(Novel ini mengandung unsur sensual dan adegan kekerasan)
"Kamu milikku. Aku akan melakukan apapun yang kuinginkan, denganmu. I will give you heaven and i will give you hell"
Setelah bangun dari koma karena percobaan bunuh diri, aku terkejut karena statusku menjadi menikah. Ternyata sebuah rahasia yang disembunyikan suamiku bahwa dia seorang profesional pembunuh bayaran.
Aku tak menyangka lelaki yang ku ketahui sebagai Vice President adalah anggota elite organisasi hitam yang menjadi buronan negara.
Teror demi teror datang. Beberapa pihak punya rencana jahat untuk menyingkirkan ku demi harta dan cinta, termasuk ibu tiri dan adikku.
Aku bersedia menukar tubuhku pada lelaki yang menjadi suami kontrak itu untuk sebuah komitmen balas dendam kematian sang ibu.
Akankah kebenaran tentang masa lalu menghancurkan rumah tangga kami? Penuh ketegangan berbalut kisah romansa yang sensual, ikuti cerita ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Prabowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Papa
Kematian adalah malam yang tak pernah fajar
Lilin yang terbakar di dalam kekosongan
Mawar hitam yang mekar dalam jiwa
Dan suara yang terdiam di dalam kesepian
Sebuah surat berisi puisi yang kutemukan di bouquet bunga duka cita papa. Entah siapa yang pengirimnya, namun membacanya membuat air mata jatuh lagi.
Tidak perlu ditanyakan siapa yang paling sedih dengan kepergian papa selamanya, pasti aku. Dia satu-satunya jiwa yang kumiliki di dunia, tanpanya, aku bisa apa?
Air mataku sudah kering, saat pemakaman papa akulah satu-satunya keluarga yang tidak menangis. Mataku perih, pandangan berkabut, dan kepalaku sakit. Aku benci dengan pemakaman ini, karena aku bisa mendengar banyak isak tangis palsu selama prosesinya.
"Aku turut berduka, Kea."
Biru berdiri di sampingku, dia setia menemani sampai semua tamu di rumah duka pulang. Dia menyuapiku bubur, membuatkan teh hangat, dan memijat bahuku yang kaku. Setidaknya di ujung hari yang penuh duka, aku masih bisa merasakan kehangatan.
"Maaf merepotkan," ucapku dengan suara parau.
"Ini ketulusan, tidak perlu segan."
"Dunia ini rasanya sudah tidak berpihak. Harusnya saat itu gue benar-benar mati, tidak pernah bangun lagi. Jadi saat ini kami bertiga sudah berkumpul bersama."
"Hei, Tuhan punya alasan kenapa menyelamatkan hidupmu. Positif thinking saja sehabis ini ada pelangi yang indah."
Aku tertawa getir, "Aku bahkan tidak percaya pelangi itu ada. Entahlah apa yang akan terjadi besok, aku sudah tidak punya semangat hidup lagi."
Lelaki itu mengambil tanganku, menggenggam erat lalu menciumnya. "Aku janji akan membuatmu percaya kalau pelangi itu ada."
Matanya berkilau penuh ketulusan. Ah, makhluk di hadapanku begitu hangat, membuatku ingin masuk dalam pelukannya. Aku tidak bisa menangis, aku hanya bisa terisak dengan bibir bergetar.
Bahu ternyaman ini tidak boleh pergi dariku, lagi.
***
Entah apa yang membuatku ingin masuk ke gudang, padahal tempat itu sangat kubenci karena bisa memancing alergi yang membuat hidung gatal. Aku mengambil nafas dalam-dalam, lalu memakai masker sebelum masuk ke dalamnya. Tiba-tiba saja aku ingin menyelami kenangan bersama orangtua, mencoba mencari album kenangan masa kecil.
Papa punya satu kotak besi dengan gembok. Aku masih ingat, dulu dia suka menaruh barang-barang favorit di dalamnya. Kata sandi kunci masih kuingat yaitu tahun kelahiran papa. Kotak usang itu terbuka, refleks membuatku bersin karena debu yang terbang menyelinap telah menggelitiki hidung.
Dengan hati-hati, aku membuka dan mengeluarkan isinya. Album-album kenangan masa kecil bersama papa dan mama. Melihatnya membuatku jadi menangis.
Aku ingat saat-saat papa membacakan cerita sebelum tidur, juga saat mama membuat kue ulang tahun untukku. Mereka selalu ada untukku, sungguh tidak pernah terbayangkan bahwa suatu hari mereka akan pergi meninggalkanku sendiri.
Mataku menemukan sesuatu yang lain. Sebuah map berisi kliping guntingan koran berisi berbagai berita pembunuhan.
Pembunuhan Berantai di Jakarta: 5 Korban dalam 1 Minggu (Tompas, 10 Februari 1998)
Misteri Pembunuhan di Rumah Kosong: Polisi Masih mencari Motif" (Suara Baru, 10 Agustus 1998)
Pembunuhan Sadis di Bandung: Korban Ditemukan dengan Luka Bacok" ( Pikiran Umat, 15 April 1999)
Pembunuhan Sadis di Yogyakarta: Pembantaian Keluarga Ditemukan dengan Luka Bakar" (Kedaulatan Jaya, 20 Agustus 2000)
Aku merasa bulu kudukku berdiri saat membaca beberapa judul-judul berita di dalamnya. Kenapa papa mengumpulkan berita seperti ini?
Mencoba mengingat apakah papa pernah membicarakan tentang hobi aneh seperti membuat kliping berita pembunuhan, atau tertarik pada hal berbau detektif. Tidak, dia tidak pernah bercerita tentang itu.
Aku hanya ingat bahwa papa selalu berusaha melindungiku dari hal-hal yang tidak baik. Tapi, apakah itu berarti bahwa papa memiliki rahasia yang tidak ingin kuketahui?
Kini fokusku beralih pada sebuah amplop cokelat yang ternyata berisi lipatan surat.
SURAT KETERANGAN KEPEMILIKAN SAHAM
Nomor: BG/001/1989
Tanggal: 10 Februari 1989
Kepada Yth.
PT. Maju Massa
Jl. Kebenaran No. 123
Jakarta Pusat 10230
Dengan ini, kami menyatakan bahwa kepemilikan saham Bastian Group adalah sebagai berikut:
1. Baskara Dermawan, dengan alamat di Jl. Flamboyan No. 456, Jakarta Selatan 12345, memegang 70% (tujuh puluh persen) saham Bastian Group.
2. Adrian Mulia, dengan alamat di Jl. Bougenville No. 789, Bandung 40112, memegang 30% (tiga puluh persen) saham Bastian Group.
Kepemilikan saham ini telah diverifikasi dan dikonfirmasi oleh Dewan Direktur Bastian Group.
Demikian surat keterangan ini dibuat dengan sebenar-benarnya.
Baskara Dermawan?
Aku memejamkan mata, mengingat nama yang sepertinya pernah ku tahu. Ah, itu adalah nama rekan bisnis dan sahabat papa, perintis Bastian Group.
Bastian adalah singkatan dari nama keduanya, Baskara dan Adrian. Nama Baskara melekat sangat familiar di otakku, kenapa ya?
Saat aku melihat sebuah foto, benang-benang ingatan masa kecilku mulai teruntai lagi. Foto dua keluarga di taman hiburan, dari latarnya seperti Disneyland. Ada seorang anak kecil perempuan berbaju merah bergandengan dengan anak laki-laki yang lebih besar. Sangat manis. Aku ingat siapa anak itu, dia sosok yang kupanggil Abang saat kecil.
Semakin kupandangi, semakin aku menyadari bahwa dia mirip seseorang. Alis dan hidung itu... mirip seseorang.