Malam itu, di balik rimbun ilalang takdir seorang gadis muda yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu berubah selamanya. Seorang wanita sekarat menitipkan seorang bayi padanya, membawanya ke dalam pusaran dunia yang penuh bahaya.
Di sisi lain, Arkana Xavier Dimitri, pewaris dingin keluarga mafia, kembali ke Indonesia untuk membalas dendam atas kematian Kakaknya dan mencari sang keponakan yang hilang saat tragedi penyerangan itu.
Dan kedua orang tua Alexei yang di nyatakan sudah tiada dalam serangan brutal itu, ternyata reinkarnasi ke dalam tubuh kucing.
Dua dunia bertabrakan, mengungkap rahasia kelam yang mengancam nyawa Baby Alexei
Bisakah Cintya dan Arkana bersatu untuk melindungi Alexei, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Mobil melaju membelah malam. Lampu jalanan yang berkedip-kedip menciptakan ilusi seolah waktu berjalan lebih cepat. Di dalam mobil, keheningan terasa begitu pekat, seperti selimut tebal yang menutupi segala kemungkinan percakapan. Cintya melirik pria di sampingnya. Arkana, dengan wajah tanpa ekspresi yang nyaris sempurna. Mukanya datar banget, kayak kanebo kering! Nggak ada senyum, nggak ada kerut, kayak patung manekin di toko baju yang lupa dikasih nyawa.
"Ck," decak Cintya pelan, berusaha mengusir rasa bosan yang mulai menyerang. "Kenapa juga gue harus nebeng sama nih orang? Kenapa nggak tadi sekalian aja gue ngamen di perempatan? Lumayan kan, bisa buat nambahin uang jajan," gerutunya dalam hati.
"Kak, seriusan nggak ada yang mau diobrolin nih?" tanya Cintya, mencoba memecah keheningan yang mulai membuatnya nggak nyaman. Ia berusaha memasang nada ceria, meskipun sebenarnya ia merasa sedikit gugup berhadapan dengan pria es ini.
"Atau mau gue tebak zodiaknya? Siapa tahu gue cenayang. Kak Arkan, zodiaknya Capricorn ya? Pasti orangnya dingin dan susah ditebak. Gitu?" Ia mencoba menirukan gaya peramal di TV, lengkap dengan intonasi dramatis.
Arkana hanya mengangkat bahu, bahkan tanpa menoleh sedikit pun. Tatapannya tetap lurus ke depan, fokus pada jalanan yang gelap.
"Yaelah, masih aja diem-diem bae!" cibir Cintya kesal. "Untung ganteng, kalau nggak udah gue ceburin ke kali Ciliwung. Biar sekalian mandi lumpur, biar tahu rasa." lanjutnya sambil membayangkan Arkana berlumuran lumpur, dan tanpa sadar, bibirnya tertarik membentuk senyum tipis. "Tapi, kalau dia mandi lumpur, tetep aja ganteng sih," decaknya, semakin kesal.
Cintya menghela napas. "Susah emang ngajak ngobrol kulkas. Mending dengerin musik aja deh." Ia meraih ponselnya dan memasang earphone. Playlist Spotify-nya langsung memutar lagu-lagu K-Pop yang ceria. Tapi, baru beberapa detik, ia melepasnya lagi.
"Kak, mau dengerin musik juga gak?" tanya Cintya, menawarkan sebelah earphone-nya dengan ragu. "Siapa tahu Kakak suka BTS juga. Atau Blackpink? Atau ... dangdut koplo?" Ia mencoba bercanda, berharap Arkana akan merespons.
Arkana menggeleng tanpa minat.
"Oke deh, terserah!" ketus Cintya, mulai kesal. Ia berusaha menyembunyikan kekecewaannya di balik nada ceria. "Gue juga nggak maksa! Lagian, selera musik kita pasti beda. Kakak kan sukanya lagu klasik, yang bikin ngantuk."
Suasana kembali hening. Tapi kali ini, Cintya nggak mau nyerah gitu aja. Ia harus cari cara buat mencairkan suasana yang membeku ini. Masa iya, sepanjang jalan cuma diem-dieman kayak orang lagi musuhan? Kan nggak asyik.
"Kak, tahu nggak bedanya kulkas sama Kakak?" tanya Cintya, memasang senyum jahil yang sudah menjadi senjatanya. Ia menatap Arkana dengan tatapan menantang, menunggu reaksi pria itu.
Arkana meliriknya sekilas, tapi nggak menjawab. Wajahnya masih datar, tapi ada sedikit kerutan di dahinya. Sepertinya, ia mulai tertarik dengan tebak-tebakan garing Cintya.
"Apa hayooo?" goda Cintya, semakin bersemangat. "Penasaran kan? Penasaran dong?"
"Kalau kulkas bisa buat nyimpen makanan biar awet, kalau Kakak bisa buat nyimpen ... hati gue biar nggak diambil orang!" ceplos Cintya, lalu tertawa sendiri, merasa bangga dengan gombalan recehnya. "Gimana, Kak? Kreatif kan gue?"
Arkana mendengus pelan, tapi kali ini ada sedikit tarikan jelas di sudut bibirnya. Sebuah senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Tapi bagi Cintya, itu sudah cukup. Itu adalah sebuah kemenangan.
"Nah kan, senyum juga akhirnya!" cetus Cintya, senang. "Gitu dong, Kak. Jangan tegang-tegang amat. Santai aja kayak di pantai. Anggap aja kita lagi liburan di Bali, terus kita pesen es kelapa muda, terus ..."
Arkana memotong celotehannya dengan deheman pelan. "Hemm. Udah malem," ucapnya, suaranya masih datar, tapi nggak sedingin sebelumnya.
"Iya, ya gue tahu," jawab Cintya, sedikit tersipu. "Maksudnya, ya gitu deh. Santai aja."
Arkana menggeleng pelan, ia mulai menikmati ocehan absrud gadis di disampingnya..
Cintya bisa merasakan ada sedikit perubahan dalam diri pria itu. Aura dinginnya sedikit berkurang, dan ada sedikit kehangatan yang terpancar dari matanya. Mungkin ... usahanya nggak sia-sia. Mungkin, sebentar lagi, es di hati Arkana akan mencair sepenuhnya.
Malam semakin larut, dan jalanan semakin sepi. Hanya ada beberapa mobil yang lewat, dan suara jangkrik yang bersahutan di kejauhan. Tiba-tiba, Arkana memelankan laju mobilnya dan menepikan mobil di bahu jalan yang agak sepi. Lampu-lampu kota berkelap-kelip di kejauhan, menciptakan pemandangan yang lumayan romantis, meskipun Cintya nggak yakin Arkana menyadarinya.
"Lho, loh kok berhenti?" tanya Cintya, bingung. "Ban mobilnya bocor? Atau Kakak kebelet?" Ia mencoba ceria, tapi jantungnya mulai berdebar nggak karuan. "Jangan bilang dia mau nurunin gue di sini!" batin Cintya tiba-tiba panik.
Arkana mematikan mesin mobil dan mencabut kunci kontaknya. Keheningan langsung menyelimuti mereka, semakin mempertegas suasana yang tiba-tiba menjadi serius.
"Nggak. Gue cuma mau ngomong sesuatu," sahut Arkana, suaranya pelan tapi tegas. Ia menatap lurus ke depan, seolah ada sesuatu yang berat yang ingin ia ungkapkan.
Jantung Cintya langsung berdebar kencang. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang penting yang akan dikatakan Arkana. Sesuatu yang bisa mengubah segalanya, atau menghancurkan segalanya.
"Ngomong soal apa?" tanya Cintya, berusaha menyembunyikan kegugupannya di balik nada cerianya. "Soal harga BBM yang naik terus? Atau soal rencana pemerintah yang mau pindahin ibu kota?"
Arkana tersenyum tipis sangat tipis tapi bisa membuat jantung Cintya semakin gak aman. Ia menoleh dan menatap Cintya dengan tatapan yang intens, membuat Cintya salting brutal bahkan ia nggak berani membalas tatapannya. Tatapan itu seolah menembus jantungnya, mencari tahu apa yang sebenarnya ia rasakan.
"Soal ..." Arkana menggantung kalimatnya, menciptakan ketegangan yang semakin meningkat. "Soal lo dan gue."
Mata Cintya membulat. Ia menelan ludah dengan susah payah. Apa yang akan dikatakan kak Arkan? Apa ini pertanda ...? Jangan-jangan ...,"
"Maksud Kakak ... kita berdua?" tanya balik Cintya memastikan, suaranya bergetar nyaris tak terdengar. Ia menatap Arkana dengan tatapan waspada sekaligus penasaran.
Bersambung ....