Di Benua Awan Timur, kekuatan adalah segalanya. Para kultivator jenius membelah gunung dengan lambaian tangan dan menghancurkan kota hanya dengan hembusan napas. Namun, epik ini tidak dimulai dari puncak kejayaan, melainkan dari sudut dunia fana yang terlupakan. Li Yun hanyalah seorang tabib muda biasa di kota perbatasan. Ia tidak memiliki akar spiritual surgawi, garis keturunan dewa, ataupun takdir pahlawan yang terpilih.
Ketika seorang kultivator sakti tewas di depan kliniknya yang sederhana, kehidupan tenang Li Yun hancur. Ia mewarisi sebuah teknik rahasia kuno yang tidak memberinya kekuatan penghancur instan, melainkan menuntut pemahaman mendalam tentang hukum alam, alkimia, dan aliran energi yang sangat lambat. Di dunia yang dipenuhi kejeniusan arogan dan sekte-sekte kuno yang kejam, Li Yun menyadari bahwa bertahan hidup membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan murni. Ia harus menggunakan kecerdasannya, menyembunyikan bakat aslinya di balik identitas seorang tabib sekuler.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Serabut Es di Ujung Jarum
Tiga hari setelah ladang pembantaian di Sektor Ketiga, bau anyir darah yang membeku masih menggantung pekat di udara. Sisa-sisa es biru pucat dari serangan Diakon Fang menolak mencair meski disengat terik matahari pertengahan musim panas.
Di dalam tenda medisnya yang baru setengah diperbaiki, Li Yun sibuk mengganti perban belasan budak yang selamat. Tenda itu kini terasa seperti ruang pendingin daging. Para pasien menggigil hebat, bibir mereka membiru, dan luka tebasan di tubuh mereka tidak mengeluarkan darah, melainkan kristal es kemerahan yang terus menggerogoti daging.
Li Yun mengoleskan salep herbal penawar dingin standar, wajahnya menampilkan kelelahan seorang tabib yang putus asa. Namun di dalam benaknya, roda-roda rencana berputar dengan presisi mematikan.
Ia telah menunggu kedatangan mereka. Dan hari ini, mereka tiba.
Langit di atas Sektor Ketiga bergetar ketika tiga bayangan melesat di atas pedang terbang dan mendarat dengan kasar di pelataran paviliun. Itu adalah Inspektur Zhao Yan, diiringi dua algojo elit dari Balai Penegak Hukum. Wajah Zhao Yan sedingin logam, matanya memancarkan kecurigaan yang tak ditutup-tutupi saat ia menatap Diakon Fang yang menyambutnya di undakan kayu.
"Inspektur Zhao," sambut Fang, senyum arogannya mengembang. Fluktuasi Lapis Keenam Pengumpulan Qi-nya memancar sengaja, menantang kedudukan Zhao Yan. "Suatu kehormatan Balai Penegak Hukum turun tangan langsung mengurus pemberontakan kecil budak-budak kotor ini."
Zhao Yan tidak tersenyum. Matanya menyapu sekeliling, merasakan sisa-sisa hawa dingin yang ekstrem di udara. "Pemberontakan kecil yang memaksamu menggunakan teknik mematikan berelemen es, Diakon Fang? Sejak kapan praktisi teknik Angin Puyuh murahan sepertimu tiba-tiba memiliki afinitas Yin-Dingin yang begitu murni hingga bisa menembus Lapis Keenam dalam semalam?"
Wajah Fang sedikit menegang, namun ia segera menutupinya dengan dengusan remeh. "Keberuntungan dan pencerahan di ambang hidup dan mati, Inspektur. Aku menemukan relik tua peninggalan tetua sekte di Hutan Tulang Berduri. Apakah menyerapnya melanggar aturan sekte?"
Zhao Yan menyipitkan mata. Ia tidak bisa langsung menuduh. Di dunia kultivasi, penemuan kebetulan ( fortuitous encounters ) adalah hal yang lumrah. Tanpa bukti fisik bahwa energi Fang berasal dari Ginseng Giok Bulan yang dicuri, menuduh seorang Diakon Lapis Keenam tanpa dasar bisa memicu hukuman balik dari para Tetua Sekte.
"Kita lihat seberapa beruntungnya dirimu," desis Zhao Yan, melangkah melewati Fang dan langsung menuju ke area yang paling banyak menyimpan jejak energi: tenda medis.
Diakon Fang mendecakkan lidah, mengikuti dari belakang dengan langkah santai, tidak menyadari bahwa keangkuhannya baru saja membawanya masuk ke dalam jaring laba-laba tak kasat mata.
Brak!
Pintu tenda medis ditendang terbuka. Zhao Yan melangkah masuk, hawa membunuhnya membuat beberapa budak yang terluka langsung pingsan ketakutan.
Li Yun, yang sedang memanaskan jarum perak, sengaja menjatuhkan penjepit besinya. Ia buru-buru berlutut di tanah yang lembap. "Y-Yang Mulia Inspektur! Hamba menyambut kedatangan Anda!"
Zhao Yan mengabaikan Li Yun. Ia berjalan menuju deretan pasien, menatap luka-luka membeku yang aneh itu. Di belakangnya, Diakon Fang berdiri di ambang pintu, melipat tangan di dada dengan senyum meremehkan.
"Tabib fana," suara Zhao Yan terdengar tajam. "Kau yang merawat luka-luka ini. Ceritakan padaku tentang es ini."
Ini dia. Momen di mana sehelai rambut bisa mengubah arah sungai.
Jika Li Yun langsung menyebutkan energi spiritual tingkat tinggi, Zhao Yan akan mencurigai identitasnya. Ia harus menggunakan bahasa seorang tabib desa yang bodoh namun teliti.
"M-Menjawab Yang Mulia," suara Li Yun bergetar ketakutan, ia sengaja tidak berani mengangkat wajahnya. "H-Hamba sangat kewalahan. Luka akibat amukan Yang Mulia Diakon Fang ini... ini bukan luka es biasa. Hamba sudah menggunakan tiga belas jenis herbal Yang-Panas untuk mencairkannya, tapi es ini seolah... seolah memiliki nyawanya sendiri."
Zhao Yan menoleh tajam. "Memiliki nyawa?"
"B-Benar, Yang Mulia," Li Yun menelan ludah, menunjuk dengan tangan gemetar ke arah perut seorang pasien yang robek. "Jika hamba memberikan salep jahe api, es biru di luka itu justru 'memakan' panas dari salep hamba untuk memperkuat dirinya. Di kitab pengobatan kuno fana peninggalan kakek hamba, sifat yang memakan elemen berlawanan ini sangat langka. Kitab itu menyebutnya fenomena 'Embun Bulan Jatuh'."
Mata Zhao Yan terbelalak sesaat sebelum menyipit menjadi celah mematikan.
Di ambang pintu, wajah Diakon Fang yang arogan tiba-tiba berubah sedikit pucat. Ia memang menyerap Ginseng Giok Bulan, tetapi karena ia bukan alkemis, ia tidak bisa menyembunyikan sisa ampas energinya secara sempurna. Ia tidak menyangka seorang tabib fana rendahan bisa mengenali karakteristik korosif dari energi bulan!
"Omong kosong!" bentak Fang, melangkah masuk dengan niat membunuh yang memancar. "Beraninya budak fana sepertimu mengarang cerita medis di depanku! Aku akan merobek mulut—"
"Berhenti di sana, Fang," suara Zhao Yan memotong, berat dan sedingin dasar samudra. Tangannya mencengkeram gagang pedangnya.
Mengabaikan Fang yang membeku di tempat, Zhao Yan mencengkeram pergelangan tangan budak yang terluka itu. Ia memejamkan mata dan mengalirkan sehelai Qi apinya ke dalam meridian sang budak.
Tepat seperti keluhan Tabib Li yang bodoh itu, Qi api milik Zhao Yan tidak mencairkan es tersebut, melainkan langsung diserap dan ditelan oleh es biru pucat yang mengakar di meridian budak itu. Sisa energi itu murni, kuno, dan memancarkan aura Yin tingkat menengah yang sangat familiar bagi Zhao Yan.
Itu adalah sisa ampas dari Ginseng Giok Bulan yang gagal dicerna sepenuhnya oleh tubuh Diakon Fang.
Zhao Yan melepaskan tangan budak itu. Saat ia berbalik menghadap Diakon Fang, tidak ada lagi keraguan di wajahnya. Hanya ada kepastian algojo yang telah menemukan buruannya.
"Relik kuno, katamu?" Zhao Yan tersenyum mengerikan, mencabut pedangnya perlahan. Bunyi gesekan logam itu terdengar seperti lonceng kematian di telinga Fang. "Aku mencari tikus tanah yang mencuri Ginseng Giok Bulan sekte di seluruh kamp, menghukum ratusan budak. Ternyata, tikus babi itu tidur di kursi Diakon sepanjang waktu."
Wajah Diakon Fang kehilangan seluruh darahnya. Rahasianya yang paling gelap telah ditelanjangi, bukan oleh Kesadaran Spiritual seorang master, melainkan oleh ocehan polos seorang tabib fana yang kebingungan mengobati pasiennya.
"Zhao Yan! Kau jangan berani memfitnahku berdasarkan celotehan budak berpenyakitan ini!" Fang meraung panik, memanggil Qi es di tangannya. Namun, emosi yang meledak tiba-tiba itu memicu luka internalnya. Ia terbatuk keras, memuntahkan segumpal darah yang membeku seketika. Sisa energi ginseng itu sedang merusak meridian apinya dari dalam.
"Fitnah? Sisa esensi Ginseng Giok Bulan di dalam serangan es-mu ini adalah bukti absolut," desis Zhao Yan. Ia memberi isyarat kepada dua algojo di belakangnya. "Tangkap pengkhianat ini. Jika ia melawan, Balai Penegak Hukum mengizinkan eksekusi di tempat!"
Pertarungan tidak bisa dihindari. Diakon Fang, yang tahu bahwa menyerah berarti disiksa hingga jiwanya hancur di Penjara Bawah Tanah Sekte, meraung putus asa dan melepaskan seluruh energi Lapis Keenamnya, menghancurkan atap tenda medis hingga berkeping-keping.
Tiga kultivator tingkat tinggi itu melesat ke udara, pedang beradu memercikkan bunga api dan badai es yang menghancurkan sisa-sisa bangunan di sekitarnya.
Di bawah hujan puing-puing dan kilatan energi mematikan, Li Yun merayap di tanah, melindungi pasiennya sambil menampilkan ketakutan yang luar biasa.
Namun, jika seseorang bisa melihat wajahnya di bawah bayang-bayang lengannya yang terlipat, mereka akan melihat sebuah senyum tipis yang mematikan.
Tidak ada sehelai pun auranya yang bocor. Tidak ada satu pun jari tangannya yang kotor oleh darah. Hanya berbekal keluhan lugu dan pemahaman mendalam akan hukum energi, Li Yun telah menggunakan pedang Balai Penegak Hukum untuk memenggal kepala musuhnya. Sektor Ketiga akan segera kehilangan penguasanya yang lalim, dan dalam kekosongan kekuasaan yang akan menyusul, Li Yun bisa membangun jaringannya lebih dalam.