Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.
Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.
Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.
Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Julian," sapa Arlan, nadanya sedikit lebih santai dibanding saat bersama orang lain. "Aku tidak menyangka kau akan datang hari ini."
"Arlan meneleponku pagi ini. Dia bilang ada perkembangan menarik pada... kondisi istrimu," Julian berdiri, matanya yang tajam di balik kaca mata langsung terkunci pada Karin. Tatapan itu berbeda dengan tatapan Arlan. Jika Arlan menatapnya seperti teka-teki yang ingin dipecahkan, Julian menatapnya seperti pasien yang ingin didiagnosis. "Halo, Karin. Apa kabar?"
"Kabar baik, Dok Julian!" sapa Karin riang, berlari kecil dan duduk di lantai, memeluk lututnya. "Dok Julian bawa apa? Kalau bawa suntikan, aku nggak mau ya. Aku alergi sama jarum. Nanti kalau disuntik, aku bisa berubah jadi Hulk!"
Julian tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum. Ia melirik Arlan. "Kau bilang dia ada kemajuan? Dia terlihat sama seperti enam bulan lalu."
"Duduklah, Julian. Kita bicarakan di ruang kerja," ucap Arlan, lalu menatap Karin. "Karin, temani Dok Julian sebentar. Aku harus mengganti baju."
Sebelum Karin bisa menolak, Arlan sudah berjalan menaiki tangga. Julian menepuk sofa di sebelahnya. "Ayo, Karin. Duduk di sofa. Lantai itu kotor."
Karin dengan patuh naik ke sofa, tapi ia duduk dengan posisi bersila, menatap Julian dengan mata bulat.
Julian membuka tas medisnya dan mengeluarkan sebuah buku kecil serta beberapa kartu bergambar. "Karin, Arlan minta aku memeriksa kondisimu. Kita akan bermain tebak gambar, ya? Seperti waktu terakhir kita bertemu."
Karin menelan ludah. Bahaya! Ujian dari dokter jiwa! Kalau dia tahu aku pura-pura, aku bakal dikirim ke rumah sakit jiwa atau diceraikan!
Julian mengeluarkan kartu pertama. Itu adalah tes Rorschach, gambar simetris berbentuk tinta hitam yang abstrak. "Karin, lihat gambar ini. Apa yang kau lihat?"
Dalam novel, tokoh asli Karin melihat gambar ini saat ia sedang sangat depresi dan dijawabnya, Monster yang mau memakanku. Julian saat itu mendiagnosisnya dengan paranoia berat.
Karin menatap gambar tinta hitam itu. Ia tidak bisa menjawab monster, itu akan membuatnya terlihat depresi. Ia juga tidak bisa menjawab kupu-kupu atau kelelawar, karena itu jawaban normal yang akan membuat Julian curiga kenapa istrinya yang gila tiba-tiba punya persepsi visual normal.
Ia harus memberikan jawaban yang sangat idiot, tapi secara psikologis tidak menunjukkan tanda-tanda bahaya.
Karin memiringkan kepalanya, menatap gambar itu lama sekali, lalu menunjuknya. "Ini gambar dompet Kak Arlan yang lagi menguap, Dok."
Julian mengangkat alisnya, penanya berhenti di atas buku catatannya. "Dompet... yang menguap?"
"Iya!" Karin mengangguk yakin. "Soalnya kalau dompet Kak Arlan dibuka, isinya cuma struk belanjaan sama permen karet. Nggak ada uang kertasnya. Kasihan dompetnya, dia lapar dan ngantuk, Dok. Makanya menguap lebar banget. Kalau Dok Julian mau nyembuhin, kasih makan dompetnya pakai uang seratus ribu aja. Nanti dia langsung senyum."
Julian terdiam.
Ia menatap kartu Rorschach itu, lalu menatap Karin. Sebagai psikiater top, Julian tahu bahwa orang dengan gangguan kognitif berat atau skizofrenia tidak akan bisa membuat metafora kompleks dan humor satir seperti itu.
Mengaitkan bentuk abstrak dengan dompet, lalu memberikan narasi tentang kelaparan dan uang seratus ribu... itu membutuhkan tingkat asosiasi otak yang sangat tinggi.
Tapi di sisi lain, Julian juga tahu bahwa orang yang berpura-pura gila biasanya akan memberikan jawaban yang terlalu kreatif atau terlalu normal untuk menarik perhatian. Jawaban Karin terdengar konyol, tapi ada kepolosan yang sangat tulus di matanya.
"Karin," ucap Julian pelan, mencondongkan tubuhnya. "Kenapa kau memikirkan uang seratus ribu?"
"Karena itu uang paling gede yang biasa dikasih Kak Arlan kalau aku minta beli es krim," jawab Karin cepat, wajahnya cerah. "Tapi Kak Arlan pelit, Dok. Dia bilang uang seratus ribu buat beli es krim itu keborosan. Jadi aku cuma bisa makan es krim rasa air keran."
Julian menatap Arlan yang baru saja turun dari tangga dan berdiri di ambang pintu ruang keluarga, mendengarkan percakapan mereka.
"Kau dengar itu, Julian?" tanya Arlan datar, meski ada nada geli di suaranya.
Julian menutup buku catatannya, lalu tersenyum tipis. Tatapannya pada Karin berubah. Ia tidak lagi menatapnya sebagai pasien gila, tapi sebagai... misteri yang sangat menarik.
"Kondisinya stabil, Arlan," ucap Julian, berdiri dan merapikan jasnya. "Hanya saja, imajinasinya... sangat aktif. Aku akan meresepkan vitamin otak. Tapi Arlan..." Julian menatap sahabatnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jaga istrimu baik-baik. Dia bukan wanita yang sama seperti enam bulan lalu."
Arlan menatap Julian tajam, lalu mengangguk pelan. "Aku tahu."
Karin yang duduk di sofa hanya bisa tersenyum lebar, memperlihatkan gigi putihnya. Langkah kesebelas berhasil! Dokter jiwa berhasil dibohongi dengan metafora dompet lapar! Tapi tunggu... kenapa tatapan Dok Julian barusan kelihatan seperti dia baru saja menemukan mainan baru?!
lanjut kn thor💪