Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.
Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Segel Besi dan Gelombang Muara
Rantai besi sepanjang tiga tombak berdesis membelah udara basah Dermaga Timur. Ujung pisau crescent yang berputar cepat meluncur tepat ke arah jakun Ma Huang, membawa bau tembaga kental dari racun minyak kalajengking yang dioleskan pada gerigi pisaunya.
Ma Huang menundukkan kepala sejengkal. Pisau rantai itu menebas angin tepat di atas ubun-ubunnya, mengoyak tiang kayu penyangga atap hingga pecahan papan berhamburan. Sebelum rantai kedua menyusul dari tangan kiri An Sha, Ma Huang menghentakkan tumit ke lantai kayu.
Tiga karung garam di sampingnya pecah terbelah oleh tebasan melintang Pedang Tulang Hitam. Serbuk putih mengepul hebat membumbung tinggi, memenuhi udara di antara Ma Huang dan barisan pembunuh bertopeng besi.
"Butakan mata mereka!" teriak An Sha dari lantai dua gudang.
Dua rantai besinya diputar melingkar horizontal untuk menyapu kabut garam. Namun Ma Huang sudah bergerak cepat menembus tirai debu asin. Gerakan kakinya ringan tanpa suara, memanfaatkan gesekan papan kayu yang lapuk di tepi dermaga. Tiga pembunuh bertopeng terbatuk-batuk kencang saat butiran garam tajam menyengat mata dan luka terbuka di wajah mereka.
Bilah hitam Ma Huang meluncur mendatar, memotong tiga tenggorokan sekaligus dalam satu dorongan siku yang presisi. Darah kental memercik deras ke tumpukan karung garam, berubah menjadi gumpalan kehitaman saat racun Ular Hijau berinteraksi dengan larutan asin.
Tiga jasad itu roboh bersamaan, menimpa lantai dermaga dengan dentum kaku. Ma Huang menendang salah satu jasad ke arah dua pembunuh lainnya yang mencoba mengepung dari sisi kanan.
Sebelum dua pembunuh itu sempat menggeser posisi berdiri, Ma Huang melompati jasad di depan mereka. Ujung pedangnya menembus dada pembunuh pertama hingga ke tulang punggung, sementara telapak tangan kirinya melayangkan pukulan terbuka beracun tepat ke rahang pembunuh kedua.
Suara derakan tulang rahang hancur bergema di bawah atap seng gudang. Pembunuh kedua terlempar tiga langkah, memuntahkan darah hitam akibat racun yang menjalar cepat dari telapak tangan Ma Huang.
An Sha melompati pagar kayu lantai dua. Tubuhnya meluncur kaku ke bawah, dua pisau crescent di tangannya terentang lebar mengincar kedua bahu Ma Huang.
Ma Huang mengangkat Pedang Tulang Hitam secara melintang dengan kedua tangan menyangga gagang.
Bunga api memercik terang di kegelapan gudang saat logam beradu keras. Tekanan bobot tubuh An Sha mendorong lutut kanan Ma Huang hingga tertekuk tipis menghantam lantai papan. Kayu alas gudang merekah retak di sekeliling paku penahannya.
"Hanya ini kemampuan putra tunggal Ma Ren?" bisik An Sha dengan wajah sejengkal dari hidung Ma Huang. "Sekte Pedang Suci sudah membasmi seluruh garis darahmu, dan kau hanyalah sisa bangkai yang terlambat dikubur!"
Ma Huang tidak menjawab dengan kata-kata. Sepasang matanya yang berkilat merah menatap lurus ke celah mata topeng An Sha.
Aliran Qi beracun di dalam meridian dadanya meledak seketika. Hawa dingin membusukkan meluncur keluar dari pori-pori kulit tangannya, menjalar cepat menelusuri bilah Pedang Tulang Hitam dan langsung menyengat dua pisau crescent milik An Sha.
Logam tipis berlapis racun minyak kalajengking itu mendadak memerah, lalu melunak secara tidak alami. Karat hitam menyebar cepat di sepanjang rantai besi An Sha, menggerogoti sambungan rantai hingga rapuh.
An Sha membelalak kaget saat merasakan rasa membakar menyengat telapak tangannya melalui rantai besi. Ia mencoba melepaskan pegangannya, tetapi Ma Huang bergerak lebih cepat.
Tangan kiri Ma Huang mencengkeram leher jubah hitam An Sha, menarik tubuh tinggi kurus itu ke bawah secara paksa. Lutut kanan Ma Huang melayang naik dengan dorongan penuh dari otot paha, menghantam tepat di tengah topeng besi An Sha.
Topeng besi itu retak dan terbelah dua. Hidung dan tulang pipi An Sha remuk di dalam, menyemburkan cairan darah dan pecahan tulang dari celah topeng yang hancur.
An Sha menjerit parau, tubuhnya limung ke belakang. Sebelum pria kurus itu sempat menyeimbangkan posisinya, Ma Huang memutar badan tiga puluh derajat dan membenamkan Pedang Tulang Hitam lurus ke ulu hati An Sha.
Bilah hitam itu menembus jubah dan tulang dada, keluar dari punggung An Sha hingga menusuk dalam ke tiang kayu utama gudang di belakangnya.
An Sha menggigil hebat. Darah hitam berbau busuk meleleh dari sudut bibirnya, membasahi wajahnya yang hancur tak berbentuk. Tangannya yang gemetar berusaha memegang lengan baju Ma Huang, tetapi matanya perlahan kehilangan cahaya kehidupan saat racun membakar Inti Qi di dalam dadanya.
Ma Huang mencabut pedangnya dengan satu tarikan lurus. Jasad An Sha ambruk meluncur di atas tumpukan karung garam yang pecah, diam tak bergerak lagi.
Sisa dua pembunuh bertopeng di luar gudang yang menyaksikan kematian pemimpin mereka berbalik arah, mencoba melompati pagar dermaga untuk melarikan diri ke dalam kegelapan laut.
Ma Huang menghentakkan kakinya ke jasad di bawahnya, mengambil dua pisau crescent yang tercecer di lantai, lalu melemparkannya berurutan ke arah pintu gudang.
Dua jeritan pendek terdengar bersahut-sahutan diiringi suara dua tubuh berat yang jatuh menghantam genangan air laut di bawah tiang dermaga. Keheningan total kembali membungkus gudang garam tua tersebut.
Ma Huang menyapukan bilah pedangnya ke kain jubah An Sha untuk membersihkan sisa darah hitam, lalu melangkah pelan mendekati tumpukan karung garam di sudut dalam gudang.
Lu Gang terduduk lemah di atas tanah basah, punggungnya bersandar pada kotak kayu penyimpan garam. Tiga pengawal Serigala Hitam yang tersisa berdiri mengepung kapten mereka dengan senjata terhunus kaku, mata mereka menatap Ma Huang antara rasa tidak percaya dan ketakutan mendalam.
"Tuan Muda..." suara Lu Gang bergetar kencang. Pria paruh baya itu mencoba bangkit berdiri, tetapi luka tebasan mendalam di paha kirinya membuat tubuh tegap itu kembali terperosok ke tanah.
Ma Huang berlutut di depan Lu Gang. Ia menekan dua titik meridian di sekitar bahu dan paha kapten tua itu untuk menghentikan pendarahan yang kian parah.
"Jangan banyak bergerak, Kapten Lu," kata Ma Huang dingin namun mantap. "Darahmu sudah terlalu banyak terbuang di lantai ini."
Lu Gang menatap wajah Ma Huang dengan sepasang mata berkaca-kaca. Jarinya yang kasar menepuk bahu Ma Huang dengan gemetar. "Kami berpikir Tuan Muda telah gugur bersama Tuan Besar Ma Ren di kediaman utama... Bagaimana Tuan Muda bisa selamat dari racun dan pedang para tetua Sekte Pedang Suci?"
"Iblis di neraka belum mau menerimaku, Kapten," jawab Ma Huang singkat tanpa menjelaskan latihan berdarah yang dijalaninya di tebing tengkorak. "Jian Gang sudah mati di Lembah Angin Hitam. An Sha baru saja menyusulnya."
Mendengar nama Jian Gang, para pengawal Serigala Hitam menghembuskan napas lega. Namun wajah Lu Gang justru berubah kian pucat dan menegang.
"Jika Jian Gang mati, maka jimat panggilan darurat Keluarga Jian pasti sudah menyala di langit," bisik Lu Gang dengan napas memburu. "Tuan Muda... kita harus segera pergi dari Kota Yunjiang. Tempat ini sudah menjadi sarang perangkap!"
"Aku tidak akan pergi sebelum kepala Jian Yue dan para tetua Sekte Pedang Suci terpenggal," balas Ma Huang tegas.
Lu Gang menggelengkan kepala kencang. Ia menggenggam pergelangan tangan Ma Huang dengan sisa tenaga di tubuhnya. "Tuan Muda tidak mengerti! Malam pembantaian itu... Jian Yue tidak hanya mengincar posisi ketua persekutuan dagang atau harta simpanan Keluarga Ma!"
Ma Huang menyipitkan matanya. "Apa maksudmu?"
Lu Gang mendekatkan wajahnya, berbisik parau di balik desir angin laut yang menerobos dinding kayu. "Tuan Besar Ma Ren tidak dibunuh karena menolak pertunangan Tuan Muda dengan Jian Yue. Beliau dibunuh karena menemukan rahasia raksasa di bawah Balai Kota Yunjiang."
Otot-otot di rahang Ma Huang menegang kaku. "Rahasia apa?"
"Keluarga Jian dan Sekte Pedang Suci sedang menggali makam kuno Raja Lautan di bawah dasar pelabuhan," terang Lu Gang dengan mata membelalak. "Di dalam makam itu tersimpan Segel Besi Hitam, pusaka komando yang bisa mengendalikan tiga ribu pasukan tentara bayaran di batas wilayah selatan. Tuan Besar menyembunyikan kunci peta makam itu sebelum beliau wafat!"
Lu Gang merogoh bagian dalam ikatan pinggang kulitnya yang terkoyak darah. Dari balik kain pelapis rahasia, ia mengeluarkan sebuah tabung tembaga kecil berukir lambang kepala serigala.
"Tuan Besar menyerahkan tabung ini kepadaku beberapa jam sebelum kediaman diserang," bisik Lu Gang seraya menjejalkan tabung tembaga itu ke tangan Ma Huang. "Di dalamnya ada separuh keping peta. Separuhnya lagi... sudah direbut oleh Jian Yue dari bilik rahasia Tuan Besar."
Ma Huang menggenggam tabung tembaga dingin itu. Rasa dingin dari logam tersebut seolah menusuk masuk ke dalam Dantiannya yang retak.
"Jian Yue membutuhkan kepingan ini untuk membuka pintu utama makam," lanjut Lu Gang dengan nada mendesak. "Itulah sebabnya An Sha terus mengejar kami tanpa henti."
Tiba-tiba, suara dentuman keras bergaung dari arah muara laut di luar gudang. Getaran hebat merambat melalui tiang pancang kayu dermaga, merontokkan debu dan butiran garam dari atap seng ke kepala mereka.
Tiga kapal perang berukuran raksasa dengan bendera keemasan bergambar pedang bersilang tampak muncul dari balik kabut tebal laut. Sinar obor dari atas geladak kapal menyinari seluruh kawasan perairan Dermaga Timur dengan terang benderang.
Di atas geladak kapal terdepan, berdiri Jian Yue bergaun sutra putih berkibar dihembus angin laut. Di sampingnya, berdiri tiga Tetua Agung Sekte Pedang Suci yang memegang pedang bermandikan Qi perak.
"Ma Huang!" suara Jian Yue bergaung nyaring diperkuat tenaga dalam. "Keluar dan serahkan kepingan kunci makam, atau aku akan meratakan seluruh Dermaga Timur ini dengan hujan tembakan meriam besi!"
Puluhan lubang meriam di lambung kapal perang itu terbuka serentak, mengarah lurus ke bangunan gudang garam tempat Ma Huang berdiri.
Ma Huang memasukkan tabung tembaga ke lipatan jubahnya, mencengkeram erat Pedang Tulang Hitam, lalu melangkah lurus keluar menantang tiga kapal perang di hadapannya.