Fiora Gabriela adalah definisi nyata dari kesempurnaan. Sebagai putri tunggal dari dinasti bisnis raksasa, kecantikan dan kekuasaannya adalah mutlak. Namun, ada satu hal yang belum bisa ia taklukkan: hati Galang Dirgantara, pria dingin yang menjadi tunangannya demi aliansi bisnis keluarga mereka.
Bagi Galang, Fiora hanyalah wanita arogan yang terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang. Ia menutup hati rapat-rapat, sampai akhirnya ia bertemu dengan Mira—seorang gadis dari kalangan bawah dengan hidup penuh kemalangan. Sosok Mira yang rapuh membangkitkan sisi protektif Galang yang belum pernah terlihat sebelumnya. Galang mulai berpaling, membiarkan rasa iba itu tumbuh menjadi cinta yang mengancam status Fiora.
Namun, Galang lupa satu hal. Fiora Gabriela bukanlah wanita yang akan menyerah begitu saja dan menangis dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan di Ruang Tamu
Matahari mulai terbenam di cakrawala Jakarta, menyisakan semburat jingga yang memantul di kaca-kaca gedung tinggi. Di sebuah kafe elit di pusat kota, Fiora bangkit dari duduknya sembari menyampirkan tas branded keluaran terbaru di bahunya.
"Guys, gue balik duluan ya!" seru Fiora pada sahabat-sahabatnya.
Vanya mendongak dari ponselnya, sementara Jojo melambaikan tangan dengan gaya dandy-nya. "Yah, buru-buru amat, Fio? Baru juga mau pesan dessert ronde kedua," keluh Jojo.
Fiora terkekeh. "Papa sudah cerewet di WhatsApp. Biasalah, urusan rumah. Bye!"
"Oke, hati-hati ya, Fio!" balas Vanya.
"Sip, makasih ya!" Fiora melambaikan tangan terakhir kalinya sebelum melangkah anggun menuju area parkir di mana mobil mewahnya sudah menunggu.
Sesampainya di rumah, suasana mewah nan tenang langsung menyambut Fiora. Saat melangkah masuk melewati pintu jati yang besar, ia mendapati Papa dan Mamanya sudah duduk bersantai di ruang tamu yang luas. Wangi aromaterapi mahal menyerbak di ruangan itu.
"Selamat malam, Papa, Mama," sapa Fiora sembari mendekat dan mencium pipi kedua orang tuanya secara bergantian.
"Malam, Sayang," jawab Mama dengan senyum lembutnya.
Papa menutup koran digital di tabletnya lalu menatap putri tunggalnya itu. "Bagaimana bisnismu dan teman-temanmu? Berjalan dengan baik?"
Fiora menghempaskan tubuhnya ke sofa tunggal di samping mereka. "Lancar, Pa. Proyek butik kolaborasi kami peminatnya makin banyak. Everything is okay," jawabnya percaya diri.
"Syukurlah kalau begitu," Papa mengangguk-angguk, namun raut wajahnya berubah sedikit lebih serius. "Fiora, duduk sini dulu. Papa dan Mama mau bicara sebentar."
Fiora mengernyitkan dahi. Ia memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak. "Iya, ada apa, Pa? Serius banget kelihatannya."
Mama memegang tangan Fiora lembut. "Kamu tahu kan, Galang? Galang anak Om Dirga, teman lama Papa?"
Mendengar nama itu, jantung Fiora seakan berhenti berdetak sesaat. Siapa yang tidak tahu Galang Dirgantara? Pria kaku, dingin, tapi luar biasa mempesona yang selalu menjadi pusat perhatian di kalangan pebisnis muda.
"Iya, tahu. Kenapa, Pa?" tanya Fiora, berusaha menjaga suaranya agar tetap tenang meski di dalam hati ia mulai bertanya-tanya.
Papa menghela napas panjang, seolah mencari kata-kata yang tepat. "Papa dan Om Dirga sudah sepakat. Maaf ya kalau Papa lancang, tapi Papa mau kamu bertunangan dengan Galang."
Mata Fiora membelalak sempurna. "Apa? Tunangan? Oh My Goat!" teriaknya spontan.
Mama dan Papa saling berpandangan, khawatir jika putri mereka akan meledak marah karena merasa dipaksa dalam perjodohan bisnis. Namun, detik berikutnya, ekspresi Fiora justru berubah drastis. Sebuah senyum lebar yang tak bisa disembunyikan terukir di wajah cantiknya.
"Mau, Pa! Fiora mau!" seru Fiora cepat, nyaris tanpa jeda.
Papa tertegun. "Lho? Kamu... kamu beneran mau, Sayang? Papa pikir kamu akan menolak karena ini perjodohan."
Fiora tertawa kecil, pipinya merona merah. "Papa nggak tahu aja. Fiora itu sebenarnya sudah lama nyimpan rasa cinta sama Galang, bahkan sejak kami masih sama-sama kuliah di London dulu. Tapi Galang orangnya kaku banget, Fiora nggak berani maju duluan."
Mama mengelus dada lega. "Jadi, kamu beneran mau? Tidak terpaksa?"
"Iya, sangat amat betul mau, Ma! Kapan acaranya? Fiora harus siap-siap dari sekarang!"
Fiora merasa hari ini adalah hari keberuntungannya. Ia tidak menyangka obsesi rahasianya selama bertahun-tahun akan segera menjadi kenyataan lewat sebuah ikatan resmi. Namun, satu hal yang Fiora belum tahu; apakah Galang memiliki perasaan yang sama, ataukah ini hanyalah awal dari perjuangan panjangnya?
"Besok kita akan bertemu dengan mereka untuk makan malam resmi," ucap Papa menambahkan. "Ya sudah, kalau begitu kamu mandi dan istirahat dulu."
Fiora langsung berdiri dengan semangat yang meluap-luap. "Iya! Daaa Papa, Mama!"
Fiora berjalan menuju tangga dengan berjingkrak-jingkrak kecil, persis seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah paling diidamkan. Sambil menaiki anak tangga, ia bergumam dengan nada girang yang tak tertahankan, "Astaga... baby baby gue! Akhirnya gue dijodohin sama Galang! Hahaha!"
Orang tuanya yang melihat tingkah ajaib putri mereka hanya bisa menggelengkan kepala. "Anak itu... tadi kita sudah takut dia bakal kabur dari rumah, eh ternyata malah kegirangan," bisik Mama sambil tersenyum heran.
Di tempat lain, di kediaman megah keluarga Dirgantara...
Suasana di rumah ini jauh lebih kaku dan formal. Suara langkah kaki sepatu pantofel yang tegas menggema di lantai marmer saat Galang melangkah masuk. Wajahnya datar, tampak lelah setelah seharian memimpin rapat panjang di kantor.
"Ya, selamat malam, Ma, Pa," sapa Galang singkat tanpa menghentikan langkahnya menuju lift pribadi.
"Malam, Galang. Duduk dulu sebentar, Papa sama Mama mau bicara," cegah Papa Dirga dengan nada suara yang tidak bisa dibantah.
Galang menghentikan langkahnya. Ia menghela napas panjang, lalu berbalik dan duduk di kursi tunggal di hadapan orang tuanya. Ia bahkan tidak melepas jasnya. "Soal apa? Pasti perjodohan kan? Sama cewek nggak jelas itu?"
Mendengar ucapan ketus itu, wajah Papa Dirga memerah. "Galang! Jaga bicaramu! Dia bukan 'cewek nggak jelas'. Dia Fiora, anak teman Papa. Dia gadis berpendidikan dan punya bisnis sendiri."
Galang menyandarkan punggungnya dengan angkuh. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit ruang tamu. "Semua perempuan di lingkaran kita punya gelar dan bisnis, Pa. Itu bukan alasan untuk mengikatku dalam pernikahan tanpa rasa."
"Papa tidak minta kamu langsung mencintainya. Papa hanya minta kamu mengenalnya dulu. Besok malam kita makan malam bersama keluarga mereka. Jangan sampai kamu telat," tegas Papa Dirga.
Galang tidak menjawab. Ia hanya berdiri, memutar tubuhnya, dan berjalan pergi begitu saja tanpa pamit. Di pikirannya, pernikahan ini hanyalah satu lagi kontrak bisnis yang harus ia tanda tangani demi menjaga relasi sang Papa,sebuah gangguan yang sama sekali tidak masuk dalam daftar prioritas hidupnya.