NovelToon NovelToon
Teror Arwah Ci Sepi

Teror Arwah Ci Sepi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.

Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!

Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.

Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. TAGIHAN SATU MILIAR

"Eh... Kak Rahsya?"

Amel mengerjapkan matanya, menatap wajah Rahsya dengan seulas senyum malu-malu yang sangat tidak tepat situasi.

Ajaibnya, Amel seolah-olah amnesia total soal insiden memalukan sehari lalu—saat mereka terjatuh dan bibir mereka tidak sengaja bertabrakan hingga membuatnya meradang kecewa. Rasa kesal dan dendamnya menguap begitu saja saat melihat wajah tampan Rahsya yang sedang murka, berganti dengan rasa kagum yang salah alamat.

Rahsya tidak peduli pada tatapan memuja itu. Ia segera keluar dari mobil dengan gerakan kasar, membanting pintu, dan langsung berlutut di depan kap mobilnya. Matanya melotot ngeri melihat body depan Tesla merahnya yang kini dihiasi goresan panjang dan penyok di beberapa titik akibat aksi ugal-ugalan Amel.

"Turun kamu! Ngapain diam saja di situ?!" bentak Rahsya sambil memukul kap mobilnya pelan.

"Lihat mobil saya rusak parah gara-gara kamu! Kamu kira ini mobil mainan apa?!"

Amel perlahan turun dari mobil. Kepalanya tertunduk, namun matanya sesekali melirik Rahsya dengan cengiran tanpa dosa.

"Aduh, maaf Kak... tadi darurat banget. Mantan aku itu kalau tidak digituin bakal mengejar terus kayak rentenir."

"Darurat nenekmu!" semprot Rahsya emosi, teringat kembali pada sosok Nenek Gayung yang tadi merusak kencan pertamanya.

"Tahu enggak, hari ini saya sudah sial maksimal, dan sekarang kamu malah menambah daftar bencana saya!"

Rahsya berkacak pinggang, menatap Amel dengan napas memburu karena frustrasi. Di matanya, Amel adalah magnet masalah sejati—mulai dari merepotkannya di vila, suara cemprengnya yang merusak ketenangan batin, sampai insiden benturan bibir tempo hari.

"Sekarang gimana nasib mobil saya?!" tuntut Rahsya telak.

Tiiiinnnn! Tiiinnnn!

Suara klakson dari mobil-mobil di belakang mulai menyalak tak sabaran. Rahsya terpaksa menelan amarahnya, menyeret Amel masuk kembali ke kabin, lalu melajukan Tesla itu menuju ke bengkel spesialis mobil elektrik langganannya.

****

Aroma oli dan deru mesin menyambut kedatangan mereka di bengkel. Rahsya berdiri dengan wajah tegang saat petugas teknis selesai melakukan inspeksi pada kap mobil yang penyok.

"Jadi, kira-kira berapa estimasi biaya perbaikannya, Pak?" tanya Rahsya, nada suaranya terdengar cemas.

Petugas mekanik itu menggaruk dagunya, menatap catatan di papan jalannya. "Kerusakannya cukup parah, Mas. Sensor depannya kena, body perlu diganti orisinal semua. Saya kira ini habis sekitar satu miliar, Mas."

"APA?! SATU MILIAR?!"

Jantung Amel seketika mencelos, rasanya hampir copot dari tempatnya. Rahsya pun merasa seolah didorong paksa dari puncak Pegunungan Himalaya; kepalanya mendadak pening luar biasa.

Uang segitu bukan jumlah yang sedikit. Meskipun ia seorang dokter, menguras tabungan pribadinya pun belum tentu cukup, kecuali ia terpaksa mengemis bantuan pada papanya—sebuah hal yang sangat ingin ia hindari.

Rahsya menoleh ke arah Amel dengan pelototan super tajam yang sanggup melubangi tembok baja. Gadis itu hanya bisa menunduk pasrah, sepasang tangannya sibuk memilin-milin ujung hoodie hitamnya sampai lecek.

"Heh, kamu! Tanggung jawab! Bayar semua biaya ganti rugi buat memperbaiki mobil saya yang kamu hancurkan ini!" bentak Rahsya sambil berkacak pinggang di depan Amel.

"Jangan cuma diam saja seperti ayam cantengan!"

Amel mendongak perlahan. Matanya mulai berkaca-kaca, tampak berkilau di bawah sorot lampu bengkel yang terang.

"Tapi Kak... aku enggak punya uang sebanyak itu buat membayar ganti ruginya," cicit Amel dengan suara bergetar.

"Bodo amat! Saya enggak mau tahu! Pokoknya kamu harus bayar bagaimana pun caranya!"

"Aku beneran enggak punya uang, Kak... Aku minta maaf banget..."

"Ya terus kalau kamu cuma minta maaf, apa penyoknya bakal balik mulus sendiri? Enggak, kan?! Sorry ya," Rahsya mencibir ketus.

"Kalau kamu tidak bisa bayar, sekarang telepon orang tua kamu. Suruh mereka datang ke sini sekarang juga!"

"Enggak mau! Aku takut dimarahin!" bantah Amel cepat.

"Oke, kalau kamu tidak mau, biar saya telepon kakek kamu, Pak Cahyanto. Biar beliau tahu cucu kesayangannya ini sudah bikin bangkrut orang!" Rahsya sudah merogoh ponsel dari sakunya, siap menekan nomor.

"Eh, jangan gitu dong, Kak! Please... jangan ditelepon ya!"

Amel menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada dengan tatapan memelas yang paling dramatis. "Aku janji bakalan melakukan apa saja yang Kakak minta. Apa saja! Asal jangan adukan aku ke Papa atau Kakek, ya?"

Rahsya terdiam seketika. Ia baru saja hendak menekan tombol panggil, namun gerakan jarinya terhenti di udara. Tiba-tiba, sebuah seringai licik tersungging di sudut bibirnya—sebuah ekspresi wajah yang sukses membuat Amel merinding ngeri.

"Tadi kamu bilang apa? Coba ulang sekali lagi? Saya enggak dengar," ucap Rahsya dengan nada suara yang mendadak tenang, namun terasa sangat berbahaya.

"Emm... aku... aku bakalan melakukan apa saja... asal Kakak tidak adukan aku," ucap Amel sangat pelan, mulai menyesali kata-katanya yang barusan keluar tanpa disaring oleh otak.

"Oke. Kalau begitu, besok pagi kamu harus datang ke rumah saya. Saya kirim alamatnya lewat WhatsApp. Kalau kamu berani berbohong atau kabur... habis kamu!" ancam Rahsya mutlak.

Ia kemudian berbalik badan dan melangkah pergi menuju ke arah taksi daring yang baru saja menepi di depan bengkel, meninggalkan Amel yang hanya bisa berdiri mematung di samping Tesla yang penyok itu sembari meratapi kecerobohannya.

'Tahu begitu tadi mending cegat bajaj atau angkot saja,' batinnya miris. Kalau kendaraan itu yang rusak, mungkin ia hanya perlu membayar pakai uang jajan seminggu, bukan nominal gila yang membuatnya ingin pingsan di tempat sekarang juga.

****

Ting!

Sebuah notifikasi memecah keheningan di kamar Amel, tepat saat gadis itu baru saja merebahkan tubuhnya yang terasa remuk setelah drama "balap liar" sore tadi. Ia menyambar ponselnya dengan malas, namun sepasang matanya langsung melotot lebar saat membaca rentetan perintah ketus di layar.

[Rahsya Dokter Galak]: Besok harus dandan yang rapi, pakai gaun terbaik yang kamu punya. Jangan bikin saya malu. Pokoknya harus seanggun mungkin. Ingat, JANGAN PECICILAN!

Amel menghela napas panjang sampai helaian poninya terangkat ke atas. Bahunya merosot lesu, membayangkan siksaan macam apa yang akan diberikan oleh pria perfeksionis itu besok pagi. Ia berjalan keluar dari kamar dan menuruni tangga dengan langkah gontai, nyaris menyeret kakinya di atas lantai kayu.

"Dek? Kok kayak enggak semangat begitu? Kenapa? Ada masalah ya?" tanya Erlangga, kakak laki-laki Amel, yang sedang asyik selonjoran menonton televisi di ruang tengah.

Erlangga melirik adiknya yang biasanya sangat berisik itu kini tampak lunglai seperti zombi kurang sajen.

Amel tersentak kaget. Detik itu juga ia langsung memasang topeng keceriaan yang dipaksakan. Ia menegakkan punggungnya dan memamerkan deretan giginya.

"Eh, enggak ada apa-apa kok, Bang! Amel cuma... lapar tapi malas mengunyah! Amel ke kamar dulu ya, bye!" ucapnya cepat, lalu melesat kembali menaiki anak tangga bagaikan atlet lari sprint.

Erlangga hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap heran ke arah tangga kayu yang masih bergetar.

"Dasar bocah. Makin hari makin ajaib saja kelakuannya."

Di dalam kamar, Amel langsung mengacak-ngacak isi lemarinya dengan kalap. Ia mengeluarkan tumpukan baju, mencari gaun yang paling mendekati kata "anggun" versi Rahsya.

"Gaun terbaik? Seanggun mungkin? Emangnya dia mau bawa aku ke kondangan atau mau dijadiin tumbal proyek sih?" gerutu Amel sambil menempelkan sebuah gaun merah muda ke badannya di depan cermin.

Amel sama sekali tidak tahu bahwa rencana Rahsya jauh lebih licik dari dugaannya. Dokter muda itu berniat menjadikan Amel sebagai "kekasih bohongan"—sebuah tameng hidup untuk membungkam mulut kedua orang tuanya agar berhenti menjodohkannya secara paksa.

Meskipun Rahsya sadar risikonya sangat fatal—termasuk kemungkinan terburuk ia harus benar-benar "menumbalkan" kebebasannya dengan menikahi gadis cempreng itu—ia sudah tidak punya pilihan lain malam ini.

****

"Rahsya!"

Suara Miranti melengking tinggi, membelah keheningan lobi mansion mewah. Wanita paruh baya itu berdiri tegak dengan tangan berkacak pinggang di depan pintu utama, sudah persis seperti patung penjaga yang siap menerkam mangsa.

"Sini kamu!" perintah Miranti dengan nada suara yang tidak menerima penolakan apa pun.

Rahsya hanya bisa mendesah pasrah di tempatnya berdiri. Ia sudah menebak dengan tepat arah pembicaraan ini. Pasti laporan pandangan mata dari para "gadis korban" kencan butanya hari ini sudah mendarat merata di ponsel ibunya.

"Heh! Kamu tahu enggak? Mama baru saja dapat laporan dari teman-teman Mama. Katanya kamu itu aneh, sedeng, tidak normal, gay, dan masih banyak lagi! Masa tidak ada satu pun anak teman Mama yang mau berlama-lama sama kamu?" cecar Miranti tanpa titik koma.

"Mau ditaruh di mana muka Mama kalau ketemu mereka lagi, Rahsya?! Masa kamu ganteng begini... ternyata gay sih?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!