NovelToon NovelToon
KEKASIH GELAP WALI KOTA

KEKASIH GELAP WALI KOTA

Status: sedang berlangsung
Genre:POV Pelakor / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Cinta Terlarang / Konflik etika / Balas Dendam
Popularitas:284
Nilai: 5
Nama Author: Wen Cassia

Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.

Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.

Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 | ALKAIOS DAN KEPALA ORION

“Kembalikan!”

Alkaios berdiri di samping pilar gemuk beranda belakang sekolah, bersedekap tanpa gerakan berarti, nyaris membeku. Aroma vanila bercampur citrus yang menguar manis dari arah kirinya sama sekali tidak membuat Alkaios merasa tenang. Matanya menatap ke depan sedikit berat, jemarinya yang berada di balik lipatan tangan mengepal tidak nyaman.

“Dia memang perlu diajari sopan santun.”

Suara lembut tepat di samping kirinya, yang mengingatkan Alkaios akan irama mendayu The Lark Ascending terdengar kesal kali ini, dengusan menyusul setelahnya. Alkaios bertahan bergeming, tidak sedikit pun menoleh. Pandangannya terpusat pada seorang gadis berambut sebahu yang tengah melompat-lompat frustrasi untuk meraih sepatu putihnya yang diangkat tinggi-tinggi oleh seorang pemuda jangkung yang terkekeh-kekeh puas di depan sana. Sebenarnya Alkaios tidak ingin mengungkitnya sekarang, tapi pemuda begujalan itu adalah sahabat karibnya, Elio Davis.

“Kembalikan!” kata gadis itu lagi, mencoba menurunkan tangan Elio, masih sangat kepayahan.

“Lihat yang kudapat!” Lumayan memalukan lagi, pemuda lain yang berkulit kecolekatan dan terobsesi dengan lingkar otot bisep, yang sekarang tengah mengayunkan sebuah buku di atas kepalanya itu juga sahabat Alkaios. Sudah lama Alkaios muak dengan pembicaraan tentang suplemen otot dan fitness yang selalu diungkit-ungkit pemuda itu tiap membuka mulut. Luigi Thomas.

“Hei!” Gadis malang yang baru-baru ini Alkaios ketahui namanya, kini berbalik mengejar Luigi yang masih mengangkat buku dengan cengiran menyebalkan yang sudah lama ingin Alkaios sumpal dengan pemberat barbel.

Summer Victoria Almaja—Alkaios memastikan sudah mengingat nama gadis itu sejak pertama kali membacanya dalam daftar siswa yang dicuri oleh Elio dari ruang arsip. Di sana tertera juga identitas Summer, lengkap dengan alamat rumah dan nomor telepon ayahnya.

“Tidak—jangan yang itu!”

Seruan nyaring Summer dilesapkan oleh gelak tawa Luigi setelah pemuda itu melemparkan buku Summer ke kolam ikan dengan air mancur spiral di tengah-tengahnya. Sepatu putih yang hanya sebelah, sudah berbercak lumpur karena dilempar beberapa kali oleh Elio, menyusul melayang ke arah kolam. Alkaios menahan napas bersamaan dengan kecipak yang berbunyi nyaring ketika kedua benda itu menghantam air.

“Tidak!” Summer berlarian ke pinggir kolam, segera berlutut dan mencondongkan tubuh ke depan, hanya untuk menemukan sepatunya sudah tenggelam di dasar kolam, sedangkan bukunya mengambang menyedihkan di dekat air mancur.

“Ganjaran sepadan—setidaknya untuk hari ini,” kata gadis di samping Alkaios lagi, nyaris serupa bisikan.

Kali ini Alkaios menoleh, mendapati ekpresi gadis itu yang penuh antipati. Rupanya dendamnya pada Summer Victoria masih sangat bergolak hingga sekarang.

“Teman-temanmu melakukan tugasnya dengan baik, Alka, aku sangat menghargainya.” Gadis itu beralih menatap Alkaios, bibirnya mengeja senyum tipis menawan yang membuat Alkaios terpaku dalam ketersimaan.

Oh, Meissa Edwards yang jelita. Gara-gara gadis berkulit pucat itu, tiap kali Alkaios menatap konstelasi Orion di pagi-pagi buta sambil menggigil kedinginan, Rigel yang cemerlang memikat, yang mengingatkan Alkaios akan iris kebiruan miliknya sendiri, juga Betelgeuse si paman pemarah yang membara, menjadi karakter sampingan dalam rasi yang seharusnya membuat mereka paling bersinar. Sebagai gantinya, Alkaios akan berlama-lama menatap kepala Orion yang redup, sering tertelan kabut tipis, nyaris terlupakan, hanya karena bintang itu memiliki nama yang sama dengan gadis paling cantik di seluruh penjuru sekolah. Meissa.

“Mereka memang berbakat sebagai perundung. Pura-pura kaget saja kalau mendengar mereka masuk penjara suatu hari nanti.”

Perkataan Alkaios membuat Meissa tertawa. Matanya melengkung seperti bulan sabit, garis lesung manis tercetak di pipi kanannya yang tanpa cela. Cantik sekali. Alkaios sekurang-kurangnya sudah merebut sebagian hati Meissa, mengukuhkan posisi sebagai pasangan pesta dansanya di acara kelulusan nanti, sekaligus mempecundangi Julio, rivalnya dalam basket dan perempuan. Ia tidak sabar melihat wajah melongo pemuda itu.

“Setidaknya aku bisa lulus tanpa penyesalan.” Meissa terlihat lega, mata hijaunya berpendar indah.

Terkadang, Alkaios tidak terlalu mengerti masalah sakit hati perempuan. Meissa ikut kelas memasak di mana Summer, meskipun seangkatan dengan mereka, sudah dijadikan asisten instruktur. Mac and cheese Meissa dikritik habis-habisan oleh Summer dalam kelas tambahan itu, mungkin penilaian secara objektif, namun Meissa menganggapnya sebagai penghinaan publik.

Alkaios melihatnya sebagai kesempatan besar untuk merebut hati Meissa. Ia hanya meminta Elio dan Luigi untuk mengganggu Summer sedikit, demi menyenangkan hati Meissa, namun dua hari belakangan ini ia merasa ada sesuatu yang salah—sangat salah.

Ketika Alkaios menoleh perlahan ke arah Summer lagi, ia terkesiap saat menemukan gadis itu yang menatap kelewat tajam padanya, masih dalam posisi setengah berlutut di samping kolam ikan.

Sensasi menyengat menggeletar di bawah kulit Alkaios seiring napasnya yang tertahan. Pandangan mereka bertaut selama sembilan detik, atau lima detik, atau hanya sekali detakan jantung—Alkaios tidak tahu. Yang pasti, mata birunya seperti ingin mencuat keluar ketika ia melihat Summer memasuki kolam ikan dengan bertelanjang kaki. Air di kolam yang setinggi lutut membuat rok seragam Summer seketika basah ketika ia membungkuk untuk mengambil sepatunya yang tenggelam menyedihkan.

Alkaios ingin sekali berlarian menuju kolam, menyeret gadis itu keluar, mungkin sambil mengomelinya seperti, “Gadis bodoh! Luigi sering pipis di kolam ini, tahu!”. Namun, Alkaios tidak melakukannya, ia masih berdiri di beranda, tertambat seperti orang tolol di samping Meissa Edwards yang menyeringai senang.

...****...

Situasinya semakin memburuk hari demi hari. Sekarang bukan hanya Elio dan Luigi yang mengganggu Summer. Kemarin Alkaios dengar bahwa teman-teman Meissa melakukan kekerasan fisik dan verbal pada Summer di kamar mandi. Gadis itu keluar dengan tubuh berlumuran telur busuk dan memar di pipi kirinya.

Hidup Alkaios menjadi sangat tidak tenang seminggu belakangan ini. Jam tidurnya kacau karena sering terbangun tengah malam, selera makannya menurun drastis, pun otaknya yang disesaki oleh hal-hal yang membuat jantungnya berdebar gelisah.

Alkaios turun dari mobil setelah ibunya mendaratkan kecupan singkat di kening. Ia melangkah melewati gerbang tanpa secuil pun semangat sembari mengusap-usap keningnya untuk menghilangkan jejak lipstik.

Pikirannya yang mengawang membuat Alkaios tidak peduli sekitar, ia bahkan baru menyadari kerumunan di depan papan pengumuman ketika Luigi mengalungkan lengannya yang berat ke leher Alkaios.

“Ini dia pahlawan kita!” kata Luigi, disambut seruan bersemangat beberapa siswa.

Alis Alkaios berkerut, masih belum mengerti apa yang sedang terjadi. Dalam kebingungan itu, ekor matanya menangkap Summer yang berdiri di luar lingkaran kerumunan. Tatapan mereka berserobok, dan Alkaios berani bersumpah ia belum pernah merasa selemas itu sebelumnya. Tidak ada kemarahan di wajah Summer, pun ketangguhan yang selama ini gadis itu pasang baik-baik sebagai perisai ketika dirisak oleh anak-anak lain. Hanya ada kerentanan dalam matanya yang memerah, luka seorang anak tujuh belas tahun yang selalu berlagak tangguh, namun diam-diam menunggu orang lain untuk sedikit berbaik hati padanya.

“Bisa-bisanya kau menemukan hal seperti ini. Tak kusangka otak unggasmu bisa berpikir juga!” Elio mendekat, mengacak-acak rambut Alkaios sambil tertawa.

Alkaios hendak menerobos kerumunan ketika Summer memutus tatapan mereka dan berderap pergi. Namun, lengan kokoh Luigi lebih dulu memutar Alkaios menuju papan pengumuman.

“Kagumi pencapaianmu sepuasnya. Sekarang semua orang jadi tahu kalau Summer Victoria tidak waras! Ibu dan anak sama gilanya.” Luigi terkekeh-kekeh, menepuk keras bahu Alkaios.

Begitu Alkaios melihat selembar foto yang ditempelkan ke papan, kakinya mengancam ingin ambruk. Itu … itu foto dari tangkapan CCTV saat Summer memakai baju pasien berwarna biru kehijauan, tengah memberontak di lobi sebuah rumah sakit. Di sekelilingnya ada tiga perawat, dua laki-laki dan satu perempuan, dengan wajah panik berusaha menahan Summer dan mengikatkan tali kain ke tubuhnya. Penampilan Summer sangat kacau, siapa pun yang melihat akan langsung menyimpulkan bahwa dalam foto itu, Summer tidak sakit secara fisik, melainkan mentalnya yang terganggu.

Alkaios berhasil mendapatkan foto itu setelah merayu dan menyogok perawat di rumah sakit tempat Summer berobat. Sejak berusaha menyenangkan hati Meissa, Alkaios sudah melakukan penyelidikan tentang latar belakang Summer, termasuk mengetahui tentang mamanya yang selingkuh dan kabur setelah ketahuan. Informasi tentang Summer yang pernah depresi berat hingga harus dirawat di rumah sakit setelah kehancuran keluarganya segera menjadi hal paling menarik bagi Alkaios.

Wajah tampan, adaptasi mengesankan, kemampuan merayu yang lumayan, dan sedikit bualan membuat Alkaios mudah menggaet salah satu perawat perempuan. Namun, mendapatkan rekam medis Summer tanpa terancam hukum adalah hal yang mustahil, sehingga perawat itu mengusulkan untuk memberikan selembar tangkapan CCTV yang ia ambil diam-diam dengan catatan Alkaios tidak boleh mempublikasikannya ke mana pun.

Sejak hari pertama menyaksikan perundungan Elio dan Luigi terhadap Summer, Alkaios sudah tidak berniat memperlihatkan foto itu kepada siapa pun.

“Di mana kau temukan ini?” Suara yang keluar dari tenggorokan Alkaios terdengar parau, sejalan dengan sesak berkepanjangan yang mengimpit dadanya.

“Di tasmu,” jawab Luigi. “Kenapa tidak bilang kalau kau punya harta karun seperti ini? Kau ini memang totalitas sekali, ya, untuk merebut hati Meissa—”

“Sial!” Alkaios menerobos kerumunan dengan rahang mengeras. Ia ingin segera enyah sejauh mungkin dari sana, atau akan berakhir meninju rahang sialan Luigi, menubruknya hingga jatuh, lalu memukulinya sampai pingsan.

Hanya berjarak satu minggu setelah kejadian itu, Alkaios mendapat kabar bahwa mama Summer melompat dari serambi atap sebuah hotel kenamaan di Las Vegas. Setelah itu segalanya menjadi sunyi. Summer tidak lagi dirisak, tidak lagi dijadikan bahan olokan, sebagai gantinya semua orang menjauhinya, menjaga jarak sejauh mungkin. Gadis itu praktis terasing dari siapa pun.

Terakhir kali Alkaios melihat Summer adalah saat pengumuman kelulusan. Tidak ada perubahan berarti dari fisik Summer—tidak seperti Alkaios yang kehilangan banyak berat badan—namun, sorot matanya semakin kosong, mengingatkan Alkaios akan sumbu menghitam lilin yang semakin dingin dan senyap setelah apinya dipadamkan.

Summer mungkin tidak datang ke acara pesta dansa kelulusan, atau mungkin datang, atau berniat datang namun tidak jadi pergi—Alkaios tidak tahu. Karena pada hari itu, hari pesta dansa yang sudah ia nanti-nantikan sejak lama, Alkaios tidak datang, tidak pernah menjadi pasangan Meissa, tidak pernah melihat kekesalan di wajah Julio. Saat teman-temannya menikmati pesta yang menyenangkan, Alkaios sedang meringkuk di tepi ranjangnya, sudah nyaris dua hari tidak makan apa pun. Ada lubang menganga di hati Alkaios, semakin hari semakin membesar, namun ia tidak tahu bagaimana cara menjahitnya.

...****...

1
Amaya Fania
jujur paling suka kalo kian muncul. ketawa mulu kalo lagi berantem sama summer, saling ejek, tapi diem diem sayang adek
Amaya Fania
penasaran lanjutannya, ayo lanjut kak
aspidiske ☆: okaii 😳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!