Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*2
Selesai berucap, Ain langsung memutar tubuhnya. Hujan rintik-rintik turun perlahan setelah Ain beranjak. Tubuh Rain pun langsung bergetar hebat. Ain pergi sambil menangis. Sungguh, hatinya sama sekali tidak sekuat ucapan yang baru saja dia lepaskan.
Bibir bisa berucap dengan sangat lancar seolah, perpisahan itu bisa dia terima dengan lapang dada. Tapi pada kenyataannya, hati Ain hancur tak tersisa. Hubungan yang awalnya bahagia, tiba-tiba berakhir luka. Sungguh menyakitkan rasanya.
Hujan rintik-rintik pun semakin jatuh dengan deras. Seolah, hujan itu ikut merasakan sakitnya luka yang saat ini sedang Ain derita. Hubungan mereka berawal dari hujan yang telah mempertemukan pada pertemuan pertama. Lalu, hujan jugalah yang ikut mengakhiri pertemuan tersebut, seolah, hujan telah mengembalikan keadaan seperti semula.
Setelah kepergian Ain meninggalkan Rain, hujan semakin deras. Rain membalikkan tubuh secara perlahan. Tubuhnya bergetar hebat. Satu tangannya menyentuh dada. Matanya yang basah menatap pilu ke arah punggung langsing yang semakin lama semakin menjauh. Rain menjatuhkan tubuhnya secara perlahan.
*Beberapa jam yang lalu.
"Tinggalkan dia atau dia yang akan meninggalkan kamu."
"Apa! Apa maksud papa?"
"Maksudku? Apakah kurang jelas, Rain? Aku sudah bilang, tinggalkan dia. Apa kamu tidak juga memahami apa yang aku katakan?"
"Tidak akan. Aku tidak akan meninggalkan dia. Aku mencintainya."
Papa Rain langsung tertawa lepas. "Ha ha ha. Cinta? Ah, bagus kalau begitu. Kamu mencintainya. Tidak akan meninggalkan dia. Baiklah, kalau kamu tidak akan meninggalkan dia, aku buat saja dia yang akan meninggalkan kamu. Itu juga bisa ku lakukan."
Mata Rain langsung membulat sempurna. "Apa maksud, papa? Jangan macam-macam dengannya."
"Macam-macam?"
"Kamu yang keterlaluan! Aku sudah menyelidiki dengan sangat jelas, Rain. Bisa-bisanya kamu nikahi wanita yang datang entah dari mana. Anak har*am yang tidak punya asal usul yang jelas. Apa kamu tidak punya pikiran?"
"Dia bukan anak ha*ram, Pa! Dia-- "
"Dia tidak punya orang tua! Dia anak yang di buang karena tidak diinginkan oleh orang tuanya. Bagaimana bisa aku menerima orang seperti dia masuk ke dalam keluarga kita?"
"Kamu lupa? Ini keluarga Dharma, Rainer. Keluarga yang paling disegani di kota ini. Bagaimana bisa keluarga terpandang seperti kita punya menantu yang datang entah dari mana."
Papa Rain memutar tubuhnya. Tatapan matanya terlihat sedikit menakutkan. "Di tambah dengan hal yang paling utama. Kamu adalah pewaris satu-satunya keluarga Dharma. Jadi, jangan harap bisa menikah dengan sembarang wanita," ucap papa Rain dengan penuh penekanan.
Rain membalas tatapan tajam papanya dengan tatapan tajam yang tak kalah sengitnya. Sepertinya, pria itu sudah mulai tidak sabaran lagi. Dia tidak pernah ingin menyerah. Wanita yang ia cintai, akan dia pertahankan sebisa mungkin.
"Aku pewaris? Baiklah. Kalau begitu, mulai dari detik ini, jabatan ku sebagai pewaris tunggal keluarga Dharma, aku lepaskan. Aku tidak ingin jabatan itu sama sekali."
Mata papa Rain membulat sempurna setelah mendengar ucapan anaknya. Rainer Al Vero Dharma. Anak tunggal keluarga Dharma yang sejak kecil sudah di latih dengan sebaik mungkin untuk mewariskan kekayaan besar yang keluarga Dharma miliki. Mana mungkin papanya siap untuk melepaskan anak satu-satunya meninggalkan keluarga tersebut.
"Apa? Kamu gila, Rain? Kamu ingin melepaskan status tinggi yang kamu miliki hanya karena seorang wanita?"
"Ya. Apa hebatnya status itu? Aku tidak pernah menginginkannya. Sama sekali tidak pernah menginginkan jabatan itu sejak aku masih kecil."
Reno terdiam. Iya. Apa yang anaknya katakan memang benar. Sejak kecil, Rain memang tidak pernah menginginkan status yang sedang dia sandang. Namun, karena darah yang mengalir dalam dirinya adalah darah keluarga Dharma. Jadi, dia tidak bisa menolak tanggung jawab untuk menjadi penerus dari keluarga tersebut.
Setelah terdiam sejenak. Reno kembali tertawa. "Ha ha ha. Kamu tidak ingin status sebagai pewaris keluarga Dharma? Apakah kamu bisa memilih, Rain?"
"Ah, lupakan! Aku tidak ingin membahas soal ini lagi ke depannya. Aku tahu wanita yang kamu cintai ada di mana. Rainer. Kamu tidak ingin meninggalkan dia, bukan? Kalau begitu dia yang akan meninggalkan kamu. Saat ini, aku sudah mengirim seseorang untuk mengawasi wanita itu."
Mata Rain membulat sempurna. "Apa? Apa yang ingin kamu lakukan? Aku tidak akan pernah tinggal diam jika-- "
"Pilihan itu ada di tangan kamu, Rain." Potong Reno dengan cepat. "Aku telah mengirimkan pembunuh bayaran yang siap membunuh wanita itu hanya dengan satu bidikan peluru saja."
Mata Rain semakin membulat. Tangannya ringan ingin mencengkram kerah si ayah. Sayangnya, langkah kaki Rain tertahan karena ucapan Reno.
"Kau ingin melawan ku? Kau pikir, aku tidak akan berani mengambil keputusan? Hanya satu nyawa yang datang dari keluarga yang sederhana. Membunuhnya tidak akan membuat rusak nama keluarga Dharma."
"Jangan sentuh dia!"
"Pilihan ada di tangan mu, Rain. Jika kamu siap meninggalkan dia, kembali ke keluarga Dharma dan jalani hidup selayaknya pewaris dari keluarga Dharma, maka aku akan melupakan dia. Tapi, jika kamu tidak siap. Maka aku akan membunuhnya. Kamu tahu aku, bukan? Bagiku, menyingkirkan penghalang adalah pilihan terbaik dari pada terus membiarkan aku kehilangan apa yang menurutku sangat berharga."
"Kamu mencintainya, Rain? Buktikan lah! Putuskan hubungan mu dengan dia, maka aku akan biarkan dia hidup dengan tenang. Tapi, jika tidak. Maka, jasad nya pun akan sulit untuk kau temukan."