[SEASON 2]
Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'
"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Sihir Es
"Mau apa lagi kau kembali ke sini?" tanya Sarah ketus, langsung menghujani suaminya dengan pelototan tajam.
Lucas tersentak. Pertanyaan ketus dan beraura dingin dari istrinya itu seketika membuat lidahnya kelu.
"Ak-ku... aku hanya—"
Lucas tidak berani melanjutkan kalimatnya saat melihat sorot mata Sarah yang kian menajam dengan deru napas yang masih memburu kasar.
Ia segera menelan kembali seluruh bujukannya. Pria itu tahu betul psikologi istrinya; dalam kondisi emosi membara seperti ini, permohonan maaf apa pun hanya akan dianggap angin lalu.
Dengan gerakan pelan, Lucas menarik kembali lengannya yang sempat terulur. Ia memilih untuk mengalah dan memberikan ruang privasi bagi istrinya.
"Baiklah... aku akan menunggu di teras depan. Mungkin kau memang sedang membutuhkan waktu tenang berdua bersama White," gumam Lucas pelan dengan nada bersalah.
Ia membalikkan tubuh dan melangkah keluar dari kamar dengan bahu merosot lesu.
Di luar pintu, Lucas menyandarkan punggung tegapnya pada dinding kayu sembari mengembuskan napas panjang berulang kali.
Otak logisnya masih tidak habis pikir, bagaimana mungkin air hangat di dalam wadah bisa berubah menjadi sedingin es dalam hitungan detik?
Baginya, penjelasan mengenai kelelahan akut atau halusinasi jauh lebih masuk akal daripada harus mempercayai keberadaan sihir di dunia fana ini.
Sementara di dalam kamar, Sarah melangkah mendekati kasur, memandangi wajah White yang kini terlihat begitu tenang dan polos.
"Kau lihat sendiri itu, kan, Sayang? Ayah asuhmu itu selalu saja lebih memilih memercayai logika dunianya yang kaku daripada insting ibunya sendiri," bisik Sarah lembut pada White sembari menyeka tubuh bayi itu menggunakan handuk kecil yang basah.
****
Setelah selesai memandikan White dengan sekapan handuk dan memakaikannya selembar baju bayi bermotif sederhana, Sarah menggendong putri kecilnya menuju ke ruang tengah.
Di sana, ia menemukan Lucas yang sedang duduk bersandar di atas sofa usang sembari menatap nyala api perapian yang redup, mencoba mengalihkan pikirannya yang tegang.
Sarah melangkah mendekat, lalu mengulurkan bundelan hangat di pelukannya. "Tolong gendong White sebentar, Lucas. Aku mau ke dapur untuk membuatkan kita minuman jus segar."
Lucas mendongak, keterkejutannya langsung berganti dengan raut wajah gugup. Pria petani itu menerima tubuh White ke dalam dekapan lengannya dengan gerakan teramat kaku.
Otot-otot tangannya menegang. Sudah sangat lama ia tidak menggendong bayi yang begitu rapuh, dan fakta bahwa White terlahir dari sebuah kristal misterius membuat Lucas merasa seolah sedang memegang permata berharga yang bisa pecah kapan saja.
Sementara suaminya sibuk menimang White dengan kikuk, Sarah melangkah ke dapur. Ia berniat membuatkan kombinasi jus buah segar, minuman favorit Lucas setelah seharian penuh memeras peluh di ladang kentang.
Hanya butuh waktu beberapa menit bagi Sarah untuk menyelesaikan racikannya. Wanita itu kembali berjalan menuju ke ruang tengah membawa nampan kayu berisi dua gelas besar jus buah yang segar dan sepiring kue kering.
Namun, tepat saat langkah kakinya tinggal dua meter lagi mencapai sofa, ujung sandalnya tidak sengaja tersangkut pada lipatan karpet yang menonjol. Sarah kehilangan keseimbangan.
Wanita itu terpekik kecil saat tubuhnya limbung ke depan. Nampan kayu di tangannya terlepas, membuat piring kue kering dan dua gelas kaca berisi jus itu melayang bebas di udara, bersiap jatuh berantakan menghantam lantai papan rumah mereka.
Tepat pada detik krusial itu, White yang berada di dalam dekapan kaku Lucas tiba-tiba menggeliat. Bayi perempuan berambut putih itu menggerak-gerakkan sepasang tangan mungilnya ke udara.
Wuss—
Tanpa ada suara ledakan, seberkas cahaya putih keperakan yang sangat tipis menyembur keluar dari ujung jari telunjuk mungil sang bayi. Sinar itu menghantam kumpulan cairan jus yang sedang melayang bebas di udara.
Dalam sekejap mata, hukum alam seolah diputus paksa; cairan jingga itu mendadak membeku di udara, bermutasi menjadi jutaan butiran salju dan kristal es kecil yang teramat indah sebelum akhirnya jatuh perlahan menimpa lantai kayu seperti hujan salju mikro di tengah musim panas. Piring dan gelas kaca yang menyertainya mendarat di atas tumpukan salju itu tanpa sedikit pun mengalami keretakan.
Lucas dan Sarah seketika mematung. Udara di dalam ruang tengah mendadak membeku oleh keheningan total. Sepasang mata mereka membulat sempurna, napas mereka tertahan di tenggorokan.
"Lucas... apa... apa matamu juga melihat apa yang baru saja kusaksikan?" bisik Sarah dengan suara bergetar hebat, tubuhnya masih setengah berlutut di lantai pasca-tersandung.
Lucas hanya bisa menganggukkan kepalanya secara perlahan, lidahnya terasa teramat kaku untuk bersuara. Pandangan matanya terpaku lurus pada gundukan salju putih bersih yang kini menutupi sebagian papan lantai rumah mereka.
"Iya... aku melihatnya dengan sangat jelas, Sarah," gumam Lucas, suaranya parau dan tercekat. "Apakah... apakah saat ini otak kita sedang mengalami halusinasi massal akibat kelelahan?"
Lucas mengucek sepasang matanya berulang kali menggunakan punggung tangan, mencoba mengusir ilusi konyol tersebut. Ia lalu mengalihkan fokus tatapannya pada wajah White yang kembali terlihat tenang di dalam dekapannya.
"Ini nyata, Lucas. Saljunya... salju ini benar-benar sedingin es," ucap Sarah pelan sembari berjongkok rendah.
Jemarinya yang gemetar menyentuh tumpukan salju di lantai kayu, merasakan sensasi basah dan dingin murni yang menusuk kulitnya.
Sarah mendongak dengan ekspresi yang sarat ketakutan.
"Bayi perempuan ini benar-benar memiliki kekuatan sihir di dalam tubuhnya, Lucas! Berarti insiden air mandi tadi sore juga merupakan perbuatannya! Aku tidak sedang gila!"
Sarah berdiri, lalu kembali duduk di samping suaminya dengan tubuh lemas. Lucas menggelengkan kepala dengan bingung.
Otaknya yang logis dipaksa untuk menerima kenyataan magis yang tak masuk akal ini.
"Aku tidak tahu harus menjawab apa, Sarah. Bagaimana kalau kita mencoba membuktikannya sekali lagi untuk memastikan?" usul Lucas bimbang.
Sarah tidak membuang waktu. Didorong oleh rasa ingin tahu yang masif, wanita itu segera ke dapur dan membawa segelas air biasa. Di hadapan Lucas dan di bawah tatapan sepasang mata bulat White, Sarah dengan sengaja membalikkan gelas tersebut, menumpahkan air ke udara.
Persis seperti skenario sebelumnya, White yang merasakan pergerakan air kembali menggerakkan jemari kecilnya. Pendaran cahaya putih redup keluar dari kulitnya. Dalam satu ketukan waktu, air tumpah yang belum sempat menyentuh lantai itu mendadak membeku, berubah menjadi butiran-butiran salju halus yang jatuh dengan anggun ke permukaan kayu.
"Ya Tuhan... apa yang sebenarnya harus kita lakukan sekarang, Lucas? Makhluk jenis apa putri kecil kita ini? Bagaimana jika orang-orang desa Arcania sampai mengetahui rahasia ini?"
Rentetan pertanyaan cemas keluar dari mulut Sarah.
Lucas mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menenangkan badai kecemasan di kepalanya. Ia menatap lekat wajah White yang kini mulai menguap kecil. Sepasang kelopak matanya yang sayu menandakan sang bayi mulai dirundung rasa kantuk akibat menguras energi magisnya.
"Untuk saat ini, dengarkan aku baik-baik, Sarah. Jangan pernah beritahu rahasia ini kepada siapa pun, bahkan kepada tetangga terdekat sekalipun," tegas Lucas dengan nada suara direndahkan.
"Kita sama sekali tidak tahu dari mana asal-usul anak ini. Eksistensi kekuatan sihir es seperti ini akan menjadi sangat berbahaya bagi nyawanya jika sampai diendus oleh orang-orang di luar sana."
"Aku setuju denganmu, Lucas. Apalagi jika kau perhatikan secara detail, warna rambutnya yang seputih salju dan iris mata ungunya yang jernih itu sudah sangat berbeda dari struktur fisik manusia normal pada umumnya," sahut Sarah dengan bahu merosot lemas.
"Bagaimana kalau nanti saat dia sudah mulai tumbuh besar, kita membelikannya wig rambut berwarna gelap dari pasar kota? Kita bisa menyuruhnya memakai itu setiap kali ingin keluar rumah agar tidak menarik perhatian publik,"