Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 - SERANGAN DI JALAN TOL
Bau anyir darah segar bercampur dengan aroma mesiu memenuhi ruang kerja lantai 50. Leon, sang kepala divisi logistik yang semalam asyik foya-foya, kini tergeletak tak bernyawa di atas karpet mahal Valeria. Sebuah lubang peluru menganga tepat di tengah dahinya, masih mengeluarkan asap tipis.
Valeria berdiri menjulang di atas mayat itu. Tangannya memegang pistol Glock-19 yang baru saja dia tembakkan. Wajah cantiknya luar biasa dingin, nggak ada setitik pun penyesalan setelah mencabut nyawa orang yang udah bekerja padanya selama lima tahun.
"Bersihin mayatnya," perintah Valeria membuang muka, menyimpan kembali pistolnya ke dalam laci.
Bastian yang berdiri di dekat pintu langsung menelan ludah. "B-baik, Nyonya."
Beberapa menit sebelum peluru itu bersarang di kepalanya, Leon yang udah nangis-nangis ketakutan akhirnya membocorkan semuanya. Persis seperti tebakan mereka, Tetua Haris adalah dalang utamanya. Haris bener-bener gila. Pria tua bangka itu nggak cuma ngebocorin rute konvoi senjata di utara, tapi malam ini juga dia berencana menyerahkan akses gudang persenjataan utama klan di sektor barat langsung kepada Klan Viper.
"Haris pikir dia bisa ngegulingin aku dengan cara ngasih kunci rumah kita ke musuh? Benar-benar idiot," desis Valeria murka. Tangannya mengepal kuat menahan amarah yang mendidih.
"Kita tidak bisa membiarkan Viper mengambil alih gudang utama, Val. Kalau mereka berhasil mengamankan stok senjata berat kita di barat, klan ini akan kalah persenjataan dalam waktu kurang dari seminggu," lapor Kael serius. Pria itu berdiri tegap di samping meja, otaknya sudah merancang belasan skenario pertahanan.
"Siapkan konvoi, Bastian. Kita berangkat ke sektor barat sekarang juga. Kumpulin semua anak buah elit yang lagi *stand by*. Malam ini kita ratakan Haris dan anjing-anjing Viper itu," perintah Valeria mutlak.
"Siap, Nyonya! Saya akan siapkan tiga SUV anti peluru di *basement* sekarang," seru Bastian langsung berlari keluar ruangan untuk memberi komando.
Valeria berjalan ke arah lemarinya, mengganti gaun merahnya yang cantik dengan setelan celana kargo hitam, kemeja gelap, dan jaket kulit anti peluru yang ngepas di badan. Dia kembali mengikat rambutnya tinggi-tinggi. Ratu mafia itu udah siap tempur.
Kael terus menempel di dekatnya, matanya waspada mengawasi setiap pergerakan.
Setengah jam kemudian, konvoi tiga mobil Range Rover hitam melesat menembus hujan deras yang mengguyur kota menjelang subuh. Jalanan sangat sepi. Lampu-lampu jalanan terlihat buram tertembus tirai air hujan.
Valeria duduk di kursi belakang mobil tengah. Kael duduk di kursi penumpang depan, matanya setajam elang memindai jalanan dan kaca spion, sementara seorang anak buah elit klan bernama Riko bertugas di balik kemudi. Mobil depan dipimpin oleh Bastian, dan mobil belakang diisi oleh regu penembak jitu klan.
"Gimana bahumu? Masih bisa dipakai nembak?" tanya Valeria pelan dari kursi belakang, memecah keheningan kabin yang tegang.
Kael menoleh sedikit ke belakang. "Jahitannya berkedut sedikit, tapi otot bahu saya masih berfungsi seratus persen, Val. Anda tidak perlu khawatir."
"Jangan memaksakan diri. Kalau nanti kita baku tembak di gudang, kamu tetap di belakangku. Aku nggak mau tamengku hancur sebelum perang benar-benar dimulai," omel Valeria dengan nada judes yang khas, meski di baliknya Kael tahu wanita itu cuma gengsi buat nunjukin rasa khawatirnya.
"Seperti yang Anda perintahkan, Nyonya," balas Kael dengan senyum sangat tipis yang nyaris nggak kelihatan.
Konvoi mereka berbelok masuk ke jalan tol layang lingkar luar yang mengarah langsung ke sektor barat. Jalan tol itu kosong melompong. Nggak ada satu pun mobil sipil yang melintas di jam empat pagi begini dengan cuaca badai. Hujan turun makin brutal, memukul atap mobil dengan suara bergemuruh.
Perasaan Kael mendadak nggak enak. Insting monsternya yang selama ini selalu menyelamatkan nyawanya mulai berteriak memperingatkan bahaya.
Kael duduk tegak, matanya memicing menembus kegelapan jalan tol di depan. Ada sebuah jembatan penyeberangan terbengkalai melintang di atas jalan tol sekitar dua ratus meter di depan mereka.
"Riko, kurangi kecepatan. Jaga jarak dengan mobil Bastian," perintah Kael tajam.
"Baik, Bang Kael," sahut Riko langsung mengangkat kakinya dari pedal gas sedikit.
Tepat saat mobil Bastian yang berada di depan melaju melewati bagian bawah jembatan penyeberangan itu, kegelapan malam mendadak dirobek oleh kilatan cahaya terang benderang dari arah atas jembatan.
*WUSSSSH!*
Sebuah roket RPG meluncur ke bawah dengan kecepatan gila, menghantam tepat di bagian kap depan mobil Bastian.
*BLAAAR!*
Ledakan dahsyat memekakkan telinga meletus di tengah jalan tol. Api berkobar hebat menembus tirai hujan. SUV anti peluru seberat tiga ton itu terpelanting ke udara, terguling beberapa kali di atas aspal dengan suara decitan logam yang mengerikan, lalu mendarat dengan posisi terbalik, menghalangi seluruh ruas jalan.
"BASTIAN!" jerit Valeria kaget, mencondongkan tubuhnya ke depan menatap horor ke arah mobil anak buahnya yang kini dilalap api.
"Riko! Rem! Banting kiri!" teriak Kael kalap.
Riko yang panik langsung menginjak pedal rem dalam-dalam sambil membanting setir. Ban mobil berdecit nyaring bergesekan dengan aspal basah. SUV yang mereka tumpangi melintir liar, nyaris menabrak pembatas jalan tol, sebelum akhirnya berhenti melintang hanya berjarak belasan meter dari puing mobil Bastian yang terbakar.
Belum sempat mereka bernapas lega karena lolos dari tabrakan, terdengar suara klakson keras dari arah belakang.
Kael melirik kaca spion samping dan matanya langsung melotot. Sebuah truk kontainer besar yang entah muncul dari mana melaju kencang tanpa menyalakan lampu, langsung menghantam SUV ketiga di barisan belakang mereka.
*BRAAAK!*
Mobil berisi regu penembak klan itu ringsek parah dihantam truk, terseret beberapa meter hingga menabrak pembatas beton. Truk itu lalu berhenti melintang, memblokir total jalan mundur mereka.
Konvoi sang ratu mafia kini terjepit sempurna di tengah jalan tol layang. Mobil depan hancur, jalan belakang diblokir. Ini bukan kebetulan. Ini adalah penyergapan yang direncanakan dengan sangat matang.
"Sialan! Kita dikepung!" umpat Valeria merogoh kedua pistol Glock dari pinggangnya, wajahnya pias tapi penuh amarah.
"Tundukkan kepala Anda, Val! Jangan dekat-dekat dengan kaca!" perintah Kael dengan suara bariton yang menggema keras di dalam kabin. Tangannya dengan cepat mencabut dua pistol otomatis dari balik jaketnya.
Dari arah jembatan penyeberangan dan dari balik badan truk kontainer di belakang, puluhan kilatan cahaya senapan mesin mulai menyala.
*TATATATATATA!*
Hujan peluru menghantam SUV mereka dari segala arah. Kaca anti peluru mobil itu memang kuat, tapi rentetan tembakan senapan serbu kaliber besar secara terus-menerus mulai membuat retakan-retakan putih berbentuk sarang laba-laba di seluruh kaca jendelanya. Suara peluru yang menghantam badan mobil terdengar seperti hujan batu es di atas atap seng. Sangat berisik dan mematikan.
"Bangsat! Mereka pakai peluru tajam penembus baja!" teriak Riko panik dari balik kemudi. Pria itu meringkuk serendah mungkin berlindung di bawah *dashboard*.
"Kael! Kita nggak bisa diam aja di sini jadi sasaran tembak! Kacanya bakal jebol bentar lagi!" seru Valeria menutupi kepalanya dengan kedua tangan, sesekali mengintip ke luar melihat moncong-moncong senjata musuh yang terus memuntahkan peluru.
Kael mengepalkan rahangnya. Otaknya berputar sangat cepat. Mobil Bastian di depan terbakar, tapi Kael melihat ada celah sempit di antara mobil itu dan pembatas jalan sebelah kanan. Celah itu cukup lebar untuk dilewati SUV mereka jika dimiringkan sedikit, tapi butuh manuver tingkat dewa di aspal yang super licin ini.
"Riko! Injak gas sekarang! Terobos celah di kanan mobil Bastian!" perintah Kael mutlak.
"Nggak muat, Bang! Ban kita selip! Kalau nyenggol apinya kita bisa ikut meledak!" bantah Riko histeris, nyalinya udah ciut duluan melihat kobaran api dan hujan peluru di depannya.
Tiba-tiba, suara kaca pecah terdengar nyaring.
*PRANG!*
Satu peluru *sniper* berhasil menembus kaca depan sebelah sopir yang sudah retak parah. Peluru itu melesat cepat dan bersarang telak di bahu kiri Riko.
"AAARGH!" jerit Riko kesakitan. Pria itu memegangi bahunya yang menyemburkan darah, tubuhnya merosot dari balik kemudi, tak berdaya menahan sakit.
"Riko!" pekik Valeria panik dari belakang.
Mobil mereka kini benar-benar kehilangan kendali, menjadi peti mati baja yang menunggu waktu untuk hancur. Kaca spion hancur, bodi mobil bolong-bolong, dan tembakan dari luar sama sekali nggak menunjukkan tanda-tanda mereda. Pasukan Viper bener-bener niat menghabisi sang ratu malam ini.
Kael menatap kondisi Riko yang udah nggak mungkin bisa nyetir lagi. Pria jangkung itu membuang napas kasar. Di tengah hujan peluru dan bau kematian yang menyengat, insting monster sang bayangan kembali mengambil alih sepenuhnya.
Kael memutar tubuhnya menghadap ke belakang, menatap Valeria yang sedang meringkuk di jok. Di mata Kael, nggak ada kepanikan sama sekali. Yang ada hanyalah tekad baja untuk membuat ratunya tetap hidup.
"Val, pegangan yang kuat," perintah Kael dengan nada sedingin es, matanya berkilat mematikan.
Tanpa mempedulikan peluru yang mendesing masuk dari lubang kaca, Kael melepaskan *seatbelt*-nya, bersiap melakukan hal gila untuk mengambil alih kendali mobil dari kursi penumpang.