Seorang gadis bernama Sabrina adelia, dia cewek tomboy, cuek, suka yang gratisan dan juga ringan lidah, namun terkadang juga memiliki lidah pedas jika di usik, mendadak terbangun di dunia novel kerajaan modern. Novel yang dia buat sendiri. Sabrina adalah seorang penulis terkenal, namun ketika dia merilis novel terbaru, banyak para penggemarnya yang marah. Karena kehidupan pemeran utama wanita yang tragis bernama kayana. Dimana pemeran utama wanita yang lemah, di jodohkan oleh pria tokoh utama, pria terkaya dan dingin bernama Pangeran Xavier Maheswara. Namun pangeran xavier telah memiliki kekasih bernama Aruna Lauren, aruna sang figuran yang seharusnya menjadi pelengkap di puja bagaikan tokoh utama wanita.
Sang pemeran utama wanita juga harus menyamar sebagai pria, karena kehidupan yang terancam. Dengan modal otak encer, dan sedikit nekat, dia merubah alur novel yang di buatnya. Hingga menarik perhatian pangeran xavier sang pemeran utama pria dan membuatnya sangat terobsesi dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Sabrina Dengan Pangeran Xavier
Di pesta istana, aruna menjadi pusat perhatian karena kecantikannya. Pangeran xavier menatapnya datar tanpa tersenyum. Terlihat biasa saja memandang aruna.
Mobil Kanaya meluncur pelan melewati gerbang besi yang terbuka otomatis. Sorot lampu depannya menyapu yang tertata simetris sebelum akhirnya berhenti tepat di tangan agung, barisan pelayan berseragam rapi segera menyambut dengan hormat. Suara musik klasik sayup-sayup terdengar dari dalam. Kayana keluar dari dalam mobil suara riuh di depan pelataran istana mendadak sunyi. Dia berjalan masuk menuju pintu utama raksasa. Disaat dia masuk semua orang tidak berpaling darinya.
Setiap pasang mata, dari para bangsawan hingga pengawal menatap kagum, kayana tidak perlu bersuara untuk menguasai keadaan, rambut silver nya dengan langkahnya tampak berpendar, memantulkan kemegahan arsitektur di sekelilingnya. memberikan kesan dingin namun murni, dia menjadi pusat gravitasi, sebuah anomali indah yang sulit di abaikan.
Di depannya berdiri pangeran xavier menatapnya tanpa bergeming, matanya terpaku pada helai rambut perak yang terayun mengikuti langkah gadis yang baru masuk.
Tatapan pangeran xavier mengunci sosok gadis yang berdiri tidak jauh dari hadapannya dengan intensitas yang mencekik. Di saat itu hatinya mulai merasakan. Merasakan sesuatu yang berbeda. Ada gairah, ada kekaguman yang mutlak dan keinginan untuk menguasai. Dia yakin gadis bertopeng memiliki rambut silver itu sangat cantik dan dia tahu gadis itu calon tunangannya.
Kayana menatap seorang pria yang sangat tampan visualnya, tatapannya sangat tajam dan dingin. Dia tahu itu adalah pangeran xavier. Dia tidak menyangka pangeran xavier yang dibuatnya begitu sempurna visualnya. "Pangeran xavier Sangat waw." Batinnya berbisik. "Ya ampun, lihatlah karakter dan visual yang aku buat, tidak main-main sangat mantap tapi sadis." Batinnya bergidik ngeri.
Pangeran xavier yang yakin itu calon tunangannya langsung mendekatinya, karena ciri-cirinya pakaiannya sesuai, namun yang di benaknya ada sesuatu ketidak sesuaian, dia memiliki rambut silver putih berbeda dengan foto yang dikirimkannya. Kini dia yakin, data diri calon tunangan yang dibacanya, itu semua pasti palsu. "Hmm, menarik." Desisnya sangat pelan bagaikan membaca mantra.
"Kayana Giska." Panggil pangeran xavier dingin dan datar.
Pangeran xavier menatap mata kayana yang berwarna biru, terlihat mata indahnya dari balik topeng kacamatanya. Dia benar-benar terpesona dengan mata indah milik kayana, tetapi hatinya bukan terpesona tetapi merasa familiar, dan merasa dekat.
"Hmm."Jawabnya singkat dingin.
Pangeran xavier mengernyitkan alisnya. Melihat kayana dingin, karena kedua orang tuanya bilang kayana gadis manja. "Aku akan mengajak mu, menghadap raja gabriel dan ratu renata." Lanjutnya dengan nada masih datar.
Kayana menganggukkan kepalanya tanpa menjawab. Pangeran xavier merasa kayana masih sok tarik ulur di depannya. Kayana dan pangeran xavier langsung menuju raja gabriel dan ratu renata, kedua orang tua pangeran xavier.
Kayana menunduk hormat. "Selamat malam raja Gabriel dan ratu Renata." Sapanya dengan nada sopan.
"Kamu Kayana?" Tanya ratu renata.
"Iya ratu." Jawabnya dengan nada sopan.
"Panggil aku bunda kayana, karena kamu calon menantu ku." Jawab ratu renata.
Kayana tidak menjawab dia diam membisu. Xavier menatapnya lekat. Perasaan xavier merasakan keanehan. Dia merasa familiar, dekat dengan kayana dan hatinya mulai ada rasa yang tidak bisa dia jelaskan.
"Kayana, bunda tidak mau di tolak, panggil aku bunda dan raja gabriel daddy." Perintah ratu renata.
Kayana menganggukkan kepala. "Iya bunda dan daddy." Jawabnya dengan nada sopan dan tenang.
"Gila, aura keluarga Maheswara sangat terasa sekali, bikin buluk kuduk merinding." Batinnya berdesis ngeri.
Kesalahan sabrina membuat keluarga maheswara sangat berpengaruh dan sangat ketat peraturan. Karena sabrina pikir itu tidak salah kan, namanya juga keluarga kerajaan dan terkaya jadi ya seharusnya memang seperti itu. Tetapi kini dia merasa menyesal, membuat keluarga mereka yang sangat ketat, menekan dan mematikan.
Xavier menatap lekat kayana, perasaannya mulai tidak bisa di kendalikan olehnya.
Sedangkan aruna mengepalkan tangannya, perasaannya sangat marah melihat kekasih dan wanita yang terlihat sangat elegant, walaupun tertutup topeng kacamata, tetapi dia yakin, wanita itu sangat cantik.
"Kayana, pergilah bersama xavier, kalian tidak saling kenal dan kami pun tidak mengetahui tempat tinggal kamu. Kami ingin kamu memberikan informasi itu kepada xavier." Ucapnya dengan nada lembut tetapi tersirat dalam.
"Hmm." Jawabnya singkat.
Kayana pergi bersama xavier ke depan balkon istana. "Kayana, aku tahu kamu tunangan ku, kita di tunang kan ketika kita masih kecil, seminggu lagi pertunangan dewasa kita dan dua bulan lagi pernikahan kita." Ucap pangeran xavier dingin.
Kayana tidak menatapnya, dia hanya menatap langit yang indah.
"Aku telah memiliki kekasih kayana." Lanjutnya kembali tambah terdengar dingin.
Kayana menatap lekat pangeran xavier. Entah ada apa perasaan pangeran xavier, jantungnya berdebar di tatap mata kayana yang indah. "Kalau begitu putuskan saja pertunangan ini, kedatangan ku kemari juga ingin membatalkan pertunangan ini." Jawabnya santai.
Deg..
Pangeran xavier menatap lekat. Entah kenapa hati pangeran xavier merasa panas, ada hati tidak terima dengan semua ucapan kayana. "Kenapa? Apa kamu telah memiliki kekasih juga??" Tanyanya dengan nada dingin namun tersirat penasaran.
Kayana menatap balik pangeran xavier. "Itu bukan urusan mu pangeran, aku akan bilang kepada ke dua orang tuamu, jadi kamu bisa menikah dengan kekasih mu itu." Jawabnya santai.
"Perasaan apa ini? Kenapa hatiku tidak ingin membatalkan pertunangan ini dan hatiku tidak bisa mengingkari keinginan kuat memilikinya."Batinnya matanya menatap kayana penuh obsesi.
"Ya sudah kita berbincang-bincang nya sampai di sini saja pangeran x, aku pergi." Ucapnya dengan santai.
Deg..
Pangeran xavier terkejut, dengan ucapan kayana. Kayana melangkah pergi. Namun tangannya di tarik pangeran xavier. Kayana yang tidak sigap langsung jatuh ke pelukan pangeran xavier.
Pangeran xavier mengunci pandangan kayana. "Matanya itu." Batinnya teringat sesuatu.
"Lepaskan aku pangeran xavier." Ucap kayana berontak.
Pangeran xavier menatap tajam dan dingin kayana. "Dari mana kamu panggilan itu." Tanyanya dengan kilatan mata dingin namun penuh penasaran.
Deg..
"Sialan, tadi aku refleks meyebut nama itu, dan itu nama panggilan yang hanya di panggil oleh kekasih masa kecil pangeran xavier." Batinnya berbisik bingung. "Eh, tetapi kenapa aku tahu ya? Seharusnya yang tahu itu aruna? Aneh, kok kayana tahu??" Batinnya berbisik penuh tanda tanya.
"Dari mana kamu tahu itu kayana?" bisik pangeran xavier menyadarkan kayana, karena wajah pangeran xavier berada di telinga kayana. pangeran xavier mencium aroma permen karet dari tubuh kayana, dia sangat suka.
"Pangeran lepaskan pelukanmu." Desisnya dingin.
"Jawab pertanyaan ku, oh aku sekarang ingat, kamu mengenal aruna." Ucapnya dengan nada dingin.
Kayana menatap pangeran xavier. "Maaf aku tidak mengenal kekasih mu." Jawab santai.
Deg..
"Kalau kamu ingin pergi maka lepas topeng mu itu? Aku tidak akan membiarkan kamu pergi jika tidak membukanya." Ucapnya dengan nada dingin namun penuh penekanan.
"Hmm, oke. Tetapi lepaskan dulu pelukan mu." Desisnya dingin.
Xavier melepaskan pelukannya. Dia menatap lekat kayana.
Kayana agak menjauh dan dia membuka topengnya. Karena sabrina berpikir mulai sekarang, dia yang menjadi kayana tidak ingin menutup dirinya kembali. Jiwa Sabrina akan melawan orang-orang yang menginginkan nyawanya.
Deg..
Pangeran xavier tak bergeming menatap wajah kayana. Tiba-tiba kepala nya berdenyut-denyut, terasa sakit. Tiba-tiba terdengar suara seorang gadis kecil. "Pangeran x, kenapa kamu selalu bersama ku??" tanya seorang gadis kecil.
"Karena kamu milikku, nanti setelah dewasa aku akan menikahi mu." Jawab suara anak laki-laki
"Tetapi lihatlah diriku, rambut ku berbeda dengan gadis lain." Suara gadis kecil.
"Kamu cantik, Dimata ku kamu selalu cantik aku suka rambut--- " Tiba-tiba suara seakan terputus.
Tidak ada suara lagi, pangeran xavier memandang kayana lekat, lalu tiba-tiba dia terjatuh pingsan.
Deg..
Kayana terkejut. Dia langsung mendekati pangeran xavier membangunkannya. Tetapi tidak kunjung bangun. Hingga kedua orang tua pangeran xavier datang bersama dengan aruna yang terlihat panik. Dan di saat itu kayana mundur dan pergi dari istana itu.
Dia melangkah dengan gerakan santai. Dia masuk kedalam mobilnya dan pergi. Di dalam mobil kayana tahu, kepala pangeran xavier sakit karena ingatan-ingatannya. "Hmm, akhirnya aku lepas dari keluarga maheswara. Xavier pasti tambah ingat aruna dan tambahan obsesi bin bucin. Sedangkan aku, aka menikmati hidup di dunia novel ini." Gumamnya dengan nada senang.
lebih baik hukuman ciuman dripda siksaan...hahahahah🤣🤣
lanjut kak....
langsung di basmi aja lah...hihihu...
smngt terus kak...💪💪