Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.
Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Hilang Arah
Malam berangsur larut ketika Dirga menuntun sepeda motornya menembus dinginnya jalanan ibu kota. Tanpa helm yang utuh, angin malam berembus menusuk pori-pori kulitnya, merayap hingga ke tulang. Jarinya yang terluka akibat goresan kaca helm masih meneteskan darah tipis, meninggalkan jejak merah yang mengering di atas stang motor. Hatinya hancur berkeping-keping, hampa tanpa sisa. Makian dari orang tua Eri dan pandangan jijik di kafe tadi sore terus berputar di pikirannya seperti gema tak berujung.
Esoknya sinar mentari pagi menusuk matanya saat ia terbangun di kamar yang sempit. Dirga tidak sempat memejamkan mata walau sekejap. Tanpa sarapan, ia memaksakan tubuhnya yang letih dan tak berdaya untuk mengenakan seragam petugas kebersihan. Ia harus bekerja. Di tengah penderitaan yang mengimpit, ia masih memikul beban utang kasbon lima juta rupiah yang kemarin ia tanda tangani demi membelikan tas mewah untuk wanita yang kini menghianatinya.
Pukul tujuh pagi, Dirga sudah berada di gedung perkantoran perusahaan investasi megah tempatnya bekerja. Langkah kakinya menyusuri lorong berlantai marmer yang berkilau, memegang erat gagang tongkat pel dan kain pembersih. Pikirannya sama sekali tidak berada di tempat itu.
"Dirga! Kamu dengar saya tidak?!"
Sebuah suara melengking memecah lamunan Dirga, membuatnya terperanjat kaget. Seorang supervisor operasional berdiri di hadapannya dengan wajah masam dan tangan bersedekap.
"Maaf, Pak Bambang... Maafkan saya. Ada apa, Pak?" tanya Dirga gagap, berusaha merapikan posisi berdirinya.
Bambang menatap Dirga dengan pandangan penuh rasa curiga dan ketidaksenangan. "Kamu itu dari tadi dipanggil tidak menyahut! Lihat mukamu, pucat seperti mayat, baju kusut, dan tanganmu dibebat kain kotor begitu! Ada apa denganmu?"
"Saya... saya cuma kurang tidur, Pak Bambang," dalih Dirga pelan, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Jangan menjadikan alasan pribadi sebagai penghambat pekerjaan!" bentak Bambang tanpa simpati. "Pagi ini Pak Hendra, Direktur Utama, ada rapat penting dengan investor asing pukul sembilan. Kamu harus bersihkan ruang direksi sekarang juga. Pastikan semuanya mengilap tanpa debu sebutir pun. Kalau ada kesalahan sedikit saja, saya yang kena semprot!"
"Baik, Pak Bambang. Saya kerjakan sekarang," sahut Dirga seraya mengangguk cepat.
Ia mendorong troli peralatannya menuju lantai tertinggi gedung tempat ruang direksi berada. Pintu kayu jati tebal berkilap dibuka perlahan. Ruang kerja direktur itu begitu luas, beraroma kayu cendana dan kemewahan yang mengintimidasi. Di sudut ruangan, berdiri sebuah meja kayu antik yang menopang sebuah vas keramik kuno bermotif naga, benda kesayangan Pak Hendra yang konon bernilai puluhan juta rupiah dan diimpor langsung dari luar negeri.
Dirga mulai menyapu dan mengelap permukaan meja. Namun, setiap kali ia memegang kain lap, bayangan wajah Eri yang tertawa bersama Leon di kafe kembali terbayang. Kata-kata Bu Maya yang menyebutnya anjing kurap meracuni setiap sudut logikanya. Dadanya sesak, pandangannya mendadak kabur oleh genangan air mata yang tak sanggup ia tahan lagi. Jemarinya yang terbalut kain kusam bergetar hebat.
Tanpa sengaja, siku tangan Dirga menyenggol dudukan vas keramik antik tersebut saat ia berusaha mengelap sudut meja.
Klek... PRANG!
Suara pecahan barang pecah belah memecah keheningan ruang direksi yang sunyi. Vas bunga antik bermotif naga itu jatuh menghantam lantai marmer tebal dan hancur berkeping-keping. Air penyiram bunga dan tangkai-tangkai mawar menyebar membasahi lantai marmer yang bersih.
Dirga membeku. Darahnya serasa berhenti mengalir secara mendadak. Matanya membelalak menatap pecahan keramik bernilai fantastis yang kini berserakan di sekitar kakinya.
"Ya Tuhan... tidak..." bisik Dirga dengan suara yang hilang, lututnya lemas hingga ia hampir terjatuh.
Belum sempat Dirga memungut pecahan tersebut, pintu ruang direksi terdorong buka dengan kasar. Pak Bambang masuk bersama seorang pria berbadan tegap bersetelan jas hitam rapi, Pak Hendra, sang Direktur Utama.
"Suara apa itu, ASTAGA!" teriak Bambang histeris saat melihat pemandangan di dalam ruangan.
Wajah Pak Hendra seketika berubah merah padam. Matanya menatap pecahan vas kesayangannya di lantai, lalu beralih menatap Dirga yang berdiri gemetar dengan wajah pucat pasi.
"Dirga! Apa yang kamu lakukan?!" pekik Bambang dengan nada panik luar biasa. "Kamu tahu tidak apa yang baru saja kamu hancurkan?! Itu vas antik koleksi pribadi Pak Hendra!"
"Maafkan saya, Pak... Tolong maafkan saya..." cicit Dirga, berlutut di lantai basah tanpa peduli celananya kotor. "Saya tidak sengaja... Tangan saya terpeleset..."
"Tidak sengaja kamu bilang?!" bentak Pak Hendra, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. "Kamu tahu berapa harga vas itu, OB bodoh?! Vas itu barang langka abad ke-19 yang harganya seratus lima puluh juta rupiah! Bekerja seumur hidupmu di sini pun kamu tidak akan sanggup menggantinya!"
"Pak Hendra, saya mohon... potong gaji saya, saya siap bertindak bertanggung jawab..." mohon Dirga seraya menungkupkan kedua tangannya di udara.
"Potong gaji?" Pak Hendra tertawa sinis dengan rasa jijik yang mendalam. "Gajimu yang seberapa itu mau dipakai mengganti barang berharga ratusan juta?! Bambang! Kenapa orang tidak becus seperti ini bisa dibiarkan membersihkan ruangan saya?!"
"Maafkan saya, Pak Hendra! Ini murni kelalaian anak ini!" kata Bambang cepat-cepat mencuci tangan dan menyalahkan Dirga sepenuhnya. "Saya sudah ingatkan dia berulang kali untuk hati-hati, tapi dia memang bekerja melamun terus dari tadi pagi!"
Pak Hendra mengibaskan tangannya dengan wajah penuh amarah. "Saya tidak mau melihat muka orang ini lagi di kantor saya! Panggil HRD sekarang juga! Urus pemecatannya detik ini juga!"
"Baik, Pak Hendra! Baik!" sahut Bambang seraya menarik kerah baju Dirga secara kasar hingga pemuda itu terpaksa berdiri. "Ayo berdiri kamu! Ikut saya ke ruang HRD!"
Ruang HRD terasa begitu dingin dan menekan. Seorang wanita paruh baya bersetelan kemeja rapi, Bu Rina, duduk di balik meja kerjanya dengan raut wajah serius. Di sampingnya berdiri Pak Bambang yang menatap Dirga dengan pandangan penuh rasa dendam dan permusuhan.
Dirga duduk di kursi kayu di hadapan Bu Rina dengan kepala tertunduk. Tangannya yang gemetar saling bertautan di atas paha.
Bu Rina mengambil sebuah map merah, membukanya, lalu menggeser selembar kertas putih berstempel resmi ke hadapan Dirga.
"Dirga, berdasarkan laporan dari Pak Bambang dan instruksi langsung dari Direktur Utama terkait kerusakan aset berharga milik perusahaan akibat kelalaian berat," ujar Bu Rina dengan nada suara formal yang dingin tanpa emosi, "perusahaan memutuskan untuk mengakhiri hubungan kerja denganmu terhitung mulai hari ini."
Dirga menatap kertas itu dengan pandangan kabur. Kata Surat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) tercetak tebal di bagian atas.
"Bu Rina... tolong beri saya kesempatan kedua..." bisik Dirga dengan suara yang serak dan memelas. "Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini, dan saya punya kewajiban kasbon yang harus dilunasi..."
Bu Rina menghela napas panjang, merapikan kacamata yang bertengger di hidungnya. "Kesempatan kedua tidak berlaku untuk kelalaian fatal yang merugikan pimpinan tertinggi, Dirga. Kebijakan perusahaan sangat tegas mengenai hal ini."
"Lalu... bagaimana dengan gaji saya bulan ini dan sisa uang kasbon saya, Bu?" tanya Dirga ragu, menaruh harapan terakhirnya pada sisa keringatnya selama tiga minggu terakhir.
Pak Bambang menyela dengan tawa meremehkan. "Gaji? Kamu masih berani menanyakan gaji, Dirga? Nilai vas antik yang kamu pecahkan itu seratus lima puluh juta! Gaji bulan ini dan sisa uang kasbonmu lima juta rupiah kemarin secara otomatis dipotong habis untuk menutupi sebagian kecil kerugian perusahaan! Kamu tidak berhak menerima pesangon satu rupiah pun!"
Kata-kata itu bagaikan petir di siang bolong yang menghancurkan sisa-sisa harapan Dirga. "Tapi Pak... kalau gaji saya dipotong habis dan tanpa pesangon, saya makan apa?"
"Itu bukan urusan perusahaan lagi!" tegas Bu Rina dingin, merapikan dokumen di mejanya. "Kamu beruntung Pak Hendra tidak membawa kasus ini ke jalur hukum atas tuduhan perusakan barang. Harusnya kamu berterima kasih karena tidak dijebloskan ke penjara."
Bu Rina menyodorkan sebatang pulpen ke tangan Dirga yang dingin. "Tanda tangani surat PHK ini sekarang, lalu serahkan ID card dan seragammu ke bagian operasional sebelum pukul dua siang."
Dirga memandangi pulpen di tangannya. Tangannya gemetar begitu hebat hingga coretan tanda tangannya di atas kertas itu tampak meliuk tak berdaya. Setiap goresan tinta itu menandai akhir dari mata pencahayaannya, akhir dari usahanya bertahan hidup secara jujur di kota yang kejam ini.
Setelah menandatangani surat itu, Dirga melepas kartu identitas karyawan yang menggantung di lehernya dan meletakkannya di atas meja.
"Sekarang keluar dari ruangan ini dan rapikan barang-barangmu," perintah Pak Bambang tanpa perasaan. "Jangan pernah menampakkan kakimu di gedung ini lagi."
Dirga berdiri perlahan dari kursinya. Tubuhnya terasa begitu ringan, bukan karena lega, melainkan karena jiwanya telah kosong ditelan penderitaan yang bertubi-tubi. Dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam, ia telah kehilangan segalanya, wanita yang ia cintai, harga diri yang diinjak-injak, helm peninggalan ibunya yang hancur, dan kini pekerjaan yang menjadi satu-satunya penopang hidupnya.
Ia berjalan keluar dari ruang HRD menyusuri lorong kantor. Beberapa rekan sesama petugas kebersihan menatapnya dari kejauhan dengan pandangan kasihan dan bisik-bisik yang tak berani tersampaikan. Dirga tidak menoleh, tidak juga menyapa. Pandangannya lurus menatap kosong ke depan.
Ketika sampai di ruang ganti karyawan, Dirga melepas seragam kebersihannya dan menggantinya dengan kemeja lusuh yang ia kenakan kemarin. Ia memasukkan pakaian kerjanya ke dalam loker, menutup pintunya dengan dentuman pelan, lalu melangkah keluar meninggalkan gedung perkantoran mewah itu.
Matahari siang menyengat kulitnya saat ia berdiri di trotoar depan gedung tinggi tersebut. Riuh kendaraan dan lalu lalang manusia urban seolah menertawakan posisinya yang kini benar-benar berada di titik terendah kehidupan. Tanpa uang, tanpa pekerjaan, tanpa tempat berlabuh, dan dituntut utang yang tak terbayar.