Setelah dipecat dari pekerjaannya dan diputuskan oleh sang pacar di hari yang sama, Bima Aditama mengira hidupnya telah hancur, hingga sebuah "Sistem Pekerjaan Impian" mendadak muncul dan memutarbalikkan nasibnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Suara deru mesin perlahan mereda saat Lamborghini Urus hitam itu memasuki area parkir VIP Mal Grand Pusat.
Itu adalah pusat perbelanjaan paling elit di kota yang dipenuhi oleh butik merek internasional ternama.
Bima mematikan mesin dan keluar dari mobilnya dengan gerakan santai.
Siska menyusul turun dari pintu sebelah kiri dengan wajah yang terlihat sangat antusias.
Dia langsung mengeluarkan ponsel dari tasnya dan memasangnya pada sebuah tongkat penyeimbang elektronik.
"Aku mulai siaran langsungnya sekarang ya Kak, tidak apa-apa kan?" tanya Siska meminta izin.
Bima menganggukkan kepalanya pelan sambil merapikan kerah kemeja flanelnya.
"Silakan saja, aku tidak keberatan masuk ke kamera sesekali."
Siska tersenyum lebar dan langsung menekan tombol mulai pada aplikasi siarannya.
Hanya dalam hitungan detik, jumlah penonton di ruang siarannya langsung melonjak menembus angka lima ribu orang.
"Halo semuanya, selamat malam para penonton setiaku!" sapa Siska dengan nada ceria yang sangat khas.
"Malam ini aku sedang berada di Mal Grand Pusat, dan coba tebak siapa yang menemaniku jalan-jalan?"
Siska memutar arah kameranya hingga wajah Bima yang sedang berjalan santai dengan tangan di saku ikut terekam.
Layar ponsel Siska langsung dipenuhi oleh ribuan komentar yang bergulir dengan sangat cepat dari bawah ke atas.
"Siapa pria beruntung itu? Pacar baru Siska?"
"Kemejanya lusuh sekali, masa Siska jalan sama anak jalanan?"
"Pria itu wajahnya lumayan tampan, tapi penampilannya kok seperti gembel ya."
Siska membaca komentar-komentar bernada meremehkan itu dan langsung mengerucutkan bibirnya kesal.
"Kalian jangan sembarangan bicara ya, ini Kak Bima."
"Dia ini pahlawanku malam ini, dan dia jauh lebih hebat dari pria kaya mana pun yang pernah kalian lihat."
Bima hanya tersenyum tipis mendengar pembelaan menggebu-gebu dari mahasiswinya itu.
"Biarkan saja mereka bicara, Siska."
"Menjelaskan sesuatu pada orang yang hanya menilai dari kulit luar adalah pekerjaan yang sia-sia."
Siska mengangguk setuju dan mengarahkan kameranya kembali ke depan.
Mereka berdua berjalan memasuki pintu utama mal yang dijaga ketat oleh beberapa petugas keamanan berbadan besar.
Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut mereka berdua.
Lantai marmer yang mengkilap dan pilar-pilar raksasa berlapis emas membuat suasana mal ini terasa sangat mewah.
"Kak Bima, kita ke toko elektronik di lantai dua dulu ya."
"Aku mau melihat-lihat kamera baru untuk meningkatkan kualitas siaran langsungku."
Bima mengiyakan ajakan itu dan mengikuti langkah Siska menaiki eskalator kaca menuju lantai dua.
Toko elektronik yang dituju Siska adalah sebuah butik resmi merek ponsel dan komputer paling mahal di dunia.
Kaca etalase toko itu sangat bersih dan bening, memamerkan puluhan gawai keluaran terbaru yang harganya mencapai puluhan juta rupiah.
Siska melangkah masuk sambil terus berbicara dengan para penonton di siaran langsungnya.
"Kamera ponselku yang sekarang fokusnya suka hilang kalau dipakai bergerak cepat."
"Jadi aku mau cari ponsel seri tertinggi atau kamera saku yang bagus sekalian."
Bima berjalan di belakang Siska dan berhenti di depan sebuah meja panjang yang memamerkan ponsel layar lipat terbaru.
Dia mengamati desain ponsel tersebut dengan pandangan datar.
Seorang pelayan toko wanita berseragam hitam rapi dengan nama dada Rina berjalan mendekati meja tersebut.
Rina menatap Bima dari ujung rambut sampai ujung sepatu dengan pandangan yang sangat sinis dan merendahkan.
Baju flanel pudar, kaus oblong hitam, dan sepatu kets kusam.
Pria ini sama sekali tidak terlihat seperti pelanggan potensial di mata Rina.
"Maaf Mas, tolong jangan menyentuh barang pajangan terlalu keras."
"Itu model terbaru yang harganya tiga puluh lima juta rupiah."
Suara Rina terdengar sangat ketus, sengaja dikeraskan agar Bima merasa malu.
Bima menarik tangannya dari atas meja kaca tersebut dan menatap pelayan toko itu dengan tenang.
"Saya cuma melihat desain pinggirannya, sama sekali tidak menyentuh layarnya," jawab Bima sopan.
Siska yang mendengar teguran kasar itu langsung menoleh dan menghampiri Bima.
"Mbak, kenapa nada bicaranya sinis begitu?" protes Siska tidak terima.
"Kami ini pelanggan yang datang ke sini untuk berbelanja, bukan untuk mencuri."
Rina melirik ke arah tongkat kamera yang dipegang oleh Siska dan tersenyum meremehkan.
"Oh, ternyata kalian ini pembuat konten siaran langsung ya."
Rina melipat kedua tangannya di dada dengan postur arogan.
"Toko kami punya aturan ketat, kami tidak menerima pelanggan yang hanya datang untuk menumpang membuat konten gratis."
"Kehadiran kalian bisa mengganggu kenyamanan pelanggan VVIP kami yang benar-benar punya uang untuk membeli."
Siska merasa darahnya mendidih mendengar hinaan terang-terangan dari pelayan toko tersebut.
Ruang komentar di siaran langsung Siska juga ikut meledak melihat kejadian itu.
"Wah, pelayan tokonya sombong sekali!"
"Tapi pelayan itu ada benarnya, pria berflanel itu memang terlihat tidak mampu beli barang di sana."
"Siska, lebih baik keluar saja dari toko itu, jangan bikin malu diri sendiri."
Bima menyentuh bahu Siska dengan pelan untuk menenangkan amarah gadis tersebut.
"Tenang Siska, jangan marah hanya karena gonggongan anjing penjaga pintu," ucap Bima dengan suara pelan namun sangat tajam.
Wajah Rina langsung berubah merah padam mendengar dirinya disamakan dengan anjing penjaga pintu.
"Apa Mas bilang?" bentak Rina kehilangan kesopanannya.
"Berani sekali Mas menghina saya di dalam toko tempat saya bekerja!"
"Mas dan teman siaran langsungnya ini silakan keluar sekarang juga sebelum saya panggil pihak keamanan!"
Keributan kecil itu mulai menarik perhatian beberapa pelanggan elit lain yang sedang berada di dalam toko.
Bima tidak mundur sedikit pun, dia justru melangkah maju mendekati meja etalase tersebut.
"Saya kemari untuk membeli barang, bukan untuk mendengar keluhanmu, Mbak Rina."
"Coba ambilkan saya kotak pelindung untuk ponsel seri tertinggi yang ada di rak belakang itu."
Rina tertawa sinis dan mendengus kasar.
"Pelindung ponsel?"
"Mas, pelindung ponsel kulit asli kami harganya dua juta rupiah per buah."
"Orang seperti Mas lebih cocok beli pelindung ponsel plastik di pasar malam pinggir jalan saja."
Bima menggelengkan kepalanya pelan melihat betapa piciknya pikiran pelayan wanita ini.
"Saya hanya minta diambilkan untuk melihat bentuknya, kenapa kamu repot sekali memikirkan isi dompet saya?"
Rina dengan gerakan kasar mengambil sebuah kotak pelindung ponsel dari rak dan membantingnya pelan ke atas meja.
"Ini barangnya, silakan dilihat sampai puas."
"Tapi saya ingatkan, kalau ada goresan sedikit saja, Mas harus membelinya penuh."
Bima mengambil kotak pelindung itu, melihatnya sekilas selama tiga detik, lalu meletakkannya kembali.
"Desainnya jelek, terlalu tebal dan merusak bentuk asli dari ponselnya," komentar Bima jujur.
"Saya tidak suka memakai pelindung ponsel."
Rina kembali tertawa mengejek, kali ini tawa yang jauh lebih keras.
"Tidak suka atau memang tidak mampu beli, Mas?"
"Ponsel semahal ini kalau jatuh dan layarnya pecah, biaya servisnya bisa mencapai lima belas juta."
"Orang miskin memang selalu banyak alasan kalau disuruh membeli barang pelengkap."