Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Sentuhan Hangat Calon Ayah
Minggu pagi di penthouse lantai 45 diselimuti oleh kehangatan sinar matahari yang menembus kaca balkon. Di area ruang tamu utama, aroma jus apel segar dan roti gandum panggang merebak di udara.
Rehan—yang sengaja dijemput oleh Rian dari asrama sekolah untuk menghabiskan akhir pekan di rumah kakak perempuannya—duduk di sofa empuk dengan mata membelalak lebar. Tangannya yang memegang segelas jus membeku di udara, menatap Dania dan Arvin yang duduk berdampingan di depannya.
"Kak Dania... beneran?" tanya Rehan dengan nada suara bergetar gembira. "Aku... aku mau jadi paman?"
Dania tersenyum hangat, mengangguk pelan seraya meraba perut ratanya. "Iya, Rehan. Dokter bilang usianya baru lima minggu. Kamu bakal punya keponakan sebentar lagi."
"Hore!" seru Rehan heboh, meletakkan gelasnya di meja dan langsung melompat kecil mendekati Dania. Pria muda itu berniat memeluk kakaknya dengan erat, namun gerakan tubuhnya mendadak terhenti di udara saat melihat tatapan peringatan yang tajam dari Arvin.
"Hati-hati, Rehan," tegur Arvin dengan suara bariton kaku dan nada super-protektif yang refleks keluar dari mulutnya. "Jangan memeluk terlalu kencang. Kakakmu tidak boleh terguncang."
Rehan tertawa geli melihat gurat kecemasan berlebihan di wajah kakak iparnya yang biasanya selalu tampil tenang dan dingin tersebut. Rehan memelankan gerakannya, berlutut di samping lutut Dania dan mengusap pelan perut kakaknya dengan sangat hati-hati.
"Halo, Calon Keponakan," bisik Rehan penuh kasih sayang, matanya berkaca-kaca haru. "Nanti kalau kamu sudah lahir, Paman Rehan yang bakal ajari kamu cara menggambar draf bangunan dan main gim sampai jago."
Dania mengusap rambut adiknya dengan penuh keharuan. "Terima kasih, Rehan."
"Tapi Kak Arvin," panggil Rehan seraya mendongak menatap Arvin. "Muka Kak Arvin kelihatan jauh lebih tegang dibanding waktu mimpin rapat anggaran kemarin, lho."
Dania terkekeh renyah menyetujui ucapan adiknya, sementara Arvin berdehem kaku, merapikan lengan kaus santainya untuk menutupi rasa canggung.
"Aku hanya memastikan bahwa tidak ada risiko sekecil apa pun yang mengganggu kesehatan kakakmu dan calon anak kami," sahut Arvin datar, meski sudut bibirnya terangkat tipis memancarkan rasa bangga dan bahagia yang tak disembunyikan.
Sore harinya, setelah Rehan kembali ke kamarnya untuk mengaji dan beristirahat, suasana penthouse kembali hening dan damai.
Di perpustakaan pribadi lantai 45, Arvin duduk di balik meja kerja kayunya. Namun, di hadapannya bukan lagi grafik saham atau laporan analisis akuisisi perusahaan, melainkan tumpukan buku tebal bertajuk Panduan Perawatan Kehamilan Trimester Pertama, Nutrisi Terbaik Ibu Hamil, dan Psikologi Calon Ayah Modern.
Dania melangkah masuk membawa cangkir teh kranberi hangat. Ia mematung di ambang pintu, menatap suaminya yang sangat serius menandai halaman-halaman buku kehamilan tersebut dengan stabilo kuning.
Dania menyunggingkan senyum manis yang hangat, melangkah mendekat dan meletakkan cangkir teh di meja.
"Tuan CEO sekarang punya bahan bacaan baru?" goda Dania lembut seraya bersandar di tepi meja kerja Arvin.
Arvin mendongak, menarik napas panjang seraya meletakkan penanda bukunya. Pria tegap itu mengulurkan tangannya, merangkul pinggang Dania dan menarik tubuh istrinya hingga berdiri rapat di antara kedua kakinya.
"Nutrisi dari katering kantor untukmu kurang seimbang untuk usia kehamilan lima minggu," kata Arvin jujur, suaranya merendah dipenuhi kepedulian yang mendalam. "Mulai besok, koki pribadi keluarga Dirgantara akan menyiapkan menu khusus rendah garam dan tinggi zat besi untuk sarapan dan makan siangmu di rumah maupun di studio."
Dania tertawa kecil, usulan perhatian dari Arvin yang amat detail ini selalu berhasil melelehkan hatinya. Dania mengusap rahang tegas suaminya dengan penuh kasih sayang.
"Arvin... kamu tidak perlu serepot ini. Aku benar-benar merasa sehat," bisik Dania lembut.
Arvin menatap mata bening Dania, lalu membawa telapak tangan Dania ke bibirnya, mengecup punggung tangan istrinya dengan amat lembut.
"Aku tidak pernah belajar cara menjadi seorang ayah, Dania," bisik Arvin jujur dari kedalaman hatinya, menyuarakan rasa cemas terselubung di balik sikap tegasnya. "Mendiang Ayahku dulu tidak pernah ada untukku, dan Kakek mendidikku dengan disiplin bisnis yang kaku. Aku... aku hanya ingin memastikan bahwa aku bisa menjadi suami dan ayah yang sempurna untukmu dan anak kita."
Hati Dania bergetar hebat mendengar kejujuran yang begitu tulus dan polos dari bibir pria yang sangat dicintainya ini. Dania merendahkan tubuhnya, melingkarkan kedua lengannya di sekeliling leher Arvin dan memeluk kepala suaminya di dada hangatnya.
"Kamu sudah menjadi suami yang luar biasa, Arvin," bisik Dania penuh rasa percaya yang utuh. "Dan aku yakin kamu akan menjadi ayah yang paling penyayang dan hebat di dunia. Kamu tidak perlu takut."
Arvin melingkarkan kedua lengannya di pinggang Dania, menyandarkan wajahnya di perut rata Dania, menghirup aroma harum tubuh istrinya yang menenangkan. Rasa cemas dan beban pikiran yang sempat mengusiknya seketika sirna, berganti dengan kedamaian tiada tara.
Arvin mendongak kembali, menatap bibir manis Dania, lalu berdiri dan mengikis jarak di antara mereka.
"Terima kasih karena selalu menjadi ketenanganku, Dania," desis Arvin rendah, sebelum menautkan bibirnya dengan bibir Dania dalam sebuah ciuman yang lambat, manis, dan sarat akan kehangatan cinta yang membara.
Malam harinya, saat hembusan angin malam bertiup lembut di luar kaca penthouse, Arvin dan Dania berbaring bersama di atas tempat tidur utama yang luas.
Arvin berbaring miring, menyangga kepalanya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya yang kokoh mengelus pelan perut rata Dania di balik gaun tidur sutranya. Dania bersandar nyaman di dada bidang Arvin, menikmati sentuhan jemari suaminya yang teramat lembut.
"Arvin," panggil Dania pelan.
"Ya, sayang?"
"Mengenai pengakuan pernikahan kita..." Dania jeda sejenak, menatap mata pekat Arvin. "Apakah kamu sudah menentukan waktunya?"
Arvin menghentikan usapan jemarinya sejenak, lalu menatap Dania dengan tatapan yang sangat tegas dan penuh kebanggaan.
"Pekan depan," jawab Arvin mantap tanpa ada rasa ragu sedikit pun. "Rian dan tim protokoler sudah menyiapkan acara Grand Gala Reception di hotel utama. Aku tidak akan membiarkan anak kita lahir sementara ibunya masih terikat dalam bayang-bayang 'pernikahan rahasia'."
Dania menyunggingkan senyum paling anggun dan bahagia, mengangguk pelan. "Aku siap berdiri di sampingmu, Arvin."
Arvin tersenyum menawan, mengecup dahi Dania dengan amat lama. Malam di lantai 45 itu berlalu dalam kehangatan cinta sejati yang kini siap diproklamasikan ke hadapan seluruh dunia.