"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan yang tercipta. Reyhan fokus menatap jalanan licin di balik kemudi, sementara Kyai Ahmad memilih memandang deretan pohon pinus yang tersapu kabut dari balik jendela penumpang. Rani yang duduk di kursi belakang hanya mampu mengelus buku nikah baru di dalam tasnya, merasakan keheningan yang justru terasa menekan dadanya.
Begitu mobil berhenti di depan teras ndalem utama, hawa dingin yang menusuk langsung menyergap ketika pintu dibuka. Langkah kaki ketiganya terdengar berat menaiki anak tangga kayu.
Di dalam ruang tamu yang megah namun terasa terlalu luas, Bu Nyai Khadijah sudah menunggu. Di atas meja kayu Jepara yang biasanya dihiasi piring-piring kue kering saat menyambut tamu, kini hanya ada sebuah nampan kuningan berukuran sedang. Di atasnya berdiri kokoh sebuah tumpeng nasi kuning kecil lengkap dengan sedikit lauk pauk sederhana.
Bu Nyai berdiri kaku di samping meja. Wajah wanita sepuh itu tampak tirus, dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya yang menandakan betapa kurang tidurnya beliau selama sebulan terakhir. Ketika mata Bu Nyai beradu pandang dengan Rani yang melangkah di belakang Reyhan, tidak ada tatapan benci berapi-api, melainkan sebuah pandangan asing yang dingin—sebuah jarak tak kasat mata yang terbentang lebar.
"Pernikahannya sudah selesai, Ummi," tutur Reyhan pelan, memecah kesunyian seraya menyalami jemari ibunya.
Bu Nyai Khadijah mengangguk singkat. Matanya tidak beralih pada sosok Rani yang mendadak melangkah maju untuk menyalami tangannya. Saat jemari Rani menyentuh punggung tangannya, Bu Nyai tidak menarik tangannya secara kasar, namun beliau juga tidak membalas genggaman itu dengan kehangatan yang biasa ia berikan pada Naya dulu.
"Inggih, Ummi... Rani nyuwun pangapunten dan nyuwun doa restunya," bisik Rani seraya menundukkan kepala sejajar dada, mencoba memasang raut serapuh mungkin.
Bu Nyai menghela napas pendek yang terdengar getir. "Nasi kuning ini dibuat cuma supaya rumah ini tidak betul-betul kehilangan adab menyambut status barumu. Silakan duduk."
Mereka berempat melingkari meja makan utama. Tidak ada perbincangan hangat tentang rencana masa depan, tidak ada gurauan khas pengantin baru. Kyai Ahmad mengangkat kedua tangannya, memimpin doa potong tumpeng dengan intonasi yang begitu dalam.
"Ya Allah... bimbinglah rumah tangga ini agar tidak lagi menjadi sumber fitnah bagi agama-Mu dan Pesantren Al-Anwar. Ampunilah kebodohan dan keangkuhan yang pernah tercipta di bawah atap ini..." meluncur doa dari bibir sang Kyai, yang rasanya lebih mirip sebagai lembaran introspeksi dan teguran terbuka bagi Reyhan dan Rani daripada sebuah restu kebahagiaan.
Reyhan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Setiap patah kata yang diucapkan ayahnya bagai jarum halus yang menusuk kesadarannya. Di meja makan yang sama ini, satu tahun lalu, ia dan Naya duduk berdampingan diselimuti tawa hangat Bu Nyai yang bangga. Kini, kursi di sampingnya diisi oleh Rani, tetapi kehangatan rumah itu telah musnah sepenuhnya.
**
Ujung pashmina warna koral yang dibelit anggun di leher Naya berkibar pelan disapu angin sore Kota Dubai. Udara hangat khas pesisir Teluk persis menyapa kulitnya saat ia melangkah melintasi gerbang utama University of Dubai. Kompleks akademis berbasis lanskap futuristik itu berdiri megah di bawah langit jingga yang jernih, menyajikan kontras yang begitu benderang jika dibandingkan dengan memori suram lereng pegunungan Pacet yang biasa dibungkus kabut dingin pelimpah duka.
Langkah kaki Naya terdengar berirama teratur, mengetuk permukaan porselen putih koridor kampus yang mengkilap. Ia mengenakan blazer terpotong rapi berwarna krem dipadu rok plisket panjang berwarna senada. Tak ada lagi sisa-sisa tatapan serba salah atau binar mata layu yang dulu kerap bertengger saat ia masih menjadi bayang-bayang di ndalem barat Pesantren Al-Anwar. Kini, kedua manik matanya memancarkan pendar kecerdasan, keteguhan, dan aura karisma yang membuat beberapa mahasiswa asing yang berpapasan dengannya tak segan mengangguk ramah.
Naya menghentikan langkah tepat di tengah pelataran atrium terbuka yang dikelilingi pohon-pohon palem buatan dan kolam air mancur berdesain modern. Ia menarik napas dalam-dalam, menikmati sensasi udara segar yang tak lagi berbau keputusasaan.
Aku benar-benar sampai di sini, bisik batinnya. Sebuah rasa syukur yang teramat dalam merayapi dinding dadanya.
Gelar Sarjana Psikologi yang dulu sempat ia kesampingkan demi pengabdian rumah tangga yang bertepuk sebelah tangan, kini menjadi pijakan kokohnya untuk melompat lebih tinggi. Universitas ini akan menjadi tempat ia menimba ilmu untuk program magister psikologi klinis, mematangkan jalannya menuju cita-cita lama yang sempat mati suri: menjadi seorang psikiater profesional.
Jemarinya yang ramping menggenggam erat folder kulit berisi berkas-berkas akademik dan surat penerimaan beasiswanya. Naya menyusuri selasar demi selasar, mengamati plang-plang ruangan berbahasa Arab dan Inggris: laboratorium neuropsikologi, ruang simulasi klinis, hingga perpustakaan digital bertingkat empat yang dinding kaca besarnya menghadap langsung ke deretan pencakar langit di kejauhan.
Saat sedang mengagumi jajaran atrium perpustakaan yang megah, langkah Naya terhenti oleh interaksi hangat di sudut selasar. Seorang pria bertubuh jangkung dengan jas dokter berwarna putih bersih tengah berdiskusi serius namun santai dengan dua orang mahasiswa tingkat akhir. Pria itu memegang sebuah sabak digital, sesekali menggerakkan tangannya saat menjelaskan suatu kasus dengan intonasi bahasa Inggris yang begitu artikulatif dan berwibawa.
Selesai berdiskusi, pria itu mengangguk kaku seraya tersenyum tipis, lalu membalikkan badan hendak melangkah menuju blok kantor pimpinan fakultas. Pada momen itulah, tatapan matanya tak sengaja beradu lurus dengan Naya yang berdiri beberapa meter di seberang koridor.
Namun sebelum langkah kakinya terayun mendekat, getaran panjang di dalam tas selempang kulit milik Naya memecah keheningan koridor. Jemari lentiknya merogoh layar telepon pintar yang menyala terang. Di sana, nama sang ibu—Umma Mahera—terpampang indah, membawa secercah hangat yang langsung meluluhkan sisa-sisa hawa dingin yang sempat bersarang di relung hatinya.
"Assalamu’alaikum, Umma..." sapa Naya. Suaranya lembut namun renyah, mengayun ringan di antara pilar-pilar tinggi atrium universitas.
"Wa’alaikumsalam, Nduk cah ayu..." Suara di seberang sana bergetar halus, sarat akan kerinduan yang ditahan sejak kemarin. "Bagaimana kabarmu, Naya? Sudah sampai di mana? Umma dari tadi pagi mau telepon takut ganggu jam istirahatmu."
Naya melangkah pelan menyusuri selasar berlantai marmer mengkilap, membiarkan angin sore Kota Dubai membelai pashmina kremnya.
"Alhamdulillah, Naya sehat, Umma. Naya sudah sampai dari kemarin sore. Di jemput sama Mas Danang dan Mbak Sarah, langsung diantar ke apartemen. Ini Naya lagi di kampus, Umma. Lagi keliling melihat-lihat suasana tempat Naya kuliah nanti."
Terdengar helaan napas lega yang begitu dalam dari ibundanya. "Alhamdulillah ya Allah... Bagaimana kesan pertamamu di sana, Nduk? Lingkungannya membuatmu nyaman?"
Langkah Naya terhenti di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke deretan taman kota berkonsep futuristik. Sebuah senyuman mekar sempurna di wajah cantiknya—senyum tulus yang sudah lama tidak pernah singgah selama satu tahun mengurung diri dalam dinginnya ndalem barat.
"Naya senang sekali, Umma. Bahagia rasanya. Kampusnya luar biasa bagus, fasilitas laboratoriumnya lengkap, dan atmosfer akademisnya sangat hidup. Naya benar-benar tidak sabar untuk segera mulai masuk kuliah minggu depan."
Di seberang samudra, Umma Mahera mengusap sudut matanya yang mengembun. Mengingat bagaimana putri kebanggaannya itu dulu hampir kehilangan pendar kehidupannya akibat luka pengkhianatan di Pacet, mendengar binar semangat ini adalah hadiah terindah.
"Alhamdulillah... Umma ikut senang dengarnya, Sayang. Ingat pesan Umma ya, jaga kesehatan, jangan sampai telat makan. Kalau ada apa-apa, sekecil apa pun, selalu kabari di grup keluarga. Kapan pun Naya kirim pesan, Abah, Umma, sama kakakmu pasti baca dan balas."
"Inggih, Umma. Matur nuwun sanget atas doa dan dukungannya. Naya janji bakal jaga diri baik-baik di sini," tutur Naya penuh kehangatan sebelum akhirnya pamit untuk melanjutkan kegiatannya.
Setelah sambungan telepon terputus, Naya menarik napas panjang. Udara Dubai yang bersih mengisi paru-parunya, mengikis habis sisa-sisa duka masa lalu. Ia kembali melangkah mantap, menjelajahi setiap sudut perpustakaan digital bertingkat empat yang akan menjadi rumah kedua baginya selama beberapa tahun ke depan.
***
emang bener ya pelakor itu tdk harus cantik semok yg penting menggatal
jd inget artis penyanyi religi yg itu jd istri siri selama dua tahun baru terungkap, giliran terungkap jawaban klise khilaf pret lah khilaf apa doyan masa khilaf smpe dua tahun😄😄😄
tapi nusuk dari belakang
dengan penghianatan sama dengan nginjek"harga diri Bu nyai dan pa kiai
. kalau sekarang ternyata rasanya🤣🤣🤣🤣