Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertemuan
Foto itu masih terbuka di layar ponsel Nayla.
Arga berdiri di area parkir sebuah gedung. Siska berada di sampingnya, mencengkeram lengan pria itu dengan erat. Wajah Arga tampak tegang, tetapi ia tidak terlihat berusaha menjauh.
Waktu di sudut foto menunjukkan pukul 13.27.
Padahal sekitar satu jam sebelumnya, Arga menelepon Nayla dan berkata bahwa ia sudah mengakhiri semuanya dengan Siska.
Nayla menatap foto itu tanpa berkedip.
Ada rasa sakit yang kembali menekan dadanya. Namun kali ini, rasa sakit itu tidak membuatnya ingin menangis. Justru ada kemarahan yang perlahan tumbuh.
Selama ini, setiap kali Arga berbohong, Nayla selalu mencari alasan untuk memaafkannya.
Mungkin Arga takut.
Mungkin Arga bingung.
Mungkin Arga belum siap.
Namun foto itu membuktikan bahwa Arga masih memilih bersembunyi di balik kata-kata yang tidak benar.
“Nayla?” panggil Bu Ratih pelan. “Kenapa?”
Nayla mengangkat wajah. Ia menyerahkan ponsel kepada ibunya.
Bu Ratih membaca pesan dan memandangi foto itu. Wajahnya langsung berubah muram.
“Ini baru diambil siang ini?” tanyanya.
Nayla mengangguk.
“Arga bilang sudah putus sama perempuan itu.”
“Mungkin dia memang sedang ingin putus,” kata Bu Ratih hati-hati. “Tapi cara dia melakukannya mungkin—”
“Tidak, Ma.” Nayla mengambil kembali ponselnya. “Kalau dia benar-benar jujur, dia tidak akan bilang semuanya sudah selesai sebelum benar-benar selesai.”
Bu Ratih menatap putrinya dengan mata lembut.
“Kamu tetap mau datang?”
Nayla menarik napas panjang.
“Iya.”
“Nayla, kamu tidak perlu datang kalau hanya akan membuat kamu semakin terluka.”
“Aku harus datang.” Suara Nayla terdengar lebih tegas dari yang ia kira. “Aku mau dengar langsung apa lagi yang akan dia bohongi.”
Bu Ratih tidak lagi membujuk. Ia hanya mengangguk dan meraih tasnya.
“Kalau begitu, Mama ikut. Mama tunggu di meja lain, seperti yang kamu minta.”
***
Kafe di dekat taman kota itu lebih ramai daripada yang Nayla bayangkan.
Suara sendok beradu dengan cangkir, musik pelan dari pengeras suara, dan percakapan para pengunjung bercampur menjadi latar yang tidak terlalu sunyi. Nayla memilih meja di bagian tengah, dekat jendela besar yang menghadap taman.
Ia sengaja memilih tempat terbuka.
Tidak ada sudut sepi.
Tidak ada tempat yang membuatnya merasa terjebak.
Bu Ratih duduk dua meja dari sana. Beliau membuka ponsel, berpura-pura membaca sesuatu, tetapi sesekali melirik ke arah Nayla.
Pukul empat tepat, Arga masuk ke dalam kafe.
Ia mengenakan kemeja putih dan celana bahan hitam. Wajahnya tampak lelah. Ada bayangan hitam di bawah matanya, seolah ia juga tidak tidur semalaman.
Namun Nayla tidak lagi mudah tergerak oleh penampilan itu.
Arga menghampiri meja dan duduk di hadapannya.
“Kamu datang,” katanya.
“Aku bilang aku akan datang.”
Arga mengangguk. Tatapannya menyapu wajah Nayla beberapa detik.
“Kamu kelihatan kurus.”
Nayla hampir tersenyum pahit.
Selama dua bulan terakhir, Arga tidak pernah peduli apakah Nayla makan atau tidur dengan baik. Namun sekarang, setelah ketahuan selingkuh, ia tiba-tiba memperhatikan wajah istrinya.
“Kamu mau pesan sesuatu?” tanya Arga.
“Aku tidak datang untuk makan.”
Arga menarik napas panjang.
“Baik.” Ia menatap Nayla lurus-lurus. “Aku tahu aku salah.”
Nayla diam.
“Aku tidak punya alasan untuk membela diri,” lanjutnya. “Aku terlalu dekat dengan Siska. Aku membiarkan semuanya berjalan terlalu jauh. Aku menyakiti kamu.”
“Kamu selingkuh,” kata Nayla.
Arga menunduk.
“Iya.”
Satu kata itu terdengar begitu kecil dibandingkan luka yang ia tinggalkan.
“Kamu bilang tadi kamu sudah putus sama Siska,” lanjut Nayla.
“Aku sudah.”
“Benarkah?”
Arga mengangkat wajah. “Iya.”
Nayla membuka ponselnya. Ia meletakkan foto yang diterima dari nomor tidak dikenal di atas meja, lalu menggesernya ke arah Arga.
“Kalau begitu, ini apa?”
Arga memandangi layar ponsel itu.
Wajahnya langsung menegang.
“Dari mana kamu dapat foto ini?” tanyanya.
Nayla menatapnya datar. “Jawab dulu pertanyaanku.”
Arga menelan ludah.
“Itu tadi siang. Aku memang bertemu Siska.”
“Kamu bilang sudah putus.”
“Aku bertemu dia untuk mengakhiri semuanya.”
“Di parkiran?”
“Kami baru selesai dari kantor. Dia menahan aku. Dia tidak mau menerima keputusan aku.”
Nayla tertawa kecil.
“Dan kamu pikir aku harus percaya begitu saja?”
“Nayla, aku serius.”
“Serius seperti saat kamu bilang lembur? Serius seperti saat kamu bilang Siska hanya teman kantor? Serius seperti saat kamu menyalahkan aku karena melihat pesan kalian?”
Arga terdiam.
Nayla merasa jantungnya berdebar, tetapi ia tidak lagi ingin berhenti.
“Kalau kamu benar-benar ingin memperbaiki semuanya, kenapa kamu tidak bilang bahwa kamu akan bertemu dia siang ini?” lanjut Nayla. “Kenapa kamu memilih berbohong lagi?”
“Aku takut kamu akan marah.”
“Aku sudah marah, Arga.” Suara Nayla bergetar. “Aku sudah hancur. Kamu tidak bisa menggunakan rasa takutku marah sebagai alasan untuk terus menyembunyikan kebenaran.”
Arga mengusap wajahnya.
“Aku tidak tahu harus bagaimana.”
“Mulai dengan jujur.”
“Aku sedang berusaha.”
“Kamu belum berusaha. Kamu baru panik karena aku pergi.”
Arga menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Aku memang panik,” katanya pelan. “Aku baru sadar aku tidak bisa kehilangan kamu.”
Kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang dulu sangat ingin Nayla dengar.
Namun sekarang, Nayla tidak lagi tahu apakah itu cinta atau hanya ketakutan Arga kehilangan kenyamanan.
“Kalau kamu tidak bisa kehilangan aku,” tanya Nayla, “kenapa kamu sanggup mempertaruhkan aku?”
Arga tidak menjawab.
Seorang pelayan datang dan meletakkan segelas air putih di meja. Keduanya terdiam sampai pelayan itu pergi.
Nayla menatap tangan Arga yang berada di atas meja. Dulu, tangan itu sering menggenggamnya di jalan. Dulu, tangan itu mengusap rambutnya ketika Nayla sakit. Dulu, Nayla merasa aman ketika Arga menggenggam jemarinya.
Sekarang, Nayla hanya melihat tangan seorang laki-laki yang juga menggenggam tangan perempuan lain.
“Aku ingin kamu pulang,” kata Arga akhirnya. “Kita bisa memperbaiki semuanya pelan-pelan.”
“Aku tidak akan pulang.”
“Nayla…”
“Aku butuh waktu.”
“Aku sudah putus sama Siska.”
“Kalau memang benar, buktikan dengan tindakan. Bukan kata-kata.”
Arga mengangkat wajah. “Apa yang kamu mau aku lakukan?”
Pertanyaan itu membuat Nayla berpikir.
Ia tidak ingin menjadi pengawas hidup Arga. Ia tidak ingin harus memeriksa ponsel, menuntut laporan, atau meminta bukti setiap hari.
Jika kepercayaan sudah hancur, apakah masih bisa dibangun dengan aturan-aturan seperti itu?
“Aku tidak tahu,” jawab Nayla jujur. “Karena aku tidak tahu apakah aku masih bisa percaya.”
Wajah Arga berubah.
“Kamu mau cerai?”
Pertanyaan itu membuat Nayla membeku.
Kata itu akhirnya keluar.
Selama ini, kata tersebut hanya berputar di dalam pikirannya. Kini Arga yang mengucapkannya lebih dulu.
“Aku belum memutuskan,” jawab Nayla. “Tapi aku tidak bisa kembali seperti tidak terjadi apa-apa.”
Arga menunduk.
“Aku tidak mau cerai,” katanya pelan.
“Dulu kamu seharusnya memikirkan itu.”
“Aku tahu.” Arga mengangkat wajah. “Aku tahu aku salah. Tapi tolong jangan langsung mengakhiri semuanya.”
Nayla tidak menjawab.
Ponselnya bergetar di atas meja.
Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Nayla membuka layar dengan hati-hati.
**Nomor tak dikenal:** Tanyakan pada Arga tentang dokumen proyek Puri Sagara. Tanyakan kenapa namanya ada di daftar akses.
Nayla menatap pesan itu.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
Ia teringat pesan Dimas. Ada transaksi proyek yang berkaitan dengan Siska dan vendor. Nama Arga muncul dalam beberapa dokumen akses.
Nayla mengangkat wajah dan menatap suaminya.
“Arga,” katanya pelan.
“Iya?”
“Apa itu Proyek Puri Sagara?”
Wajah Arga langsung berubah.
Ia tidak menjawab.
“Kenapa nama kamu ada di daftar akses dokumen proyek itu?”
Arga menatap Nayla dengan sorot mata yang membuatnya semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan.
“Kamu dapat informasi dari siapa?” tanya Arga.
“Jadi memang benar?”
“Nayla, ini masalah kantor. Kamu tidak perlu ikut campur.”
“Kamu bilang mau jujur.”
“Aku jujur soal Siska.”
“Tidak. Kamu hanya mengaku setelah aku menemukan bukti.”
Arga mengembuskan napas kasar.
“Proyek itu rumit. Aku cuma membantu Siska mengambil beberapa dokumen.”
“Dokumen apa?”
“Dokumen biasa.”
“Kalau biasa, kenapa kamu terlihat takut?”
Arga diam.
Nayla menatapnya. Sekarang, rasa kecewanya bercampur dengan rasa asing. Apakah pria di hadapannya benar-benar Arga yang dulu ia kenal? Atau selama ini Nayla hanya mengenal sisi yang ingin ditunjukkan Arga?
“Kamu terlibat masalah apa?” tanya Nayla.
“Aku tidak melakukan apa-apa.”
“Lalu kenapa nama kamu ada di daftar akses?”
Arga mengalihkan pandangan ke jendela.
“Aku cuma membuka beberapa berkas atas permintaan Siska,” jawabnya akhirnya. “Aku tidak tahu dia mau memakai data itu untuk apa.”
Nayla menahan napas.
“Kamu memberi akses dokumen kantor pada Siska?”
“Aku pikir itu untuk pekerjaan.”
“Kamu yakin?”
Arga menatapnya. Untuk pertama kalinya, ada rasa takut yang nyata di wajahnya.
“Aku tidak tahu,” katanya lirih.
Nayla bersandar di kursi.
Jadi masalahnya memang lebih besar.
Arga bukan hanya berselingkuh. Ia mungkin juga membantu sesuatu yang dapat membahayakan pekerjaannya sendiri.
“Aku tidak bisa membantu kamu,” kata Nayla setelah beberapa saat.
“Aku tidak minta kamu membantu.”
“Tapi kamu ingin aku tetap di sisi kamu saat semuanya mungkin berantakan.”
Arga tampak ingin menyangkal, tetapi tidak bisa.
Nayla mengambil tasnya.
“Aku pulang, Arga.”
“Kita belum selesai bicara.”
“Tidak, kita sudah cukup bicara.” Nayla berdiri. “Kamu bilang ingin berubah. Kalau itu benar, berhenti berbohong kepada aku, berhenti bertemu Siska, dan bertanggung jawab atas apa pun yang kamu lakukan di kantor.”
“Nayla…”
“Aku tidak akan menjadi alasan kamu merasa lebih baik tentang diri sendiri.”
Arga ikut berdiri. “Aku cinta kamu.”
Kalimat itu membuat Nayla berhenti.
Dulu, kalimat itu mungkin akan membuatnya luluh.
Namun hari ini, Nayla hanya menoleh dengan mata berkaca-kaca.
“Cinta tidak seharusnya membuat seseorang merasa tidak cukup,” katanya. “Dan selama ini, itu yang kamu lakukan padaku.”
Nayla berjalan pergi.
Bu Ratih segera bangkit dari meja lain dan mendekatinya. Mereka keluar dari kafe bersama-sama tanpa menoleh lagi.
Di belakang, Arga tetap berdiri sendiri.
Namun saat Nayla dan ibunya berjalan menuju mobil, ponselnya kembali bergetar.
Kali ini, bukan pesan dari nomor asing.
Sebuah foto baru masuk dari Dimas.
Foto tersebut memperlihatkan layar komputer dengan daftar akses dokumen Proyek Puri Sagara. Nama Arga memang tercatat di sana.
Namun di bawah namanya, ada satu nama lain yang membuat Nayla menegang.
**Raka Aditya.**
Nayla menatap foto itu dengan jantung berdebar.
Mengapa nama Raka juga ada dalam daftar akses proyek yang sama?
Apakah Raka benar-benar hanya ingin membantunya?
Atau ada rahasia lain yang belum ia ketahui?