NovelToon NovelToon
NATIONAL PROTECTION

NATIONAL PROTECTION

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Perperangan
Popularitas:411
Nilai: 5
Nama Author: Zapdos

seorang protagonis yang bereinkarnasi ketubuh anak muda bernama Andre, memiliki kekuatan ganda yang berbeda dari masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PANGGUNG UTAMA

​Keheningan yang menyelimuti alun-alun Sektor 3 pecah berkeping-keping oleh gemuruh sorak-sorai yang memekakkan telinga. Tepuk tangan, jeritan histeris, dan tangis kelegaan meledak dari ratusan warga sipil yang berlindung di balik barikade darurat Asosiasi. Di langit, baling-baling helikopter berita berputar kencang, menyorotkan lampu sorot berdaya tinggi langsung ke tengah kawah tempat bangkai Jenderal Iblis Xar'Goth tergeletak menyedihkan.

​Bastian Valerius memutar bahunya yang pegal, lalu mengangkat tangannya ke udara, memberikan lambaian karismatik ke arah kamera televisi yang menyorot mereka. Zirahnya yang penyok di beberapa bagian justru menambah kesan heroik yang dramatis. Ia tahu persis bagaimana memainkan opini publik. Keluarga konglomeratnya selalu mengajarkan bahwa citra adalah senjata yang sama tajamnya dengan pedang.

​Namun, Andre sama sekali tidak peduli pada kamera atau sorakan itu.

​Mantan Kaisar Kilat tersebut membalikkan badan, menyembunyikan wajahnya di balik bayangan tudung jubahnya yang berkibar tertiup angin malam. Ia berjalan menjauh dari sorotan lampu, melewati bangkai iblis raksasa yang darahnya mulai mendingin dan mengeras. Pasukan militer Asosiasi yang berdiri di jalur berjalannya secara naluriah membelah diri seperti Laut Merah, memberikan jalan bagi pemuda berpakaian hitam itu dengan tatapan penuh kekaguman bercampur ketakutan absolut. Tidak ada satu pun komandan regu yang berani menghentikannya untuk meminta keterangan. Mereka baru saja melihat pemuda itu membelah meteor dan menumbangkan ancaman Level 75 dalam satu tarikan napas.

​"Hei, tunggu aku!" panggil Bastian, menurunkan tangannya dan berlari kecil menyusul Andre, meninggalkan para reporter yang saling sikut untuk mendekati mereka. "Kau tidak ingin memberikan satu atau dua kutipan heroik untuk berita malam? Ayahku pasti akan membingkai wajahku di ruang tamu besok pagi."

​"Aku lebih suka menjadi mitos daripada badut sirkus," jawab Andre datar, mempercepat langkahnya memasuki gang gelap di antara dua gedung perkantoran. "Publisitas ini adalah tugasmu. Tugasku hanya membunuh apa yang menghalangi jalan kita. Selain itu, pedangku hancur. Aku butuh senjata baru, dan aku benci menggunakan senjata sewaan."

​Bastian tertawa pelan, melirik sisa gagang pedang di tangan Andre yang sudah hangus. "Senjata yang bisa menahan tekanan auramu bukanlah barang yang bisa dibeli di toko Asosiasi. Kita butuh pandai besi kelas atas, atau kita harus merampok Dungeon tingkat Nightmare. Tapi tenang saja, setelah pertunjukan hari ini, seluruh kota akan bertekuk lutut menawarkan apa pun yang kita inginkan."

​Sementara itu, di sebuah ruangan VIP di puncak Menara Shadowhand, udara terasa sangat dingin. Bau amis darah dari sepuluh emblem guild yang dikirimkan tadi pagi belum sepenuhnya hilang dari ingatan, namun kini teror yang jauh lebih besar tersaji secara live di layar monitor raksasa di depan mereka.

​Ketiga pemimpin guild raksasa—Ketua Shadowhand yang berkacamata, Wakil Ketua Phoenix yang berambut merah, dan Ketua Titan—duduk membeku di kursi beludru mereka. Cangkir kopi dan gelas anggur di atas meja tak tersentuh.

​Di layar monitor, berita televisi sedang memutar ulang adegan gerakan lambat (slow-motion) saat Andre melompat menembus meteor api hijau. Diperlambat hingga sepuluh kali lipat pun, kamera Asosiasi nyaris tidak bisa menangkap bentuk fisik Andre, hanya siluet hitam pekat yang merobek api, disusul oleh garis kematian yang membelah sang Jenderal Iblis raksasa menjadi dua.

​Pria berkacamata dari Shadowhand melepas kacamatanya dengan tangan gemetar. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras di pelipisnya. Pria yang tadi pagi merencanakan pembunuhan di Lembah Siksa dengan penuh arogansi itu kini terlihat seperti pesakitan yang menunggu jadwal eksekusi mati.

​"Level 75," bisik Ketua Titan, suaranya serak dan nyaris tidak terdengar. Laki-laki berbadan kekar itu meremas lengan kursinya hingga kayu mahoni mahal itu retak. "Itu adalah Intermediate Demon. Monster elit yang butuh tiga regu Third Job tingkat atas dan persiapan berhari-hari untuk ditumbangkan... Anak itu membelahnya seperti membelah mentega. Dan dia bahkan belum mengaktifkan kelas lengkapnya."

​Wanita berambut merah dari Phoenix menelan ludah, memalingkan wajah dari layar. "Tadi pagi kita menerima sepuluh emblem berdarah. Bawahanmu, Vex, mengatakan bahwa pemuda itu mengancam akan mengambil kepala kita jika kita berani menyentuh Rishing Guild." Ia menatap Ketua Shadowhand dengan tatapan penuh amarah dan keputusasaan. "Kau memancing naga yang sedang tidur! Jika pemuda monster itu tahu bahwa kita yang merencanakan penyergapan malam itu, dia tidak akan mengirim pesan lagi. Dia akan datang ke mari dan membelah gedung ini berserta isinya!"

​"Aku tidak tahu!" bentak Ketua Shadowhand panik, suaranya pecah. "Data Asosiasi mencatatnya sebagai kuli panggul tingkat satu! Bagaimana aku bisa tahu bahwa dia menyembunyikan kekuatan setara pahlawan perang?!"

​"Cukup!" raung Ketua Titan, berdiri dari kursinya. Tubuh besarnya bergetar. Ia teringat laporan dari wakilnya, Brutus, yang pingsan berbusa di lobi Asosiasi hanya karena ditatap oleh pemuda itu. "Kita tarik semua mata-mata kita. Batalkan semua operasi sabotase terhadap Keluarga Valerius atau faksi baru mereka. Mulai detik ini, tidak ada satu pun anggota guild kita yang boleh mencari masalah dengan dua pemuda itu. Beri tahu seluruh bawahan kalian. Jika ada yang melanggar, bunuh anggota itu sendiri sebelum bayangan hitam itu yang datang ke markas kita!"

​Tidak ada yang membantah instruksi keputusasaan tersebut. Di dunia yang dikuasai oleh sistem kekuatan mutlak, arogansi politik tidak ada artinya di hadapan kematian yang pasti. Malam itu, tiga guild terbesar di Sektor Pusat diam-diam menaikkan bendera putih, tunduk pada teror dari sebuah guild baru yang anggotanya hanya berjumlah dua orang.

​Jauh dari kepanikan para elite politik, di penthouse mewah berkeamanan maksimal milik Keluarga Valerius di Sektor 1, suasana terasa jauh lebih hangat.

​Pintu lift pribadi berdenting terbuka. Andre dan Bastian melangkah keluar. Pakaian mereka mungkin dipenuhi debu dan bau belerang, namun raut wajah mereka rileks. Sebelum Andre sempat melepaskan sepatunya di lorong masuk, sebuah pelukan erat menghantam pinggangnya.

​"Kak Andre!"

​Marvin memeluk kakaknya erat-erat, wajahnya dibenamkan ke dada Andre. Remaja berusia 16 tahun itu tampak gemetar. Di ruang tengah, layar televisi raksasa masih menyala, menampilkan siaran berita tentang pahlawan baru Sektor 3.

​Andre menghela napas pelan, mengusap rambut adiknya dengan lembut. Ketegangan dan insting membunuh yang menyelimuti tubuhnya sejak di medan perang seketika menguap, digantikan oleh kehangatan seorang manusia biasa. Di puncak kekuatan masa lalunya, tidak ada satu pun sambutan pulang yang terasa sepenting ini.

​"Kakak tidak apa-apa, kan? Tidak ada yang terluka? Monster iblis tadi itu besar sekali di TV," cerocos Marvin, mendongak untuk memeriksa wajah kakaknya, lalu beralih menatap Bastian. "Kak Bastian juga! Kalian berdua gila! Menghadapi bencana Tingkat 2 berdua saja!"

​Bastian tertawa lebar, menepuk bahu Marvin. "Tenang, Vin. Kakakmu ini bukan manusia. Monster iblis itu yang seharusnya kau kasihani. Sayangnya, pedang kesayangan kakakmu hancur berantakan. Kurasa benda logam murah tidak sanggup menahan kekuatannya."

​Marvin menghela napas lega, lalu tersenyum simpul. Ia mundur selangkah, dan diam-diam mengalirkan sedikit energi zamrud dari kelas Healer-nya ke tubuh Andre dan Bastian. Rasa pegal dan memar kecil di otot mereka seketika memudar, tergantikan oleh sensasi hangat yang menyegarkan.

​"Hei, kau menggunakan sihirmu," tegur Andre dengan nada lembut. "Simpan manamu. Kau harus fokus untuk latihan di akademi besok."

​"Hanya sedikit, Kak," Marvin menyengir. "Lagipula, aku tidak mau melihat pelindungku kelelahan. Oh ya, sambil menunggu kalian, aku membuatkan makan malam. Daging sapi panggang kesukaan Kakak."

​Bastian langsung bersiul kegirangan. "Ini yang kubutuhkan! Tanker sepertiku butuh kalori ekstrem setelah menahan ratusan pukulan dari atas langit."

​Mereka bertiga berjalan menuju ruang makan yang luas, mengabaikan fakta bahwa dunia di luar sana sedang diguncang oleh keberadaan mereka. Bagi Andre, ini adalah surga kecil yang akan ia pertahankan dengan nyawanya. Tidak ada konspirasi pahlawan, tidak ada beban menyelamatkan jutaan umat manusia secara paksa. Hanya ada adik yang menyayanginya dan rekan bertarung yang bisa ia percaya.

​Namun, kedamaian malam itu tidak berlangsung lama.

​Saat mereka baru saja menghabiskan piring kedua, sistem keamanan penthouse berbunyi pelan. Lampu interkom di dinding berkedip biru, menandakan ada tamu di lobi bawah.

​Bastian mengerutkan kening. "Interkom khusus? Tidak ada yang boleh mengakses jalur ini selain ayahku."

​Ia berjalan menuju panel di dinding dan menekan tombol penerimaan. Layar kecil menyala, menampilkan wajah seorang kesatria bayaran Keluarga Valerius yang bertugas menjaga gerbang masuk Sektor 1. Pria itu tampak sangat tegang.

​"T-Tuan Muda Bastian," lapor kesatria itu, menelan ludah. "Mohon maaf mengganggu waktu istirahat Anda. Ada kurir khusus di gerbang. Dia menolak dihentikan oleh barikade formasi sihir kita."

​"Kurir? Dari guild mana yang berani menerobos masuk area Valerius?" tanya Bastian dengan nada mengancam.

​"Bukan dari guild, Tuan Muda. Dia adalah Utusan Bayangan dari Asosiasi Pusat. Dia membawa surat resmi yang disegel dengan lambang emas." Kesatria itu tampak ragu sebelum melanjutkan. "Surat itu ditujukan untuk Tuan Andre. Undangan langsung dari Direktur Eksekutif Marcus. Beliau meminta audiensi tertutup malam ini juga, di puncak menara Asosiasi."

​Suasana di ruang makan seketika senyap. Marvin menatap kakaknya dengan cemas. Bastian melipat lengannya, menoleh ke arah Andre yang masih duduk santai sambil menyesap air putihnya.

​Direktur Eksekutif Marcus bukanlah politisi biasa. Ia adalah penguasa bayangan Asosiasi, salah satu dari sedikit manusia di era ini yang kekuatannya tidak pernah diketahui batasnya. Jika Marcus turun tangan secara langsung untuk mengirim undangan di malam yang sama dengan deklarasi kekuatan Rishing Guild, itu berarti Asosiasi tidak lagi menganggap mereka sebagai kebetulan atau anomali kelas bawah.

​Andre meletakkan gelasnya dengan tenang. Matanya yang gelap memancarkan ketajaman seorang kaisar yang sedang menatap peta strategi perang.

​"Biarkan kurir itu masuk dan tinggalkan suratnya," perintah Andre ke arah interkom, suaranya mengalun dingin namun penuh kepastian. Ia bangkit berdiri, merapikan kerah bajunya. "Asosiasi ingin melihat apakah kita adalah anjing yang bisa dirantai, atau monster yang harus dibunuh. Kurasa sudah waktunya kita beritahu mereka secara langsung siapa yang memegang kendali di kota ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!