Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Malam pun tiba. Nadia menatap ketiga anaknya yang masih setia berada di dekat ranjangnya dengan pandangan teduh, walau matanya tampak amat berat menahan kantuk dan rasa lemas.
"Damian, Jovan, Kenzo... pulang ya... udah malam..." panggil Nadia lirih.
"Kalian... harus istirahat..."
Kenzo langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia menggenggam erat jemari ibunya, menolak dilepas.
"Enggak mau! Kenzo mau sama Bunda di sini! Kenzo enggak mau pulang!"
Haris melangkah mendekat, lalu mengusap lembut kepala Kenzo dan menepuk bahu cucu-cucunya. "Kenzo, Bang Damian, Bang Jovan... kita pulang dulu ya, Nak. Bunda butuh istirahat tenang malam ini biar cepat sembuh. Kasihan Bundanya kalau kecapekan. Besok pagi-pagi kita ke sini lagi, ya?"
Ranti ikut membujuk. "Iya, Sayang... Biar Papa yang jaga Bunda malam ini. Kalau Kenzo pinter dan mau nurut pulang, besok Bunda udah makin sehat."
Kenzo menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca, lalu menatap Opanya. Setelah terdiam sejenak, ia akhirnya mengangguk pelan.
Ia berjinjit di tepi ranjang, mendekatkan wajahnya ke pipi Nadia. Kenzo menciumi pipi ibunya berkali-kali dengan penuh kasih sayang. "Kenzo pulang dulu ya, Bunda... Besok Kenzo ke sini lagi. Bunda cepat sembuh, ya..."
Nadia tersenyum tipis, mengusap lembut pipi bungsunya. "Iya, Sayang... hati-hati di jalan ya..."
Setelah Damian dan Jovan bergantian mencium tangan dan pamit pada sang ibu, Haris dan Ranti menuntun ketiga cucu mereka keluar kamar, meninggalkan Arvin dan Nadia.
Arvin berjalan menuju sofa di sudut kamar, lalu duduk di sana seraya membuka tablet untuk memeriksa sisa pekerjaan kantornya yang tertunda. Tanpa mengalihkan pandangan dari layar, Arvin berkata singkat dengan suara datar.
"Kalau butuh apa-apa, panggil aku."
Nadia yang terbaring lemah menatap langit-langit kamar sebentar, sebelum perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Arvin.
"Ibu sama Vanya... apa enggak datang?" tanya Nadia pelan.
Arvin menghentikan jemarinya di atas layar tablet, lalu menoleh singkat ke arah Nadia. "Semalam sebelum kamu sadar, mereka sempat datang. Tadi pagi udah dikabari lagi, mungkin besok mereka baru ke sini."
Mendengar jawaban itu, Nadia hanya menghela napas panjang. Ada rasa kecewa yang tersirat tipis dari hembusan napasnya, namun ia memilih untuk memejamkan mata sejenak.
Beberapa saat kemudian, Nadia kembali membuka mata. Ia merasa ingin ke toilet, namun tubuhnya masih amat lemah untuk bergerak sendiri.
"Mas... bisa panggilkan perawat?" panggil Nadia lirih.
Arvin langsung bangkit dari sofa, meletakkan tabletnya, dan melangkah cepat mendekati ranjang.
"Ada apa? Ada yang kurang nyaman?" tanya Arvin.
Nadia menggeleng pelan. "Enggak... aku mau ke kamar mandi."
Arvin diam sejenak, lalu melipat lengan kemejanya hingga ke siku. Daripada menekan tombol pemanggil perawat, ia justru memindahkan selimut yang menutupi tubuh Nadia.
"Biar aku aja," ucap Arvin singkat.
"Tapi, Mas..."
Tanpa menunggu bantahan Nadia, Arvin dengan hati-hati menyusupkan satu tangannya di bawah punggung Nadia dan tangan lainnya di balik lutut sang istri. Ia mengangkat tubuh Nadia dengan perlahan, memastikan tiang infus ikut bergeser seirama dengan langkahnya menuju kamar mandi.
Nadia tersontak kaget, refleks memegang bahu Arvin yang terasa kokoh.
Arvin mendorong pintu kamar mandi menggunakan kakinya, lalu perlahan menurunkan Nadia di atas kloset duduk. Gerakannya begitu hati-hati agar selang infus di tangan Nadia tidak tertarik.
"Bisa sendiri?" tanya Arvin kaku, menatap wajah Nadia.
Nadia menunduk pelan, matanya bergerak gelisah. "Gak... gak bisa, Mas... Tubuh aku masih lemas banget."
Arvin sempat terdiam beberapa detik, berusaha menguasai dirinya. Ia berdeham kaku, lalu memalingkan wajahnya sedikit ke arah lain.
"Yaudah... aku bantuin," ucap Arvin singkat, suaranya terdengar berat dan canggung.
Dengan penuh kehati-hatian, Arvin membantu Nadia hingga selesai. Sepanjang proses itu, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Nadia hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, menahan detak jantungnya yang bergemuruh hebat di dalam dada setiap kali jemari Arvin tak sengaja bersentuhan dengan kulitnya.
Setelah membasuh tangan Nadia di wastafel dan mengeringkannya dengan tisu, Arvin kembali membopong tubuh istrinya keluar menuju ranjang rawat. Ia meletakkan Nadia dengan amat perlahan, lalu merapikan selimut hingga sebatas dada.
"Makasih ya, Mas..." bisik Nadia.
Arvin menetralkan ekspresi wajahnya kembali datar, walau tenggorokannya terasa kering. "Sama-sama. Tidur lagi. Jangan banyak pikiran."
Sementara itu. Haris dan Ranti duduk berhadapan dengan Jovan yang menunduk dalam di sofa.
Haris menghela napas panjang, menatap cucu keduanya itu.
"Jovan... Opa sama Oma mau bicara jujur sama kamu," buka Haris pelan, memecah keheningan. "Soal perasaan kamu... dan rasa benci kamu ke Bunda selama ini."
Jovan meremas jemarinya di atas paha. Dadanya terasa sesak saat mendengar kata benci diucapkan langsung oleh Opanya. Ia mendongak perlahan dengan mata berkaca-kaca, menatap Opa dan Omanya bergantian.
"Jovan bukan cuma merasa Bunda beda, Opa... Oma..." bisik Jovan dengan suara gemetar. "Jovan... Jovan belum bisa terima Tante Nadia jadi Bunda Jovan."
Ranti dan Haris terdiam, menatap cucu mereka yang mulai terisak.
"Di dalam hati Jovan... cuma ada Mama," lanjut Jovan, air matanya menetes makin deras.
"Jovan gak bisa lupain Mama gitu aja. Setiap kali lihat Tante Nadia di rumah ini, Jovan selalu ingat Mama... Dan setiap kali lihat Kenzo, Jovan juga selalu teringat kalau... kalau Mama meninggal karena melahirkan Kenzo..."
Suara Jovan pecah di akhir kalimatnya. Beban emosi yang dipendamnya selama bertahun-tahun akhirnya tumpah begitu saja.
Haris menarik napas berat, matanya berkaca-kaca mendengar kepedihan sang cucu. Ranti menggeser duduknya mendekati Jovan, merengkuh tubuh cucunya yang bergetar hebat ke dalam pelukannya.
"Jovan, dengar Oma, Nak..." bisik Ranti lembut seraya mengusap punggung Jovan. "Meninggalnya Mama saat melahirkan Kenzo itu sudah takdir Allah. Bukan salah Kenzo, dan bukan salah siapa-siapa. Mama kamu berjuang demi menghadirkan Kenzo ke dunia ini karena kasih sayangnya yang luar biasa."
Haris membungkuk sedikit, menatap mata Jovan yang basah. "Dan soal Tante Nadia... dia tidak pernah berniat menggantikan posisi Mama kamu di hati kamu, Jovan. Nadia tahu batasannya. Dia cuma mau jadi sosok yang merawat dan menyayangi kamu, bukan menghapus kenangan Mama kamu."
Jovan menyembunyikan wajahnya di bahu Omanya, menangis terisak-isak. "Tapi Jovan rasanya bersalah banget sama Mama kalau Jovan sayang sama Tante Nadia, Opa... Jovan bingung..."
"Sayang sama Nadia gak akan bikin kasih sayang kamu ke Mama hilang, Jov," tegur Haris.
"Mama kamu di surga pasti sedih lihat kamu terus memendam benci dan menyiksa diri seperti ini. Bukalah hati kamu perlahan... Bukan untuk melupakan Mama, tapi untuk menerima kebaikan orang yang tulus merawat kamu."
Jovan tak menjawab, hanya terisak dalam pelukan Omanya, membiarkan rasa sesak dan pergolakan batin yang membakarnya perlahan terurai di tengah heningnya malam.