Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.
Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.
Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.
Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Dianggap Gelandangan
Shia semakin menggenggam erat tangan keriput Edwin. "Es krim juga?"
"Setiap hari kalau mau."
"Benarkah?"
"Benar."
Sean menatap Shia, lalu keduanya beralih menatap Raina, "Mamah, tunggu apalagi? Kita tinggal di sini saja. Ada Kakek Buyut dan Papah, selain itu akan banyak mainan dan juga ice cream."
Raina hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia lebih tidak percaya dengan kelakuan kedua anaknya yang gampang sekali disuap dengan mainan dan ice cream. Sepintar apapun Sean dan Shia, mereka tetaplah anak-anak yang lebih menyukai mainan sederhana dan ice cream yang manis.
Dan Raina masih tidak menyangka beberapa menit lalu, mereka datang ke tempat itu sebagai orang asing yang dicaci-maki. Sekarang, ketua keluarga Maximillian sendiri telah menerima mereka. Bukan sebagai tamu, bukan sebagai orang yang harus dikasihani melainkan sebagai keluarga meski tes DNA itu dilakukan.
Sion yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya bisa memandangi semuanya. Memandangi Raina, wanita yang selama delapan tahun ini masih ia cari tapi akhirnya malah kembali sendiri. Menatap kedua anak yang sebelumnya ia tak tahu kalau mereka ada di dunia ini.
Edwin menatap cucunya. "Sion."
"Ya, Kek."
"Mulai malam ini, kau juga tinggal di mansion utama."
Sion mengerutkan kening. "Kenapa?"
Edwin mengetukkan tongkatnya. "Kau adalah ayah mereka berdua dan kau masih tanya kenapa? Lagipula sudah berapa lama kau tidak pulang dan terus menginap di hotel, Hah? Seperti gelandangan yang tak punya rumah saja."
“Astaga, aku tidak habis pikir lagi dengan keluarga ini. Bagaimana bisa pria paling kaya di Negara ini dianggap sebagai gelandangan yang tak memiliki rumah. Padahal dia hanya tinggal di salah satu hotel termewah atas namanya sendiri.” gumam Falleo yang terus memperhatikan drama keluarga itu sembari sesekali berkomentar sendiri.
Sion melirik Sean dan Shia, dimana kedua anak itu diam-diam sedang menertawakannya. Sean terlihat sedang berbisik kepada Shia. Entah apa yang mereka bicarakan. Kemudian Shia menunjuk Sion, lalu Sean mengangguk. Keduanya berjalan menghampirinya.
Sean berhenti tepat di depan Sion. "Papah."
Sion menatapnya. "Apa?"
Sean menunjuk ke arah pintu. "Kalau kita tinggal di rumah Kakek Buyut... apa sebenarnya Papah itu tidak kaya seperti yang Mamah katakan pada kami?"
“Bwahahaa… Tuan Sion benar-benar dianggap gelandangan oleh anaknya sendiri.”
Tak disangka tawa Falleo kelepasan hingga seketika mendapat tatapan tajam dari Sion. Kakek Edwin hanya tersenyum, sedangkan Raina menepuk dahinya sendiri melihat kelakuan kedua anaknya yang sepertinya masih terlalu polos.
Sedangkan Calista dan yang lainnya menatap kelakuan dua bocah itu dengan tatapan jengah.
Ia menoleh kepada Shia. "Tenang saja, kami akan bantu Papah menjadi orang terkaya di dunia."
Sean menatap ke arah Shia, dimana gadis itu mengangguk sembari menunjukkan kedua jempolnya. Seolah ingin mengatakan kalau mereka bisa diandalkan. Sion hanya bisa terdiam karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak tahu harus menjawab apa. Sementara Edwin hanya berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Tatapan lelaki tua itu jatuh kepada cucu, menantu, dan dua anak yang baru saja memasuki hidup keluarga Maximillian.
“Sudah, lebih baik kita kembali ke Mansion sekarang,” ujar Kakek Edwin menyudahi percakapan Ayah dan anak yang absurd itu.
Tes DNA akan menentukan hubungan darah mereka. Tetapi jauh di dalam hatinya, Edwin sudah membuat satu keputusan. Apa pun hasilnya nanti... Tidak akan ada seorang pun yang boleh menginjak-injak Raina dan kedua anak itu di hadapannya lagi.
“Apa tampangku benar-benar kelihatan seperti gelandangan?” gumam Sion yang rupanya terus memikirkan penilaian kedua anaknya.
Calista, Laura dan yang lainnya memilih pergi begitu saja dari aula tersebut. Tepat bersamaan dengan datangnya Dr. Bimo, dokter keluarga Maximillia. Dr. Bimo pun segera mengambil sedikit sample darah milik Sion dan kedua bocah kembar itu.
Selesai pengambilan darah, Sion diam-diam memerintahkan Falleo untuk menempatkan beberapa orang untuk menjaga dan mengawasi Dr. Bimo selama hasi tes tersebut belum keluar.
Pengakuan Raina bahwa ia telah diburu seseorang membuat Sion semakin bersikap waspada. Apalagi Sion tahu keluarga Fernandez dan ibu tirinya tidak akan tinggal diam terhadap kehadiran Raina dan kedua anaknya.
...****************...
Setelah itu, Sion sendiri mengemudikan mobilnya. Disampingnya ada Raina, sedangkan dibelakang Kakek Edwin bersama dengan Sean dan Shia. Di kursi belakang terdengar sangat ramai dan penuh tawa, sedangkan di kursi depan Sion hanya diam dan fokus mengemudi membuat Raina terpaksa harus tetap diam.
Rupanya mereka tidak langsung kembali ke Mansion, tetapi mereka malah mampir ke Mall terbesar milik keluarga Maximillian berdiri megah di pusat kota. Gedung itu memiliki tujuh lantai dengan interior mewah yang bahkan membuat para pebisnis kelas atas berlomba-lomba mendapatkan hak eksklusif untuk membuka toko di dalamnya. Hampir seluruh pusat perbelanjaan tersebut berada di bawah kepemilikan keluarga Maximillian.
Namun, malam itu, sang pemilik justru berjalan santai di antara deretan toko mainan. Cassion Zayn Maximillian, Pria yang biasanya hanya perlu mengangkat satu jari untuk membuat puluhan anak buahnya bergerak, kini berdiri di depan rak penuh mobil-mobilan, boneka, robot, dan berbagai macam permainan anak.
Wajahnya tetap datar, dingin dan tanpa ekspresi. Seolah-olah sedang memilih senjata, bukan mainan. Jujur saja, Sion tidak menyangka bahwa hari ini akan tiba begitu saja, tanpa persiapan tanpa peringatan. Hari dimana ia menjadi seorang ayah yang menemani anaknya membeli mainan dan berjalan-jalan seperti keluarga lainnya. Di sampingnya, Sean dan Shia berdiri dengan mata berbinar. Sedangkan Kakek Edwin dan Raina berdiri dibelakang sembari memperhatikan ayah dan anak itu.
"Papah yang ini!" Sean menunjuk sebuah mobil-mobilan berukuran besar.
"Yang itu juga!" Shia menunjuk sebuah rumah boneka.
Kemudian, tanpa merasa bersalah, keduanya menunjuk ke rak lain. Kemudian mereka menunjuk semua mainan yang menurut mereka seru dan menarik untuk dimainkan. Meski keduanya mengira bahwa Papahnya seorang gelandangan, tapi masih ada sang Kakek Buyut yang berkuasa dan kaya raya.
"Yang itu!"
"Dan itu!"
"Yang sana juga!"
Sion menatap rak yang ditunjuk mereka. Kemudian menatap kedua anaknya. Kemudian kembali menatap rak. Sayang sekali, Falleo dan anak buahnya tidak mengikuti mereka atas perintah dari Kakek Edwin.
"Ambil."
Hanya satu kata. Namun, bagi Sean dan Shia, itu seperti izin untuk menjarah satu toko. Mata keduanya semakin berbinar. Sebab jika Mamahnya yang membayar, maka masing-masing hanya boleh membeli satu jenis mainan saja.
"Benarkah, Pah?" tanya Sean polos.
Sion mengernyit. "Apa yang kalian ragukan?"
Raina yang berdiri beberapa langkah di belakang langsung menunduk, pura-pura memperhatikan tas tangannya agar tidak tertawa. Kakek Edwin bahkan harus membalikkan badan. Baik Raina maupun Kakek Edwin seolah sudah mengerti apa yang kedua bocah itu pikirkan… yaitu Papahnya tidak mampu membayar semuanya.
Bersambung….