NovelToon NovelToon
PENGANTIN SANG JENDERAL

PENGANTIN SANG JENDERAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:253
Nilai: 5
Nama Author: Dede Queen

Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.

Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".

Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.

Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.

Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Jejak Klan yang Hilang

Jalan setapak itu sempit, licin oleh lumut tebal, dan berkelok tajam menuruni dinding tebing yang curam. Kabut melayang-layang di sekeliling mereka, menyembunyikan tepian jurang yang dalam di sebelah kiri. Setiap langkah harus diletakkan dengan hati-hati, seolah tanah di bawah bisa lenyap seketika.

Ling Yue menggenggam giok retak itu erat di tangan kiri, sementara tangan kanannya mencengkeram erat lengan Li An. Benda itu sesekali berdenyut hangat, seolah menuntun mereka, menunjuk arah yang benar di tengah kabut yang semakin pekat.

"Di sini..." gumamnya pelan. "Giok ini terasa lebih panas."

Li An mengangkat kepala, menatap ke depan tempat kabut mulai menipis perlahan. "Lihat itu."

Di hadapan mereka terbukalah sebuah lembah tersembunyi yang tak terbayangkan keindahannya—padahal tersembunyi begitu lama. Di bawah sana, di antara hutan purba, berdiri reruntuhan bangunan yang dibangun dari batu putih berkilau, menara-menara ramping yang menjulang ke langit, dan jalan-jalan yang kini tertutup lumut dan bunga liar. Tempat itu sunyi, namun memancarkan keagungan yang tak bisa dihapus oleh waktu.

"Ini..." napas Ling Yue tertahan. "Ini kediaman Klan Bunga Kabut?"

"Tempat kelahiran Rouran," jawab Li An pelan, suaranya bergetar. "Dan tempat di mana seluruh keluarganya tewas."

Mereka melangkah turun menuju lembah itu. Semakin dekat, semakin terlihat betapa luasnya tempat ini—sebuah kota tersembunyi yang dulu mungkin pernah dihuni ribuan orang. Pilar-pilar batu yang masih berdiri tegak dihiasi ukiran bunga bermekaran, dan di tengahnya terdapat sebuah kolam besar yang airnya tetap jernih meski tak terawat ratusan tahun.

Namun keindahan itu ternoda oleh jejak langkah lain—jejak sepatu bot berat, banyak jumlahnya, menuju arah pusat kota.

"Pasukan Kekaisaran," Li An meremas gagang pedangnya. "Mereka sudah di sini."

"Dan Rouran..." Ling Yue menatap ke arah kuil besar yang berdiri di seberang kolam. "Dia lebih dulu tiba."

Mereka bergegas menyusuri jalan batu yang berumput. Di sepanjang jalan, ukiran-ukiran menceritakan kisah kuno: bagaimana Klan Bunga Kabut menjaga gerbang menuju tempat kekuatan purba itu tertidur, bagaimana mereka bersumpah tidak akan pernah menggunakannya untuk berperang, dan bagaimana pengkhianatan dari dalam akhirnya menghancurkan mereka.

Ling Yue berhenti di depan sebuah dinding batu besar yang penuh lukisan. Di bagian paling atas, tergambar sosok wanita muda yang memegang bunga bercahaya—wajahnya sama persis dengan Rouran.

"Itu ibunya," bisik Ling Yue. "Pemimpin terakhir klan ini."

"Dan pengkhianatannya..." Li An menunjuk ke sosok lain di sampingnya, sosok bayangan yang menusuk dari belakang. "Dikatakan seseorang yang paling dipercaya."

Mereka tiba di pintu masuk kuil utama—pintu batu setinggi sepuluh orang yang terbuka sebagian. Di tanah di depannya, tergeletak rantai besi yang putus, dan jejak kaki Rouran berhenti tepat di ambang pintu.

Di dalam kuil itu, cahaya redup menyinari ruangan yang luas. Di tengahnya, di atas panggung batu, berdiri Rouran—punggungnya tegak, rambutnya terurai panjang, kedua tangannya memegang benda yang terbuat dari cahaya murni berbentuk seperti bunga yang mekar perlahan.

Namun di hadapannya, berbaris sepuluh prajurit berbaju zirah hitam, pedang terhunus, dan di depan mereka berdiri sosok yang membuat darah Ling Yue membeku—jenderal istana yang bertanggung jawab atas jatuhnya benteng mereka.

"Serahkan itu, gadis kecil," suara jenderal itu bergema dingin. "Kekuatan ini bukan milikmu, bukan milik klan yang sudah musnah. Ini milik Kekaisaran."

Rouran tidak bergerak. Ia hanya berdiri diam, memeluk bunga cahaya itu semakin erat. "Kalian tidak mengerti apa yang kalian minta. Ini bukan senjata. Ini jantung tempat ini. Jika kalian mengambilnya, lembah ini akan runtuh, dan kekuatan yang keluar akan melahap siapa saja—kamu, aku, semuanya."

"Kebohongan!" Jenderal itu melangkah maju. "Tangkap dia! Hancurkan jika perlu, tapi ambil benda itu!"

Prajurit-prajurit itu maju serentak. Rouran mengangkat kepala, dan saat itulah ia melihat Ling Yue dan Li An berdiri di pintu. Matanya melebar, bukan karena takut, melainkan karena cemas.

"Pergilah!" suaranya bergema. "Kalian tidak seharusnya di sini!"

"Kita tidak akan pergi," seru Ling Yue, melangkah masuk tanpa ragu. "Kita berjanji, ingat?"

Li An sudah bergerak lebih cepat, pedangnya berkilau di udara saat ia menangkis serangan dua prajurit yang menyadari kehadiran mereka. "Lindungi Rouran!" teriaknya. "Ling Yue, cari jalan keluar dari sini!"

Ling Yue berlari mendekati Rouran. "Berapa lama benda itu bisa bertahan?"

"Selama aku memegangnya, gerbang tetap tertutup," jawab Rouran cepat, keringat dingin menetes di dahinya. "Tapi kekuatan ini memakan energiku... aku tidak akan bertahan lama."

"Kita bawa itu pergi," kata Ling Yue tegas. "Bersama-sama."

"Tidak bisa," Rouran menggeleng lemah. "Hanya darah keturunan langsung klan ini yang bisa memegangnya. Jika kau menyentuhnya..." Ia terdiam, lalu menatap Ling Yue dengan mata yang berkaca-kaca. "Ia akan membakarmu hidup-hidup."

Di tengah pertempuran itu, saat pedang-pedang beradu dan teriakan terdengar, Ling Yue meraih tangan Rouran. "Kalau begitu aku tetap di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian."

Rouran tersenyum tipis, senyum yang penuh perpisahan. "Kau sudah memberiku sesuatu yang tak pernah kumiliki—keluarga. Sekarang biarkan aku melindungimu."

Ia menarik tangannya perlahan, lalu mengangkat bunga cahaya itu tinggi-tinggi. Cahaya putih menyilaukan meledak dari tubuhnya, mendorong mundur semua orang di ruangan itu—prajurit, Li An, bahkan Ling Yue.

"Rouran!" teriak Ling Yue, mencoba melangkah maju namun terhalang oleh dinding cahaya yang tak terlihat.

"Pergilah!" suara Rouran terdengar samar dari balik cahaya itu. "Aku akan menahan mereka... sebentar saja... lari ke arah terowongan di belakang altar! Itu satu-satunya jalan keluar!"

Li An merangkul pinggang Ling Yue yang masih berusaha melawan. "Kita tidak bisa membiarkan pengorbanannya sia-sia!" suaranya terdengar berat dan penuh rasa sakit. "Dia memberi kita kesempatan ini—kita gunakan!"

Ling Yue menatap ke arah sosok yang perlahan menghilang di balik pilar cahaya itu, air mata mengalir di pipinya. "Rouran..."

"Pergilah!" suara itu tertahan oleh isak tangis yang tak terdengar.

Li An menarik Ling Yue menjauh, berlari menuju terowongan gelap di belakang altar batu tepat saat langit-langit kuil mulai retak dan runtuh perlahan. Cahaya menyelimuti seluruh lembah, dan di detik terakhir sebelum pintu batu tertutup rapat, Ling Yue melihatnya—Rouran berdiri sendirian, bunga cahaya itu kini menyatu dengan tubuhnya, memancarkan terang yang begitu murni hingga menyamai matahari itu sendiri.

Dan kemudian, gelap.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!