NovelToon NovelToon
Suamiku, Beban Atau Rumah?

Suamiku, Beban Atau Rumah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Menikah 15 tahun tanpa anak dan hidup susah dari nol ditemani Agus, Eda akhirnya lulus PPPK setelah 10 tahun jadi honorer. Bukannya bahagia, gajinya justru habis tersedot utang serta beban keluarga besar. Saat lelah mendera, Agus sang suami berubah dingin jika tak diberi uang rokok, bahkan tega mengungkit luka lama di atas ranjang. Di antara rasa kasihan dan putus asa, Eda dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan pria yang tak punya tempat pulang, atau pergi demi menyelamatkan kewarasannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dompet yang Menipis

Langkah kaki Eda melintasi gang sempit kawasan pinggiran Solo yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut jalan raya, suara deru mesin sepeda motor dan klakson bus angkutan kota sudah bersahut-sahutan. Eda merapatkan kain jilbabnya, mencoba menghalau angin pagi yang lumayan menusuk kulit.

Hatinya masih terasa ganjal gara-gara kelakuan Agus tadi di rumah. Makanan yang ditelannya saat sarapan seperti mengganjal di kerongkongan. Setiap kali ingat bunyi srettt keran air dan benturan piring yang sengaja dibanting suaminya, dadanya mendadak rasanya sesak lagi.

"Eh, Mbak Eda! Pagi-pagi kok sudah melamun saja, Mbak?" suara ramah Mbok Sumi memecah lamunan Eda.

Eda menoleh. Mbok Sumi sedang sibuk menata gorengan hangat dan bungkus nasi liwet di atas meja warung kayunya. Eda mengulas senyum tipis, mencoba menutupi raut wajahnya yang lelah.

"Eh, Mbok Sumi. Enggak melamun kok, Mbok. Ini lagi nunggu angkot mau berangkat ke SD Harapan Bangsa," jawab Eda sambil melangkah mendekat.

"Walah, pantesan rapi banget pakai seragam dinas. Wong guru PPPK ya, suasananya beda. Kelihatan makin bersahabat," goda Mbok Sumi sambil tertawa renyah. "Iki lho, Mbak, ada tahu isi baru matang. Mau disambi dulu ta buat ganjal perut?"

Eda melirik nampan gorengan. Aromanya memang menggiurkan, tapi begitu tangannya meraba kantong tas kerjanya, niat itu langsung urung. Di dompetnya cuma ada sisa pecahan uang dua puluh ribuan yang harus dihemat sampai akhir bulan.

"Matur nuwun, Mbok. Tadi di rumah sudah sarapan disiapin Mas Agus," tolak Eda halus.

Mbok Sumi mengangguk-angguk paham. "Iya deng, Mas Agus kan rajin banget ya di rumah. Wong lanang kok mau bantu-bantu dapur itu langka lho, Mbak Eda. Beruntung sampeyan dapat suami manut begitu."

Eda cuma bisa tersenyum masam. Beruntung? Kalau saja Mbok Sumi tahu apa yang terjadi di balik pintu rumah kontrakan mereka, mungkin wanita tua itu tidak bakal secepat itu memuji. Semua orang di kampung memang cuma melihat luarnya saja:

Agus yang rajin nyapu, rajin masak, dan kelihatan penurut. Tapi tidak ada yang tahu betapa dingin dan mencekiknya siksaan psikologis saat ego Agus tersenggol sedikit saja.

Angkot oranye jurusan kota akhirnya kelihatan dari kejauhan. Eda melambaikan tangan, lalu buru-buru naik begitu mobil tua itu berhenti. Di dalam angkot yang berdesak-desakan dengan anak-anak sekolah dan pedagang pasar, Eda menyandarkan kepalanya ke bingkai jendela. Pikiran Eda melayang ke sekolah. Sebagai guru kelas di SD Harapan Bangsa, tugasnya hari ini sangat menumpuk. Selain harus mengajar anak-anak kelas empat, dia juga dikejar tenggat waktu penginputan nilai rapot dan penyusunan administrasi kelas yang belum rampung.

"Mbak Eda, nanti jangan lupa bayar kas paguyuban guru ya," suara Maya, rekan sesama guru yang kebetulan naik dari halte berikutnya, menyapa Eda.

Maya duduk di samping Eda sambil membetulkan letak tasnya. "Sama itu lho, uang sumbangan buat Pak RT yang sekeluarga kena musibah kemarin."

Eda mengangguk pelan. "Iya, Bu Maya. Nanti di sekolah tak ambilkan uangnya."

Padahal di dalam hati, Eda menjerit pelan. Uang dari mana lagi? Gaji PPPK yang orang-orang bayangkan besar itu sebenarnya cuma mampir lewat di rekeningnya. Begitu cair, otomatis dipotong cicilan bank untuk menutup utang-utang keluarga Doni dan biaya pengobatan ibunya. Sisa cair di tangan cuma tinggal recehan yang harus diputar otak setengah mati agar cukup sampai tanggal satu bulan berikutnya.

Sesampainya di SD Harapan Bangsa, suasana riuh anak-anak sekolah yang berlarian di lapangan semen langsung menyambut Eda. Pak Manto, penjaga sekolah, melambaikan tangan dari dekat tiang bendera.

"Pagi, Bu Eda!"

"Pagi, Pak Manto," balas Eda berusaha menyunggingkan senyum terbaiknya.

Ia melangkah masuk ke ruang guru yang sudah mulai ramai. Di atas meja kerjanya, tumpukan buku latihan siswa kelas empat sudah menunggu untuk dikoreksi. Eda duduk di kursinya, meletakkan tas, dan menghembuskan napas panjang.

Ponsel di dalam tasnya bergetar pelan. Ada satu pesan WhatsApp masuk dari Rini, iparnya.

“Mbak Eda, ini anak-anak mau beli buku LKS baru dari sekolah. Katanya kalau tidak bayar hari ini tidak boleh ikut ulangan. Tolong dikirim dua ratus ribu ya, Mbak. Doni lagi tidak ada tarikan mobil dari kemarin.”

Eda memandangi layar HP itu dengan mata membelalak. Tangannya gemetar menahan dongkol. Baru tadi pagi Agus bikin ulah gara-gara uang rokok, sekarang Rini dengan santainya minta uang lagi seolah-olah Eda adalah tempat mencetak uang tanpa batas.

Eda mengetikkan balasan dengan jemari yang menegang.

“Mbak Rini, uangku sudah habis buat potongan bank dan biaya obat Mama kemarin. Tolong dicarikan dulu dari Mas Doni. Aku benar-benar tidak ada pegangan uang tunai lagi.”

Tidak sampai dua menit, balasan Rini datang lagi. Kali ini nadanya menyindir tajam.

“Oalah... Mbak Eda ini sekarang kok hitung-hitungan banget sama keponakan sendiri ya? Padahal kan sudah dapet gaji PPPK tiap bulan. Ya sudah kalau tidak mau bantu, biar anak-anak tidak usah sekolah saja.”

Eda meletakkan HP-nya di meja dengan agak keras. Dadanya naik turun menahan emosi. Rasa panas menjalar sampai ke telinganya. Selama ini dia yang membanting tulang, dia yang menahan lapar demi menutup utang keluarga, tapi begitu menolak sekali saja, langsung dicap jahat dan tidak peduli pada keluarga.

Bel tanda masuk kelas berbunyi nyaring. Eda memejamkan mata sejenak, mengusap wajahnya yang terasa lelah luar biasa. Ia mengambil spidol dan buku absen, lalu berdiri menuju kelas empat.

Di dalam hatinya, sebuah retakan besar makin menganga. Sampai kapan dia harus menjadi korban pemerasan berkedok kekeluargaan seperti ini?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!