NovelToon NovelToon
Salah Kirim Pesan Ke CEO: Magang Jadi Cinta

Salah Kirim Pesan Ke CEO: Magang Jadi Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Identitas Tersembunyi / Beda Usia
Popularitas:989
Nilai: 5
Nama Author: sphinxeditz77

Satu pesan yang salah kirim mempertemukan Andrian Pratama, seorang mahasiswa tingkat akhir, dengan Elena, wanita dewasa yang ternyata merupakan CEO sebuah perusahaan besar.

Awalnya, mereka hanya berbicara lewat pesan. Tanpa sengaja, percakapan sederhana itu berubah menjadi kebiasaan yang membuat keduanya semakin dekat.

Masalahnya, Andrian kemudian menjalani magang di perusahaan tempat Elena bekerja.

Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin rumit. Di satu sisi, Elena adalah CEO yang harus menjaga profesionalitas. Di sisi lain, bagi Andrian, Elena adalah wanita yang sudah menjadi bagian penting dari kesehariannya.

Dari pesan singkat, pertemuan tak sengaja, hingga akhirnya menjadi pasangan, keduanya mulai membangun hubungan yang mereka kira sederhana.

Namun, semakin dekat mereka satu sama lain, semakin banyak hal yang belum mereka ketahui.

Karena terkadang, orang yang paling dekat dengan kita justru menyimpan rahasia yang paling besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan yang Bukan Kebetulan

Hujan masih turun membasahi jalanan Jakarta ketika Elena dan Andrian meninggalkan pelataran hotel. Tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara selama beberapa menit pertama. Suara deru mesin mobil dan gesekan wiper di kaca depan menjadi satu-satunya pengisi kabin yang terasa semakin dingin dan sempit.

Di kursi penumpang, Elena duduk kaku sambil memegang foto usang yang mereka temukan di ruang penyimpanan bawah tanah. Tangannya tidak berhenti membalik-balik selembar kertas foto itu, seolah berharap deretan tulisan tinta merah di belakangnya akan berubah jika ia terus menatapnya.

Kesepakatan pertama gagal. 18 Juni 2026.

Tanggal itu membuat pikirannya sangat kacau. Itu adalah tanggal ketika hidupnya berubah tanpa ia sadari. Tanggal ketika sebuah dokumen nyasar masuk ke ponselnya dan membuatnya mengenal sosok Andrian Pratama.

Elena menoleh ke luar jendela, menatap pendaran lampu jalan yang buram oleh air hujan. "Jadi selama ini..." Suaranya terdengar sangat pelan, hampir tertelan derau mesin.

Andrian tetap mengunci pandangannya ke jalanan, rahangnya mengeras. "Jangan mengambil kesimpulan terlalu cepat, El."

"Tapi tanggalnya sama, Andrian." Elena menoleh, menatap pemuda itu dengan mata berkaca-kaca. "Kesepakatan pertama gagal pada tanggal delapan belas. Dan di malam yang sama persis... kamu tidak sengaja mengirimkan file tugas kuliahmu ke nomorku."

Andrian terdiam. Ia meremas kemudi mobil lebih erat.

"Bagaimana kalau pesan salah kirim itu... sebenarnya bukan kesalahan?" tanya Elena dengan suara bergetar.

Pertanyaan itu membuat Andrian perlahan mengurangi kecepatan mobilnya. Ia tidak langsung membalas karena pertanyaan mengerikan itu juga sudah bersarang di kepalanya sejak ia membaca tulisan di balik foto tersebut. Selama ini, ia menganggap pertemuan mereka sebagai sebuah takdir konyol. Andrian yang kelelahan mengerjakan tugas, salah menyimpan nomor percetakan, mengirim file, dan Elena yang biasanya abai entah mengapa malam itu membalas pesannya.

Dari insiden memalukan itu, lahir obrolan canggung, kedekatan, hingga akhirnya berkembang menjadi hubungan yang jauh lebih serius.

Namun malam ini, di tengah hujan Jakarta, realitas mereka dihantam kenyataan bahwa 18 Juni adalah hari kegagalan sebuah kesepakatan rahasia ayahnya.

"Aku juga sedang memikirkannya," jawab Andrian akhirnya, suaranya berat.

Elena kembali menunduk menatap foto itu. Tiba-tiba ia merasa dunianya kehilangan pijakan. "Kalau memang ada seseorang yang sengaja mengatur pertemuan kita dari balik layar... untuk apa?"

Andrian menoleh sekilas, menatap Elena dengan sorot mata yang penuh kelembutan namun tegas. "Itu yang harus kita cari tahu."

Mereka tiba kembali di penthouse hampir pukul delapan malam. Maya sudah menunggu di ruang tengah dengan raut wajah cemas.

Begitu pintu lift terbuka, Maya langsung berdiri dari sofa. "Bu Elena."

Elena melangkah masuk tanpa membalas sapaan, langsung meletakkan tasnya di atas meja. Maya yang sudah bertahun-tahun mendampingi Elena langsung tahu ada sesuatu yang sangat tidak beres.

"Bagaimana hasilnya di hotel?" tanya Maya, menatap Elena dan Andrian bergantian.

Sebagai jawaban, Elena menyerahkan foto tersebut kepada Maya. Maya membalik foto itu dan membaca tulisan merahnya. Wajahnya perlahan berubah pias. "18 Juni?"

Andrian mengangguk sambil melepaskan jasnya. "Orang misterius yang mencegat kami di hotel mengisyaratkan ada kesepakatan gagal yang berkaitan langsung dengan masa depan Bu Elena."

"Dan pada tanggal 18 itu juga, Andrian pertama kali menghubungiku," simpul Elena ngeri. Ia menjatuhkan diri ke sofa, memijat pelipisnya.

Maya bergegas menghampiri meja kerjanya. "Berarti kita harus menguliti apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu. Termasuk bagaimana file tugas kuliah Andrian bisa masuk ke nomor pribadi Bu Elena."

Andrian merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. "Aku masih menyimpan riwayat chat pertama kita."

Elena mendongak. "Kamu belum menghapusnya?"

"Tentu saja tidak," jawab Andrian, memberikan sedikit kehangatan di tengah suasana tegang.

Maya dan Elena mendekat. Di layar ponsel Andrian, tanggalnya tertera dengan sangat jelas: 18 Juni 2026. Pukul 21.13.

Terdapat sebuah lampiran dokumen berbunyi: Tugas_Akhir_AndrianP.pdf. Di bawahnya menyusul sebuah teks darinya: "Malam Pak, tolong di-print hitam putih rangkap dua ya. Besok pagi jam 7 saya ambil di ruko."

Lalu, balasan dari Elena sepuluh menit kemudian: "Maaf, Anda salah nomor. Ini bukan percetakan."

Secara kasat mata, semuanya terlihat seperti chat nyasar biasa. Terlalu normal.

Andrian mengernyitkan dahi, mengingat kembali kejadian malam itu. "Waktu itu, aku yakin seratus persen aku mengetuk kontak bernama 'Percetakan Bintang' di ponselku. Aku menyalin nomornya langsung dari brosur yang kubawa dari kampus."

"Maya," Andrian menoleh cepat. "Tolong hubungkan ponselku ke laptopmu. Ekstrak raw database dari aplikasi pesan ini. Aku butuh melihat metadatanya, bukan cuma tampilan antarmuka di layar."

Tanpa banyak tanya, Maya segera menyambungkan kabel data. Jari-jarinya menari cepat di atas keyboard. Beberapa saat kemudian, deretan kode logaritma yang rumit muncul di layar laptopnya.

"Dapat," kata Maya. "Ini baris kode log untuk pengiriman file dan pesan pertama itu."

Andrian mencondongkan tubuhnya ke depan layar. Matanya menelusuri baris angka tersebut sebelum akhirnya terhenti pada satu titik. "Ini dia."

Elena ikut menunduk. "Apa yang kamu temukan?"

"Lihat baris routing ini," Andrian menunjuk deretan angka di layar laptop. "Pesan ini memang kukirim. Tapi ada anomali di sistem tujuannya. Saat aku menekan tombol kirim pada pukul 21:12:58, sistem mencatat nomor tujuan aslinya adalah nomor percetakan itu. Tapi lihat di detik 21:13:04... terjadi intersepsi."

Elena mengerutkan kening. "Intersepsi?"

Andrian mengangguk lambat, rahangnya menegang. "Ada injeksi script otomatis. Sebuah malware tersembunyi mencegat perintah pengirimanku, lalu menukar nomor percetakan itu dengan nomor pribadimu tepat enam detik sebelum pesan benar-benar terkirim ke server."

Dada Elena terasa sesak. Udara di sekitarnya seolah tersedot habis. "Jadi... kamu benar-benar mengirimnya ke percetakan. Tapi seseorang meretas jalur komunikasi itu untuk membelokkannya ke nomorku?"

"Ya," jawab Andrian getir. "Seseorang menjadikan ponselku sebagai alat untuk menjangkaumu."

Kenyataan itu menghantam Elena lebih keras dari apa pun. Debaran jantungnya saat penasaran membalas pesan Andrian dulu, obrolan-obrolan awal mereka, percikan asmara yang tumbuh perlahan—semuanya dikondisikan oleh serangkaian kode dingin tanpa perasaan. Mereka berdua hanyalah pion.

Melihat Elena memucat dan kehilangan kata-kata, Andrian meraih tangan wanita itu. Genggamannya hangat dan erat.

"Elena, dengar aku," suara Andrian melembut, membawa Elena kembali dari lamunannya. "Mungkin awal pertemuan kita direkayasa dengan cara yang paling manipulatif. Tapi apa yang terjadi setelah malam itu... caraku mengenalmu, rasa peduliku, dan perasaanku padamu saat ini, itu murni milik kita. Bukan buatan sistem."

Elena menatap mata Andrian. Ada ketulusan luar biasa di sana yang membuat napasnya kembali teratur. Ia mengangguk pelan. "Aku tahu."

Namun, Maya tiba-tiba menginterupsi momen itu. Suaranya bergetar ngeri. "Bu... Andrian... ada yang lebih parah."

Keduanya langsung menoleh. "Apa lagi, Maya?"

"Saya menelusuri ke mana script pembelok pesan itu melapor. Dan ping pelacakannya mengarah langsung ke sistem keamanan jaringan penthouse ini."

Maya membuka jendela layar baru di laptopnya, menampilkan catatan log keamanan pribadi Elena. Terdapat sebuah nama perangkat tidak dikenal yang berhasil membobol pertahanan siber firewall NSM dan membuka backdoor agar pesan nyasar dari Andrian tidak diblokir oleh filter spam ponsel Elena.

Nama perangkat itu hanya terdiri dari satu baris kaku:

DEVICE-03

"Device 03?" gumam Elena.

Andrian langsung teringat ruangan gelap di perusahaan. "Ruang 03."

"Perangkat ini menginfiltrasi sistem Bu Elena tepat pada 18 Juni, pukul 20.47. Satu jam sebelum Andrian mengirim file tugasnya," jelas Maya, matanya memindai layar dengan cepat. "Dan menurut log ini, perangkat tersebut terus memonitor ponsel Ibu secara pasif hingga terakhir kali aktif pada tanggal 29 Juni 2026. Pukul 03.12 dini hari."

Elena mengerutkan kening. "Perangkat itu menyadapku selama sebelas hari, lalu mati begitu saja? Kenapa?"

Andrian menyilangkan tangan di dada, pikirannya berpacu. "Kesepakatan ayahmu terjadi tanggal 17 Juni. Skrip pembelokan pesan dieksekusi tanggal 18 Juni. Lalu selama sebelas hari, si pengawas dari Ruang 03 memonitor obrolan kita, memantau apakah kita benar-benar saling merespons atau tidak. Apa yang terjadi pada tanggal 29 Juni, Elena?"

Elena memejamkan mata, memaksakan otaknya membongkar arsip kenangan dari masa lalu yang terasa seperti potongan gambar acak. Rapat. Tanda tangan kontrak. Makan siang. Pesan-pesan ringannya dengan Andrian. Lalu...

Elena membuka matanya dengan sentakan pelan. "Tunggu. Aku ingat."

"Apa yang terjadi?"

"Pada sore tanggal 29 Juni, Ayah mendadak memintaku pulang ke rumah utama. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Dia menyuruhku membatalkan sisa rapat hari itu."

Maya menatap atasannya. "Untuk apa, Bu?"

Elena menatap lantai marmer dengan pandangan kosong. "Dia memanggilku hanya untuk menanyakan satu hal. Dia bertanya dengan sangat serius... 'Elena, apakah akhir-akhir ini ada pria asing yang sedang dekat denganmu?'"

Andrian membeku.

"Dan apa jawaban Ibu?" tanya Maya pelan.

Elena menoleh kepada Andrian. "Saat itu aku menjawab 'Tidak ada'. Karena pada minggu-minggu pertama itu, kita memang baru mulai sering berbincang lewat pesan. Belum ada pengakuan, belum ada hubungan resmi. Aku pikir itu bukan hal penting untuk diceritakan pada Ayah."

Ruangan mendadak sunyi senyap. Mengapa Arman menanyakan hal spesifik itu tepat pada hari di mana perangkat penyadap bernama DEVICE-03 berhenti beroperasi? Apakah Arman menyadari ada pihak luar yang berhasil menembus pertahanan putrinya melalui seorang mahasiswa bernama Andrian?

Tepat di tengah ketegangan itu, ponsel Elena yang tergeletak di meja bergetar keras.

Satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Elena menelan ludah dan membuka pesan tersebut. Hanya ada satu kalimat pendek.

Sekarang kamu ingat tanggal 29 Juni?

Bulu kuduk Elena meremang. Ia belum selesai mencerna teror itu ketika pesan kedua masuk.

Bagus.

Satu detik kemudian, sebuah lampiran gambar masuk. Maya dan Andrian langsung mencondongkan tubuh untuk melihat layar.

Itu adalah sebuah foto lama yang diambil dari jarak jauh secara diam-diam. Di dalam foto tersebut, terlihat Elena sedang berdiri di teras rumah keluarganya. Tanggal watermark di sudut foto menunjukkan: 29 Juni 2026. Di kejauhan, terhalang bayangan pagar, berdiri siluet pria yang sama persis dengan yang ada di hotel pada tanggal 17 Juni. Pria itu sedang mengawasinya.

Namun, bukan foto itu yang membuat darah mereka serasa berhenti mengalir. Melainkan caption ketikan digital yang tertera di bagian paling bawah foto tersebut.

SUBJEK B — ANDRIAN PRATAMA

Andrian menatap layar ponsel itu dengan wajah pias. Untuk pertama kalinya sejak rentetan misteri ini dimulai, ada ketakutan murni di matanya. Tanggal 29 Juni, sebelas hari setelah ia salah mengirim tugas kuliah, seseorang sudah menyematkan label "Subjek B" dengan nama lengkapnya. Jauh sebelum ia dan Elena resmi menjadi sepasang kekasih.

Elena perlahan mengangkat kepalanya, menatap Andrian dengan raut wajah sangat kebingungan. "Andrian... namamu yang tertulis di sini. Kalau di foto ini ada aku yang sedang diawasi, tapi yang dilabeli sebagai Subjek B adalah kamu..."

Andrian balas menatap Elena, napasnya terasa berat. "Kalau aku Subjek B... lalu siapa Subjek A?"

Di luar kaca jendela penthouse, kilat menyambar langit malam Jakarta, diikuti gemuruh guntur yang menggetarkan kaca.

Bersamaan dengan itu, pesan terakhir muncul di layar ponsel Elena.

Sekarang, cari tahu siapa Subjek A.

Bersambung...

1
sphinxeditz77
Terima kasih buat kalian yang sudah mampir dan baca novel ini! 🥹❤️

Kalau kalian suka dengan ceritanya, bantu Author dengan LIKE & FOLLOW yaa! ❤️🔥

Gratis kok, tapi dukungan kecil dari kalian berarti banget buat author dan bikin semangat lanjut update. 😆

Satu Like 👍 = satu tambahan semangat buat lanjut nulis! 💪🔥

Jangan lupa Subscribe juga biar nggak ketinggalan bab terbaru! 📖✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!