Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.
Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.
Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Erlan duduk di kursi CEO-nya dengan punggung yang sedikit lebih rileks dari biasanya. Jas hitamnya sudah digantung di sandaran kursi, lengan kemeja digulung rapi, dan di wajahnya tersungging senyum yang sulit dijelaskan, senyum yang tidak biasa ia perlihatkan di ruang kerja.
Jari-jarinya memegang pena, tapi tidak sedang menulis apa-apa. Pandangannya sesekali melayang ke jendela, lalu kembali ke meja, seolah masih memutar ulang kejadian di ruangan Naya beberapa jam yang lalu.
Naya masih mengingatnya.
Kalimat itu saja sudah cukup membuat dadanya terasa lebih berbunga-bunga. Setelah bertahun-tahun meyakini bahwa ia sudah dilupakan, bahwa ia hanyalah sahabat kuliahnya yang menghilang tanpa jejak, ternyata nama Erlan masih keluar dari bibir wanita itu dengan begitu natural. Kaget, lirih, tapi jelas. Dan mata Naya yang melebar… Erlan masih bisa melihatnya jelas di kepalanya.
Sam yang sejak tadi mengamati dari dekat akhirnya tidak tahan. Ia masuk ke ruangan dengan tablet di tangan, lalu berdiri di depan meja dengan senyum miring. “Anda terlihat bahagia, Tuan,” ledeknya pelan. “Sudah lama saya tidak melihat ekspresi seperti itu di wajah Anda.”
Erlan tertawa kecil, tidak menyangkal. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, masih dengan senyum yang sama. “Dia masih mengingatku, Sam,” ucapnya, nada suaranya ringan dan penuh kelegaan yang sulit disembunyikan. “Padahal sudah lama kita tidak bertemu. Aku kira dia sudah lupa sama sekali, tapi ternyata tidak.”
Sam mengangguk-angguk, senyumnya semakin lebar. “Ini sangat bagus, Tuan. Anda tidak akan susah mendekatinya. Paling tidak, fondasinya masih ada. Dia ingat nama Anda, ingat wajah Anda, meskipun sudah lama tidak bertemu"
Erlan menghela napas, kali ini lebih panjang, lalu menatap ke luar jendela. Kota Melbourne di bawah terlihat sibuk seperti biasa.
“Aku tidak mau terburu-buru,” kata Erlan akhirnya, lebih pada diri sendiri. “Biarkan seperti air mengalir"
Sam menyilangkan tangan di dada, ekspresinya lebih serius. “Tapi Anda juga tidak boleh terlalu lambat, Tuan. Dulu Anda sudah pernah terlambat. Kali ini kesempatan sudah di depan mata. Dia bekerja di perusahaan Anda, duduk di lantai yang sama, bahkan posisinya membuat kalian akan sering bertemu. Jangan sampai Anda hanya tersenyum-senyum di kursi seperti ini tanpa melakukan apa-apa.”
Erlan terdiam sejenak, lalu tertawa pelan lagi. Ia tahu Sam benar. Senyum di wajahnya belum hilang. Di dalam dada, rasa yang dulu ia kira sudah mati suri kini bergerak pelan, hati-hati, tapi nyata.
"Sudah, keluar sana Sam. Jangan urusi masalah asmaraku" usir Erlan.
Sam pun akhirnya keluar meninggalkan ruangan itu. Dia lama-lama ikut gila melihat tingkah bosnya.
Erlan masih tersenyum tipis ketika akhirnya ia menegakkan badan di kursinya. Senyum itu belum sepenuhnya hilang. Tak lama dia menekan tombol intercom, memanggil Sam masuk kembali ke ruangan.
Begitu asistennya berdiri di depan meja, Erlan berbicara singkat dan tegas. “Atur makan siangku bersama Naya. Bilang saja ada pertemuan di luar dengan klien.”
Sam langsung mengerti. Ia menahan senyum, lalu mengangguk patuh. “Baik, Tuan.”
Tanpa banyak bertanya, Sam keluar dari ruang CEO dan berjalan menyusuri koridor menuju ke ruangan kerja sekretaris. Meja Naya berada tidak jauh dari pintu ruang Erlan, masih terlihat rapi dengan beberapa dokumen yang tersusun.
Sam mengetuk pintu kaca pelan.
Tok.
Tok.
“Masuk,” suara Naya terdengar dari dalam.
Ceklek....
Sam membuka pintu dan melangkah masuk.
Naya yang sedang mengetik di komputer langsung berhenti dan mengangkat wajahnya, lalu tersenyum sopan. “Ada apa, Pak Sam?”
Sam berdiri di depan mejanya dengan sikap formal. “Nona Naya, hari ini Tuan Erlan ada jadwal makan siang bersama klien. Anda diminta menemaninya.”
Naya mengerutkan kening. “Hah?” Ia langsung membuka kalender digital di layar komputernya, memeriksa jadwal Erlan dengan teliti. Matanya memindai setiap baris. Tidak ada satu pun catatan tentang makan siang dengan klien hari itu. Semua slot terlihat kosong atau sudah terisi meeting internal.
“Tapi di sini tidak ada jadwalnya?” tanya Naya, masih bingung, jari-jarinya menunjuk ke layar.
Sam tetap tenang. Ia sudah siap dengan jawaban itu. “Ini dadakan, Nona. Barusan klien menghubungi saya. Tuan Erlan langsung setuju, dan beliau meminta Anda ikut menemani. Sebagai sekretaris, Anda perlu hadir untuk mencatat poin-poin penting jika diperlukan.”
Naya terdiam sejenak. Ia menatap Sam, lalu kembali ke layar, seolah masih mencari celah kesalahan. Tapi wajah asisten CEO itu terlihat tenang dan profesional, tidak memberi kesan bohong.
Akhirnya Naya mengangguk pelan, menerima penjelasan itu. "Baik,” jawabnya akhirnya.
“Saya siapkan. Jam berapa dan di mana?” lanjutnya bertanya.
“Tuan Erlan akan memberitahu detailnya sebentar lagi. Anda cukup bersiap saja,” ujar Sam, lalu tersenyum tipis sebelum keluar dari ruangan.
Ceklek...
Begitu pintu tertutup, Naya menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia masih merasa agak aneh. Jadwal dadakan seperti itu jarang terjadi tanpa catatan sebelumnya. Tapi sebagai sekretaris baru yang masih dalam masa training, ia tidak ingin terlihat merepotkan atau terlalu banyak bertanya. Ia hanya membuka laci, mengambil buku catatan kecil, dan mulai memeriksa lagi dokumen yang mungkin dibutuhkan.
Sementara di ruang CEO, Sam kembali dan memberi kode singkat pada Erlan. “Sudah diatur, Tuan. Beliau percaya.”
Erlan tersenyum kecil, kali ini lebih dalam. Ia menatap ke arah Sam, lalu mengangguk.
Makan siang tadi hanya alasan. Yang ia inginkan sebenarnya sederhana, waktu untuk berbicara lebih dari sekadar sapaan biasa, waktu untuk memastikan bahwa Naya benar-benar baik-baik saja, dan waktu untuk… perlahan mendekatinya tanpa membuatnya merasa terpojok.
Di lantai yang sama, dua orang yang dulu berbagi masa lalu di bangku kuliah kini terhubung lagi oleh satu kebohongan kecil yang disengaja. Dan siang itu, pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Erlan merasa bahwa langkah pelannya mulai bergerak.
"Aku janji, kali ini aku tidak akan melepaskanmu lagi, Naya. Aku akan mengejarmu, sampai kamu mau menerimaku" gumam Erlan penuh tekad.
sakit kan????