Axeline tumbuh dengan perasaan yang tidak terelakkan pada kakak sepupunya sendiri, Keynan. Namun, kebersamaan mereka terputus saat Keynan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.
Lima tahun berlalu, tapi tidak membuat perasaan Axeline berubah. Tapi, saat Keynan kembali, ia bukan lagi sosok yang sama. Sikapnya dingin, seolah memberi jarak di antara mereka.
Namun, semua berubah saat sebuah insiden membuat mereka terjebak dalam hubungan yang tidak seharusnya terjadi.
Sikap Keynan membuat Axeline memilih untuk menjauh, dan menjaga jarak dengan Keynan. Terlebih saat tahu, Keynan mempunyai kekasih. Dia ingin melupakan segalanya, tanpa mencari tahu kebenarannya, tanpa menyadari fakta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Kabar tentang rencana Axeline pindah magang telah sampai ke telinga Keynan. Andrian, yang mendengar langsung dari HRD, memberi tahunya bahwa ayah Axeline tengah mengurus izin kepindahan dengan pihak kampus.
Rahang Keynan mengatup, tinjunya mengepal erat. Ia tahu betul alasan Axeline mengambil keputusan itu.
Dan ia tidak akan membiarkannya terjadi.
“Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari perusahaan ku, Lin.”
"Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari perusahaan ku, Lin." Tanpa berpikir panjang, Keynan meraih ponselnya, mencari kontak Andrian, lalu langsung menghubunginya.
“Siapkan mobil!” perintahnya tegas, tanpa menunggu jawaban, ia langsung memutus panggilan.
Dengan langkah cepat dan tegas, Keynan keluar dari ruangannya, langsung menuju lobby. Begitu tiba, ia melihat Andrian yang sudah menunggunya dengan sikap siap siaga.
“Mobil sudah siap, Tuan,” lapor Andrian.
Keynan mengulurkan tangannya. “Berikan kunci mobilnya.”
Andrian tampak ragu sejenak. “Tapi, Tuan ...”
“Berikan.” Suaranya dingin, membuat Andrian menelan ludah sebelum menyerahkan kunci.
Tanpa banyak bicara, Keynan masuk ke mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi menuju kediaman keluarga Wiratama. Ia akan membahas ini langsung dengan Alexio.
Tiga puluh menit kemudian, mobilnya berhenti sempurna di depan rumah mewah itu. Begitu turun, seorang pelayan yang mengenalinya segera membukakan pintu.
"Selamat siang, Aunty," sapa Keynan dengan sopan.
Keyra, yang tengah menikmati secangkir teh di ruang tamu, sedikit terkejut melihat kedatangannya. Ia meletakkan cangkir itu di meja, lalu tersenyum tipis. "Keynan! Tumben sekali kau datang. Ayo, silakan duduk."
Keynan mengangguk dan duduk di sofa seberang Keyra. "Maaf mengganggu, Aunty. Tapi, apa uncle dan Axeline ada?"
Keyra menatapnya dengan alis sedikit berkerut. "Alexio ada di kantor, tapi, Axeline ada di kamarnya. Ada apa, hm?" tanyanya dengan nada ingin tahu.
Keynan menarik napas sejenak sebelum menjawab, "Sebenarnya, kedatanganku ke sini untuk bertemu mereka dan menjelaskan bahwa Axeline tidak bisa pindah dari perusahaan ku, Aunty."
Keyra menyandarkan tubuhnya ke sofa, menatap pria di depannya dengan penuh perhatian. "Kenapa begitu?"
"Saat mahasiswa memilih perusahaan kami untuk magang, mereka sudah menandatangani surat perjanjian, yang isinya, selama masa magang, mereka tidak diperbolehkan keluar dengan alasan apa pun. Itu kebijakan yang kami buat demi menjaga nama baik perusahaan dan menghindari kebocoran informasi. Walaupun mereka masih magang, mereka tetap ikut andil dalam mengerjakan proyek. Jadi ..."
"Baiklah, tidak perlu dijelaskan lagi. Aku mengerti," potong Keyra sebelum Keynan selesai berbicara. Ia menghela napas pelan sebelum melanjutkan, "Tapi, lebih baik kau katakan hal itu langsung pada Axeline. Dia merasa tidak nyaman magang di perusahaanmu karena ada yang menindasnya."
Ucapan Keyra berhasil membuat Keynan terdiam. Matanya sedikit menyipit, tangan yang sejak tadi bertaut di atas pahanya perlahan mengepal.
"Bukan menindasnya, Aunty. Tapi menyakitinya. Dan itu adalah aku," batinnya.
Setelah beberapa detik terdiam, Keynan berkata, “Boleh aku menemuinya?”
Keyra mengamati ekspresi pria itu sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Silakan. Tapi, aku harap kau bisa menyelesaikan semuanya dengan baik."
Keynan bangkit dan berjalan menuju kamar Axeline. Di depan pintu, ia terdiam sejenak sebelum mengetuk pintu.
"Masuk saja, tidak aku kunci," seru Axeline yang terdengar dari dalam kamar
Keynan mengepalkan tangannya di udara. Lalu, tangannya perlahan turun, menggenggam kenop pintu dan mendorongnya perlahan.
Ia melihat Axeline tengah tengkurap di atas tempat tidur dengan sebuah majalah di depannya. Ia menutup pintu perlahan dan menguncinya. Lalu, dengan langkah hati-hati, ia mendekat dan berdiri di samping tempat tidur.
"Ada apa, mom?" tanya Axeline tanpa menoleh sedikitpun.
"Ada yang ingin aku bicarakan."
Tubuh Axeline tertegun. Ia sangat mengenali suara itu dan itu bukan suara ibunya.
Tubuhnya langsung menegang, dan jari-jarinya mencengkeram ujung majalah yang tadi ia baca. Ia menelan ludah sebelum perlahan menoleh ke samping. Tatapan matanya bertemu dengan sosok yang berdiri di dekat tempat tidurnya.
"K-Kak Keynan?" suara Axeline terdengar jelas bergetar.
Pria itu berdiri dengan ekspresi sulit ditebak, sorot matanya dalam, menyimpan sesuatu yang tidak bisa Axeline pahami sepenuhnya.
"U-untuk apa kau kemari?" tanya Axeline, mencoba untuk mengendalikan dirinya.
Keynan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Axeline dalam diam, seolah menunggu reaksi lebih lanjut dari wanita itu. Namun, ketika Axeline berusaha bangkit untuk duduk, Keynan dengan cepat menekan bahunya, membuatnya tetap di tempatnya.
"Tetap di sana," ucapnya pelan, namun penuh tekanan.
Axeline menatapnya dengan sorot tidak terima. "Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau masuk ke kamarku?"
Keynan menarik napas panjang sebelum akhirnya duduk di tepi tempat tidur, menatap Axeline dengan intens. "Aku ingin bicara denganmu. Tentang perusahaan. Ah, tidak. Tapi tentang magang mu."
Axeline memalingkan wajah, seolah enggan mendengar. "Aku sudah memutuskan untuk keluar. Kau tidak bisa menghentikan ku."
"Sebenarnya, aku bisa," potong Keynan dengan nada datar.
Axeline langsung menoleh ke arah Keynan, menatapnya dengan tatapan tajam. "Apa maksudmu?"
Keynan mengambil bantal yang ia gunakan untuk bersandar di headboard dengan santai. "Perusahaan kami memiliki aturan. Sekali kau memilih magang di sana, kau tidak bisa keluar dengan alasan apa pun."
Mata Axeline membelalak. "Apa? Itu tidak masuk akal!"
"Itu peraturan. Dan, aku datang ke sini untuk menjelaskan padamu," ujar Keynan
Axeline mengepalkan tangannya. "Kalau begitu, aku akan melanggar peraturan itu. Aku tidak peduli."
Keynan tersenyum tipis, namun tetap dengan ekspresi wajah yang tegas, yang membuat dada Axeline terasa sesak.
"Coba saja," tantangnya, suaranya terdengar seperti peringatan halus yang menyiratkan sesuatu yang lebih dalam.
Axeline menatap tajam ke arah Keynan. Sorot matanya penuh dengan kemarahan yang berusaha ia redam, saat melihat pria yang saat ini berbaring di tempat tidur nya terlihat tenang, seolah tidak ada yang salah, seolah semua yang terjadi di antara mereka tidak pernah meninggalkan luka. Dan itu membuat Axeline muak.
"Keluar!" suara Axeline bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang ia tahan agar tidak meledak.
Keynan hanya tersenyum kecil, matanya menelusuri wajah Axeline, melihat kilatan kebencian di matanya. "Jika aku tidak mau?"
Axeline mengepalkan tangannya, berusaha menahan dorongan untuk menampar pria itu. Tapi sebelum ia sempat berkata apa pun, Keynan melanjutkan ucapannya dengan nada yang santai. "Aku tahu, kenapa kau ingin keluar dari perusahaan ku, Lin. Kau ingin menghindar dariku, bukan?"
Keynan menarik tangan Axeline, hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. "Tapi sayangnya, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Matanya menatap Axeline dengan tenang yang membuat wanita itu semakin tersulut emosi.
"Karena sampai kapanpun, kau tetap milikku, Axeline."
DEG!
.
jadi penasaran
thor jgn lama2 up nya