Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.
Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.
Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?
Ayo temukan kisah mereka di sini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Elvan
Rafa mendesah, mendudukkan dirinya di sebuah kursi. Padahal dia yakin umurnya baru menginjak 27 tahun, tapi entah kenapa dia sekarang sudah merasakan berbagai patahan tulang di area tubuhnya.
"Pa! Ayo main lagi!" teriak Elvan yang sudah kembali memenuhi semua isi pikirannya. Rafa menggeleng, semoga teriakan tadi hanya sebuah ilusi.
"Pa, ayo main yang joged itu kaya mereka!" Rafa jelas tahu itu bukanlah sebuah ajakan, tapi lebih ke perintah sang Baginda yang harus segera dituruti.
Padahal belum ada lima menit dia merasa senang, saat tadi membiarkan Elvan anteng dengan permainan mobil balap. Tadinya Rafa berniat ingin bernapas dengan tenang sebentar, tapi memang dasarnya bocah tidak akhlak itu diciptakan untuk merecoki hidupnya, belum ada lima menit dia sudah merasa bosan.
"Kamu capek gak, sih?" Pertanyaan Rafa langsung mendapatkan gelengan polos dari Elvan. "Tapi aku capek."
"Itu karena Papa sudah tua, jadi merasa cepat capek. Faktor umur memang tidak bisa berbohong, Pa," ujar Elvan polos. Rafa mendelik, langsung mendapatkan cengiran polos bocah itu.
Rafa rasanya ingin menjitak, tapi jika nanti Elvan menangis dan guling-guling di lantai, nanti dia juga yang akan repot. Mending disangka bapak galak, ini bagaimana jika disangka om penculik? Tidak. Dia sudah cukup merasa pusing dengan drama anak itu, jangan ada drama lain lagi.
"Ayo Pa!" teriak Elvan keras, bahkan membuat orang disekitar beralih untuk melihat ke arah mereka.
Akhirnya Rafa hanya bisa mendesah kesal, langsung berdiri untuk menjinjing Elvan dari kerah belakang bajunya. Sementara bocah itu, malah sudah berteriak kesenangan.
"Jurus berjalan mundur!" teriak Elvan seperti sedang memainkan drama. Saat ini Rafa masih bisa mengabaikannya.
"Lepaskan aku buto ijo! Sebentar lagi aku akan segera membunuhmu!" Untuk kali ini, Rafa lebih memilih untuk berpura-pura tidak mendengar.
"Kumenangis ... meratapi ... kepedihan ... diriku ... atas ... dirimu!" Tunggu, sepertinya Rafa pernah mendengar lagu itu.
"Oh ... kumenangis ...." Elvan semakin semangat bernyanyi dengan suara cemprengnya.
Rafa masih memikirkan lagu yang dinyanyikan Elvan, telinganya benar-benar tidak asing dengan lagu itu. Tunggu! Itu kan, lagu dari sinetron azab yang sering mama tonton jika sore hari. Bahkan lagu itu juga sering dinyanyikan oleh karyawan wanita kantornya. Tapi masalahnya, kenapa bocah seumur Elvan bisa hafal lagu ini?
Rafa kemudian berjongkok di depan Elvan. "Kamu kok, tahu lagu ini?"
Elvan mengerjap, masih terkejut atas tindakan tiba-tiba Rafa. "Mama sering nyanyiin lagu itu. Tiap sore aku selalu ikut mama nonton televisi, jadi sering denger lagu itu."
Entah kenapa setiap kali mendengar kata mama dari mulut bocah itu, selalu membuat jiwa penasaran Rafa langsung membara.
"Mama kamu sering nonton sinetron itu?" Pertanyaan Rafa langsung mendapat anggukan dari Elvan. "Kenapa?"
"Karena mama suka menonton televisi. Papa kepo," jawab Elvan antusias memang jika itu membahas soal mamanya walaupun tanpa sadar.
Elvan kembali kesal, tapi dia sedikit senang saat bisa mendapat sedikit informasi walau tidak penting tentang mama bocah itu. "Kenapa mama kamu suka nonton televisi?"
"Karena kerjaan mama kan main ....
ups ...." Seketika Elvan menutup mulutnya, langsung terlihat gugup melihat ke arah lain.
Lagi Rafa berdecak kesal, entah doktrin apa yang mama-nya berikan sehingga bocah itu sangat pintar untuk menutup mulutnya saat ada hal-hal yang penting.
"Ayo kita main lagi!" ajak Rafa yang memilih menyerah untuk sekarang, tapi tidak untuk kesempatan lainnya.
"Hore!" teriak Elvan kesenangan, bahkan meloncat-loncatkan kakinya saat berjalan.
Untuk kesekian kalinya hari ini, senyum Rada terbit saat melihat tingkah lucu Elvan. Ini belum sehari, apa kedepannya dia siap untuk mendapatkan kejutan lain yang akan dibawa Elvan?
"Enak?" tanya Rafa yang sedari tadi lebih memilih melihat Elvan makan, dibanding menyentuh makanannya.
Saat ini mereka sedang berada di restauran yang masih ada di dalam mall. Setelah puas bermain, bocah itu langsung merengek meminta makan. Entah terbuat dari apa perutnya itu?
Rafa memandang berbungkus-bungkus plastik di sampingnya. Itu semua adalah kebutuhan Elvan, dari mulai pakaian, sepatu serta bermacam-macam mainan. Dia sekarang sudah merasa terampok. Dia masih bertanya-tanya, kenapa dirinya mau menuruti semua permintaan bocah itu tadi? Apa dia terhipnotis? Karena anehnya dia malah merasa bahagia saat melihat bocah itu bahagia bisa mendapatkan barang yang dia mau.
"Kak Rafa!" panggil seseorang dari arah belakang. Sepertinya dia mengenal suara itu, tolong jangan sampai orang yang ada dipikirannya saat ini.
"Kak Rafa tumben main ke mall, lagi kesurupan?" Seseorang itu sekarang sudah berada di sampingnya yang tengah menggendong bayi perempuan.
Rafa tidak menyangka bahwa dia akan berada di situasi seperti ini, masa harus ketahuan secepat ini? Padahal kan, dia saja belum tahu kebenarannya. Rafa melirik Elvan yang sekarang tengah melihat seorang wanita yang tak lain adalah adiknya yaitu Alexa, serta keponakannya yaitu Cia yang sepertinya sedang memakan biskuit.
"Anak ganteng ini siapa, Kak?" tanya Alexa yang saat ini sedang mendudukan dirinya di kursi samping, menatap Rafa penuh curiga.
"Suami kamu sama Cio mana?" tanya Rafa berusaha mengalihkannya perhatikan adiknya. Matanya seketika langsung berbinar saat melihat keponakan, Cia. "Hai, keponakannya Om yang cantik, sedang makan apa Sayang?"
Alexa mendengus, mengetahui niat kakaknya. "Alex sama Cio lagi main di Timezone, terus ini Cia lagi makan biskuit. Gak usah alihkan pembicaraannya, deh!"
Rafa ketakutan saat melihat tatapan tajam Alexa. "Dia itu ... anu ...."
"Alah lama, pasti mau bohong, nih!" potong Alexa galak. Tatapannya beralih melembut ke arah Elvan. Hai ... ganteng, nama kamu siapa?"
"Elvan," jawab bocah itu yang mulutnya sudah berlumur kecap. Alexa mengambil tisu, kemudian dengan hati-hati membersihkan mulut Elvan.
"Lucu deh, kamu siapanya om Rafa, Sayang?" Alexa sangat merasa gemas saat melihat Elvan menatapnya dengan mulut penuh dengan makanan. "Kenapa gemesan Elvan yah, daripada Cio?"
"Aku an--"
"Dia anak tetangga apartemen aku. Orangtuanya nitipin mau kondangan, repot katanya kalau bawa anak," jawab Rafa memotong ucapan Elvan cepat. Dia tidak boleh ketahuan sekarang, selama semuanya belum pasti. Rafa kemudian menatap Elvan penuh permohonan, mengajak anak itu untuk bisa diajak bekerjasama.
Alexa menatap penuh selidik Rafa dan Elvan bergantian. "Bener?" tanya Alexa yang langsung diangguki cepat oleh Rafa. "Tapi kok, mirip?"
"Ngarang kamu, mana ada!" sangkal Rafa yang sudah kalang kabut takut ketahuan.
Alexa masih memicingkan matanya, kemudian beralih menatap Elvan lembut. "Kamu berapa tahun, Sayang?"
"Lima tahun, Tante," jawab Elvan tersenyum menunjukan satu gigi ompongnya.
"Wah, anak Tante 6 tahun. Kalian beda setahun. Nanti ketemu, pasti akur, Sayang."
Elvan hanya tersenyum, kemudian menatap Rafa. "Pa, mau pipis."
Bukan hanya Rafa, tapi Alexa pun terkejut mendengar panggilan Elvan ke Rafa. Sementara Elvan sudah tidak kuat untuk menahannya.
"Kak, jelasin!" teriak Alexa semakin curiga.
"Jangan berpikiran aneh-aneh. Kita itu tetanggaan sering ketemu, jadi sudah dekat. Elvan emang terbiasa memanggil aku Papa," jawab Rafa berusaha menutup kebohongannya.
"Kenapa aku gak percaya, yah?" tanya Alexa penuh selidik.
"Ka--"
"Pa, ini mau keluar pipinya!" teriak Elvan.
"Ya Tuhan! Ayo kita ke kamar mandi!" Rafa berusaha menggunakan kesempatan itu untuk kabur. Dengan cepat menggendong Elvan, menoleh ke arah Alexa sejenak. "Nanti kita ketemu lagi." Setelahnya, Rafa sudah berlari menggendong Elvan dengan membawa semua belanjaannya.
"Mencurigakan!" Alexa menatap kepergian Rafa dengan berbagai penuh pertanyaan dan kecurigaan. Kemudian ia beralih menatap Cia. "Om kamu harus disidang yah, Sayang."
Rafa melirik Elvan yang sudah tertidur di kursi samping mobilnya. Sepertinya bocah itu kelelahan setelah tadi mereka kabur dari restauran, lalu pergi belanja kebutuhan lainnya ke supermarket. Sekarang mobilnya sudah penuh dengan berbagai belanjaan
"Dasar bocah merepotkan!"
Akhirnya Rafa kembali harus menahan sakit pinggang untuk menggendong Elvan menuju apartemennya yang mana ada di lantai 5. Dia merasa tidak tega untuk membangunkan bocah itu, tapi dia malah tega pada dirinya sendiri.
Setelah membaringkan tubuh Elvan di kasur, Rafa kemudian turun ke bawah lagi untuk mengambil belanjaannya. Saat sudah sampai di apartemennya kembali, dia mendengar suara tangisan Elvan. Rafa yang panik langsung berlari ke kamar, takut terjadi sesuatu hal buruk pada bocah itu.
"Kenapa?" tanya Rafa semakin panik saat melihat Elvan yang memang sedang menangis kejer di kasur.
Elvan yang melihat Rafa, kemudian merentangkan tangannya meminta untuk digendong. Walaupun mendengus kesal, Rafa memilih menuruti. Sekarang dirinya tengah duduk di kasur dengan Elvan yang berada dalam pangkuannya.
"Kenapa?" tanya Rafa melembut. Dia lega saat melihat tidak ada satupun luka di tubuh bocah itu.
"Tadi hiks ... hiks ... aku dikejar dinosaurus," cerita Elvan sambil terisak.
"Hah?"
"Pa, dinosaurus itu ngejar hiks ... mau makan aku hiks ... hiks ...."
Setelah beberapa saat, akhirnya Rafa mengerti. Rasanya dia ingin kembali melempar Elvan ke bawah gedung. Dia tadi sudah panik berlari, sementara bocah itu hanya sedang bermimpi buruk.
"Takut hiks .., Pa," rengek Elvan.
"Itu hanya mimpi, tolong! Sana tidur lagi!" Saat Rafa akan menurunkan Elvan, tapi bocah itu semakin mengeratkan pelukannya.
"Mau bobo lagi sambil dinyanyiin lagu," rengek Elvan, matanya mengerjap memohon ke arah Rafa.
"Banyak maunya! Tidur sana!" titah Rafa tidak habis pikir dengan permintaan konyol Elvan. Ini baru sehari loh! Apa kabar jika sudah sebulan dan seterusnya?
"Gak mau! Akhhh!" Elvan kembali menangis kencang.
"Ok, diam! Ini mau nyanyi." Rafa memijit keningnya frustrasi. Sementara Elvan sudah berhenti menangis.
"Elvan ... bobo ... oh ... Elvan ... bobo, kalau ... tidak ... bobo ... dijorokin ... ke sumur ...." Rafa bernyanyi dengan sangat datar. Lebih mirip dia sedang berpidato daripada bernyanyi sebenarnya.
"Bukannya kalau tidak bobo digigit nyamuk yah, Pa?" tanya Elvan polos.
"Nyamuknya sudah pada kenyang," jawab Rafa sekenanya. "Sana tidur!"
Saat akan beranjak, Elvan kembali menahan Rafa. "Bobonya mau dipeluk."
"Banyak maunya banget, sih! Tinggal tidur aja susah banget!" Tanpa sadar, Rafa menaikan nada bicaranya.
Saat melihat wajah Elvan yang sudah kembali berkaca-kaca, Rada kembali mengalah untuk memilih kembali berbaring dan menepuk-nepuk pelan pantat Elvan, sampai akhirnya bocah itu tertidur.
Rafa kembali memandang lekat wajah Elvan, dia berusaha terus mencari alasan jika Elvan itu bukan anaknya. Tapi entah kenapa semakin dia mengenal bocah itu, semakin dia mengenali sosok dirinya dimasa lalu.
Apa benar kesalahannya waktu itu membuahkan hasil? Kenapa dia harus kembali mengulang kesalahan yang sama dalam keluarganya?
Rafa akan beranjak, tapi kemudian Elvan semakin mempererat pelukannya. Akhirnya, dia kembali memilih berbaring dan ikut tidur dengan bocah itu.
##