IG @Amisari
Muchamad Mahadam, seorang Dokter bedah saraf yang tampan nan sukses,
selama 4 tahun Aam biasa dia di panggil, hanya mampu mencintai dalam doa seorang Dokter Ais, kisah cinta yang bermula dari pandangan pertama nya pada gadis manis berlesung pipi itu di sebuah kegiatan amal
Namun cinta nya harus dia tahan dalam diam, karena wanita itu telah di jodohkan dari kecil oleh orang tua nya.
Apa kah Allah mengijabah doa Aam yang meminta Ais jadi jodoh nya ?
Bagaimana cara aam meluluhkan hati ais yang mengalami trauma?
Bagaimana pesantren abi menjadi saksi perjuangan Aam?
semua akan terjawab di sini
happy reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amisari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi pingin cubit
..." *M*encintai adalah awal dari rasa menghalalkan adalah awal dari tanggung jawab "...
Dari pagi Aam disibukan dengan jadwal mengajar, terlihat beberapa buku dan kitab di tangan nya. dia berjalan santai untuk pulang ke rumah.
" Assalamu'alaikum umi," Salam nya pada umi dan langsung merangkul manja tubuh umi nya.
" Walaikumsalam nak," umi mengelus kepala anak nya itu.
" Umi lapar, Aam pingin ngemil."
" Kamu itu kebiasaan suka nya ngemil,"
" Tapi di rumah lagi gak ada jajanan pasar Am,"
" Tadi pagi umi lupa membelinya."
" Umi tega,"
" Kesukaan anak ganteng nya di lupain," rengek Aam seperti anak kecil sambil terus memeluk umi.
Ais yang dari tadi ada di dapur tanpa sengaja melihat kelakuan anak dan ibu itu tersenyum.
" Kirain mas Aam itu orang nya dingin dan berkharisma."
" Ternyata anak mami juga," batin Ais sambil mengulum senyum.
" Maaf sayang...,"
" Benar-benar lupa umi, habis nya umi buru-buru belanja nya,"
" Kan tadi pagi ada jadwal umi ngajar ngaji ibu-ibu di kampung sebelah,"
" Ini umi baru pulang dari sana,"
" Gimana kalau umi minta tolong nak Fatimah untuk membelikan nya dulu," di jawab dengan anggukan kepala oleh Aam.
Umi yang berjalan ke dapur terkejut saat melihat Ais sedang merapikan dapur, selesai memasak
" Loh nak Ais ada di sini?"
" Kenapa nak Ais yang merapikan dapur?" umi mendekat dan merangkul pundak Ais.
" Ya bu nyai,"
" Fat lagi kurang sehat jadi meminta Ais untuk membantu bu nyai."
" Nak Fat sakit apa nak?" bu nyai terlihat panik.
" Dari malam Fat kena diare bu nyai, buang air besar terus."
" Mungkin karena memakan sambal terlalu banyak saat makan bakso kemarin malam."
"Subhanallah, jadi keadaannya gimana sekarang?"
" Alhamdulillah setelah minum obat, keadaan Fat agak membaik,"
" Cuma masih lemas dan sekarang lagi istirahat."
" Syukurlah kalau begitu, nanti umi juga akan ke kamar untuk melihat kondisi nya nak Fat.
" Dan terimakasih ya nak sudah bantu umi,"
" Maaf umi gak bisa bantu kamu masak tadi, karena umi ada pengajian."
" Gak apa-apa bu nyai, ini tidak sebanding dengan kasih sayang dan ilmu yang di berikan untuk Ais dari bu nyai dan pak kyai." jawab Ais sambil terus tersenyum.
" Umi.. apa mba Fat nya ada? Aam menyusul ke dapur karena merasa umi nya lama.
" Nak Fat nya lagi sakit Am,"
" Gimana kalau kamu minta tolong abang santri di ruang piket aja."
Aam yang kaget melihat Ais ada di sana, langsung reflek berucap,
" Gimana kalau dek Ais aja yang buat jajanan pasar nya,"
" Hitung-hitung belajar melayani suami," Ujar Aam yang entah dari mana asal keberanian nya itu.
"Husss kamu itu,"
" Nak Ais udah capek masak, sekarang di minta buatin kue lagi," umi mencubit pelan lengan Aam.
" Gimana dek bisa gak?" tanya Aam lagi tanpa menghiraukan ucapan umi nya.
" Ya mas saya bisa."
" Bisa apa nih?"
" Bisa buatin jajanan nya atau bisa jadi istri saya?"
Ucapan Aam langsung membuat wajah Ais memerah seperti kepiting rebus.
" Bisa..,"
" Bisa buatin jajanan nya mas," ucap Ais terbata-bata.
Aam yang sebenarnya dari awal juga grogi berada dekat dekat Ais, berusaha menetralkan detak jantung nya.
" Terimakasih ya dek," Sekarang dia bisa melihat wajah merah Ais.
" Jadi pingin cubit pipi nya,"
" Gak sabar pingin saya bawa ke penghulu kamu dek," batin Aam sambil tersenyum menatap Ais.
"Astagfirullah," di alihkan nya pandangan nya, lalu dia segera berjalan ke ruang keluarga.
Umi hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak bujang nya itu.
.
.
.
Udah berani menggoda ini mas Aam🤭
♥️♥️♥️♥️♥️
happy reading.
tp jgn d kasih sndri" bingung jdnya