"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.
Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!
Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Malam Pertama
Setelah serangkaian acara pernikahan yang membuat Kate berulang kali berpikir bahwa ia baru saja melewati masa-masa halusinasi, akhirnya malam pun tiba. Artinya, mereka bisa beristirahat setelah seharian menghabiskan energi untuk melangsungkan pesta pernikahan.
Ini adalah malam pertama bagi Salvatore dan Kate sebagai pasangan suami istri. Tapi, jangan harap ada nuansa romantis. Ini Kate. Gadis itu tidak akan bisa tidur dengan tenang, apalagi setelah sadar seratus persen bahwa posisinya sekarang bukan lagi seorang Putri Raventhal, melainkan istri dari Jenderal Agung Ardan.
Sialan, kenapa aku bisa sampai ada di titik ini? gerutu Kate di dalam hati.
Gadis yang sudah berganti status itu sedang duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan mengepal di atas paha. Bibirnya ia gigit rapat—gugup dan kesal bercampur aduk menjadi satu.
Aku sudah berusaha keras untuk menggagalkan pernikahan ini, tapi kenapa akhirnya aku tetap menikah dengan pria batu giok itu? Dunia sedang mempermainkanku!
Kate menggigit bibirnya kesal. Sesekali matanya melirik ke arah pintu kamar mandi utama yang terkunci rapat namun tetap mengeluarkan suara gemericik air—menandakan bahwa Salvatore masih membersihkan diri di dalam sana.
"Aku tidak suka malam ini. Aku benar-benar akan membunuhnya kalau dia berani menyentuh tubuhku sedikit saja!" gumam Kate menguatkan dirinya.
Sebenarnya Kate sendiri sudah bersiap untuk tidur. Ia mandi lebih dulu dan berganti dengan gaun tidur putih polos yang ringan. Namun entah kenapa, karena Salvatore belum keluar juga dari kamar mandi, ia belum bisa memastikan dirinya aman! Bagaimana kalau Salvatore menyerangnya tiba-tiba? Kate tahu betul kalau ia sudah tertidur, ia hampir tidak sadarkan diri. Menurutnya, kondisi ini sangat berbahaya.
"Sial. Aku harus memastikan dia tidur dengan jarak yang sangat jauh sebelum aku terlelap. Bisa-bisa aku tidak sadar," cetusnya sambil menatap pintu kamar mandi dengan tatapan tajam. Bahkan jika dilihat dengan lebih jelas, bola mata Kate sampai melotot saking lebarnya.
"Duh, lama sekali! Apa aku boleh meminta tidur di kamar tamu saja? Atau dia yang aku usir tidur bersama kuda di kandang?" Kate mengacak rambutnya frustasi. "Argh! Aku tidak mau tidur bersama dia!"
Kate kembali duduk, matanya terus menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup. Entahlah, Kate tidak menyangka bahwa seorang Jenderal perang yang sudah biasa tidur dalam keadaan kotor ternyata bisa mandi selama itu. Bosan.
"Apa dia bertapa di dalam kamar mandi? Kenapa lama sekali! Aku harus segera memberikan syarat-syarat tidur bersama sebelum aku tertidur!"
Masih belum ada tanda-tanda Salvatore akan keluar. Kate akhirnya memilih duduk memunggungi pintu kamar mandi hanya untuk menatap rembulan dari balik jendela. "Ugh. Sepertinya dewa malam sedang menghukumku. Sudah kubilang, aku tidak mau tidur dengan pria itu!"
"Kenapa tidak mau tidur denganku?"
Deg.
Kate seketika mematung. Ia pikir Salvatore belum keluar dari kamar mandi! Ia pikir Salvatore tidak mendengarnya! Pasti karena ia sempat mengalihkan pandangannya dari pintu kamar mandi, membuat gadis itu tidak menyadari suaminya sudah melangkah keluar beberapa detik yang lalu.
Dengan gerakan patah-patah, Kate memutar tubuhnya kembali menghadap ke arah Salvatore. Pipinya merona merah akibat malu, kesal, dan gugup yang membuncah.
"E-eh, apa? Aku tidak bilang apa-apa!" serunya berusaha menutupi kepanikannya.
"Kau bilang tidak mau tidur denganku. Kenapa? Bukankah aku suamimu?"
Pertanyaan yang dilontarkan Salvatore benar-benar tepat sasaran, sukses membuat Kate terdiam dan menelan ludahnya gugup. Padahal biasanya ia bisa membalas ucapan Salvatore dengan nada galak dan sinis. Namun melihat Salvatore yang baru selesai mandi—tanpa seragam militernya—ternyata membuat Kate merasa cukup gugup. Meski tentu saja, sang Putri tidak akan pernah mengakuinya secara langsung.
"Aku tidak bilang begitu!" potong Kate sambil melotot.
Salvatore hanya mengangkat bahunya, membiarkan istrinya lepas dari tuduhan yang sebenarnya adalah fakta. "Ya sudah kalau tidak bilang begitu," sahutnya tenang.
Pria yang memiliki gelar Jenderal Agung itu mengeringkan rambutnya dengan handuk. Baru setelahnya, ia duduk di sisi ranjang yang berseberangan dengan tempat Kate duduk sejak tadi.
"Kenapa masih diam?" tanya Salvatore saat menyadari tidak ada pergerakan dari Kate.
Kate, masih dalam posisi yang sama, tertegun.
"Hah? Kau bicara apa, sih? Aku tidak mau melakukan apa pun denganmu malam ini! Jangan memaksa, apalagi kejelasan tidak berdasar!" ketus Kate. Namun dari nada bicaranya saja sudah terdengar jelas bahwa gadis itu mendadak canggung.
Mendengar balasan panik dari Kate, Salvatore menolehkan kepalanya, menatap Kate sambil mengerutkan dahi. "Bicara apa kau ini? Aku tidak bilang kita akan melakukan sesuatu."
Salvatore meletakkan handuk kecilnya ke atas meja rias dengan gerakan sangat tenang. Ia lalu berbalik sepenuhnya, memandang Kate yang masih duduk kaku di pinggir ranjang dengan wajah sepadam buah bit.
"Aku hanya bertanya kenapa kau masih belum berbaring," lanjut Salvatore datar, mata elangnya menatap polos tanpa dosa. "Malam sudah larut, dan seharian ini kau pasti lelah. Atau kau mau aku ambilkan minum dulu?"
Kate meremas gaun tidurnya erat-erat, rasanya ingin sekali melompat keluar jendela sekarang juga. Sialan! Jadi sejak tadi hanya dirinya sendiri yang berpikiran aneh-aneh dan panik setengah mati? Sungguh pukulan telak untuk harga dirinya yang setinggi langit!
"S-siapa juga yang berpikir macam-macam?" sembur Kate cepat-cepat, berusaha merebut kembali kendali sebelum rasa malunya semakin menggerogoti. Ia berdiri mendadak, menunjuk wajah Salvatore dengan jari telunjuknya yang sedikit gemetar. "Lagipula... sebelum tidur, ada aturan tegas yang harus dipatuhi! Jangan pikir karena kita sudah sah, kau bisa bebas berbuat seenaknya di atas ranjang ini!"
Salvatore hanya menaikkan sebelah alisnya, berdiri diam menanti rentetan instruksi dari 'komandan' barunya. "Aturan?"
"Ya! Aturan!"
Kate berbalik cepat, menyambar tiga buah bantal guling tebal dan satu selimut cadangan di sudut ranjang. Dengan ketelitian taktis yang mengalahkan formasi perang, Kate menyusun bantal-bantal itu berderet lurus tepat di tengah-tengah kasur ukuran king size mereka, membagi tempat tidur itu menjadi dua wilayah kekuasaan yang terpisah sempurna.
"Lihat ini!" Kate menepuk tumpukan bantal di tengah dengan wajah galak yang dibuat-buat demi menutupi rasa canggungnya. "Ini adalah Perbatasan Benteng Barat dan Timur! Kau di sebelah kiri, aku di sebelah kanan."
Salvatore memperhatikan barisan bantal itu dengan saksama, seolah-olah sedang mengamati peta strategi militer. "Garis demarkasi?"
"Tepat sekali!" pekik Kate bangga. Ia lalu menunjuk Salvatore dengan tatapan paling mengancam yang bisa ia keluarkan. "Dilarang keras melintasi batas bantal ini! Jempol kakimu, helai rambutmu, atau bahkan ujung selimutmu tidak boleh menyentuh wilayahku! Kalau sampai kau berani melewati batas ini semilimeter saja saat tidur..."
Kate mengepalkan tinjunya di udara dengan gigitan bibir yang menantang. "...aku pastikan kau tidur di barak militer bersama para kuda besok pagi!"
Salvatore menatap 'benteng' bantal itu sejenak, lalu beralih menatap Kate yang masih berdiri bersedekap dengan napas memburu. Bukannya marah atau keberatan, sudut bibir sang Jenderal justru terangkat sangat tipis.
"Baik," jawab Salvatore pendek. Ia langsung naik ke atas ranjang di wilayah kirinya dan menarik selimut hingga batas dada tanpa memprotes sedikit pun. "Tawaran yang adil. Selamat tidur, Istriku."
Kate ternganga. Hah? Cuma begitu reaksinya? Tidak ada bantahan? Tidak ada negosiasi?
Melihat Salvatore yang sudah memejamkan mata dengan sangat damai di balik benteng bantalnya, Kate hanya bisa menggeram pelan.
Dengan wajah yang masih terasa panas, gadis itu akhirnya naik ke sisi ranjangnya sendiri, memunggungi Salvatore, dan menarik selimut rapat-rapat sampai ke leher—berdoa agar jantungnya yang berdegup kelewat kencang tidak terdengar menembus barisan bantal di antara mereka.
Sial. Dingin sekali.
Kate perlahan-lahan berbalik. Karena posisinya tadi membelakangi Salvatore dan menghadap langsung ke jendela, angin malam langsung menerpa tubuhnya. Itu sebabnya ia berbalik menghadap ke arah Salvatore, berharap suaminya itu tidak menyadarinya.
Namun ternyata malam ini Kate memang sedang sial. Salvatore belum tidur!
Pria itu kembali memposisikan tubuhnya terlentang. Dengan bahunya yang lebar, itu memang posisi tidur yang paling nyaman. Tapi bukan itu yang dipermasalahkan oleh Kate, melainkan pria itu tiba-tiba memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Kate, menatap fitur wajah istrinya yang terpejam.
Bohong kalau Kate tidak sadar dirinya sedang ditatap seintens itu. Dalam hati ia berteriak-teriak. Apa-apaan pria ini! Kenapa dia malah menghadap ke arahku? Putar balik lagi sana!!
Entah apa yang ada di pikiran Salvatore sebenarnya. Namun pria itu memandang Kate dengan tatapan yang sangat dalam. Mungkin ia mensyukuri bahwa kini dirinya bisa berada di sisi putri paling galak sekerajaan itu, atau mungkin dari awal, Salvatore memang sudah menaruh hati padanya.
Waktu makin larut dan Salvatore belum juga bermaksud untuk tidur. Ia masih sibuk memandangi wajah Kate—bulu matanya yang lentik, pipinya yang merona merah (entah karena malu atau kesal), dan bibirnya yang mungil. Gadis itu cantik. Sangat cantik.
Di tengah keheningan malam, objek kecantikan itu sendiri sedang sekuat tenaga menahan emosinya. Sialan. Kapan dia akan tidur dan berhenti menatapku? Sudah malam! Aku tidak bisa tidur!!! teriak Kate di dalam hatinya.
Detik demi detik berlalu. Waktu makin larut hingga akhirnya—
"Berapa lama lagi kau berniat menatapku begitu?" suara Kate pecah pelan. Matanya masih terpejam erat, namun wajahnya sudah merona merah padam. Ia sudah tidak tahan lagi.
Salvatore tersenyum tipis, sama sekali tidak terusik oleh protes yang keluar dari mulut Kate. "Jadi kau sadar," katanya lembut.
Mata Kate langsung terbuka lebar, melotot ke arahnya. Ia merasa bodoh karena kepura-puraannya ketahuan begitu saja. "A-aku tidur! Aku tidak sadar!" serunya terbata, lalu buru-buru membalikkan badan membelakangi Salvatore kembali.
Salvatore terkekeh kecil, sengaja mendekatkan wajahnya sedikit ke arah belakang kepala Kate. "Kalau begitu, selamat tidur, istriku yang pura-pura."
Kate makin merapatkan selimutnya, jantungnya berdetak liar. Sialan. Pria itu tahu. Pria itu sudah tahu sejak awal!
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭
jangan lupa mampir juga ya Thor di ceritaku🤗