"Aku akan berusaha melawan badai yang akan menerpaku kapanpun itu. Aku siap menerima serangan badai yang besar sekalipun. Aku tidak takut kepada besarnya badai, aku tidak gentar terhadap ganasnya badai. Aku juga tidak akan menyerah walau badai itu terus menggulungku. Aku akan berusaha berdiri di atas badai itu. Aku akan menghadapi badai itu. Aku akan melawan badai itu. Aku akan menari diatas badai itu pula. Hingga pada akhirnya, badai itu bisa menyatu dengan diriku. Aku adalah badai dan badai adalah aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelantikan Wei An
Hari ini tepat hari ketiga setelah para petinggi Kekaisaran mengadakan rapat untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan. Semua orang-orang di Kekaisaran nampak sibuk.
Mereka semua sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Gerbang pertama bertugas memperketat penjagaan untuk para tamu penting dan orang-orang yang ingin menghadiri acara pelantikan. Mereka juga bertugas untuk menyambut kedatangan dan mengantarkan semua tamu menuju gerbang selanjutnya.
Gerbang kedua akan menyambut mereka semua dengan sedikit hiburan dan suguhan untuk sekedar menghilangkan rasa lelah dalam perjalanan. Maklum, Istana Kekaisaran Wei mempunyai tiga gerbang dengan masing-masing fungsi, jarak setiap gebang ke gerbang lainnya butuh waktu sekitar lima belas menit perjalanan berkuda. Setiap Benteng mempunyai luas setara dengan beberapa luas kota besar.
Sedangkan gerbang ketiga adalah lokasi dimana Istana berada di sana. Orang-orang sudah siap dengan jamuan-jamuan mewah untuk para tamunya nanti. Acara pelantikan ini benar-benar diselenggarakan secara megah dan meriah.
Para tamu dari berbagai sekte aliran putih, netral, dan keluarga bangsawan mulai berdatangan satu-persatu. Setiap dari mereka akan membawakan sebuah kado yang sangat mahal untuk diserahkan kepada Wei An nantinya sebagai tanda ucapan selamat.
Matahari sudah tepat berada ditengah-tengah kepala. Sinarnya begitu terang menyinari bumi tanpa tertutup oleh awan sedikit pun. Acara pelantikan pun akan segera dilaksanakan.
"Terimakasih untuk semua tamu undangan yang bersedia menghadiri acara pelantikan Kaisar baru ini. Saya mewakili keluarga Kekaisaran merasa senang atas antusias para hadirin semua. Tidak perlu menunggu lama, mari kita dengarkan pidato dari kaisar baru kita," Penasihat Mu memberikan sambutan dan ucapan terimakasih kepada tamu yang sudah hadir.
Tak lama kemudian, seorang pria yang masih muda masuk menuji mimbar yang sudah disiapkan. Pemuda itu tampak gagah memakai hanfu merah dibalut dengan dalaman berwarna kuning. Dengan wajah tampan dan bentuk tubuh ideal membuatnya terlihat seperti Dewa.
Dia memasuki mimbar dengan melambaikan tangan dan memberikan senyuman hangatnya kepada orang-orang yang hadir. Aura yang memikat semua orang keluar dari tubuh pemuda itu, membuat semua orang terpana dengannya. Ya benar … pemuda itu tak lain adalah Wei An, calon Kaisar baru yang akan meneruskan tugas mendiang ayahnya, Wei Lhuo.
"Selamat datang di Istana Kekaisaran Wei. Pertama-tama saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada saudara semua yang telah menyempatkan waktu untuk hadir dalam acara ini. Sebelumnya seperti yang sudah dijelaskan Penasihat Mu, saya Wei An akan meneruskan tugas mendiang ayahnya dengan menjadi seorang kaisar. Barangkali ada di sini yang tidak setuju dengan naiknya saya menjadi kaisar boleh angkat tangan," kata Wei An mengawali pidatonya. Tak lupa senyuman hangat terbias di bibirnya, senyuman itu seolah membius orang-orang yang hadir.
Tidak ada menjawab setelah Wei An mengatakan hal itu, siapa yang tidak setuju jika tanah airnya dipimpin oleh orang yang lembut dan bijaksana? Mungkin hanya orang-orang bodoh saja yang tidak setuju akan hal itu. Pikir orang-orang yang hadir.
"Baiklah … jika semuanya setuju saya melanjutkan tugas mendiang ayahanda, saya ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya. Jika nanti ketika sudah menjadi Kaisar berlaku tidak selayaknya pemimpin, silahkan tegur dan ingatkan saya. Mungkin saya tidak bisa sebaik ayahanda dalam mengemban tugas ini, tapi saya berjanji akan melakukan yang terbaik dan mengikuti langkah ayahanda." ucapan terakhirnya sedikit dilanda kesedihan. Jelas … ayahnya sudah menjadi panutan bagi setiap anak-anak dan rakyatnya.
Sorak sorai orang-orang membuat suasana semakin meriah. Seolah kebahagiaan untuk menjalani hidup baru melanda mereka kembali, setelah sebelumnya dilanda kesedihan yang mendalam. Rasanya, harapan akan kedamaian di negaranya masih ada.
"Ayah. Semoga kau tenang disana, aku akan meneruskan tugas ayah dengan baik. Aku akan mengikuti jejak ayah. Terimakasih atas semua yang telah kau ajarkan kepada anaka-nakmu." gumam Wei An. Tak terasa air mata menetes saat mengenang masa lalu yang indah bersama ayahnya.
semoga utk cerita2 lain penulis bisa insaf 🤣🤣🤣
kasian Thor membuat cerita seperti ini 🤣🤣🤣
katanya belajar dan mencontoh Kho Ping Ho,,,, jaaaaauuuuhhh thor