lemah, namun ia berusaha memberikan anggukan kecil untuk menenangkan suaminya.
Dengan berat hati, Dirga pun melangkah keluar rumah, meninggalkan Laura yang masih berbaring demi memperjuangkan nasib mereka di kantor nanti.
**********
Di kantor.......
Sesampainya Dirga di kantor, langkahnya terhenti ketika Pak Satpam menghadangnya sebelum ia sempat masuk ke dalam gedung.
Langkah Dirga terhenti tepat di pintu lobi. Dua orang petugas keamanan yang biasanya menyapanya dengan ramah, kini berdiri tegak menghadang jalannya dengan wajah kaku.
"Maaf, Pak Dirga. Bapak tidak diperbolehkan masuk ke gedung ini lagi," ucap salah satu satpam dengan nada dingin dan tegas.
Dirga tertegun, rahangnya mengeras. "Maksudnya apa? Saya ini manajer di sini, karyawan penting Pak Sanjaya! Jangan kurang ajar ya, minggir!" gertaknya, mencoba menerobos celah di antara kedua pria berseragam itu.
Namun, petugas itu tetap bergeming.
"Mohon maaf, ini perintah langsung dari Pak Sanjaya. Bapak sudah di pecat dari kantor ini."
"Tidak mungkin! Pak Sanjaya tidak mungkin melakukan ini!" teriak Dirga frustrasi.
"Silakan pergi sekarang juga, Pak, sebelum kami terpaksa bertindak kasar," petugas itu mulai kehilangan kesabaran dan mendorong bahu Dirga hingga ia terhuyung keluar dari lobi. "Pergi, Pak!"
"Lepaskan! Saya nggak akan pergi sebelum bertemu dengan Pak Sanjaya!" teriak Dirga sambil memberontak, lalu berlari menerjang para satpam itu.
"Pak Dirga, berhenti!" teriak salah satu satpam.
Bersambung.......
Dirga nikah siri sama Laura?
status belum cerai kan ya sama Karin
berarti Karin ijinin poligami apa bagemane kak
Dirga nikah pas status masih resmi sama Karin
kalau sama penghulu berarti Siri? Tapi itu sama aja Dirga poligami sementara dong ya
kalau secara hukum jelas gak bisa kan belom cerai
dan itu gak pake wali gak sah...
ku cuma bingung pas baca chapter 23-24 cuma mau mastiin nikahnya itu gimana maksudnya
maap banyak tanya, bingung beneran soalnya 🙏
pria itu kan menawarkan sebuah informasi
apalagi dibayar mahal
tapi di bawahnya kemudian dia malah gak gak kasih tahu, padahal yang menawarkan informasi itu si pria bukan Karin yang tanya
jadi ada inkonsistensi di sini
kalau aku jadi Karin, ku bakal tabok si informan dan ngomong
"Hei, aku sudah bayar kamu 100 juta untuk informasi receh?
Kamu tau info itu gak lapor polisi dan malah minta uang dariku? aku bakal laporin kamu ke polisi sebagian pemerasan! sekarang kasih tau aku siapa atau polisi akan datang, oh ya aku sudah rekam pembicara kita 🤣"
Karin bakal jadi the winner
keep update kak
semangat 💪
apakah ini cerita panjang??
semangat terus ya kak