NovelToon NovelToon
Di Bawah Kendali Asisten Suami

Di Bawah Kendali Asisten Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Konflik etika
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.

‎‎Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.

‎Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
‎

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28

‎Rafael berjalan cepat mendekat, segera melepaskan jasnya dan menyampirkannya di bahu Alina. Tangannya menahan bahu istrinya dengan lembut namun tegas.

‎‎"Kamu tidak apa-apa, Sayang? Ayo kita ke toilet, bersihkan dulu bajumu," ucapnya pelan, suaranya terdengar perhatian namun ada nada cemas yang jelas. Ia lalu menoleh ke pelayan yang masih menunduk ketakutan. "Tidak apa-apa, silakan lanjutkan pekerjaanmu."

‎‎Sementara itu, Revan tetap berdiri di samping meja. Ia tidak melangkah maju, seakan ada batas tak terlihat yang menahannya. Namun rahangnya mengeras pelan, urat halus di lehernya sedikit menegang. Tangannya yang menggenggam pinggiran meja berkedut erat, menahan diri sekuat tenaga agar tidak ikut menghampiri Alina. Matanya tak lepas dari sosok wanita itu, dan di balik ketenangannya yang biasa, terlihat jelas betapa ia sedang menahan kekhawatiran yang mendalam.

‎‎Kayla segera bangkit dari kursinya, menatap punggung kakaknya dan Alina yang perlahan menghilang di antara kerumunan tamu restoran. Hingga mereka benar-benar tak terlihat, ia baru berbalik menatap ke samping.

‎‎"Kak Revan?" panggil Kayla pelan.

‎‎Pria itu tersentak sedikit, seakan baru terbangun dari lamunan yang dalam. Ia menoleh perlahan, menyadari posisinya, lalu menarik napas halus dan menyunggingkan senyum tipis yang tenang, namun tak bisa menyembunyikan sedikit kekacauan di matanya.

‎‎"Maaf, Nona Kayla," ucapnya lembut, suaranya kembali terkendali. "Mari kita duduk kembali."

‎‎Mereka kembali duduk di kursi masing-masing. Suasana di antara mereka terasa hening sejenak, hanya terdengar suara lembut alat makan yang beradu dengan piring di meja-meja sekitar. Revan meraih gelas air di depannya, namun tidak meminumnya, hanya memegangnya dengan jemari yang tenang namun kaku.

‎‎Kayla menatapnya sekilas, lalu menunduk memutar-mutar sendok kecil di tangannya. Akhirnya ia berbicara pelan, memecah keheningan.

‎‎"Kak Revan... Kak Alina cantik ya?"

‎‎Revan terhenti sejenak. Tatapannya jatuh ke kursi kosong di seberang tempat Alina tadi duduk, lalu ia mengangguk perlahan.

‎‎"Iya," jawabnya rendah, tulus dan tanpa ragu. "Sangat cantik."

‎‎Kalimat itu menggantung di udara, terucap begitu tulus, begitu polos, tanpa beban sama sekali. Bukan sekadar pujian sopan seorang pelayan pada istri tuannya. Melainkan pandangan seorang pria yang sungguh-sungguh melihat keindahan wanita itu, apa adanya.

‎‎Kayla terdiam. Sendok kecil di tangannya berhenti berputar.

‎‎Ia menatap Revan lekat-lekat, berusaha mencari jejak kebohongan di wajah tenang itu. Namun yang ia temukan hanya ketenangan yang rapuh, dan sorot mata yang sesekali tak sengaja melirik gelisah ke arah lorong tempat Alina dan Rafael menghilang.

‎‎"Secantik apa?" tanyanya akhirnya, suaranya mengecil menjadi bisik. Bukan lagi sekadar rasa cemburu yang kekanakan, melainkan rasa penasaran yang tajam menusuk.

‎‎Revan meletakkan gelas air di tangannya perlahan di atas meja. Bunyi halus terdengar saat dasar gelas menyentuh permukaan marmer. Ia menoleh menatap Kayla, lalu menyunggingkan senyum yang sopan namun tak benar-benar sampai ke matanya.

‎‎"Secantik Nona Kayla," jawabnya lembut dan terukir sempurna. "Kalian berdua sama cantiknya."

‎‎Kayla menatapnya lama, seakan mencoba memilah apakah jawaban itu sekadar basa-basi atau ada yang tersembunyi di baliknya. Namun wajah Revan tetap tenang, tidak ada yang bisa ia baca lebih jauh dari sana.

‎‎"Kak Revan ini pandai sekali menenangkan hati orang," gumamnya pelan, lalu tersenyum tipis, meski matanya belum sepenuhnya puas.

‎‎Revan hanya menunduk sedikit, tidak menambahkan apa pun. Ia kembali meraih garpunya, tapi gerakannya terasa lambat, terhenti sesaat sebelum benar-benar menyentuh makanan di piringnya. Pikirannya tetap tertahan di lorong itu, di mana sosok Alina menghilang bersama dengan Rafael.

‎‎Lima belas menit berlalu, hingga akhirnya Alina dan Rafael berjalan kembali ke meja. Wajah Alina terlihat lebih segar, namun senyumnya masih terasa samar dan matanya sedikit lelah.

‎‎"Revan, nanti tolong kamu antar Kayla kembali ke kantor," ucap Rafael tenang, menatap Revan yang sedang duduk. "Aku akan antar Alina pergi ke butik dulu untuk membeli pakaian ganti."

‎‎Sebelum Revan sempat membuka mulut untuk menjawab, Alina langsung menyela dengan lembut namun tegas.

‎‎"Tidak perlu, Rafael. Kita langsung balik ke kantor saja sekarang. Aku mau ambil mobilku dan langsung pulang saja."

‎‎Rafael menatapnya, terkejut mendengar keputusan itu. "Kamu yakin?"

‎‎Alina mengangguk pelan, "Iya, aku yakin."

‎‎Rafael terdiam beberapa detik, menatap wajah Alina yang pucat tapi tegas itu. Ada nada kelelahan di suaranya yang tidak bisa ia bantah.

‎‎"Sayang, tapi baju kamu masih basah. Tidak nyaman kalau dipakai terus," ucapnya pelan, masih mencoba membujuk.

‎‎"Tidak apa-apa, nanti aku ganti dirumah saja," jawab Alina, suaranya tetap lembut, tapi tidak bisa ditawar.

‎‎Rafael akhirnya mengangguk pasrah.

‎‎"Baiklah, kita kembali ke kantor sekarang," ucapnya pelan. Lalu ia menatap Revan. "Revan, tolong siapkan mobilnya."

‎‎"Baik, Tuan," jawab Revan singkat dan sopan. Ia segera berdiri, mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi petugas valet.

‎‎Kayla pun ikut bangkit sambil merapikan tas di lengannya. "Kak Alin beneran mau langsung pulang? Padahal aku masih pengen lama-lama ngobrol."

‎‎Alina tersenyum tipis padanya, senyum yang terlihat lembut, tapi jelas sekali ia paksakan agar terlihat baik-baik saja. "Maaf ya, Kay. Lain kali kita cari waktu lagi, ya. Hari ini aku memang sedang kurang enak badan."

‎‎"Oh... ya sudah kalau begitu," Kayla mengangguk paham, meski raut wajahnya masih terlihat kecewa.

‎‎Mereka berjalan beriringan keluar dari restoran. Rafael berjalan di sisi Alina, tangannya sesekali menyentuh punggung wanita itu dengan hati-hati, seakan takut istrinya akan kehilangan keseimbangan. Kayla berjalan di sisi lainnya, sementara Revan melangkah di belakang mereka, menjaga jarak yang cukup namun tetap sigap.

‎‎Sesampainya di lobi, mobil hitam Rafael sudah menunggu tepat di depan pintu keluar. Revan mendahului membukakan pintu belakang. Alina masuk lebih dulu, duduk di sisi paling jauh dari pintu, lalu Rafael menyusul masuk dan menutup pintu perlahan.

‎‎Mesin menyala pelan, dan mobil meluncur halus meninggalkan area depan restoran. Di dalam kabin yang tertutup rapat, keheningan terasa mendalam. Rafael menyandarkan punggungnya ke kursi, namun matanya tak lepas dari Alina yang menatap ke luar jendela.

‎‎Tiga puluh menit berlalu dalam keheningan yang lembut namun terasa berat. Akhirnya mobil melambat dan berhenti tepat di depan lobi kantor. Di sana, mobil keluarga Mahendra yang akan menjemput Kayla sudah terparkir rapi, sopirnya berdiri menunggu di samping kendaraan.

‎‎Rafael menoleh ke samping, menatap wajah istrinya yang tampak pucat dan lelah.

‎‎"Kamu yakin mau langsung pulang?" tanyanya pelan, suaranya lembut namun menyiratkan harapan agar istrinya berubah pikiran.

‎‎Alina mengangguk samar, matanya menunduk. "Iya. Aku lelah."

‎‎Rafael mengangguk pelan. Ia mendekatkan wajahnya, berniat mencium kening Alina sebagai tanda perpisahan. Namun seketika itu juga, Alina memalingkan wajahnya ke samping, menatap ke luar jendela.

‎‎Gerakan itu terlihat begitu halus, namun dampaknya terasa seperti jeda panjang di dalam kabin mobil.

‎‎Revan yang duduk di depan melihat semuanya dari pantulan kaca spion tengah. Ia menahan napas sejenak, lalu dengan tenang membuang muka kembali ke depan, seakan tidak melihat apa-apa.

‎‎Rafael menarik perlahan tubuhnya kembali, menatap ke depan dengan rahang yang sedikit mengeras.

‎‎"Revan," ucapnya, suaranya tetap terkendali, "Kamu parkirkan mobil ini, sekalian antar Nyonya ke lantai dasar. Pastikan Nyonya masuk ke mobilnya dengan aman."

‎‎"Baik, Tuan," jawab Revan singkat.

‎‎Rafael dan Kayla turun dan berdiri di samping mobil. Revan menyalakan mesin kembali, dan mobil perlahan meluncur menuju area parkir basement yang hening.

‎‎Sesampainya di area parkiran basement yang sepi itu, Revan mematikan mesin, lalu turun dan membukakan pintu belakang untuk Alina. Setelahnya ia menyerahkan kunci mobil Alina, wanita itu mengangguk pelan.

‎‎"Terima kasih, Revan."

‎‎Ia berbalik dan baru saja hendak membuka pintu mobilnya sendiri, tiba-tiba langkahnya terhenti. Revan sudah berdiri tepat di belakangnya, suaranya terdengar rendah dan berbisik tepat di telinganya.

‎‎"Apa kamu yakin tidak ada yang tertinggal untukku?"

‎‎Jantung Alina berdegup kencang seketika. Ia tahu persis apa yang pria itu maksud, yaitu kotak bekal yang masih tergeletak di kursi penumpang mobil tadi. Kotak yang sengaja ia siapkan untuknya, tapi belum sempat ia berikan.

‎‎Alina berbalik terkejut, bibirnya bergetar. "Revan, itu…"

‎‎Namun kata-katanya terhenti di udara. Revan sudah melangkah maju, menutup jarak di antara mereka. Punggung Alina perlahan menyentuh permukaan bodi mobil yang dingin. Napas mereka berdua berpacu, jarak wajah mereka begitu dekat hingga Alina bisa merasakan hangatnya napas pria itu di kulitnya.

‎Tangan besar Revan terangkat perlahan, ujung jemarinya menyentuh pipi Alina dengan penuh kelembutan. Matanya menatap lekat ke manik mata Alina, dalam dan penuh kerinduan yang tak bisa lagi ia sembunyikan.

‎"Revan, jangan disini... ada CCTV," bisik Alina pelan, suaranya gemetar. Matanya melirik cepat ke sudut atas parkiran, di mana lampu merah kecil berkedip.

‎‎Revan terdiam sepersekian detik, rahangnya mengeras. Ia menoleh cepat, matanya menyapu seisi basement yang sepi itu — pilar-pilar beton, kamera di sudut, dan satu celah sempit di antara mobil merah Alina dan tembok.

‎‎Tanpa banyak kata, tangannya turun meraih pergelangan tangan Alina dengan lembut namun tegas.

‎‎"Sini."

‎‎Ia menarik Alina pelan ke sisi mobil yang paling gelap, ke balik pilar beton besar yang menghalangi pandangan langsung dari CCTV. Tempat di mana lampu neon tidak sampai, hanya bayangan mereka berdua yang jatuh di bodi mobil yang dingin.

‎‎Punggung Alina kembali menyentuh permukaan mobil, tapi kali ini di tempat yang aman. Tempat yang tidak akan terlihat siapa pun.

‎‎Revan mengangkat tangannya lagi, menyentuh pipinya. Napasnya sudah tidak beraturan.

‎‎"Di sini tidak ada yang lihat," bisiknya rendah, suaranya hanya untuk Alina saja. "Cuma kita."

‎‎"Aku merindukanmu, Alina."

Perlahan, wajah Revan semakin mendekat. Napas mereka menyatu di udara yang hening itu. Tanpa terburu-buru, seakan ingin mengukir momen ini selamanya, bibirnya akhirnya menyentuh bibir Alina dengan lembut, hangat, dan penuh segala rindu yang sudah ia tahan sejak di restoran tadi.

‎Alina memejamkan matanya. Jemari tangannya yang sejak tadi memeluk jas Rafael erat-erat, kini beralih mencengkeram kerah kemeja Revan, menariknya sedikit lebih dekat, membalas kehangatan itu dengan segala rasa yang tak pernah terucap.

Belum sempat momen itu benar-benar berlalu, terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari lorong basement. Suara sepatu yang menghentak lantai beton, semakin jelas dan semakin dekat.

‎‎Alina tersentak hebat, seakan tersadar dari mimpi. Ia mendorong dada Revan pelan namun cepat, wajahnya seketika pucat.

‎‎"Revan... ada orang!" bisiknya terengah-engah, matanya membelalak ketakutan melirik ke arah sumber suara.

-

-

-

Bersambung...

1
Aisyah Ranni
Wajar aja si Andika menyesal ternyata itu dia,bisa jadi dia yg slengki dengan ibu Rafael, mengulang kejadian si Rafael dengan Amara.dan Andika gak tau Revan anak kandungnya sendiri
MamDeyh
Woooow ternyata sodara tiri merekaaaa
MamDeyh
Diiih GK jelas
Mia Camelia
rasakan kau raphael tamparan sang ayah, semoga raphael mau melepaskan Alina😭
🔥Violetta🔥: Semoga y kak 😁
total 1 replies
Ervina Ardianto
Kl baca smp sini berarti awalnya Revan pura2 jd asisten Rafael ada hubungannya dg masa lalu yg blm selesai antar ortu/kakeknya Rafael & Revan. Sementara ttg Alina, di luar rencana dia, bs ketemu lg tp sdh jd istri org.
Maybe gt🤭
🔥Violetta🔥: Wah tebakan kakak ini sesuatu 👏👏👏👍😁
total 1 replies
Mia Camelia
revan gentleman banget sih, bogem si raphael di tempat, ngliat raphael lama2 kaya pecundang😒
Ervina Ardianto
Rafael msh lolos nih. Mertuanya ga liat tontonan & ga denger omongan Revan ke Rafael. Jgn lama2 author, nungguin Revan membuka jati diri dia yg sbnrnya 😊
MamDeyh
Repaaan kamu kelepasan 😅
🔥Violetta🔥: rem-nya blong 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
sumpah raphael tuh pembawa sial banget sih, bikin Alina jatuh bgtu😔😔😔
🔥Violetta🔥: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Ervina Ardianto
Revan mana Revan..mungkin sekarang saatnya membuka semua 🤭
🔥Violetta🔥: Lagi bertapa dulu dia kak... 🤭🤭🤣
total 1 replies
MamDeyh
Nah kan.. Laki egois. Plin plan. Gajebo
🔥Violetta🔥: Omelin aja,,, omelin kak 🤭🤣🤣
total 1 replies
Ervina Ardianto
Ada hubungan dg masa lalu berarti nih. Revan uda kenal Alina lbh dl dari Rafael , yg msh gelap hubungan ortu Revan & Rafael, knp Alina ga tau / blm sadar ttg Revan (di masa lalu) & Revan bs kecolongan, Alina nkh sm Rafael.
MamDeyh
Ahhhh lagi dong kak.....
Mia Camelia
Alina kapan cerai nya thor 🤭🤭🤭pingin ngeliat Alina dan revan SAH🤭😁
🔥Violetta🔥: Nanti kak 🤭 author nya juga udah gak sabar 🤭🤭🤭
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
"Menikah karena perjodohan tapi hati suami masih di masa lalu" itu klasik yang tidak pernah gagal. Saya langsung bisa merasakan bagaimana hampanya Alina.
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.

Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.

cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰
MamDeyh
Aduhhhh aku dag dig dug deeeer daiaaaaa/Curse//Curse/
🔥Violetta🔥: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Adira🍓
O...o... kamu ketahuan 🤣🤣🤣🤣
Adira🍓
Pandai kali ngegombal mulut kau ini Revan 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Terlalu jujur jawabanmu Bang 🤣🤣🤣🤣🤣
🔥Violetta🔥: Maklum, rem-nya blong kak 🤭🤭
total 1 replies
Adira🍓
Hayoo loh Revan,,, ketahuan kan 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!