Sudah dua tahun Senja menikah dengan Adam. Pernikahan mereka memang berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu, Adam di tinggalkan oleh calon istrinya bernama Arum satu minggu sebelum pernikahan. Selama pernikhan dua tahun itu kecanggungan sangat terasa di antara mereka. Memang tak ada tuntutan apapun dari keduanya dalam pernikahan itu. Mereka menikah hanya demi menyelamatkan harga diri keluarga Adam.
Pernikahan dingin dan hanya selayaknya seperti orang yang sedang ngkost, karena memang mereka berdua adalah teman kampus. Walau Senja tak pernah mengenal Arum. Namun enam bulan terakhir kedekatan mereka mulai terlihat walau Adam masih memberikan jarak untuk Senja.
Tiga bulan terakhir Adam mulai berubah dan sering pulang larut bahkan sering ada tugas ke luar kota. Hingga akhirnya Senja tahu kalau Adam kembali menjalin hubungan dengan Arum. Dan ternyata Arum juga sudah menikah,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja 18
Angkasa tidak bergeming. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kulit, menatap Lyra dengan pandangan datar yang terselimuti kalkulasi dingin. Di balik matanya yang memancarkan aura tak tersentuh, otaknya sedang memutar rencana besar. Membongkar semuanya sekarang hanya akan membuat wanita ini panik dan bersiap. Kejutan sesungguhnya harus meledak di depan panggung utama keluarga besar, batin Angkasa.
"Makan siang?" ulang Angkasa dengan suara baritonnya yang tenang, namun sarat akan cemoohan tersembunyi.
"Kamu datang jauh-jauh ke sini hanya untuk mengajak saya makan siang, Lyra?"
Lyra mengulas senyum manis, mencoba meraba lengan kemeja Angkasa.
"Tentu saja. Sekaligus membahas persiapan acara pernikahan kita tiga bulan lagi. Mami sudah menyiapkan daftar undangan elit, Angkasa."
Angkasa menarik tangannya secara halus seraya berpura-pura merapikan jam tangan mahalnya, menolak sentuhan Lyra tanpa memicu kecurigaan berlebih. Dari awal dia memang tak pernah menyukai wanita itu, ada sesuatu yang janggal walau dia memainkan peran sangat perfect dengan menjadi sosok wanita yang lemah lembut dan juga sangat baik.
"Urusan pernikahan biar Rian dan tim yang atur sesuai jadwal," ujar Angkasa datar, menahan godaan untuk menyemburkan rasa jijiknya.
"Tapi kalau untuk makan siang hari ini... sepertinya kamu harus tertunda, Lyra."
Lyra merengut, melipat tangannya di dada. "Kenapa? Kamu selalu saja sibuk! Apa pekerjaan di kantor ini lebih penting daripada calon istrimu sendiri?"
"Setiap detik di ruangan ini bernilai investasi jutaan dolar, Lyra," potong Angkasa dingin tanpa kompromi.
"Tapi sayang... Ini untuk masa depan kita, agar kita lebih dekat lagi. Aku juga ingin lebih dekat dengan kamu... Kita harus sering bersama agar lebih saling mengenal. Agar sete;ah nanti kita menikah, aku juga sudah terbiasa dan hafal semua kebiasaan dan juga kesukaan kamu. Aku ingin belajar menjadi istri yang baik untumu, Mas. Aku yakin tak akan mengecewakan kamu seperti pernikahan kamu sebelumnya..." ujar Lyra seolah jika dia adalah wanita paling baik.
Mendengar kata-kata "menjadi istri yang baik" dan sindiran halus soal pernikahan masa lalunya keluar dari bibir Lyra, sudut bibir Angkasa tertarik tipis. Sebuah senyum sinis yang tertahan dengan sangat rapi. Wanita di hadapannya ini benar-benar lihai bersikap manis, seolah tanpa cela, padahal menyembunyikan kebusukan yang amat tebal di balik gaun mewahnya.
"Menjadi istri yang baik?" ulang Angkasa lambat, suaranya terdengar rendah namun begitu menekan.
"Kamu begitu percaya diri bisa menjadi istri yang sempurna untuk saya, Lyra?"
Lyra mengangguk cepat, melangkah satu tapak lebih dekat seraya memamerkan senyuman paling memikat yang ia miliki.
"Tentu saja, Angkasa. Mami mengajarkanku banyak hal tentang bagaimana melayani suami dari keluarga terpandang. Aku tidak seperti mantan istrimu yang dulu... yang tidak bisa menyeimbangkan posisinya di dunia bisnismu."
Angkasa menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, mengetukkan jemarinya di atas meja dengan ritme yang teratur.
"Pernikahan bukan cuma soal citra di depan publik atau daftar undangan elit, Lyra," kata Angkasa dingin, matanya menatap lurus menembus manik mata Lyra.
"Pernikahan adalah soal loyalitas mutlak. Dan saya paling benci orang yang berpura-pura setia di depan saya, tapi bermain gila di belakang."
Desiran halus merambat di tengkuk Lyra. Kata loyalitas yang diucapkan Angkasa terasa menghujat, namun wajah Angkasa yang terlampau tenang membuat Lyra berusaha menepis rasa paniknya.
"Kenapa kamu bicara begitu, sayang?" kekeh Lyra hambar, mencoba mencairkan atmosfer ruangan yang mendadak mencekam.
"Aku ini sangat setia padamu. Kamu tahu sendiri kan, Papi dan Mami menjaga diriku dengan sangat ketat? Mana mungkin aku bermain-main di belakangmu."
"Bagus kalau begitu," sahut Angkasa datar, menyilangkan tangannya di dada.
"Karena kalau sampai ada hal yang mencoreng nama baik keluarga saya, sekecil apa pun itu saya tidak akan segan memusnahkan siapa pun yang terlibat. Tanpa sisa."
Lyra menelan ludah yang terasa kering. Aura mengintimidasi dari Angkasa terasa begitu kuat hingga membuat napasnya sedikit terengah. Namun, bayangan status sebagai nyonya besar di keluarga Angkasa dengan cepat menutupi ketakutannya.
"Kamu ini selalu saja terlalu serius kalau bicara," cicit Lyra, berusaha meraih tas mewahnya dari atas meja.
"Ya sudah kalau hari ini kamu tidak bisa makan siang denganku. Tapi ingat ya, minggu depan ada acara makan malam keluarga besar kita. Papi ingin membahas soal tambahan dana investasi untuk ekspansi proyek Megah Citra Mandiri."
"Saya ingat," jawab Angkasa singkat.
"Sangat ingat."
"Oke, aku pamit ya, Mas. Jangan terlalu lelah bekerja," ujar Lyra seraya memajukan tubuhnya, berniat mencium pipi Angkasa.
Namun dengan gerakan cepat dan elegan, Angkasa sengaja berdiri dari kursinya untuk mengambil sebuah dokumen di sudut meja, secara tidak langsung membuat usaha Lyra gagal total.
"Rian akan mengantarmu ke depan," tegas Angkasa tanpa menoleh lagi, membelakangi Lyra dan menatap dokumen di tangannya.
Lyra menggigit bibir dalamnya, menahan kesal karena diabaikan, namun tetap memaksakan senyum anggun.
"Sampai ketemu minggu depan, Angkasa."
Begitu pintu jati itu tertutup rapat dan suara tumit sepatu Lyra tak lagi terdengar di koridor, Angkasa menghembuskan napas tajam. Pria itu menekan tombol intercom di mejanya.
"Rian, masuk ke ruangan saya sekarang."
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku bisa pulang sendiri!" seru Lyra cepat dari ambang pintu, mencoba menyelamatkan rasa gengsinya yang terkoyak setelah penolakan halus Angkasa.
Angkasa tak membalas ucapan itu. Ia bahkan tak menoleh sedikit pun, membiarkan keheningan yang menyengat mengantar langkah Lyra keluar dari ruangan.
Begitu pintu jati tebal itu tertutup rapat, wajah manis dan anggun Lyra luntur seketika. Matanya menyalang tajam, jemarinya meremas tali tas mewahnya hingga kulit sintetis mahal itu berkerut. Pikirannya melayang pada kejanggalan sikap Angkasa yang mendadak amat dingin, serta ancaman tersembunyi yang baru saja diucapkannya.
Ini pasti gara-gara wanita sialan itu, batin Lyra membara. Pasti Senja sudah mengadu atau setidaknya menebar racun di kantor ini!
Dengan langkah penuh amarah yang disamarkan oleh denting stilettonya, Lyra tidak melangkah menuju lift turun. Sebaliknya, ia memutar arah menuju koridor divisi analisis keuangan di lantai yang sama.
Senja yang baru saja kembali dari pantry membawa segelas air putih, tertegun di depan kubikel kerjanya. Langkahnya terhenti saat melihat sosok Lyra berdiri di tengah ruangan, menyilangkan tangan di dada seraya menatapnya dengan pandangan penuh kebencian dan penghinaan.
"Wah, hebat sekali ya," suara Lyra bergetar menahan amarah, melangkah mendekati meja Senja tanpa peduli pada beberapa staf lain yang mulai mencuri pandang.
"Jadi di sini tempatmu bersembunyi setelah mengacaukan rumah tanggamu sendiri?"
Senja menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan untuk menjaga ketenangannya. Ia meletakkan gelasnya di meja, lalu berdiri tegap menatap Lyra tanpa rasa takut sedikit pun.
"Mbak Lyra atau harus saya panggil Arum?" sahut Senja dengan suara tenang namun cukup jelas terdengar.
"Ini area kerja profesional. Kalau ada urusan pribadi, sebaiknya diselesaikan di luar."
Mendengar nama Arum disebut di tempat umum, wajah Lyra mendadak tegang. Ia memajukan tubuhnya, mencondongkan wajah ke arah Senja seraya berdesis tajam.
"Jaga mulutmu, Senja! Jangan berani-berani menyebut nama itu di sini!"
"Kenapa?" Senja menaikkan sebelah alisnya, mengunci tatapan matanya tepat pada manik mata Lyra.
"Takut citra wanita terhormatmu hancur? Atau takut calon suamimu tahu siapa wanita yang selama ini tidur dengan suami saya?"
Plaaaakkk