NovelToon NovelToon
SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA


Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.

Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.

Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Tok tok tok.

Rahman mengetuk pintu dengan gaya elegan.

Pria itu, Pak Wijaya, mendongak dengan wajah bingung.

"Bapak siapa?"

"Bagaimana bapak bisa masuk ke area kantor?"

Rahman masuk tanpa dipersilakan dan langsung duduk di kursi tamu.

"Aku Rahman Affandi, wali dari Budi."

"Aku datang ke sini untuk melaporkan kebocoran aset di pabrikmu ini."

Ucap Rahman langsung pada intinya, menggunakan gaya bicara sesama pengusaha.

Pak Wijaya mengerutkan keningnya, setengah tersinggung setengah penasaran.

"Kebocoran aset apa maksud bapak?"

"Pabrik saya ini pengawasannya sangat ketat."

"Ketat apanya?"

"Baru saja aku berkeliling dan menemukan anak buah kesayanganmu menyembunyikan gulungan benang sutra curian."

Rahman bersandar di kursi dan menyilangkan kakinya santai.

"Jangan sembarangan menuduh, Pak!"

"Siapa orang yang bapak maksud?" suara Pak Wijaya mulai meninggi.

"Tanya saja pada Joko."

"Coba kau periksa tong sampah biru di belakang gudang penyimpanan sekarang juga."

"Kalau aku berbohong, kau boleh laporkan aku ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik," tantang Rahman dengan sangat meyakinkan.

Melihat sorot mata Rahman yang penuh percaya diri, Pak Wijaya mulai ragu.

Akhir-akhir ini laporan inventaris pabrik memang sering tidak seimbang.

Banyak bahan baku berkualitas tinggi yang hilang tanpa jejak.

"Baik, kita buktikan ucapan bapak sekarang juga!"

Pak Wijaya segera berdiri dan memanggil dua orang petugas keamanan pabrik dari radio panggil.

Rahman mengikuti Pak Wijaya dan dua petugas keamanan itu turun ke area gudang.

Di saat yang sama, jam istirahat siang baru saja berbunyi.

Teng teng teng!

Banyak buruh yang mulai berhamburan keluar dari area produksi, termasuk Budi dan Joko.

Budi terkejut melihat bapak kosnya sedang berjalan berdampingan dengan manajer pabrik.

"Pak Rahman? Sedang apa bapak di sana?" batin Budi panik.

Ia segera berlari kecil mengikuti rombongan manajer itu dari belakang.

Joko yang juga melihat Pak Wijaya menuju ke belakang gudang mendadak pucat.

"Gawat, mau apa bos ke tempat pembuangan sampah?" gumam Joko cemas.

Setibanya di belakang gudang, Pak Wijaya menunjuk tong sampah biru berukuran besar.

"Buka tong sampah itu dan bongkar isinya!" perintahnya pada petugas keamanan.

Dua petugas itu langsung menumpahkan isi tong sampah ke tanah.

Braaaak!

Di antara tumpukan plastik dan sisa kain kotor, tersembunyi tiga karung goni putih yang diikat rapat.

Petugas keamanan membuka ikatan karung tersebut.

"Pak Manajer, isinya gulungan benang sutra kualitas ekspor yang hilang kemarin!" lapor salah satu petugas.

Mata Pak Wijaya membelalak sempurna melihat barang bukti tersebut.

Wajahnya langsung memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak.

Ia menoleh ke arah kerumunan buruh yang sedang menonton kejadian itu.

"Joko! Maju kamu ke sini sekarang juga!" teriak Pak Wijaya menggelegar.

Joko yang bersembunyi di belakang kerumunan langsung ditarik oleh teman-temannya ke depan.

Tubuh pria gempal itu gemetar hebat hingga keringat dingin membasahi kemejanya.

"P-Pak Wijaya, itu bukan punya saya, Pak."

"Saya tidak tahu menahu soal karung itu," Joko mencoba mengelak dengan suara bergetar.

"Jangan berbohong!"

"Bapak ini saksi mata yang melihatmu merencanakan pencurian ini dengan petugas sampah!"

Pak Wijaya menunjuk ke arah Rahman yang berdiri dengan senyum tipis.

Rahman melangkah maju dan menatap Joko dengan tajam.

"Kau mau mengelak?"

"Kau pikir dinding gudang ini tidak punya telinga saat kau merencanakan bagi hasil tadi pagi?"

Gertak Rahman menggunakan efek intimidasi pasifnya.

Joko langsung lemas dan jatuh berlutut di tanah.

Tekanan dari aura Rahman membuatnya tidak berani berbohong lagi.

"Maafkan saya, Pak Wijaya, saya khilaf!"

"Saya terpaksa mencuri karena butuh uang tambahan," tangis Joko pecah.

"Alasan murahan!"

"Satpam, bawa dia ke pos depan dan panggil polisi sekarang juga!"

"Kamu resmi saya pecat dengan tidak hormat hari ini juga, Joko!" putus Pak Wijaya tanpa ampun.

Dua satpam itu langsung menyeret Joko yang terus menangis meronta-ronta.

Para buruh lain berbisik-bisik kaget melihat kejadian dramatis tersebut.

Budi masih berdiri mematung, tidak percaya bahwa saingan terberatnya hancur dalam hitungan menit.

Dan semua itu adalah ulah bapak kosnya yang terkenal kikir itu.

Pak Wijaya menghela napas panjang dan menoleh pada Rahman.

"Terima kasih banyak, Pak Rahman."

"Kalau tidak ada bapak, pabrik saya bisa bangkrut perlahan-lahan karena tikus ini."

Pak Wijaya menyalami tangan Rahman dengan sangat hormat.

"Sama-sama, Pak Wijaya."

"Sebagai sesama pengusaha, aku sangat benci melihat pencurian aset berharga."

"Ah iya, tadi Anda bilang Anda kehilangan kandidat mandor karena pemecatan ini?" Rahman mulai memancing ke tujuan utamanya.

"Benar sekali, saya jadi pusing mencari penggantinya."

"Joko itu satu-satunya orang yang saya percaya, ternyata dia pengkhianat," keluh Pak Wijaya.

"Kalau Anda butuh orang jujur yang bahkan terlalu bodoh untuk berbohong..."

Rahman menunjuk ke arah Budi yang masih terbengong-bengong di kerumunan.

"Anak asuhku yang bernama Budi itu adalah pilihan paling aman untuk aset pabrikmu."

Pak Wijaya menatap Budi dengan pandangan menilai.

Ia tahu Budi adalah pekerja yang sangat rajin, meskipun jarang mencari muka kepadanya.

"Budi, maju ke sini!" panggil Pak Wijaya.

Budi berlari mendekat dengan langkah ragu-ragu.

"I-iya, Pak Wijaya?"

"Mulai shift sore ini, kamu saya angkat menjadi mandor kepala produksi menggantikan Joko."

"Gajimu naik dua kali lipat, tapi ingat, jangan pernah mengkhianati kepercayaanku seperti tikus tadi!" tegas Pak Wijaya.

Budi melongo seakan baru saja disambar petir di siang bolong.

"Mandor? Saya jadi mandor, Pak?"

"Alhamdulillah! Terima kasih banyak, Pak Wijaya!"

Budi membungkuk berkali-kali saking senangnya.

Ting!

[Misi Utama Harian Selesai.]

[Pengguna berhasil menyingkirkan saingan dan mengamankan posisi mandor untuk penyewa Budi.]

[Afeksi penyewa Budi mencapai tingkat tertinggi. Ia menganggap pengguna sebagai dewa penyelamat karirnya.]

[Hadiah: Tambahan umur 7 hari telah didistribusikan.]

[Hadiah: Voucher Bebas Biaya Air Kos selama setahun telah diaktifkan secara gaib.]

Rahman tersenyum lebar hingga memamerkan deretan giginya yang sudah tidak lengkap.

Voucher air gratisnya akhirnya aman di tangan.

"Baguslah kalau urusannya sudah selesai."

"Ini kartu identitasmu Budi, jangan sampai tertinggal lagi besok."

Rahman melemparkan ID Card itu ke dada Budi dan langsung berbalik pergi.

"Pak Rahman, tunggu Pak!" panggil Budi sambil berlari menyusul pria tua itu.

Rahman terus berjalan keluar gerbang pabrik tanpa menghentikan langkahnya.

"Ada apa lagi?"

"Jangan bilang kau mau memelukku sambil menangis di pinggir jalan ini."

"Saya cuma mau bilang terima kasih yang sebesar-besarnya, Pak."

"Bapak sengaja datang jauh-jauh ke sini untuk menolong masa depan saya kan?" tanya Budi dengan mata berkaca-kaca haru.

"Jangan geer kamu, buruh pabrik!"

"Aku melakukan ini supaya aku punya alasan menaikkan uang sewamu bulan depan!"

"Karena gajimu naik dua kali lipat, uang sewa kamarmu juga naik seratus ribu rupiah!" ancam Rahman mengarang alasan klise andalannya.

Budi tidak marah sama sekali mendengar ancaman kenaikan harga itu.

Ia malah tertawa lebar dan mengangguk penuh semangat.

"Jangankan seratus ribu, Pak."

"Saya traktir bapak makan sate kambing paling enak di kota ini malam nanti!"

"Siapa bilang aku suka sate kambing?"

"Tapi karena kamu memaksa, aku tidak akan menolak makanan gratis."

"Awas saja kalau sate yang kamu beli porsinya sedikit!" gerutu Rahman sambil menyembunyikan senyumnya.

Siang itu, Rahman pulang ke kontrakannya dengan perasaan yang luar biasa ringan.

Langkah kakinya seirama dengan detak jantungnya yang sehat.

Berbuat jahat untuk tujuan yang baik ternyata sangat menyenangkan bagi seorang mantan lintah darat sepertinya.

1
REY ASMODEUS
sistemnya pelit kasih hadiahnya bisa gini thor : 1 . peremajaan kulit
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.

ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...
REY ASMODEUS
lanjutkan........ pilih nomor 2..... 🤣🤣🤣
Nissa Safira: SIAP KAK! Nomor 2 emang paling memuaskan 🤣🤣
Lanjut ya kak, besok Budi bangun lihat gepokan duit di bantal + surat "jangan mabuk lagi atau sewa naik 3x lipat" pasti nangis kejer peluk kaki Rahman.
Makasih kak udah pilih nomor 2! malam ini saya lanjutin lagi misi renovasi kamar mandi gratisnya 🤣🤣😁🙏
total 1 replies
REY ASMODEUS
saya akan lawan,,, hidup rahman💪💪💪💪💪
REY ASMODEUS
siap tuan takur 🤣🤣
Nissa Safira: Siap! Bagus. Karena kamu siap, uang sewa komen naik 100rb ya. Bayar pake love & bintang 5. Jangan lupa setoran! 🤣🤣
total 1 replies
REY ASMODEUS
rasain loe tuan takarrrr🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: Rasain emang kak 😂 50rb aja pelitnya minta ampun, giliran sisa umur 7 hari baru panik. Tungguin kak bakal nangis tuh si rahman 🤣🙏
total 1 replies
Diana Lely
semangat thor
Nissa Safira: Semangat juga buat kakak! 🔥🔥
Makasih banyak kak udah mampir di kos pelitnya Pak Rahman🥰
Doain Rahman biar gak jantungan lagi pas disuruh sedekah🤣🤣
total 1 replies
xebeck D ron
Yoo novel baru
Nissa Safira: Hallo kak 🤣🔥 Iya kak novel baru😂
Selamat datang di kos-kosan dan kontrakan paling pelit se-Indonesia
Kenalin kak, ini Rahman 68 tahun bapak kos paling perhitungan, surga neraka baginya cuma soal uang sewa🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!