NovelToon NovelToon
OTAK SUPER SANG DOKTER IDIOT

OTAK SUPER SANG DOKTER IDIOT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Mobil sedan mewah berwarna hitam legam melaju kencang membelah jalanan protokol kota yang mulai padat oleh kendaraan sore hari.

Di kursi belakang mobil tersebut, Clara Wijaya masih melipat kedua tangannya di dada dengan wajah yang dipenuhi sisa-sisa amarah.

"Sumpah, hari ini benar-benar hari paling sial bagiku," gerutu Clara dengan suara ketus kepada sang sopir pribadi yang mengemudi di depan.

Pak Joko, sang sopir tua yang sudah lama bekerja untuk keluarga Wijaya, hanya melirik sekilas dari kaca spion tengah.

"Ada apa lagi nona muda? Apakah kunjungan ke rumah sakit tadi tidak berjalan dengan lancar?" tanya Pak Joko dengan nada hati-hati.

"Jangan tanyakan itu, Pak Joko!" seru Clara dengan nada tinggi penuh kekesalan.

"Kakek benar-benar sudah gila karena ingin menjodohkanku dengan seorang dokter dungu yang kerjaannya cuma jadi tukang pel di rumah sakit kumuh itu!" lanjut Clara menggebu-gebu.

Pak Joko tersenyum tipis mendengar keluhan majikannya yang manja itu.

"Tuan besar tentu punya alasan sendiri kenapa beliau memilih pria itu untuk nona," ucap Pak Joko pelan.

"Alasan apa?!" potong Clara cepat.

"Mana ada alasan yang masuk akal untuk menikahkan cucu kesayangannya dengan seorang pria bodoh dan tidak berguna!" omel Clara sambil membuang muka menatap jendela samping mobil.

Suasana di dalam kabin mobil kembali menjadi senyap.

Clara mengeluarkan ponsel mahalnya dari dalam tas untuk meluapkan kekesalannya kepada teman-teman sosialitanya lewat grup pesan singkat.

Jari-jarinya bergerak cepat mengetik pesan panjang lebar menceritakan kejadian memalukan di lobi rumah sakit tadi pagi.

Namun, baru saja beberapa kalimat diketik, ponsel di tangan Clara tiba-tiba berdering nyaring.

Panggilan masuk tertera dengan nama Kepala Pengurus Rumah Utama.

Clara mendengus pelan lalu mengangkat telepon tersebut dengan nada malas.

"Ada apa, Bi Sumi? Aku sedang di jalan pulang nih," kata Clara langsung tanpa basa-basi.

Suara isak tangis langsung terdengar dari ujung sambungan telepon sebelah sana.

"Nona... hiks... cepatlah pulang ke rumah sekarang juga!" teriak Bi Sumi dengan suara panik setengah mati.

Clara langsung menegakkan duduknya karena terkejut mendengar suara tangisan tersebut.

"Kenapa nangis-nangis begitu, Bi? Ada masalah apa di rumah utama?" tanya Clara dengan nada mulai cemas.

"Tuan besar... hiks... Tuan besar tiba-tiba ambruk di ruang kerja!" lapor Bi Sumi diselingi isakan napas tersengal-sengal.

Jantung Clara mendadak terasa berhenti berdetak sepersekian detik mendengar kabar buruk itu.

"Kakek ambruk?! Bagaimana bisa?!" seru Clara dengan mata melotot lebar.

"Tadi beliau tiba-tiba memegang dadanya saat membaca laporan, lalu jatuh dari kursi kerjanya dan tidak sadarkan diri!" jawab Bi Sumi histeris.

"Sekarang seluruh pelayan sedang panik menelepon ambulans, tapi napas Tuan besar sudah sangat lemah!"

Clara merasakan sekujur tubuhnya mendadak lemas seketika.

Ponsel di tangannya nyaris terlepas dari genggamannya yang bergetar hebat.

"K-Kakek!" pekik Clara dengan suara gemetar ketakutan.

"Pak Joko! Cepat putar balik mobilnya sekarang juga! Kembali ke rumah utama!" perintah Clara histeris kepada sopirnya.

"Baik, Nona!" jawab Pak Joko panik melihat perubahan ekspresi wajah majikannya.

Pak Joko langsung membanting setir ke arah lajur kanan, menyalakan lampu hazard mobil untuk memotong jalan.

Mobil mewah itu berbelok tajam dengan decitan ban yang nyaring di atas aspal jalan raya.

Clara terus menangis sesenggukan di kursi belakang, menelepon rumah sakit terdekat untuk segera mengirimkan tim medis darurat ke rumahnya.

"Kumohon kakek bertahanlah..." gumam Clara di tengah isak tangisnya yang pecah.

Di dalam benaknya yang kacau balau, bayangan kakek tercintanya berkelebat silih berganti.

Kakek adalah satu-satunya keluarga tempat ia bersandar setelah kedua orang tuanya meninggal dunia beberapa tahun lalu.

Jika terjadi sesuatu pada kakeknya, dunia Clara runtuh seketika tanpa ada sisa.

Mobil mewah hitam itu akhirnya memasuki gerbang utama kediaman keluarga Wijaya yang sangat luas dan megah.

Pintu gerbang otomatis terbuka lebar, dan kendaraan langsung meluncur masuk menuju halaman depan rumah utama bergaya klasik eropa.

Beberapa pelayan tampak berlarian mondar-mandir di teras rumah dengan wajah pucat pasi penuh ketakutan.

Clara bahkan tidak menunggu mobil berhenti sempurna, ia langsung membuka pintu mobil dan melompat keluar dengan tergesa-gesa.

Sepatu hak tingginya hampir membuatnya terjatuh di atas halaman paving block.

"Bi Sumi! Di mana kakek sekarang?!" teriak Clara sambil berlari kencang menerobos pintu utama rumah.

Bi Sumi muncul dari arah ruang kerja dengan air mata yang membasahi pipinya.

"Tuan besar ada di dalam ruangan, Nona! Ambulans darurat masih dalam perjalanan!" jawab Bi Sumi menangis histeris.

Clara langsung berlari menerobos masuk ke dalam ruang kerja kakeknya yang berukuran besar.

Di lantai ruangan tersebut, Kakek Wijaya tergeletak tidak sadarkan diri dengan posisi tubuh miring.

Wajah pria tua renta itu tampak sangat pucat dengan bibir yang membiru dan mata terpejam rapat.

"Kakek!" jerit Clara histeris sambil menjatuhkan tubuhnya di samping kakeknya.

Ia mengguncang-guncang pelan bahu kakeknya yang sudah terasa dingin.

"Bangun, kakek! Jangan tinggalkan aku!" tangis Clara pecah sejadi-jadinya.

Tidak ada respons sama sekali dari Kakek Wijaya.

Suara napas pria tua itu terdengar sangat berat, putus-putus, seperti mendengkur di ujung kematian.

"Mana ambulansnya?! Kenapa lama sekali?!" bentak Clara marah kepada para pelayan yang berdiri ketakutan di ambang pintu.

"Macet di jalan raya, Nona! Tim medis bilang masih butuh waktu sepuluh menit lagi untuk sampai ke sini!" jawab seorang pelayan dengan suara bergetar.

Sepuluh menit adalah waktu yang sangat lama bagi seseorang yang sedang mengalami serangan jantung parah.

Clara menatap wajah kakeknya yang semakin membiru dengan rasa putus asa yang teramat sangat.

Ia merasa tidak berdaya melihat nyawa kakek tercintanya perlahan-lahan meninggalkan raga.

"Tolong... siapa saja tolong kakekku..." bisik Clara lemah di sela-sela tangisannya.

Tiba-tiba, sebuah ingatan melintas di dalam kepala Clara secara tidak sengaja.

Ingatan tentang rumah sakit tempat ia berkunjung tadi sore, dan ucapan kakeknya beberapa hari yang lalu sebelum perjodohan itu diputuskan.

"Arka adalah seorang dokter muda yang memiliki kemampuan luar biasa di luar nalar manusia..."

Kalimat kakeknya itu terngiang-ngiang dengan jelas di telinga Clara.

Meskipun tadi pagi Clara menghina Arka habis-habisan di lobi rumah sakit, saat ini tidak ada lagi pilihan lain yang tersisa di benaknya.

Clara segera merogoh tas tangannya dengan tangan yang gemetar hebat.

Ia mencari-cari kartu nama atau nomor kontak rumah sakit tempat Arka bekerja.

"Sial, di mana kartu itu..." gumam Clara panik sambil mengaduk-ngaduk isi tas mahalnya.

Setelah beberapa detik mencari, ia menemukan secarik kertas resep rumah sakit yang terselip di saku dompetnya.

Tanpa buang waktu lagi, Clara langsung menekan deretan nomor telepon darurat Rumah Sakit Medika Sentosa.

Tut... tut...

Sambungan telepon terhubung setelah beberapa deringan panjang.

"Halo, Rumah Sakit Medika Sentosa bagian gawat darurat ada yang bisa dibantu?" jawab suara perawat di ujung sana.

"Cepat dengarkan aku!" seru Clara dengan suara melengking panik.

"Kakekku mengalami serangan jantung parah di kediaman utama keluarga Wijaya!" lanjut Clara dengan napas tersengal-sengal.

Perawat di seberang sana langsung mengenali suara Clara dari nada bicaranya yang panik.

"Oh, Nona Clara! Tim ambulans kami sudah meluncur ke lokasi Anda sekarang!" jawab perawat itu cepat.

"Aku tidak butuh ambulans biasa!" potong Clara dengan suara berteriak frustrasi.

"Kirimkan dokter Arka sekarang juga ke rumahku! Aku mohon!" pinta Clara sambil terisak menangis.

Perawat di ujung telepon tertegun bisu mendengarkan permintaan yang sangat aneh tersebut.

"Dokter... Dokter Arka maksud Anda, Nona?" tanya perawat itu memastikan dengan nada bingung.

"Iya! Kirimkan dia kemari sekarang juga bersama peralatan medis daruratnya!" perintah Clara mutlak.

"Tapi... tapi Dokter Arka kan hanya petugas kebersihan di rumah sakit kami, Nona," jawab perawat itu ragu-ragu.

"Jangan banyak membantah! Kalau kakekku sampai mati di sini, aku ratakan rumah sakit kalian sampai rata dengan tanah!" ancam Clara penuh kemarahan.

Perawat itu langsung ketakutan Setengah mati mendengar ancaman dari sang pewaris konglomerat.

"Baik, Nona! Kami akan segera mencarinya!" jawab perawat itu terbata-bata lalu menutup sambungan telepon.

Clara melemparkan ponselnya begitu saja ke lantai karpet.

Ia kembali mendekap tubuh kakeknya yang semakin dingin dengan air mata yang terus mengalir deras di pipinya.

"Kumohon kakek... bertahanlah sebentar lagi..." isak Clara pilu.

Di waktu yang sama, di ruang istirahat basement Rumah Sakit Medika Sentosa, Arka sedang duduk santai sambil membersihkan kotak peralatannya.

Tiba-tiba, pintu ruangan itu digedor dengan keras dari luar oleh seorang perawat yang berlari tergesa-gesa.

"Dokter Arka! Cepat keluar!" teriak perawat itu dengan napas megap-megap.

Arka mendongakkan kepalanya perlahan, memasang kembali ekspresi wajah bodoh dan linglung seperti biasa.

[Sistem Mendeteksi Panggilan Darurat Dari Kediaman Keluarga Utama Wijaya]

[Peluang Memulai Babak Baru Arc 1: 100 Persen]

Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kepala Arka.

Senyum tipis yang sangat misterius terukir di sudut bibirnya saat ia berdiri perlahan dari kursi kayunya.

1
nadymaddy
hebat🥰
Cherlly: makasih kaka😍
total 1 replies
Shinta geol
karya yang bagus dan masuk ke dalam alur
Cherlly: makasih kaka/Kiss/
total 1 replies
Shinta geol
salut sama sikap thor yang tenang menguasai keadaan,saya kasih vote lah biar rame😍
Cherlly: trimakasih kaka😊
total 1 replies
Shinta geol
kasihan si arka selalu dekerjain para dokter lain nya😭
setiawan
motivasi hidup,saya kasih bintang 5
Cherlly: trimakasih kaka ku🙏
total 1 replies
Jangkar pion
🥰😍🤩
Anton barly
saya suka karakter Thor🤗
gofur
karya yg menarik
Cherlly: makasih kaka😊
total 1 replies
yani
😶‍🌫️
fitri
motivasi untuk org normal biar tambah wawasan
fitri
hebat nya orang idiot tpi otak melebihi orang normal👍
Angel
sangat berkesan untuk orang nornal biar tambah semangat dalam bekerja💪
Angel
walaupun banyak yang hina tpi dia tidak runtuh sama sekali👍👍👍
Anton barly
orang idiot aja masih punya musuh,apalagi dia normal
Cherlly: motivasi hidup sesungguh nya kak
total 1 replies
Anton barly
orang pintar walaupun udiot masih aja punya musuh
fitri
sikap thor yang tenang menghadapi masalah👍
pricilia
jangan meremehkan orang yang memiliki kekurangan,belum tentu orang kekurangan itu di bawah batas kita,saya sadar orang normal belum tentu baik😒
clara
sangat bagus
Cherlly: trimakasih kaka🙏
total 1 replies
clara
saya suka alur crita nya saya kasih vote 1 deh biar bisa lanjut baca nya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!