Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Tak Bertanya Sama Sekali
"Apa yang dia lakukan pada anakku?” Suara Arven terdengar sedikit lebih tinggi.
Pak Can menggantungkan kedua tangannya di depan dada. "Bukan seperti itu, Tuan. Maksud saya, Nyonya bukan dalam arti memaksa.”
Pak Can tertawa kikuk. Hampir saja Arven memarahi sang Nyonya gara-gara salah paham.
“Nyonya mengaajarkan Elden makan sayuran, sebelum mulai menanamnya. Tidak boleh mengatakan tidak suka sebelum mencobanya.”
Arven terlihat menurunkan emosinya. “Apa ia berhasil?”
“Lumayan.”
“Berapa banyak sayur yang dimakan Elden?”
Pak Can berpikir. “Kalau dibandingkan sebelumnya…”
Ia mengangkat kedua tangan. “Lumayan.”
Arven menatapnya tanpa ekspresi.
Pak Can segera menurunkan tangannya. “Maaf, Tuan.”
Arven kembali memandang kebun. “Dan Mireya?”
“Nyonya juga makan bersama Elden.”
“Dia tidak meminta makanan khusus?”
“Tidak.”
“Tidak pernah?”
“Tidak pernah.” Arven mengerutkan kening.
Entah kenapa, semakin banyak yang diceritakan Pak Can, semakin banyak pula pertanyaan muncul di kepalanya.
Ia bahkan mulai merasa seperti orang asing di rumah sendiri. “Apa dia pernah menanyakan aku?”
Pak Can terdiam.
Arven menoleh. “Kenapa diam?”
Pak Can mengusap tengkuk. “Tidak, Tuan.”
“Tidak?”
“Nyonya tidak pernah bertanya kapan Tuan pergi, kapan Tuan pulang. Yang pasti dia tahu bahwa Tuan memang tidak tidur di rumah.'
Arven melirik ke arah perempuan yang sibuk mencangkul. “Tidak bertanya aku pergi ke mana sama sekali?”
“Tidak.”
“Tidak bertanya aku sedang mengurus apa?”
“Tidak.”
Arven memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Bahkan tidak pernah bertanya apa pun tentang saya?”
Pak Can menggeleng. “Tidak pernah.”
Untuk beberapa saat, hanya suara angin yang terdengar.
Arven menatap Mireya dari kejauhan. Perempuan itu masih mencangkul.
Duk!
Duk!
Duk!
Tidak peduli dengan siapa pun. Tidak peduli dengan kedatangannya. Tidak peduli bahwa suaminya baru saja pulang.
Arven mengangkat sebelah alis. “Dia tidak penasaran sama sekali?”
“Sepertinya tidak, Tuan.”
“Kenapa?”
Pak Can menjawab dengan jujur. “Karena Tuan sendiri yang membuat kesepakatan agar Nyonya tidak mencampuri urusan Tuan.”
Netra Arven sejenak berputar beberapa detik.
'Benar.'
Ia sendiri yang mengatakannya.
Mereka tidak perlu saling mengurusi kehidupan masing-masing. Mireya hanya perlu mengurus Elden. Arven bisa mengurus pekerjaannya dan dirinya sendiri.
Sederhana.
Seharusnya begitu. Namun entah kenapa, melihat perempuan itu sama sekali tidak peduli terhadap kepulangannya justru membuat Arven merasa sedikit panas.
“Dia benar-benar menjalankan perjanjian itu dengan baik.”
Pak Can mengangguk. “Bahkan terlalu baik, menurut saya.”
Arven menoleh. “Maksudmu?”
Pak Can menunjuk rumah besar di belakang mereka. “Selama Tuan pergi, Nyonya tidak pernah masuk ke ruang kerja Tuan.”
“Bagus.”
“Tidak pernah membuka pintu kamar Tuan.”
“Memang seharusnya begitu.”
“Tidak pernah bertanya kepada saya tentang urusan Tuan.”
Arven mengangguk. “Bagus.”
Pak Can menatap majikannya beberapa detik. “Dan…”
“Apa?”
“Bahkan, Nyonya juga tidak pernah menunggu Tuan pulang.”
Arven terdiam. Kali ini ia tidak langsung menjawab.
Pak Can akhirnya memilih diam dan menunduk.
Beberapa saat kemudian, Arven melepas jas yang dikenakannya. “Bawa ke kamar.”
Pak Can menerima jas tersebut. “Tuan mau ke mana?”
Arven tidak menjawab. Ia justru berjalan menuju ke arah dua orang yang asik dengan tanah.
Pak Can memperhatikannya dengan mata sedikit membesar. “Tuan?”
Arven terus berjalan.
Langkahnya semakin mendekati lahan tempat Mireya bekerja.
Elden yang sedang bermain lebih dulu menyadari kehadirannya. “Ayah!?”
Anak itu langsung berlari mengejar Arven dan memeluk kakinya. Arven pun berhenti.
“Akhirnya Ayah pulang!”
Arven menunduk. Tangannya mengusap kepala putranya. “Iya. Kamu kangen ya?”
Elden mendongak. “Kenapa Ayah lama sekali?”
Arven menatap netra putranya yang berbinar, tampak bahagia. Biasanya ia hanya menjawab dengan singkat.
Namun kali ini ia justru bertanya, “Kamu menunggu Ayah nggak?”
Elden membulatkan bibir lalu menekan dagu beberapa kali dengan telunjuk.
Arven mengerutkan kening.
“Hmmm ... Gimana ya ... Elden kalau pulang pasti langsung bobok...”
Elden menunjuk Mireya. “Ibu kan selalu menemani Elden.”
Arven terdiam.
Pak Can yang mengikuti beberapa meter di belakangnya buru-buru menahan senyum.
Sementara itu, Mireya baru menyadari keberadaan Arven.
Ia berdiri sambil menyeka keringat di dahinya. Tangannya yang sedikit kena tanah, menyisakan garis coklat di dahinya.
Tatapan keduanya bertemu. Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Kemudian Mireya mengangguk biasa. “Tuan sudah pulang?”
Arven mengangguk. “Sudah.”
“Kalau begitu, istirahatlah.”
Hanya itu. Mireya kembali mengambil cangkulnya.
Duk!
Arven masih berdiri.
Duk!
Mireya kembali bekerja.
Arven menatapnya. Perempuan itu benar-benar tidak bertanya apa pun.
Tidak bertanya bagaimana perjalanannya. Tidak bertanya apa urusannya. Tidak bertanya mengapa pulangnya lama. Bahkan tidak bertanya apakah ia sudah makan.
Arven perlahan mengernyit. Aneh. Sangat aneh.
Bukankah kebanyakan istri akan bertanya kepada suaminya setelah pergi berhari-hari? Ini Arven sudah meninggalkan rumah selama satu bulan.
Namun istrinya lebih memikirkan tanah. Arven menatap cangkul di tangan Mireya.
Kemudian menatap wajahnya. “Bukankah kau harusnya menanyakan sesuatu?”
Mireya berhenti. Ia menoleh. “Bertanya tentang apa?”
Arven terdiam. Pertanyaan itu justru membuatnya tidak tahu harus menjawab apa.
Akhirnya ia berkata, “Tidak ada.”
Mireya mengangguk. “Kalau begitu, aku lanjut bekerja.”
Ia kembali mencangkul.
Duk!
Arven berdiri di tempat. 'Dia benar-benar ...'
*bersambung*
kepercayaan itu ga tumbuh dalam semalem..
dia udah pernah mencoba mempercayai seseorang dengan segenap jiwa dan raganya ,dan endingnya menyakitkan.
jadi cobalah kau bangun kepercayaan nya dulu
ambil simpatinya, dan sembuh kan lukanya
baru dia akan bisa membuka hatinya🥹
lucu amet si mereka🤣🤣
kontrak oh kontrak🤔
mending jujur daripada mantan mertua yang mengacaukan semua greget sama Mire
trauma diselingkuhi itu kyk kangker dufalam tubuh,ga keliatan tapi sakitnya nyata. merasuk Ampe kedalam aliran darah dan otak kita tanpa kita sadari
selalu mempertanyakan apakah kita cukup baik
apakah ini semua karena salah kita?
apakah ada g kurang dr kita?
sampai mati pasti kebawa🥹🥹
Mau nya lupa
maunya ga dipikirin
tapi...🫣🥹🥹
Dia takut nasib pernikahannya akan sama dgn sebelumnya
bahkan sekelas artis sebelah aj yg lagi rame
ketemu yg baru,setengah mampus nyerein istrinya 🤣🤣.
katanya yg baru dipilih karena lemah lembut.
hei...kami juga awalnya kembang desa
pas lama nikah jadi kembang api🤣🤣🤣
apalagi pengalaman mireya yg paket komplit...🥹
hatinya aja ga ada gerbang nya di KK
ga ada yg jagain🤣🤣🤣
Iddah itu berlaku pas suami ngucapin talak kan?
nah...si b4ngs4t itukan nalak nya udah lama...lebih dr 3 bulan kali
di pengadilan mah tinggal ketik pali doank
wahhhh....begini orang yg ga ngerti agama sok sok an mau pake dalili agama
tapi bener Lo
kita yg terbiasa di sajikan pisau didepan mata,tetibaan dikasih bunga
pasti bingung kan ya🫣🥹🥹