IG: @hyacinthschia
Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.
Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Luka yang Tak Terlihat
Matahari pagi menembus tirai sutra kamar suite pengantin, menyinari wajah Brooklyn yang sama sekali belum terpejam sepanjang malam. Ia duduk di kursi dekat jendela, memandangi jalanan Manhattan yang mulai ramai oleh lalu lalang taksi kuning dan pejalan kaki yang bergegas menuju kantor masing-masing.
Liam belum juga kembali.
Pukul enam pagi, ponselnya bergetar. Sebuah panggilan dari nomor tak dikenal.
"Halo?" jawab Brooklyn dengan suara serak karena semalaman menahan tangis.
"Apakah ini Nyonya Whitmore?" suara seorang pria terdengar di seberang telepon, ragu-ragu. "Saya Tony, pemilik bar di West Village. Suami Anda... dia ada di sini. Dia sudah minum terlalu banyak, dan saya tidak yakin dia bisa pulang sendiri."
Brooklyn memejamkan matanya sejenak, menahan gejolak perasaan yang campur aduk antara marah, kecewa, dan—entah kenapa—tetap khawatir.
"Kirimkan alamatnya. Saya akan segera ke sana."
...***...
Bar itu sudah sepi ketika Brooklyn tiba, hanya menyisakan Tony yang sedang membersihkan meja dan Liam yang tertidur dengan kepala tersandar di meja bar, jasnya kusut, dasi longgar tergantung di lehernya.
"Terima kasih sudah meneleponnya," ucap Brooklyn pelan sambil mendekati Tony.
"Dia terus menyebut nama Helena semalaman," ucap Tony tanpa berpikir panjang, lalu menyadari kesalahannya ketika melihat raut wajah Brooklyn berubah. "Maaf, saya tidak bermaksud—"
"Tidak apa-apa," potong Brooklyn cepat, mencoba tersenyum meski hatinya kembali teriris. "Saya sudah tahu."
Dengan bantuan seorang sopir yang ia panggil, Brooklyn berhasil membawa Liam kembali ke apartemen pribadi mereka di Upper East Side—sebuah penthouse mewah yang telah disiapkan keluarga Whitmore sebagai rumah baru bagi pasangan pengantin itu. Namun membawa pulang seorang pria yang mabuk berat bukanlah perkara mudah bagi Brooklyn yang bertubuh kecil.
Ia setengah menyeret, setengah memapah Liam menuju kamar tidur utama, napasnya terengah-engah karena beban tubuh Liam yang jauh lebih berat darinya.
"Sedikit lagi," gumamnya pada diri sendiri, "sedikit lagi sampai ke ranjang."
...***...
Liam membuka matanya perlahan siang harinya, kepalanya berdenyut hebat seolah ada seribu palu yang menghantam tengkoraknya. Cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai terasa menyilaukan, membuatnya mengerang dan menutup wajah dengan lengan.
Ia butuh waktu beberapa detik untuk menyadari di mana dirinya berada, dan beberapa detik lagi untuk mengingat apa yang telah terjadi semalam.
Pintu kamar terbuka pelan. Brooklyn masuk membawa nampan berisi segelas air putih dan obat pereda sakit kepala.
"Kau sudah bangun," ucap Brooklyn lembut, mencoba menyembunyikan kelelahan di suaranya sendiri. "Aku bawakan obat sakit kepala. Kau pasti butuh ini."
Namun alih-alih menerima kebaikan itu, Liam justru menatapnya dengan mata memerah, campuran antara mabuk yang belum sepenuhnya hilang dan amarah yang membara di dalam dadanya.
"Untuk apa kau repot-repot mengurusiku?" suaranya kasar, jauh berbeda dari nada dingin yang biasa ia tunjukkan. "Aku tidak memintamu datang menjemputku. Aku tidak memintamu menikahiku."
Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada yang bisa dibayangkan Brooklyn. Namun ia tetap berusaha tenang, meletakkan nampan di meja samping ranjang.
"Kau perlu minum air dan obat ini, Liam. Kepalamu pasti sangat sakit setelah minum sebanyak itu."
"Jangan sok peduli!" bentak Liam tiba-tiba, bangkit dari ranjang dengan gerakan kasar. Tubuhnya masih sempoyongan akibat pengaruh alkohol yang belum sepenuhnya hilang.
Brooklyn mundur selangkah, terkejut oleh ledakan amarah yang tiba-tiba itu. Namun langkah mundurnya justru membuatnya kehilangan keseimbangan ketika kaki Liam yang masih goyah tanpa sengaja menabrak nampan di meja, membuat gelas air jatuh dan pecah di lantai.
Dalam kepanikan sesaat, Brooklyn mencoba menghindar dari pecahan kaca, namun gerakan tergesa-gesa itu membuatnya terhuyung ke belakang. Kepalanya membentur sudut lemari kayu di dekat ranjang dengan cukup keras, membuatnya meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.
"Aduh!"
Suara itu seketika membuat Liam terdiam. Untuk sesaat, kesadaran mulai kembali menembus kabut alkohol yang membungkus pikirannya. Ia menatap Brooklyn yang meringis sambil memegangi kepalanya, dan entah kenapa, ada secercah rasa bersalah yang muncul—meski dengan cepat ia tepis jauh-jauh.
"Itu bukan salahku," ucapnya defensif, suaranya masih terdengar kasar meski tidak sekeras sebelumnya. "Kau yang berdiri terlalu dekat."
Brooklyn menahan air mata yang mendesak ingin keluar, bukan karena rasa sakit di kepalanya, melainkan karena kata-kata dingin yang baru saja ia dengar. Ia mengangguk pelan, tidak ingin memperpanjang perdebatan yang percuma.
"Aku akan bersihkan ini," ucapnya sambil berjongkok mengumpulkan pecahan kaca, tangannya sedikit gemetar.
Liam berjalan melewatinya menuju kamar mandi tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Brooklyn sendirian dengan kepala yang masih berdenyut dan hati yang jauh lebih perih.
...***...
Beberapa jam kemudian, Brooklyn berdiri di dapur penthouse mereka, tangannya sibuk mengaduk semangkuk bubur ayam hangat yang ia siapkan sendiri dengan penuh perhatian—bubur yang ditaburi potongan daun bawang segar dan sedikit jahe, resep yang ia pelajari dari neneknya sejak kecil untuk meredakan mabuk dan sakit kepala.
Ia membawa mangkuk itu dengan hati-hati menuju ruang keluarga, tempat Liam kini duduk di sofa sambil menatap kosong ke arah jendela besar yang menghadap Central Park.
"Aku buatkan bubur untukmu," ucap Brooklyn pelan, meletakkan mangkuk di atas meja kaca di hadapan Liam. "Ini akan membantu meredakan sakit kepalamu, dan juga menenangkan perutmu setelah minum semalaman."
Liam melirik sekilas ke arah mangkuk itu, ekspresinya sulit ditebak. Untuk sesaat, Brooklyn berharap—meski hanya secercah harapan kecil—bahwa perhatian sederhana ini bisa sedikit mencairkan kebekuan di antara mereka.
Namun harapan itu hancur seketika.
"Aku tidak butuh ini," ucap Liam dingin, lalu dengan satu gerakan tangan yang kasar, ia menepis mangkuk bubur itu hingga terlempar dari meja.
Mangkuk keramik itu jatuh ke lantai marmer dengan suara keras, pecah berkeping-keping. Bubur hangat yang tadinya disiapkan dengan penuh kasih sayang kini tumpah dan berserakan di lantai, bercampur dengan pecahan keramik yang berserakan seperti serpihan hati Brooklyn yang perlahan mulai retak.
"Liam!" seru Brooklyn, terkejut bukan main.
"Aku bilang aku tidak butuh apa pun darimu!" bentak Liam, berdiri dari sofa dengan wajah yang masih diliputi amarah dan kesedihan yang tercampur aduk. "Berhentilah berpura-pura peduli! Kau tahu betul pernikahan ini hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak perlu ada bubur, tidak perlu ada obat, tidak perlu ada semua kepedulian palsu ini!"
Brooklyn berdiri mematung, menatap pecahan mangkuk dan bubur yang berserakan di lantai, sebelum akhirnya menatap Liam dengan mata yang mulai berkaca-kaca namun ia tahan sekuat tenaga agar tidak jatuh.
"Aku tidak berpura-pura," ucapnya pelan namun tegas, suaranya bergetar menahan emosi. "Aku mungkin bukan wanita yang kau cintai, Liam. Aku tahu itu. Tapi aku adalah istrimu sekarang, entah kau menyukainya atau tidak. Dan aku akan tetap menjalankan kewajibanku dengan sepenuh hati, meski kau terus menolaknya."
Liam terdiam, matanya menatap Brooklyn yang berdiri tegak meski luka jelas terlihat di balik matanya. Untuk sesaat, ada sesuatu yang bergejolak dalam dadanya—entah rasa bersalah, entah kekaguman kecil atas ketegaran wanita di hadapannya. Namun kesombongan dan luka lamanya masih terlalu besar untuk ia akui perasaan itu.
"Terserah kau saja," ucapnya akhirnya, berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan tanpa menoleh sekali pun.
Brooklyn berdiri sendirian di tengah ruang keluarga yang mewah namun terasa begitu dingin dan hampa. Ia berjongkok perlahan, mulai mengumpulkan pecahan mangkuk satu per satu, tangannya bergetar bukan hanya karena rasa sakit di kepalanya yang masih berdenyut, melainkan karena luka yang jauh lebih dalam di hatinya.
Namun di tengah air mata yang akhirnya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi, sebuah tekad baru mulai tumbuh dalam dirinya—tekad untuk bertahan, untuk tetap setia menjalankan perannya sebagai istri, meski hatinya terus terluka setiap hari.
Ia tidak tahu berapa lama lagi ia sanggup bertahan dalam kesunyian dan penolakan ini. Namun satu hal yang ia yakini—ia tidak akan pernah menyerah semudah itu, tidak peduli seberapa dingin dan kejam perlakuan yang harus ia terima dari pria yang kini menjadi suaminya.