Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Dera duduk di mejanya di ruang kerjanya. Layar komputer di depannya penuh dengan angka dan laporan yang harus diselesaikan sebelum siang. Suara keyboard rekan-rekan kerja bercampur dengan deru AC yang konstan. Ia sedang fokus mengetik ketika ponsel di samping keyboard tiba-tiba bergetar.
Getaran itu singkat, tapi cukup untuk membuatnya menoleh. Layar menyala menampilkan notifikasi pesan dari nomor yang sudah tidak ia simpan, tapi ia hafal di luar kepala.
Jari Dera ragu sejenak sebelum membuka pesan itu. Satu kalimat singkat muncul di layar.
“Dasar pengecut. Tidak berani menghadapi kenyataan. Lari dari masalah.”
Tubuh Dera langsung bergetar. Napasnya tertahan di tenggorokan. Tangan yang semula mengetik kini mengepal di atas meja. Huruf-huruf di layar komputer tiba-tiba menjadi kabur. Dunia di sekelilingnya seolah menyusut, menyisakan hanya kalimat itu yang terus berputar di kepalanya.
Kata itu menusuk lebih dalam dari yang ia duga. Bukan karena baru. Vivian sudah sering mengucapkan kata-kata serupa di masa lalu. Tapi membacanya sekarang, di tengah usahanya membangun hidup baru, terasa seperti tamparan keras di wajah.
Dera menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, hampir terdengar di telinga. Ia menatap pesan itu lama, seolah berharap kalimatnya akan berubah atau menghilang. Tapi tidak. Kata-kata itu tetap di sana, dingin dan penuh tuduhan.
Bayangan masa lalu langsung menyerbu. Wajah Vivian yang tersenyum di pelaminan sambil mengenakan gaun yang seharusnya milik Dera. Dan Galih yang berdiri di samping Vivian, seolah tidak pernah berjanji setia padanya.
Dera meremas tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. Ia ingin membalas. Ingin mengetik sesuatu yang tajam, sesuatu yang membalas semua rasa sakit yang selama ini ia pendam. Tapi jari-jarinya gemetar terlalu hebat. Ia tidak mampu.
Di sekelilingnya, rekan kerja masih sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak ada yang menyadari bahwa di pojok ruangan, seorang perempuan sedang berjuang menahan diri agar tidak menangis di tempat umum. Dera menarik napas dalam-dalam, mengingat teknik yang diajarkan Gio kemarin. Tarik napas, tahan, lalu hembuskan perlahan.
Tapi kali ini, teknik itu tidak cukup. Rasa sesak di dada semakin kuat. Ia menggigit bibir hingga terasa perih, memaksa air mata yang sudah menggenang untuk tidak jatuh.
Dengan tangan yang masih gemetar, Dera mengunci layar ponselnya. Ia tidak menghapus pesan itu. Tidak juga tidak berniat membalas pesannya. Ia hanya menaruh ponselnya di meja, seolah dengan begitu kata-kata Vivian tidak akan bisa menyakitinya lagi.
Tapi rasa sakit itu sudah masuk. Sudah menempel di tulang.
Dera kembali mengerjakan pekerjaannya. Angka-angka di laporan ia selesaikan tanpa benar-benar membacanya. Setiap kali ada yang memanggil namanya, ia menjawab singkat dan kembali menunduk. Di dalam benaknya, satu pertanyaan terus berulang:
Sampai kapan mereka akan terus menyakitiku, bahkan dari jauh?
Dan di balik pertanyaan itu, ada ketakutan yang lebih dalam, bahwa meski sudah berlari sejauh Jakarta, bayangan keluarganya masih bisa menjangkaunya kapan saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Belum genap satu minggu sejak sesi pertama, Dera kembali menginjakkan kaki di klinik. Matanya sembab, dengan lingkaran hitam yang jelas di bawahnya. Semenjak pesan singkat dari Vivian masuk ke ponselnya, tidur menjadi kemewahan yang hampir mustahil. Setiap kali memejamkan mata, kalimat itu kembali muncul. Lalu diikuti bayangan wajah kakaknya yang penuh cemooh.
Ia datang sendirian sore itu. Rere masih di kantor, jadi Dera memutuskan untuk tidak menunggu. Langkahnya pelan saat memasuki ruang tunggu yang familiar. Bau lavender masih sama, tanaman hijau di sudut masih terlihat segar. Tapi dadanya terasa lebih berat dari kunjungan sebelumnya.
“Nona Dera, silakan masuk,” suara resepsionis memanggil.
Ceklek.
Pintu ruang konsultasi terbuka.
Dera melangkah masuk, siap menyapa Gio seperti sebelumnya. Namun langkahnya terhenti di ambang pintu.
Di dalam ruangan yang seharusnya hanya berisi dirinya dan psikolog, ada sosok lain. Seorang pria tinggi berjas gelap duduk santai di sofa tambahan di sudut ruangan. Rambutnya rapi, jam tangan mewah di pergelangannya berkilau terkena cahaya sore. Saat Dera masuk, pria itu menoleh dan tersenyum lembut ke arahnya.
“Selamat sore, Nona Dera,” sapa Mario dengan suara tenang dan rendah.
Dera terdiam. Tubuhnya kaku. Ia tidak menjawab. Matanya langsung beralih ke Gio yang sedang duduk di kursi utamanya, seolah meminta penjelasan. Rasa gugup langsung merayapi dada. Ia tidak terbiasa dengan kehadiran orang asing di ruang yang seharusnya privat. Apalagi pria yang menatapnya dengan senyum yang terlalu tenang.
Gio menghela napas pelan, lalu melirik sinis ke arah Mario.
“Abaikan saja,” katanya datar. “Dia cuma numpang duduk sebentar. Segera pergi.”
Mario mengangkat kedua tangan seolah menyerah, senyumnya masih tersisa di bibir. “Tenang, Gio. Aku tidak akan mengganggu. Hanya kebetulan mampir.”
Dera masih berdiri di dekat pintu, jari-jari menggenggam tali tasnya erat-erat. Ia merasa tidak nyaman. Ruangan yang sebelumnya terasa aman kini terasa lebih sempit. Dan sekarang ada orang asing yang ternyata tahu namanya.
Gio menepuk kursi di depannya pelan. “Silakan duduk, Dera. Kita mulai saja. Mario akan keluar sebentar lagi.”
Dengan langkah ragu, Dera akhirnya duduk. Ia menunduk, menghindari tatapan Mario yang masih sesekali meliriknya. Di dalam hati, rasa cemas bercampur dengan kelelahan yang sudah menumpuk di pikirannya. Bukan untuk berhadapan dengan senyum seorang pria yang sama sekali tidak ia kenal.
Gio membuka catatannya, lalu menatap Dera dengan penuh perhatian. “Ceritakan apa yang terjadi sejak pertemuan terakhir kita.”
Dera menarik napas dalam. Suaranya pelan saat mulai berbicara, masih terasa tegang karena kehadiran orang ketiga di ruangan itu. Namun perlahan, kata-kata tentang pesan Vivian mulai keluar, tentang bagaimana satu kalimat singkat berhasil menghancurkan ketenangan yang baru saja ia bangun.
“Dia mulai menggangguku lewat pesan,” ucapnya lirih. Matanya menunduk, tidak berani menatap Gio terlalu lama.
Gio mengangguk pelan, suaranya tenang seperti biasa. “Apa isi pesannya?”
Dera terdiam sejenak. Napasnya terdengar berat. Ia ragu, seolah dengan menunjukkan pesan itu, rasa sakitnya akan menjadi lebih nyata. Tapi akhirnya ia mengulurkan tangan ke dalam tas, mengambil ponsel dengan gerakan lambat. Layar menyala, menampilkan percakapan yang sudah ia baca berkali-kali hingga hafal.
Dengan tangan sedikit gemetar, Dera memutar layar ponsel ke arah Gio.
Gio membacanya dalam diam. Alisnya berkerut pelan. Ia menghela napas panjang setelah selesai, wajahnya menunjukkan campuran prihatin dan kesal.“Bagaimana perasaanmu setelah membaca pesan itu?” tanya Gio lembut, menatap Dera dalam-dalam.
Dera menelan ludah. Suaranya bergetar saat menjawab.“Saya marah. Tapi lebih dari itu, saya takut. Satu kalimat itu cukup membuat semua usaha untuk menenangkan diri jadi runtuh. Saya jadi sulit tidur lagi. Setiap kali ingin memejamkan mata, saya mengingat kembali kata-kata itu. Saya merasa, seperti tidak akan pernah benar-benar lepas dari mereka.”
Air matanya kembali menggenang, tapi ia menahan agar tidak menangis di depan orang lain.
Gio menyodorkan kotak tisu ke arah Dera. “Perasaan itu wajar. Pesan itu memang sengaja untuk menyakitimu"
Dera mengangguk pelan, mengambil selembar tisu
Mario di sudut ruangan hanya diam, mendengarkan tanpa menyela. Senyumnya sudah menghilang, digantikan ekspresi yang lebih serius.
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa