Nabila tidak pernah menyangka jika putri yang selama enam tahun ia besarkan dengan kemewahan ternyata adalah anak palsu. Darah dagingnya yang asli, Luna Wegan, diam-diam ditukar saat lahir oleh keluarga suaminya sendiri dan terpaksa hidup menderita sebagai pengemis jalanan. Takdir akhirnya mempertemukan Nabila dengan seorang gadis kecil penuh luka memar di depan mall, di mana sebuah tahi lalat di balik telinga membongkar pengkhianatan keji masa lalu. Bersama suaminya, sang CEO kejam Leon Wegan, Nabila kini siap menghancurkan siapa pun yang telah berani menyiksa putri kandung mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Mereka berdua baru saja pulang dari rumah sakit setelah memastikan Luna dijaga oleh dua puluh pengawal elit.
"Papa! Mama!" teriak Bianca langsung berlari menghampiri mereka berdua.
Bianca berniat memeluk kaki Leon seperti biasanya saat dia ingin mengadu dan mencari pembelaan.
Tapi sebelum tangan Bianca menyentuh celana kain mahalnya, Leon langsung melangkah mundur dengan cepat.
Tatapan mata Leon pada Bianca benar-benar menyiratkan rasa jijik yang luar biasa mendalam.
"Jangan berani menyentuhku dengan tangan kotor keturunan sampahmu itu," desis Leon dengan suara sangat pelan namun menakutkan.
Bianca berhenti mendadak dan menatap wajah ayahnya dengan perasaan kebingungan yang luar biasa.
Gadis kecil itu tidak pernah mendengar ayahnya berbicara sekasar itu padanya seumur hidupnya.
"Papa kenapa bicara begitu? Papa sedang marah pada pelayan ya?" tanya Bianca mencoba bersikap manis.
Bianca beralih menatap Nabila dan mencoba meraih gaun wanita itu.
"Mama, pelayan jahat memberiku makan sayur pahit, tolong hukum mereka semua Mama," adu Bianca dengan wajah dibuat memelas.
Nabila menatap anak yang selama enam tahun ini dia besarkan dengan penuh kasih sayang palsu.
Sekarang saat Nabila sudah mengetahui fakta sebenarnya, dia bisa melihat dengan jelas kemiripan wajah anak ini dengan wajah jelek Siska.
Mata Bianca yang licik, bibirnya yang tipis suka mencela, semuanya adalah cetakan asli dari kedua orang tua gembelnya.
"Kepala pelayan, kemari sekarang juga," panggil Nabila mengabaikan rengekan Bianca sepenuhnya.
"Iya, Nyonya Besar. Ada yang bisa saya bantu?" jawab kepala pelayan langsung berlari mendekat.
"Kemas semua pakaian murah dan barang-benar tidak berharga milik anak ini ke dalam satu koper kecil," perintah Nabila dengan tegas.
"Tinggalkan semua barang mewah, perhiasan, dan gaun mahal yang pernah aku beli menggunakan uangku," lanjut Nabila tanpa rasa kasihan.
Bianca melebarkan matanya mendengar perintah aneh dari wanita yang selalu memanjakannya itu.
"Kemas pakaian? Kita mau liburan ke luar negeri ya Mama?!" tanya Bianca kembali tersenyum girang.
"Papa mau bawa aku jalan-jalan ke tempat yang seru ya?" tambah Bianca menatap Leon.
Leon mendengus keras mendengar pertanyaan bodoh dari anak penipu di depannya ini.
"Jalan-jalan? Ya, aku akan memulangkanmu ke tempat asalmumu, sebuah tempat pembuangan sampah yang bau," jawab Leon dengan senyum sinis.
"Maksud Papa apa? Rumahku kan di istana besar ini," balas Bianca mulai merasa ada yang tidak beres.
"Rumah ini bukan rumahmu, anak haram. Kamu hanyalah lintah penyedot darah yang kebetulan masuk ke keluargaku," desis Leon melangkah maju mengintimidasi.
Aura membunuh Leon membuat Bianca gemetar ketakutan dan mundur beberapa langkah.
"Mulai detik ini, kamu bukan lagi anak dari keluarga Wegan. Nama belakangmu dicabut secara permanen," vonis Leon menggema di ruang makan itu.
Para pelayan yang mendengarkan ucapan Leon langsung terkesiap dan menutup mulut mereka saking kagetnya.
Mereka baru menyadari bahwa Nona Muda yang selama ini semena-mena ternyata bukanlah anak kandung majikan mereka.
"Papa bohong! Papa pasti cuma bercanda kan! Aku ini anak Papa!" jerit Bianca mulai menangis keras karena panik.
"Jangan panggil aku Papa! Ayah kandungmu adalah seorang pemabuk miskin bernama Herman, dan ibumu adalah lintah darat bernama Siska!" bentak Leon dengan suara menggelegar.
Nama Siska dan Herman diucapkan Leon dengan penuh kebencian yang mendalam.
"Aku tidak kenal mereka! Papa bohong! Mama, tolong bilang kalau Papa cuma bohong!" Bianca berlari ke arah Nabila dan menangis sejadi-jadinya.
Nabila hanya diam mematung tanpa berniat membalas pelukan anak itu sedikit pun.
"Lepaskan gaunku, Bianca. Kamu sudah membuat putri kandungku menderita selama enam tahun," ucap Nabila dengan nada dingin.
"Putri kandungku harus makan makanan sisa di jalanan sementara kamu membuang daging mahal di rumah ini," lanjut Nabila menatap tajam mata Bianca.
"Sekarang saatnya posisi kalian dikembalikan ke jalur yang seharusnya," putus Nabila melepaskan tangan Bianca secara paksa.
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, kepala pelayan datang membawa sebuah tas kain murahan.
Tas itu hanya berisi beberapa potong kaos oblong murah dan celana pendek yang tidak ada harganya.
"Ini barang-barangnya, Tuan Besar," ucap kepala pelayan meletakkan tas itu di lantai.
"Bagus. Bawa anak penipu ini keluar dari gerbang rumahku sekarang juga!" perintah Leon menunjuk pintu keluar.
"Jangan biarkan dia membawa satu peser pun uang dari rumah ini!" tambah Leon dengan sangat kejam.
Dua orang satpam bertubuh besar langsung melangkah maju dan menarik paksa kedua lengan Bianca.
"Lepaskan aku! Kalian satpam miskin berani menyentuhku! Aku adukan ke Papa kalian akan dipecat!" jerit Bianca meronta-ronta dengan sangat buas.
Tapi satpam itu sudah mendapat perintah langsung dari Leon sehingga mereka tidak mempedulikan ancaman anak kecil itu lagi.
Mereka menyeret tubuh Bianca melewati lorong rumah mewah itu menuju pintu utama yang terbuka lebar.
"Mama! Tolong aku Mama! Aku tidak mau pergi dari rumah ini! Rumah ini milikku!" teriak Bianca menangis tersedu-sedu menoleh ke belakang.
Tapi Nabila dan Leon hanya berdiri di ruang makan dengan wajah tanpa ekspresi melihat anak itu diseret keluar.
Tidak ada sedikit pun rasa belas kasihan di hati mereka untuk anak dari Siska dan Herman tersebut.
Bruk!
Tubuh kecil Bianca dilempar begitu saja ke atas trotoar jalan raya yang panas di depan gerbang utama kediaman Wegan.
Tas kain murahannya dilempar menyusul mengenai kepalanya.
"Mulai hari ini, dilarang keras menginjakkan kaki di area perumahan ini lagi, gembel kecil!" ancam satpam itu sebelum menutup gerbang besi yang menjulang tinggi.
Klang!
Suara gembok rantai besi yang dikunci terdengar seperti vonis mati bagi kehidupan mewah Bianca.
Gadis kecil bergaun tidur sutra itu kini terduduk sendirian di pinggir jalanan ibu kota yang mulai ramai.
Dia menatap gerbang tinggi rumah yang selama enam tahun ini dia anggap sebagai kerajaannya.
"Ini tidak mungkin terjadi. Papa pasti cuma marah sebentar," gumam Bianca menghapus air matanya sendiri.
"Nanti malam pasti Papa akan menjemputku dengan mobil mewah dan minta maaf padaku," batin anak licik itu masih belum sadar akan nasib aslinya.
Bianca mencoba berdiri dan merapikan gaun tidurnya yang mulai kotor terkena debu jalanan.
Dia mengambil tas kain murahan itu dengan jijik dan membuangnya ke selokan di dekatnya.
"Aku tidak butuh baju miskin ini, aku bisa beli gaun baru yang lebih bagus nanti," ucapnya sombong.
Tapi suara perutnya yang berbunyi nyaring membuyarkan kesombongan gadis berusia enam tahun itu.
Bianca belum makan apa pun pagi ini karena menolak memakan sayuran yang dihidangkan.
Dia melihat ke sekeliling jalanan perumahan elit itu dan berharap ada tetangga kaya yang mau memberinya makanan enak.
Namun kenyataan hidup di jalanan tidak seindah cerita dongeng pengantar tidurnya.
Tidak ada satupun mobil mewah yang berhenti untuk menyapa atau membantunya.
Satu per satu mobil hanya lewat memercikkan air genangan kotor ke arah gaun sutranya.
"Hei! Hati-hati bawa mobil! Papaku akan membeli mobilmu dan membakarnya!" teriak Bianca marah pada sebuah mobil yang lewat.
Hanya suara klakson keras yang membalas teriakan arogan anak kecil tersebut.
Di saat Bianca mulai merasakan panasnya matahari dan perihnya lapar, nasib ibunya di penjara bawah tanah jauh lebih mengerikan.
Di ruang bawah tanah rahasia milik Wegan Group, Siska baru saja terbangun dari pingsannya.
Byur!
Seember air es yang dicampur dengan garam kasar disiramkan tepat ke wajah dan tubuh wanita itu.
"Aaakh! Perih! Luka di tanganku sangat perih!" jerit Siska berguling di lantai penjara yang dingin.
Asisten Budi berdiri di depannya dengan wajah datar sambil memegang sebuah tablet komputer.
"Tidur yang nyenyak Nyonya Siska? Tuan Leon mengirimkan hadiah selamat pagi untukmu," ucap Asisten Budi dengan nada mengejek.
Asisten Budi menekan layar tabletnya dan menunjukkan sebuah rekaman video pada Siska.
Video itu berasal dari kamera pengawas di depan gerbang utama kediaman Wegan.
Dalam video itu terlihat jelas bagaimana Bianca diseret paksa dan dilempar ke jalanan seperti anjing liar.
"Tidak! Bianca anakku! Apa yang kalian lakukan padanya?!" jerit Siska menangis histeris melihat anak kandungnya diusir ke jalan.
Siska mencoba meraih tablet itu tapi tangannya yang patah terasa sangat ngilu hingga dia kembali tersungkur.
"Anakmu sekarang resmi menjadi gembel jalanan yang tidak punya apa-apa, persis seperti posisinya yang seharusnya," jelas Asisten Budi menarik tabletnya kembali.
"Tolong bawa anakku masuk ke dalam lagi! Dia tidak bisa hidup di jalanan! Dia akan kelaparan dan mati!" mohon Siska bersujud di kaki Asisten Budi.
Asisten Budi langsung menendang bahu wanita itu hingga terjengkang.
"Lalu bagaimana dengan Nona Muda Luna yang kau paksa kelaparan di jalanan selama enam tahun?!" bentak Asisten Budi mewakili amarah bosnya.
"Ini baru permulaan dari penderitaan keluarga palsumu, Siska. Nikmati saja tontonan anakmu yang kelaparan dari balik jeruji besi ini," lanjut pria itu berbalik pergi.
Siska meraung-raung di dalam sel penjara yang gelap itu menyesali seluruh perbuatannya enam tahun lalu.
Keserakahannya pada uang sepuluh juta dari Suster Rini telah menghancurkan masa depannya dan masa depan anak kandungnya sendiri.
Dan berbicara tentang Suster Rini, pelarian perawat korup itu tidak bertahan lama.
Siang itu juga di markas intelijen Wegan Group, pintu ruangan terbuka dengan kasar.
Dua orang anggota intelijen menyeret seorang wanita paruh baya berpakaian perawat yang menangis histeris.
"Tuan Budi, kami menangkap tikus ini sedang mencoba kabur ke luar kota di stasiun kereta api," lapor anggota intelijen itu melempar wanita itu ke lantai.
Suster Rini gemetar ketakutan melihat belasan pria berwajah seram menatapnya dengan tajam.
"Kalian siapa?! Kenapa kalian menculikku di siang bolong?!" teriak Suster Rini mencoba melawan.
Asisten Budi berjalan santai menghampiri perawat itu sambil memutar sebilah pisau kecil di tangannya.
"Selamat siang Suster Rini, Tuan Leon Wegan sudah sangat tidak sabar ingin mengobrol denganmu hari ini," ucap Asisten Budi tersenyum ramah yang mematikan.
Mendengar nama Leon Wegan disebut, wajah Suster Rini seketika pucat pasi seperti melihat hantu.
Rahasia besar yang dia sembunyikan selama enam tahun akhirnya terbongkar juga hari ini.
Kematian seolah sudah melambaikan tangan tepat di depan wajah perawat yang gila harta tersebut.
Kini tinggal menunggu waktu sampai mulut Suster Rini terbuka dan menyebutkan satu nama besar yang menjadi dalang di balik semua kekacauan ini.
baru mulai baca
Cerita nya bagus banget