NovelToon NovelToon
MATI RASA DI PELUKANMU

MATI RASA DI PELUKANMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saga B.T.

Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.

Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.

Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Di balik bayang-bayang

Pagi menyingsing di atas ibu kota dengan rona keabu-abuan yang suram. Kabut tipis menggantung rendah di sela-sela gedung pencakar langit, memantulkan pendar dingin menembus dinding kaca raksasa penthouse.

Di ruang tengah, Ayden berdiri mematung seraya menempelkan ponsel pribadinya ke telinga. Kemeja putih yang ia kenakan tampak sedikit kusut di bagian lengan, menandakan ia sama sekali tidak tidur nyenyak sepanjang malam.

"Bicara lagi, Pak Broto," perintah Ayden lisan. Suaranya terdengar amat rendah, berat, dan dipenuhi oleh ketegangan yang tertahan.

"Maafkan saya, Mas Ayden," suara Pak Broto terdengar bergetar dari speaker telepon. "Orang-orang kita di lapangan baru saja memberikan laporan. Sejak kemarin sore, Haris Rahardja terlihat mendatangi markas kepolisian daerah dan menghubungi beberapa mantan pengacara senior Dinantara Utama."

Mata Ayden menyipit tajam. Buku-buku jarinya menggenggam ponsel hingga memutih. "Apa yang dia lakukan di sana?"

"Informan kita menyebutkan bahwa Haris sedang mengumpulkan bukti-bukti lama terkait proses pailit Dinantara," terang Pak Broto panik. "Dia juga mempertanyakan keberadaan Nyonya Aisyah secara resmi. Tampaknya... panggilan telepon kemarin memicu Haris untuk melakukan perlawanan."

"Tutup pergerakannya!" gertak Ayden lisan dengan intonasi mematikan. "Gunakan semua saluran kita di kepolisian dan kejaksaan. Blokir setiap laporan yang dia ajukan. Pastikan tidak ada satu pun media yang mencium pergerakan pria tua itu!"

"B-baik, Mas Ayden. Namun Haris tampaknya sangat nekat kali ini," tambah Pak Broto ragu.

"Saya tidak peduli seberapa nekat dia!" potong Ayden dingin. "Lakukan tugasmu!"

Bip.

Ayden memutus sambungan telepon secara kasar. Pria itu mengembuskan napas berburu, memutar tubuhnya seraya melemparkan pandangan tajam ke arah lorong dalam. Rasa cemas yang bercampur dengan gelombang amarah mendadak menguasai pikirannya. Panggilan telepon rahasia Aisyah dengan Haris Rahardja kemarin telah membuka celah berbahaya bagi panggung kekuasaannya.

Tanpa membuang waktu, Ayden melangkah lebar menyusuri lorong marmer, menuju area meja makan tempat Aisyah baru saja duduk tegak di kursinya.

Aisyah duduk membisu, memangku cangkir teh yang kepulan uapnya meliuk pelan di udara. Gaun panjang berwarna abu-abu pucat yang ia kenakan makin mempertegas kulitnya yang kehilangan warna. Wajahnya tetap kaku bagaikan porselen dingin, menatap lurus ke piring kosong di hadapannya.

Bruk!

Ayden menarik kursi di hadapan Aisyah secara kasar hingga derit kakinya membentur lantai marmer menggema nyaring. Pria itu mencondongkan tubuhnya di atas meja, menatap istrinya dengan sorot mata yang menyala beracun.

"Aisyah!" panggil Ayden lisan, suaranya menusuk keheningan pagi dengan intimidasi yang amat pekat. "Katakan padaku... apa saja yang kau bicarakan dengan Haris Rahardja di telepon kemarin?!"

Aisyah tidak tersentak. Kelopak matanya bahkan tidak berkedip mendengar bentakan bernada tinggi itu. Ia hanya perlahan mengangkat pandangannya, menatap tepat di tengah dahi Ayden dengan mata yang sepenuhnya hampa.

"Aisyah! Jawab aku!" tegur Ayden lagi, menepuk permukaan meja kayu jati itu hingga cangkir teh bergetar. "Apa yang kau katakan pada pria tua bangka itu hingga dia berani mendatangi polisi dan mencari pengacara pagi ini?!"

"Aku hanya mengatakan kenyataan, Ayden," sahut Aisyah lisan. Suaranya mengalun sangat datar, tanpa getaran, dan tanpa emosi—sebuah intonasi dingin yang bagaikan embusan angin es.

"Kenyataan apa?!" cecar Ayden, dadanya naik turun oleh frustrasi yang kian memuncak. "Kau tahu betul tindakan konyol Pamanmu itu tidak akan mengubah apa pun! Dia hanya serangga kecil yang mencoba membenturkan kepalanya ke dinding beton kekuasaanku!"

Aisyah mengulurkan tangannya yang memucat, meraba pinggiran cangkir tehnya tanpa niat meminumnya. "Jika dia hanya serangga kecil... kenapa kau begitu panik, Ayden?"

Pertanyaan singkat yang diucapkan dengan nada amat tenang itu seketika menghantam kesadaran Ayden.

Ayden tertegun sejenak. Senyum sinis yang dipaksakan muncul di bibirnya untuk menutupi rasa terkejutnya. "Panik? Kau pikir aku panik karena ulah Haris Rahardja?"

"Matamu tidak bisa berbohong, Ayden," bisik Aisyah lisan, tatapannya terkunci rapat pada pupil mata suaminya. "Kau ketakutan. Suaramu bergetar sejak melangkah masuk ke ruangan ini."

"Cukup, Aisyah!" potong Ayden seraya membanting punggungnya ke sandaran kursi. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada, mencoba mengembalikan wibawa dan dominasinya yang terancam. "Dengarkan aku baik-baik. Aku mendatangi tempat ini bukan untuk berdebat dengan bayanganmu."

Ayden mencondongkan tubuhnya kembali ke depan, menyipitkan mata dengan sorot kejam yang tak lagi disembunyikan.

"Jika Haris Rahardja tidak menghentikan aksinya dalam waktu dua puluh empat jam," ancam Ayden lisan, setiap kata yang keluar dari mulutnya ditekan dengan bobot yang amat berbahaya, "aku tidak akan hanya meratakan sisa asetnya. Aku akan memastikan pria tua itu menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi atas tuduhan pencemaran nama baik dan penipuan investasi."

Aisyah tetap membisu, mendengarkan ancaman itu seolah Ayden sedang membacakan prakiraan cuaca.

"Bukan hanya Haris," lanjut Ayden dengan nada kian pekat dan mengintimidasi. "Setiap orang yang mencoba membantumu... setiap mantan karyawan papamu yang masih bernapas dan mencoba menghubungi media... aku akan memusnahkan mata pencaharian mereka satu per satu. Aku akan membuat mereka meratapi hari di mana mereka memutuskan untuk mengingat nama Surya Rahardja!"

Ayden merentangkan tangannya sedikit, menatap Aisyah penuh tuntutan mutlak. "Kau ingin melihat orang-orang yang tersisa di sekitarmu menderita hanya karena kebodohanmu memegang telepon kemarin, Aisyah?!"

Keheningan yang amat pekat menyergap meja makan tersebut. Bau ancaman dan bahaya menggantung tebal di udara pagi.

Namun, reaksi Aisyah sungguh di luar dugaan Ayden.

Aisyah tidak menangis. Ia tidak memohon ampun agar Pamannya diselamatkan. Ia tidak pula memungut histeria untuk menepis ancaman kejam pria yang duduk di hadapannya.

Sebaliknya, bibir tipis Aisyah yang pucat perlahan mengukir sebuah senyuman tipis—sebuah senyuman hampa yang paling dingin dan paling mengerikan yang pernah disaksikan Ayden.

"Ancamlah mereka sebanyak yang kau mau, Ayden," ucap Aisyah lisan. Suaranya mengalun sangat tenang, berbisik halus namun memotong ketegangan ruangan dengan ketajaman yang sempurna.

Ayden menyipitkan matanya, mengernyit heran. "Apa maksudmu?"

"Kau bisa menghancurkan Paman Haris... kau bisa memusnahkan sisa-sisa orang terdekat Papaku... atau kau bisa meratakan seluruh dunia di luar sana," lanjut Aisyah lisan, matanya menatap lurus menembus wajah Ayden. "Tapi kau tahu apa hal yang paling menyedihkan dari seluruh ancamanmu itu, Ayden?"

Ayden menahan napasnya, lidahnya mendadak membeku di pangkal tenggorokan.

"Kau melontarkan semua ancaman itu..." bisik Aisyah lagi, menatap suaminya dengan pandangan yang telanjang akan penelanjangan batin, "...hanya karena kau sadar bahwa kau telah kehilangan kendali atas diriku."

Deg.

Kata-kata Aisyah menghantam dada Ayden bagaikan bongkahan batu besar yang dilemparkan dari ketinggian.

"Kau sudah merenggut harta Papaku," sambung Aisyah dengan nada datar tanpa ampun. "Kau sudah menghancurkan nama keluargaku. Dan kau... telah membunuh jiwaku hingga tak ada lagi rasa sakit yang bisa kau tancapkan di dalam dadaku. Kau tidak lagi memiliki senjata apa pun untuk mengancamku, Ayden. Karena seseorang yang sudah mati... tidak akan pernah takut pada algojo yang memegang pedang."

Napas Ayden tertahan keras. Kejujuran dingin yang meluncur dari bibir istrinya menguliti seluruh keangkuhan dan topeng kekuasaannya hingga tak berbekas.

Ayden mengepalkan tangannya rapat-rapat di atas meja, mencengkeram kain taplak putih hingga terpilin keras. Amarahnya memuncak ke titik tertinggi, namun amarah itu dibentengi oleh ketakutan yang teramat pekat—ketakutan atas kenyataan bahwa wanita di hadapannya benar-benar telah berada di luar jangkauan kekuasaannya.

"Kau..." cicit Ayden lisan, suaranya bergetar tipis oleh frustrasi mendalam yang tak sanggup ia sembunyikan. "Kau benar-benar ingin mengujiku, Aisyah?!"

"Aku tidak mengujimu," balas Aisyah lisan, menatapnya dengan rasa kasihan yang dingin. "Aku hanya memperlihatkan betapa kerdilnya dirimu di balik seluruh kekayaan dan pengawalmu ini."

Ayden mendadak membangkitkan tubuhnya dari kursi. Ia berdiri menjulang, menatap Aisyah dengan mata yang memerah oleh kombinasi amarah dan keputusasaan.

"Pak Broto!" jerit Ayden lisan dengan nada melengking tinggi yang memecah keheningan penthouse.

Pak Broto setengah berlari masuk dari arah foyer, wajahnya memucat melihat atmosfer membakar di meja makan. "I-iya, Mas Ayden?!"

"Cabut seluruh sambungan telepon kabel di rumah ini detik ini juga!" perintah Ayden lisan, suaranya bergetar oleh emosi yang meledak-ledak. "Sita semua surat kabar, matikan akses internet di jaringan internal, dan tempatkan dua pengawal tambahan di dalam lorong depan kamar tidur!"

"Baik, Mas Ayden! Segera dilaksanakan!" sahut Pak Broto tergesa-gesa.

Ayden memutar tubuhnya, menatap Aisyah untuk terakhir kalinya pagi itu. "Kau ingin menjadi bangkai hampa di rumah ini, Aisyah?! Maka aku akan memastikan kau hidup dalam kegelapan mutlak tanpa ada satu pun bisikan dari dunia luar!"

Aisyah tidak menjawab. Ia bahkan tidak memalingkan kepalanya saat Ayden melangkah lebar meninggalkan meja makan, mencabut telepon kabel di dinding alcove dengan sekali sentakan kasar, lalu berjalan keluar menuju elevator pribadi dengan derap langkah yang membara oleh kekalahan batin.

Dentang elevator bergema nyaring, menandakan kepergian sang master penthouse.

Aisyah tetap duduk mematung di kursinya, menatap uap teh yang perlahan lenyap di udara dingin. Di dalam relung hatinya yang paling dalam, keheningan mutlak menyelimuti jiwanya—sebuah benteng mati rasa yang tak akan pernah bisa ditembus oleh ancaman bayang-bayang Ayden Al-Ghazali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!