NovelToon NovelToon
Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Enemy to Lovers / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:72
Nilai: 5
Nama Author: Arya Setya

Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kerasnya Ibu Kota, Kopi Dingin, dan Senior Caper

Angin musim gugur di Beijing terasa jauh lebih menusuk dibandingkan di Jiangcheng. Daun-daun ginkgo berwarna kuning keemasan berguguran di sepanjang trotoar raksasa kampus Universitas Beijing, menciptakan karpet alami yang sangat estetik namun dingin.

Sudah tiga bulan sejak Kang Lu Feng dan Lin Xiao resmi menyandang status sebagai mahasiswa baru di kampus nomor satu se-Tiongkok ini. Dan jujur saja, realita menjadi mahasiswa di sini jauh dari kata santai.

Di depan gedung Fakultas Hukum yang megah, Lu Feng berdiri menyandarkan punggungnya di salah satu pilar batu. Cowok itu mengenakan turtleneck hitam yang dibalut dengan jaket denim gelap, celana jeans, dan sepatu sneakers kets. Rambutnya kini sedikit lebih panjang, memberikan kesan berantakan namun sangat maskulin.

Setiap kali ada mahasiswi yang berjalan melewati pilar itu, mereka pasti mencuri pandang ke arah Lu Feng. Beberapa bahkan berbisik-bisik terang-terangan.

"Itu anak dari fakultas mana? Kok nggak pernah lihat?"

"Tampan banget, astaga. Auranya agak bad boy gitu ya?"

"Minta WeChat-nya gih sana!"

Namun, Lu Feng sama sekali tidak peduli. Dia sedang menyumpal telinganya dengan earbuds, mendengarkan podcast tentang sejarah ekonomi Tiongkok yang ditugaskan dosennya pagi tadi. Matanya yang sayu terus mengawasi pintu keluar gedung kaca di depannya. Di kampus ini, otaknya benar-benar diperas sampai kering. Tidak ada waktu untuk meladeni perempuan lain saat nilai mata kuliah pengantarnya sedang berada di ujung tanduk.

Tak lama, pintu kaca gedung Hukum bergeser terbuka.

Sekelompok mahasiswa keluar, dan di tengah-tengah mereka, berdirilah Lin Xiao.

Cewek itu mengenakan coat panjang berwarna krem yang membuatnya terlihat sangat elegan namun dewasa. Rambutnya diikat asal dengan jedai, dan di lengannya menumpuk tiga buku referensi hukum perdata yang tebalnya tidak manusiawi. Wajah Lin Xiao terlihat sangat lelah, kantung mata tipis mulai menghiasi wajah cantiknya.

Melihat targetnya muncul, Lu Feng langsung melepas earbuds-nya dan berjalan membelah kerumunan mahasiswa.

Lin Xiao sedang mengobrol serius dengan dua teman perempuannya ketika tiba-tiba sebuah tangan besar dan hangat mengambil alih tumpukan buku tebal dari lengannya.

Lin Xiao mendongak, dan raut lelahnya seketika luntur, digantikan oleh senyum manis yang membuat lesung pipit tipisnya muncul. "Lu Feng? Kamu sudah lama menunggu? Bukannya kelas Manajemen-mu baru selesai setengah jam lagi?"

"Dosennya ada rapat mendadak, jadi dipulangin cepet," jawab Lu Feng santai, memindahkan buku-buku berat itu ke lengan kirinya. Tangan kanannya dengan natural menyelipkan anak rambut Lin Xiao yang berantakan ke belakang telinga. "Muka lo kusut banget, Yang. Belum makan siang, kan?"

Kedua teman Lin Xiao yang berdiri di sana langsung saling senggol dengan wajah kegirangan melihat interaksi kelewat romantis dari pasangan beda fakultas ini.

"Xiao, kami duluan ke kantin ya! Jangan lupa nanti malam kita ada kumpul panitia BEM!" pamit salah satu temannya sambil mengedipkan mata, lalu buru-buru pergi sebelum Lin Xiao sempat menahan mereka.

Lin Xiao menghela napas panjang, memijat pangkal hidungnya pelan. "Jadwalku minggu ini gila banget, Lu Feng. Aku bahkan belum menyentuh tugas esai untuk kelas Hukum Tata Negara."

Lu Feng tidak menjawab dengan kata-kata manis yang kosong. Dia tahu pacarnya ini tidak butuh kata 'semangat', melainkan aksi nyata. Cowok itu mengeluarkan sebuah tumbler dari dalam tas ranselnya dan menyodorkannya ke tangan Lin Xiao.

"Kopi karamel. Masih hangat. Sengaja gue beli di kafe luar kampus biar lo nggak ngantuk," ucap Lu Feng. "Ayo, gue temenin lo ngerjain esai di perpustakaan pusat."

Lin Xiao menatap tumbler itu, lalu menatap Lu Feng. Hatinya menghangat. Di tengah kerasnya ibu kota dan tekanan akademis yang membunuh, cowok berandal dari Jiangcheng ini tetap menjadi jangkar kewarasannya.

"Kamu sendiri bagaimana dengan tugas ekonomimu?" Lin Xiao bertanya, berjalan bersisian dengan Lu Feng membelah trotoar yang dipenuhi daun ginkgo.

"Gampang. Gue bisa kerjain sambil nemenin lo," Lu Feng menjawab dengan nada sombong yang khas, membuat Lin Xiao mendengus pelit.

"Jangan sombong. Kemarin nilai kuis statistikmu cuma pas di atas batas kelulusan, Kang Lu Feng," sindir Lin Xiao tajam, jiwa ketua kelasnya tidak pernah benar-benar hilang.

"Iya, iya, Ibu Pengacara. Nanti malem lo hukum gue aja di perpus," kekeh Lu Feng, sengaja memelankan suaranya di kata 'hukum' untuk menggoda Lin Xiao, yang sukses membuat pipi cewek itu merona seketika.

Perpustakaan Pusat Universitas Beijing besarnya sepuluh kali lipat dari perpustakaan Jiangcheng. Arsitekturnya megah, suasananya hening, dan dipenuhi oleh ribuan mahasiswa yang menatap laptop dengan tatapan kosong.

Lu Feng dan Lin Xiao duduk berdampingan di sebuah meja panjang di dekat jendela raksasa. Keduanya sama-sama fokus pada layar laptop masing-masing. Selama dua jam penuh, hanya terdengar suara ketikan keyboard yang beradu cepat.

Lu Feng sesekali melirik ke arah Lin Xiao. Cewek itu sedang mengetik dengan kening berkerut serius. Tanpa sadar, Lu Feng tersenyum. Melihat Lin Xiao berada di elemennya, memperjuangkan mimpinya di kampus ini, membuat semua kerja keras Lu Feng begadang berbulan-bulan saat SMA terasa sangat sepadan.

Namun, kedamaian itu terganggu saat sebuah bayangan menutupi cahaya dari jendela.

Seorang mahasiswa pria bertubuh tegap, mengenakan kemeja rapi dan kacamata berbingkai kotak, berhenti di depan meja mereka. Di dadanya terpasang name tag panitia inti BEM Universitas.

"Lin Xiao," panggil senior itu dengan suara pelan namun terdengar sok akrab.

Lin Xiao mendongak, sedikit terkejut. "Kak senior Zhang? Ada apa?"

Senior Zhang itu tersenyum, menopangkan tangannya di atas meja Lin Xiao, mengabaikan eksistensi Lu Feng yang duduk tepat di sebelahnya. "Esaimu sudah sejauh mana? Oh ya, soal rapat BEM nanti malam, bagaimana kalau kita berangkat bareng? Aku bawa mobil hari ini. Sekalian kita bisa diskusi soal proker divisi acara di jalan."

Lu Feng menghentikan ketikannya. Matanya menatap layar laptop, tapi telinganya menajam. Aura di sekitarnya mendadak berubah menjadi beberapa derajat lebih dingin.

Modus picisan, batin Lu Feng sinis. Di Jiangcheng dia harus berhadapan dengan Wang Yibo si anak emas, sekarang di Beijing dia harus menghadapi senior kampus yang sok berkuasa karena bawa mobil?

Lin Xiao terlihat canggung. Dia tahu arah pembicaraan ini, dan dia sangat tidak menyukainya. "Eh... tidak perlu repot-repot, Kak. Aku bisa jalan kaki atau naik sepeda kampus ke gedung rektorat."

"Sama sekali tidak repot, Xiao. Ini kan sudah tanggung jawabku sebagai koordinator div—"

TAK.

Suara tumpukan buku hukum perdata yang sengaja dijatuhkan ke atas meja membuat kalimat senior Zhang terputus seketika.

Lu Feng memundurkan kursinya perlahan, menoleh ke arah senior itu dengan tatapan yang sangat malas namun sangat mengintimidasi. Dia tidak membentak, tidak juga bersikap kasar. Lu Feng yang sekarang sudah lebih dewasa dalam mengontrol emosinya.

Cowok itu merangkul sandaran kursi Lin Xiao dengan lengan kirinya, sebuah gestur kepemilikan yang sangat jelas, lalu tersenyum miring menatap senior Zhang.

"Maaf, Senior," ucap Lu Feng, suaranya berat dan santai, tapi ketajamannya bisa mengiris udara. "Pacar gue kebetulan gampang mabuk darat kalau naik mobil yang pewanginya nggak cocok. Nanti malem dia berangkat bareng gue aja naik sepeda kampus. Kebetulan gue juga mau nganterin dia."

Senior Zhang tertegun. Matanya bergerak dari lengan Lu Feng yang berada di kursi Lin Xiao, lalu menatap wajah Lin Xiao untuk mencari bantahan. Namun, Lin Xiao justru diam dan wajahnya sedikit merona, jelas membenarkan ucapan cowok itu.

Ego senior Zhang sedikit tertohok, tapi dia berusaha mempertahankan senyum kaku. "Oh, begitu. Pacarmu... mahasiswa hukum juga?"

"Manajemen Bisnis," jawab Lu Feng singkat, masih mempertahankan seringainya. "Kenapa? Mau ngajak gue diskusi proker BEM juga?"

Senior itu berdeham canggung, wajahnya memerah karena malu. "T-tidak. Kalau begitu, sampai ketemu nanti malam, Xiao." Pria itu langsung berbalik dan berjalan cepat menjauhi meja mereka.

Setelah senior itu hilang dari pandangan, Lin Xiao langsung menoleh ke arah Lu Feng, memukul lengan cowok itu pelan dengan buku catatannya.

"Kamu ini apa-apaan sih?! Mabuk darat dari mana, aku tidak pernah mabuk darat!" omel Lin Xiao dengan suara berbisik, panik ditegur pustakawan.

Lu Feng tertawa tertahan, menarik kursi Lin Xiao hingga roda kursinya bergeser merapat ke kursinya. Jarak mereka kini benar-benar tidak ada sisa.

"Alasan doang, biar dia sadar diri," bisik Lu Feng, mencondongkan wajahnya ke telinga Lin Xiao. Aroma mint dari napasnya menyapu leher cewek itu. "Lo tuh ya, di mana-mana selalu aja ada yang caper. Bikin gue harus terus-terusan kerja keras buat nandain territory."

"Siapa suruh kamu cemburuan," cibir Lin Xiao, meski diam-diam dia tersenyum dan menyandarkan kepalanya sebentar di bahu Lu Feng.

"Gue bakal selalu cemburu kalau itu menyangkut lo, Xiao," Lu Feng mengecup puncak kepala Lin Xiao diam-diam dari balik tumpukan buku yang menghalangi pandangan orang-orang di sekitar mereka. "Sekarang buruan selesain esai lo, biar nanti malem gue bisa boncengin lo keliling kampus pakai sepeda, kayak mahasiswa-mahasiswa di film romantis itu."

Lin Xiao tertawa pelan, hatinya benar-benar penuh. Di tengah tekanan kuliah yang gila dan tugas yang menumpuk, kehadiran Lu Feng yang posesif, hangat, dan selalu melindunginya adalah satu-satunya obat penawar yang ia butuhkan untuk bertahan hidup di ibu kota.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!