NovelToon NovelToon
IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romantis / Ibu susu / Ibu Pengganti / Duda / Romansa
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: syahri musdalipah tarigan

Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.

Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.

Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.

“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

02. Permohonan

*Dua hari berlalu.*

Maya meringkuk di ranjangnya yang sempit, memunggungi dunia. Ia memejamkan mata erat-erat, tapi indra pendengarannya tidak bisa diajak kompromi.

“Kasihan sekali, ya. Bayinya meninggal karena ibunya lalai,” bisik seorang wanita di ranjang seberang, suaranya terdengar jelas meski mencoba berbisik.

“Iya, padahal suaminya kelihatan terpukul sekali. Mertuanya juga sampai datang terus. Dasar wanita keras kepala, sudah tahu hamil besar masih nekat kerja kasar. Sekarang kalau sudah begini, siapa yang mau disalahkan?” timpal yang lain dengan nada menghakimi.

Maya meremas pinggiran bajunya yang basah. Noda melingkar di dadanya terasa dingin dan lembap, sebuah pengingat fisik bahwa rahimnya kini kosong.

Setiap kata “lalai” dan “bodoh” yang dilemparkan orang-orang itu terasa seperti garam yang ditaburkan di atas luka jahitannya yang belum kering. Ia ingin berteriak bahwa mereka tidak tahu apa-apa tentang Rian yang pemalas atau kontrakan yang hampir diusir, tapi suaranya telah mati di tenggorokan.

Saat ia mencoba menenggelamkan diri dalam kegelapan pikirannya, suara tarikan tirai yang berderit mengejutkannya.

Sret!

“Selamat sore, Bu Maya. Dokter Arkan ingin bertemu dengan Anda di ruangannya,” ucap seorang perawat sambil mendorong sebuah kursi roda ke sisi ranjang.

Maya perlahan membuka matanya. Kelopak matanya membengkak, memerah, dan terasa berat. Ia melirik kursi roda itu dengan tatapan kosong.

“Apakah dokter ingin mengganti perban? Ataukah dokter mau membicarakan kapan aku bisa pulang, Sus?” tanya Maya dengan suara serak yang nyaris tak terdengar. Ia ingin segera pergi, menjauh dari tatapan menghakimi penghuni ruangan ini.

Perawat itu tersenyum tipis, sorot matanya penuh simpati yang justru membuat Maya merasa muak. “Dokter ingin melihat perkembangan jahitan di perut Ibu secara lebih privat. Jadi, mari saya bantu.”

Perawat itu mengulurkan tangan, berniat memapah tubuh mungil Maya yang tampak sangat rapuh. Namun, Maya segera menarik tangannya. Ia tidak menerima uluran itu. Baginya, kebaikan manusia sekarang hanyalah topeng yang siap mencekiknya kapan saja.

Dengan sisa tenaga yang ada, Maya menggertakkan gigi. Rasa sakit yang tajam seperti sayatan pisau terada di perut bawahnya saat ia mencoba menggeser tubuh. Sambil memegangi sisa tenaganya, ia bangkit dan berpindah ke kursi roda secara mandiri. Ia menolak untuk terlihat lemah, meski keringat dingin mulai membasahi dahinya.

Perawat itu hanya bisa terdiam, lalu mulai mendorong kursi roda Maya menyusuri lorong panjang rumah sakit. Setiap putaran roda terasa lambat, memberikan waktu bagi Maya untuk melihat pintu-pintu ruangan yang terbuka, memperlihatkan rintihan pasien yang tak kalah menderita. Namun bagi Maya, penderitaan fisiknya tak sebanding dengan kekosongan yang ia rasakan di dada.

Tak lama, mereka tiba di depan sebuah pintu kayu berwarna gelap yang terlihat sangat kokoh, berbeda dengan pintu bangsal umum tadi. Di sana tertera papan nama kecil, Dr. Arkan Pradipa, Sp.OG.

Saat perawat membuka pintu, aroma terapi lavender yang menenangkan menyambut indra penciuman Maya. Di dalam ruangan yang luas itu, terlihat seorang pria dengan jas bersih sedang berdiri membelakangi mereka.

Ia menata ke luar jendela besar yang menghadap ke jalan raya yang bising dan penuh lampu kendaraan, seolah sedang memikirkan beban yang sangat berat.

“Dokter Arkan,” panggil perawat singkat.

Bahu pria itu sedikit tersentak, seperti baru saja ditarik dari lamunan yang dalam. Ia segera membalikkan tubuhnya. Sorot mata Arkan yang biasanya tajam dan tegas mendadak berubah menjadi cemas saat melihat Maya sedang berjuang sendiri. Dengan wajah pucat, Maya mencoba bertumpu pada pinggiran kursi roda, berusaha bangkit untuk pindah ke ranjang periksa pasien.

“Bu Maya, kenapa tidak meminta bantuan?” ujar dr. Arkan dengan nada suara yang rendah namun khawatir. Langkahnya lebar dan cepat, hampir saja ia merengkuh pinggang Maya untung menopang tubuhnya.

“Aku sudah terbiasa. Jadi jangan khawatir, Pak Dokter,” sahut Maya pendek. Suaranya datar, tanpa emosi. Dengan napas yang sedikit terengah akibat menahan nyeri di perutnya, ia akhirnya berhasil duduk di tepi ranjang periksa.

Sementara itu, perawat mulai sibuk menyiapkan peralatan medis di atas meja dorong stainless steel. Suara denting alat bedah dan bau antiseptik yang tajam memenuhi ruangan. Arkan mendekat, tangannya yang terbungkus sarung tangan medis mulai bergerak dengan sangat lembut di dekat area perut Maya.

“Aku akan buka perbannya. Ini mungkin akan terasa sedikit perih, tapi saya akan melakukan sehalus mungkin,” ucap Arkan. Matanya menatap lurus ke Maya, mencoba mencari celah untuk memberikan ketenangan.

Saat baju Maya tersingkap sedikit untuk memeriksa jahitan, dr. Arkan tidak bisa tidak menyadari bahwa bagian dada baju Maya kembali basah. Cairan putih itu merembes, sebuah pertanda bahwa tubuh Maya sedang memanggil bayinya yang telah tiada.

Dalam hati, Arkan merasa geram. Sebagai dokter, ia tahu persisi betapa rapuhnya Rahim seorang gadis berusia 16 tahun.

“Kenapa suaminya membiarkannya bekerja sekeras itu? Kenapa keluarganya seolah buta? Dan siapa pria yang tega menghancurkan masa depan anak sedini ini?” pertanyaan itu berputar di kepalanya, memicu rasa protektif yang aneh.

Setelah perban selesai diganti, Arkan memberikan kode singkat melalui lirikan mata kepada perawat. Perawat itu mengangguk patuh dan keluar tanpa sepatah kata pun, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di dalam ruangan.

Maya melirik pintu yang tertutup, lalu beralih menatap dr. Arkan yang masih duduk di kursi samping ranjangnya. “Dokter, kenapa perawat itu pergi tanpa mengajak aku kembali ke bangsal?”

Arkan tidak langsung menjawab. Ia menunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat di atas lutut, seolah sedang mengumpulkan keberanian atau mencoba meredam gejolak di hatinya. Keheningan itu berlangsung beberapa detik sebelum akhirnya ia membuka suara.

“May, kamu… kamu cukup tangguh bisa melalui semua ini sendiri,” ucap Arkan rendah. Ia berdiri, secara insting mengulurkan tangan untuk membantu Maya bangkit dari posisi berbaringnya.

Namun, Maya mengabaikan tangan besar itu. Ia lebih memilih mencengkeram pinggiran ranjang yang dingin, bersusah payah mendudukkan dirinya sendiri. “Terima kasih, Pak Dokter.”

“Sebelmnya, aku… aku ingin minta maaf,” gumam Arkan tiba-tiba.

Maya mengernyit bingung. “Kenapa dokter minta maaf? Dokter tidak salah apa pun.”

Arkan menggaruk rambutnya yang tidak gatal, sebuah gesture canggung yang sangat jarang diperlihatkan oleh seorang dokter spesialis kandungan yang biasanya sangat berwibawa. “Terima kasih sudah memaafkan karena tidak bisa menolong bayimu, May. Tapi—”

Mata Arkan melirik sekilas, hanya sepersekian detik ke arah noda basah di baju Maya, lalu dengan cepat kembali mengunci tatapan pada wajah Maya yang tampak bingung.

“Begini, Maya. Aku ingin memberi saran. Bagaimana kalau ASI milikmu… di… didonorkan saja? Entah itu ke bank ASI rumah sakit, atau… atau ke seseorang yang sangat membutuhkannya saat ini?”

Kalimat itu keluar dengan kaku. Arkan merasa tenggorokannya kering. Bagaimanan mungkin, ia seorang dokter duda, meminta air susu dari seorang pasien gadis di bawah umur yang baru saja berduka? Ia merasa seperti pemangsa, namun bayangan putranya yang menangis kelaparan di rumah terus menghantuinya.

Maya menyipitkan matanya, menatap Arkan dengan penuh kecurigaan. Tatapan itu begitu tajam hingga membuat dr. Arkan yang biasanya tegas mendadak gugup. Wajahnya memerah, ia salah tingkah di bawah pengawasan Maya.

“Maaf! Maaf, jangan salah paham, May! Aku tidak bermaksud tidak sopan,” seru Arkan cepat, tangannya bergerak gelisah di udara. “Aku… aku hanya berpikir itu lebih baik daripada air susumu terbuang dan membuat payudaramu bengkak serta nyeri. Lagipula… ada bayi yang sangat membutuhkan bantuanmu. Bayi… yang ibunya sudah tidak ada.”

“Sepertinya aku tidak bisa melakukannya, Dok. Aku juga ingin merasakan rasa sakit yang dirasakan bayiku sebelum meninggal,” jawab Maya dingin.

Dengan susah payah, ia menyeret tubuhnya kembali ke kursi roda, mengabaikan rasa perih yang menjalar di jahitan perutnya.

Dr. Arkan terdiam membeku. Ia menarik napas panjang hingga kemeja putihnya tampak naik-turun dengan jelas, menahan gejolak emosi yang bercampur aduk antara kasihan dan rasa sesak. Baru saja ia hendak membuka mulut untuk membujuk lagi, ponsel di atas meja kerjanya berdering nyaring.

“Tunggu sebentar, May,” pinta dr. Arkan cepat. Ia melangkah lebar menuju meja, matanya menangkap nama penelepon yang ditandai dengan logo tengkorak.

Arkan mengangkat telepon itu. Sambil menempelkan ponsel di telinga, ia memberikan kode tangan kepada Maya, isyarat agar gadis itu tetap diam di tempat dan jangan bergerak satu inci pun. Namun, Maya adalah gadis yang sudah kehilangan kepercayaan pada dunia. Ia tidak merespons. Tangannya memutar handrim dengan kuat, berniat meninggalkan ruangan itu secepat mungkin.

Baru saja roda itu berputar sekali, sebuah tangan besar milik Arkan mendadak menahan sandaran kursi roda dari belakang dengan cengkeraman yang tak terbantahkan. Maya tersentak, ia mencoba mendorong lebih kuat, namun tenaga dr. Arkan jauh lebih dominan.

“Sabar ya, sedang Abang usahakan. Bayinya tolong ditenangkan dulu, berikan susu formula sedikit saja sementara ini,” ucap Arkan ke dalam telepon dengan suara yang mendadak melunak namun tedengar sangat frustasi.

Maya tertegun. Penyebutan “bayi” membuatnya terhenti. Ia bisa merasakan getaran dari tangan Arkan yang masih menahan kursi rodanya. Pria tegas dan berwibawa di depannya ini sekarang tampak begitu rapuh, memohon pada seseorang di seberang telepon demi seorang bayi.

Arkan menutup teleponnya dengan tangan gemetar. Ia masih belum melepaskan cengkeramannya pada kursi roda Maya. Ia memutar kursi roda itu perlahan agar Maya kembali menghadap ke arahnya.

“Maafkan ketidaksopananku tadi, May.” Arkan berlutut di depan kursi roda agar tingginya sejajar dengan Maya. Sisi posesif dan tegasnya kini berganti dengan kejujuran yang telanjang. “Bayi yang kubicarakan tadi, dia adalah putraku. Istriku meninggal saat melahirkannya. Dan sekarang, putraku sedang menangis kelaparan karena terus menolak semua stok ASI yang ada.”

Mata Arkan yang tajam kini tampak berkaca-kaca. “Aku tahu aku egois memintamu melakukan ini di tengah duka yang kau alami. Tapi, hanya ASI milikmu yang bisa menyelamatkan rasa lapar putraku saat ini. Aku mohon, May. Berikan harga berapa pun, aku akan membanyarnya.”

“Aku rasa Anda salah orang, Pak Dokter. Aku bukanlah ibu yang tepat untuk—”

Belum sempat Maya menyelesaikan kalimatnya, dr. Arkan melakukan sesuatu yang tak terduga. Ia meraih kedua tangan Maya, menggenggamnya dengan erat.

“May, aku mohon. Berapa pun yang kamu inginkan, akan aku bayar. Sepuluh kali lipat, seratus kali lipat. Sebutkan saja! Tolong! Kasihanilah putraku,” pinta Arkan dengan suara yang nyaris pecah. Matanya menatap Maya dengan intensitas yang begitu kuat.

Maya merasa sesak. Ia merasa seperti sedang dipojokan. Dengan sekuat tenaga, ia berusaha menyentakkan tangannya, mencoba melepaskan diri dari dominasi dr. Arkan.

“Pak Dokter yang terhormat, tolong lepaskan tangan Anda, dan biarkan aku pergi!” tegas Maya dengan suara meninggi. Napasnya memburu, matanya yang sembab menatap tajam pada pria di depannya.

Dr. Arkan tertegun. Perlahan, ia mengendurkan genggamannya lalu melepaskannya. Bahunya merosot, wajahnya yang kaku kini terlihat sangat hancur. Ia terduduk lemas di lantai, membiarkan Maya perlahan mendorong kursi rodanya menjauh menuju pintu.

Tepat saat Maya sampai di ambang pintu, ponsel di saku kemeja Arkan kembali berbunyi. Arkan mengangkatnya dengan gerakan kalap.

“Tolong tenangkan putraku! Aku akan cari ke tempat lain, tolong jangan biarkan Leon menangis sampai sesak seperti itu!” Arkan setengah berteriak ke arah ponselnya, suaranya bergetar hebat.

Dari seberang telepon yang diatur ke mode loudspeaker karena kepanikan Arkan, suara tangisan bayi yang melengking kencang memenuhi ruangan terdengar cukup jelas.

Maya terhenti. Suara tangisan bayi itu seperti pisau yang mengiris jantungnya. Meskipun ia masih sangat muda, meskipun ia sangat hancur saat ini, naluri keibuannya tidak bisa dibohongi. Dadanya mendadak terasa nyeri, dan air susunya merembes semakin deras seolah merespons tangisan bayi itu.

Saat dr. Arkan berjalan cepat dengan langkah serabutan ingin melewati Maya menuju pintu, sebuah tangan kecil yang dingin tiba-tiba mencekal jarinya.

Langkah Arkan terhenti seketika. Ia menoleh ke bawah, melihat Maya yang masih duduk di kursi roda, menatapnya dengan pandangan yang diartikan.

“Dokter…” suara Maya lirih, bergetar menahan tangis yang kembali membuncah. “Aku ingin bertanya…apakah bayiku dikuburkan dengan layak?”

...❌ Bersambung ❌...

1
~~N..M~~~
Mam*pus!!!! Bagaimana rasanya. Pasti sakit sekali, kayak gitulah yang dirasakan Maya. Bahkan lebih dari sakit. Sudah perut maya dibelah, anak m3ninggal, dll.
~~N..M~~~
Good job zavier👍👍👍👍👍
~~N..M~~~
Anak orang kaya, punya segalanya, tapi kenapa kelakuannya kayak iblis?
~~N..M~~~
Ternyata kita semua sama. Kalau tak sengaja m3ndengar klip video dengan suara begitu./Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Evi Lusiana
boleh gk sih thor si fadly tuh jd guru ny maya biar jd wanita tangguh yg lepas dr traumany dn gk mudah d tindas
Evi Lusiana
dasar mnsia sampah,
Evi Lusiana
arkan umur brp sih thor,dan msa iy d rmh arkan gk puny ART
Dewi Payang
Aku juga ikut terharu🥹🥹
Dewi Payang
Tamparan sayang dari Leon😍
Dewi Payang
Mainannya si Leon sederhana tapi sudah buat dia bahagia😍
Lisa
Good job Zavier 👍👍 akhirnya Dina terkena karmanya..ntar lg dia dikeluarkan dari sekolah..
~~N..M~~~
Hahahaaaaiii....entah kenapa aku jadi puas melihatnya. Dina terkena karmanya sendiri. Tidak tahu apa maksud zavier, kenapa mereka dipersatukan. Yang jelas aku meras puas.
~~N..M~~~
Jangan kasih k3ndor
~~N..M~~~
Iyuh, ternyata Dina dan gengnya memang kalangan anak nakal.Masih remaja aja sudah melakukan hal bebas, gimana kalau uda besarnanti
~~N..M~~~
Iya, kau juga harus m3ndekatkan diri
~~N..M~~~
Serius, ternyata Dina dan gengnya beneran datang
~~N..M~~~
Ku harap dengan k3hadiran Bu Marni, Maya bisa membuka dirinya kembali.
~~N..M~~~
Semakin p3nasaran siapa Agung, dan kenapa bisa kenal Zavier dan Arkan.
~~N..M~~~
sudah bisa jadi juri nih, kayaknya
Chici👑👑
Oke kak...kamoh juga yak/Shhh/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!