Tanda tangani ini. Ingat, kita menikah hanya di atas kertas. Jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu!"
Demi melunasi biaya pengobatan ibunya yang kritis, Naura Ayu terpaksa menjual kebebasannya. Dia setuju menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO tampan yang terkenal dingin, kejam, dan tidak tersentuh wanita.
Bagi Adrian, Naura hanyalah 'istri pajangan' demi memuaskan tuntutan sang kakek agar posisinya sebagai pewaris tahta perusahaan aman.Awalnya, semua berjalan sesuai kesepakatan. Mereka hidup dalam dinding pembatas yang dingin. Namun, pesona Naura yang mandiri, tegar, dan tidak silau akan hartanya perlahan mulai mengusik pertahanan hati Adrian.
Saat kontrak hampir berakhir dan Naura bersiap untuk pergi, Adrian justru mengunci pintu rapat-rapat. Tatapan dingin pria itu berubah menjadi kilat obsesi yang membara."Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kontrak bisa berakhir, tapi kamu... selamanya milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Clarissa
Suasana ruang rapat utama Mahendra Group masih dipenuhi ketegangan setelah Adrian mengembalikan bingkisan Clarissa di hadapan seluruh dewan direksi. Kotak berbalut perak satin itu tergeletak di tengah meja kaca, sementara album foto masa lalu yang sempat menjadi kebanggaan Clarissa kini justru menjadi saksi penghinaan yang harus ditelannya sendiri.
Clarissa mempertahankan senyum tipis di wajahnya, meskipun jemarinya mencengkeram ujung gaun merah yang dikenakannya. Selama bertahun-tahun, dia terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya. Dia pernah menjadi wanita yang berdiri di samping Adrian ketika pria itu masih menempuh pendidikan di London, mengenal kebiasaan-kebiasaan kecilnya, bahkan mengetahui hal-hal yang tidak pernah diceritakan Adrian kepada orang lain. Baginya, kenangan itu adalah keunggulan yang tidak mungkin dimiliki wanita mana pun.
Namun, hari ini dia baru menyadari satu hal yang sangat mengusik harga dirinya. Adrian tidak lagi memperlakukannya sebagai seorang yang istimewa.
Pria itu bahkan tidak bersedia membuka album foto yang dikirimkannya.
"Sepertinya kita sudah cukup membuang waktu untuk persoalan pribadi yang tidak ada hubungannya dengan investasi Bali," ujar Adrian sembari menutup map laporan keuangan di hadapannya. Tatapannya beralih kepada direktur keuangan yang sejak tadi berusaha menghindari ketegangan di antara mereka. "Pak Hendra, silakan lanjutkan presentasi. Saya ingin mendengar penjelasan mengenai perubahan anggaran pembangunan resor sebelum rapat ini berakhir."
Pak Hendra segera mengangguk dan kembali menyalakan layar presentasi. Beberapa direktur lain ikut mengalihkan perhatian mereka ke layar, meskipun sebagian masih sesekali melirik Clarissa.
Bagi mereka, kejadian barusan bukan sekadar perselisihan antara seorang pria dan mantan kekasihnya. Adrian Mahendra baru saja menunjukkan bahwa tidak seorang pun boleh membawa persoalan pribadi ke dalam perusahaan, terlebih jika tindakan tersebut melibatkan istrinya dan dilakukan dengan sengaja di tengah kerja sama bisnis.
Clarissa memahami pesan itu. Akan tetapi, dia bukan tipe wanita yang menerima kekalahan begitu saja.
"Sebentar, Adrian."
Suaranya terdengar lembut ketika dia menyela presentasi. Nada bicaranya bahkan cukup tenang untuk membuat orang-orang yang sempat kembali berkonsentrasi mengangkat kepala.
Adrian menoleh dengan ekspresi dingin. "Ada sesuatu yang masih ingin Anda sampaikan, Nona Alexander?"
Clarissa melirik kotak di hadapannya, lalu kembali menatap pria itu. "Saya mengakui bahwa mengirimkan hadiah tersebut ke rumah Anda merupakan tindakan yang kurang tepat. Saya hanya bermaksud memberikan kenang-kenangan lama karena kita akan bekerja sama kembali setelah sekian lama. Saya tidak menyangka istri Anda akan menganggapnya sebagai penghinaan."
Dia mengucapkan kalimat terakhir dengan hati-hati, seolah-olah Naura adalah pihak yang terlalu sensitif dan dirinya hanyalah korban kesalahpahaman.
Dimas yang berdiri di dekat pintu langsung mengerutkan kening. Dia sudah cukup lama bekerja bersama Adrian untuk mengenali permainan kata-kata semacam itu. Clarissa sedang berusaha menyelamatkan wajahnya di depan para direktur sekaligus menyisipkan keraguan mengenai sikap Naura.
Namun, Adrian justru tersenyum tipis. Senyum itu tidak mengandung kehangatan sedikit pun.
"Kalau memang hanya kenang-kenangan, Anda tentu tidak keberatan jika saya meminta tim hukum memeriksa alasan pengiriman hadiah pribadi kepada istri saya, termasuk pesan yang Anda tuliskan di dalamnya."
Wajah Clarissa seketika menegang.
Adrian melanjutkan sebelum wanita itu sempat menjawab, "Anda datang ke sini sebagai calon mitra investasi, bukan sebagai mantan kekasih saya. Saya menghormati kapasitas profesional Anda selama Anda melakukan hal yang sama. Akan tetapi, jika Anda menggunakan hubungan bisnis untuk mendekati keluarga saya dengan maksud yang tidak berkaitan dengan pekerjaan, saya berhak mempertanyakan kelayakan kerja sama ini."
"Anda mengancam saya karena sebuah hadiah?" Clarissa berusaha mempertahankan ketenangannya.
"Saya sedang menjelaskan batasan."
Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi, kemudian memberikan isyarat kepada Dimas untuk mengambil kotak tersebut dari meja.
"Silakan bawa kembali barang ini. Saya tidak ingin benda pribadi seperti ini berada di ruang rapat perusahaan."
Dimas segera melangkah maju. Tanpa banyak bicara, dia mengangkat kotak itu dan membawanya keluar. Sebelum pintu tertutup, Clarissa sempat melihat dua orang staf yang berdiri di koridor memperhatikan kejadian tersebut dengan rasa ingin tahu yang sulit disembunyikan.
Rahangnya mengeras. Penghinaan hari ini tidak akan mudah dilupakannya.
---
Setelah para direktur meninggalkan ruangan, Clarissa sengaja memperlambat langkahnya. Dia berharap Adrian akan memanggilnya atau setidaknya memberikan kesempatan untuk berbicara secara pribadi. Bagaimanapun, mereka pernah berbagi banyak hal sebelum hubungan itu berakhir. Dia masih sulit menerima kenyataan bahwa pria yang dahulu bisa diajak berbicara selama berjam-jam kini memperlakukannya seperti orang asing.
Namun, Adrian bahkan tidak menoleh ketika Clarissa berdiri di dekat pintu.
"Pak Dimas, jadwalkan pertemuan dengan tim legal pukul dua. Saya ingin semua ketentuan kerja sama dengan Alexander International ditinjau kembali, terutama mengenai akses informasi dan keterlibatan pihak eksternal dalam proyek Bali."
"Baik, Pak."
Clarissa menghentikan langkahnya.
"Adrian, saya rasa kita tidak perlu membawa masalah ini terlalu jauh."
Adrian akhirnya menoleh. "Justru karena saya ingin kerja sama ini berjalan jauh, saya tidak akan membiarkan persoalan pribadi mengganggu perusahaan."
"Saya tidak pernah berniat merugikan Mahendra Group."
"Kalau begitu, Anda tidak akan keberatan mengikuti prosedur yang sama dengan mitra lainnya."
Kalimat itu membuat Clarissa kehilangan jawaban untuk sesaat.
Adrian mengambil ponselnya, memeriksa pesan yang baru masuk, lalu ekspresinya sedikit berubah. Pesan tersebut berasal dari Naura.
Sudah selesai rapatnya? Jangan lupa makan siang. Aku tidak mau mendengar alasan bahwa kamu terlalu sibuk sampai lupa makan lagi.
Senyum kecil muncul di sudut bibir Adrian tanpa dia sadari. Perubahan ekspresi yang begitu singkat itu tidak luput dari perhatian Clarissa. Dia mengenal Adrian cukup baik untuk mengetahui bahwa pria itu jarang tersenyum ketika membaca pesan pekerjaan. Namun, sekarang hanya dengan melihat layar ponsel, wajah dinginnya bisa melunak.
"Naura?" tanya Clarissa, berusaha terdengar biasa.
Adrian mengunci layar ponselnya. "Itu bukan urusan Anda."
"Tentu saja." Clarissa mengangguk pelan, kemudian merapikan tasnya. "Saya hanya ingin mengatakan bahwa saya berharap Anda bahagia dengan pilihan Anda."
"Terima kasih."
Jawaban singkat itu terasa lebih menyakitkan daripada kemarahan.
Clarissa meninggalkan ruang rapat dengan langkah terukur. Dia tidak ingin seorang pun melihat bahwa pertahanannya mulai retak. Begitu memasuki lift khusus tamu, dia mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang yang namanya tersimpan tanpa identitas lengkap.
Panggilan tersambung setelah beberapa kali berdering.
"Rencananya gagal?" suara seorang pria terdengar dari seberang.
Clarissa menatap pantulan wajahnya di dinding lift yang mengilap. "Adrian sudah mengetahui maksudku. Dia bahkan mempermalukanku di depan seluruh direksi."
"Kalau begitu, berhentilah mengusik istrinya."
Mata Clarissa menyipit. "Kau menelepon hanya untuk menyuruhku mundur?"
"Aku menelepon karena kau terlalu sibuk mengejar seorang pria sampai lupa alasan sebenarnya kita datang ke Jakarta."
Lift berhenti di lantai dasar. Clarissa tidak segera keluar. Dia menunggu sampai beberapa pengunjung meninggalkan area lobi sebelum kembali berbicara dengan suara lebih rendah.
"Aku tidak lupa. Alexander International membutuhkan akses ke proyek Bali, dan Adrian adalah orang yang memegang keputusan akhir. Tetapi selama Naura berada di sisinya, setiap langkah kita akan selalu dicurigai."
"Jadi, jangan menyerang Naura secara langsung."
Clarissa terdiam.
Pria di seberang sana melanjutkan, "Cari tahu siapa yang menentang proyek Bali dari dalam Mahendra Group. Kalau memang ada masalah di perusahaan itu, kita tidak perlu menciptakannya. Cukup pastikan kita mengetahui masalah tersebut sebelum Adrian menyadarinya."
Panggilan terputus.
Clarissa menurunkan ponselnya perlahan. Kekesalan masih memenuhi dadanya, tetapi di balik rasa malu itu, pikirannya mulai bergerak ke arah lain.
Adrian boleh saja menutup pintu masa lalu mereka. Dia bahkan boleh menolak setiap pendekatan pribadi yang dilakukannya. Namun, Clarissa tidak harus memenangkan hati Adrian untuk mendapatkan sesuatu dari Mahendra Group.
Ada urusan bisnis yang jauh lebih besar daripada hubungan mereka.
Dan jika Naura menjadi penghalang, Clarissa harus mengetahui seberapa kuat sebenarnya kedudukan wanita itu di dalam keluarga Mahendra.
---
di mansion, Naura sedang duduk di ruang keluarga bersama ibunya ketika sebuah pesan dari Dimas masuk ke ponselnya.
Dimas mengabarkan bahwa bingkisan tersebut sudah dikembalikan kepada Clarissa dan Adrian telah menangani persoalan itu secara langsung. Tidak ada perdebatan panjang, tidak ada pertengkaran, dan tidak ada perubahan pada jadwal rapat perusahaan.
Naura menghela napas lega setelah membaca pesan itu.
Ibunya yang duduk di kursi roda memperhatikan perubahan ekspresi putrinya. "Ada masalah dengan suamimu?"
Naura meletakkan ponselnya di atas meja kecil, kemudian menggeser duduknya agar lebih dekat dengan sang ibu.
"Bukan masalah dengan Adrian, Bu. Ada seseorang dari masa lalunya yang sepertinya belum bisa menerima bahwa sekarang dia sudah menikah."
Ibunya terdiam sejenak. "Kamu cemburu?"
Pertanyaan itu membuat Naura tersenyum tipis, meskipun dia tidak berusaha menyembunyikan kejujurannya.
"Tentu saja aku merasa tidak nyaman melihat foto-foto mereka. Aku bukan batu yang tidak punya perasaan." Naura menunduk, memainkan ujung lengan bajunya. "Tapi aku tidak mau menghukum Adrian untuk sesuatu yang terjadi sebelum kami bersama. Yang ingin kulihat adalah bagaimana dia bersikap sekarang."
Ibunya mengangguk perlahan. "Itu yang paling penting, Nak. Kamu tidak bisa mengubah masa lalu seseorang. Kamu hanya bisa melihat apakah dia bersedia membangun masa depan bersamamu."
Kata-kata itu membuat Naura teringat percakapan mereka semalam. Adrian memang bukan pria yang mudah menunjukkan perasaan. Bahkan setelah menikah, ada banyak hal tentang suaminya yang belum dia ketahui. Akan tetapi, untuk pertama kalinya, Naura merasa bahwa dia tidak harus memecahkan seluruh teka-teki tentang Adrian seorang diri.
Mereka bisa membicarakannya bersama.
"Aku hanya tidak ingin pernikahan ini terus-menerus diuji oleh orang lain," gumam Naura.
Ibunya meraih tangan putrinya. "Kalau kamu dan Adrian memiliki tujuan yang sama, jangan biarkan orang lain menentukan bagaimana kalian menjalani pernikahan itu."
Naura menggenggam tangan ibunya dengan lembut.
"Aku akan berusaha, Bu."
Tidak lama kemudian, suara mobil terdengar dari halaman depan. Naura menoleh ke arah jendela dan mendapati sebuah kendaraan yang biasa digunakan staf keamanan memasuki area mansion. Namun, bukan Adrian yang turun dari mobil itu, melainkan seorang kurir yang membawa amplop cokelat berukuran sedang.
Bik Sumi segera menyambutnya di pintu depan. Setelah memeriksa identitas pengirim, dia membawa amplop tersebut ke ruang keluarga.
"Maaf, Nyonya. Ini dikirim atas nama kantor pusat Mahendra Group. Kurirnya mengatakan bahwa amplop ini harus diterima langsung oleh Nyonya Naura."
Naura menerima amplop itu dengan dahi berkerut. Dia tidak mengenali nama pengirim yang tercantum di bagian depan. Tidak ada kartu ucapan, tidak ada pita mewah, dan tidak ada aroma parfum yang sengaja ditinggalkan seperti bingkisan Clarissa.
Hanya ada tulisan singkat di sudut kanan bawah.
Khusus untuk Nyonya Naura Mahendra. Bersifat pribadi.
Naura membuka amplop tersebut dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat beberapa lembar cetakan percakapan surel antara pihak Alexander International dan seseorang dari bagian pengembangan proyek Mahendra Group. Sebagian isi percakapan membahas perubahan angka proyeksi keuntungan proyek Bali, sedangkan bagian lainnya menyinggung pertemuan tertutup yang tidak tercatat dalam jadwal resmi perusahaan.
Naura membaca lembar pertama, lalu memeriksa lembar berikutnya. Semakin jauh dia membaca, semakin serius ekspresinya.
Dia tidak cukup memahami seluruh istilah teknis dalam percakapan itu untuk menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, ada satu hal yang jelas: seseorang di dalam perusahaan Adrian berkomunikasi dengan pihak luar mengenai informasi yang seharusnya belum dibagikan.
Naura mengangkat pandangan kepada Bik Sumi.
"Siapa yang mengantarkan amplop ini?"
"Kurirnya sudah pergi, Nyonya. Dia tidak menitipkan pesan lain."
Naura mengangguk. Dia tidak ingin mengambil kesimpulan terburu-buru, terlebih setelah kejadian pagi ini. Bisa saja isi amplop tersebut merupakan informasi yang tidak lengkap atau bahkan sengaja disusun untuk menyesatkan.
Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Adrian. Panggilan tersambung beberapa saat kemudian.
"Sayang?" Suara Adrian terdengar sedikit lelah, tetapi langsung berubah ketika mendengar nada serius dalam suara Naura. "Ada apa?"
"Aku menerima sesuatu dari kantor pusatmu. Sepertinya ada informasi mengenai proyek Bali yang perlu kamu periksa."
"Informasi seperti apa?"
Naura memandang lembaran di tangannya sebelum menjawab. "Ada cetakan percakapan antara Alexander International dan seseorang dari tim pengembangan proyekmu. Aku belum tahu apakah isinya benar, tetapi ada pembahasan mengenai angka keuntungan dan pertemuan yang tidak tercantum dalam jadwal resmi."
Keheningan menyelimuti panggilan selama beberapa detik.
"Jangan berikan salinannya kepada siapa pun dulu," kata Adrian akhirnya. Nada suaranya berubah tegas, tetapi bukan karena dia mencurigai Naura. "Aku akan mengirim Dimas ke mansion. Minta dia membawa semuanya langsung ke tim audit internal."
"Baik. Aku tidak akan menyentuhnya lagi."
"Naura."
"Hm?"
"Terima kasih sudah langsung memberitahuku."
Senyum kecil muncul di wajah Naura. "Kamu tidak perlu berterima kasih. Aku tahu ini penting untuk perusahaanmu."
"Perusahaan kita juga," koreksi Adrian.
Naura terdiam sesaat. Meskipun kalimat itu diucapkan dengan nada sederhana, ada sesuatu dalam dirinya yang menghangat saat mendengarnya.
"Kalau begitu, selesaikan pekerjaanmu baik-baik. Aku menunggu kamu pulang."
"Aku akan pulang lebih awal jika memungkinkan."
Panggilan berakhir setelah mereka bertukar beberapa kalimat singkat. Naura meletakkan ponselnya, lalu kembali menatap amplop di atas meja.
Beberapa menit sebelumnya, dia mengira persoalan Clarissa hanyalah usaha seorang mantan kekasih untuk mengganggu rumah tangganya. Sekarang, dia mulai menyadari bahwa kedatangan wanita itu mungkin bertepatan dengan sesuatu yang jauh lebih rumit di dalam Mahendra Group.
Namun, dia belum mengetahui apakah keduanya benar-benar saling berkaitan.
---
Adrian menerima amplop yang sama melalui Dimas di ruang kerjanya.
Setelah membaca isinya, dia tidak langsung memberikan komentar. Dia meminta kepala audit internal, Ratna Prameswari, untuk datang dan memeriksa keaslian cetakan percakapan tersebut. Ratna merupakan salah satu eksekutif senior yang telah bekerja di Mahendra Group selama hampir dua belas tahun. Adrian mempercayai kemampuannya, tetapi tetap meminta agar pemeriksaan dilakukan secara independen.
"Saya ingin sumber percakapan ini diketahui, termasuk apakah angka yang disebutkan benar-benar berasal dari data internal kita," ujar Adrian sambil menyerahkan berkas kepada Ratna. "Jangan menghubungi pihak Alexander International sebelum kita memiliki hasil pemeriksaan awal."
Ratna menerima berkas itu dengan ekspresi serius. "Saya akan memeriksanya secara tertutup, Pak."
Setelah Ratna keluar, Adrian memanggil Dimas untuk membahas jadwal pertemuan dengan pihak Alexander International.
"Saya ingin semua akses mereka ke data proyek Bali ditinjau ulang. Jangan mencabut akses yang memang dibutuhkan untuk pekerjaan, tetapi pastikan tidak ada informasi tambahan yang bisa dibuka tanpa persetujuan."
"Baik, Pak. Apakah Bapak menduga ada kebocoran informasi?"
"Saya belum menyimpulkan apa pun." Adrian menatap gedung-gedung di luar jendela ruang kerjanya. "Tetapi saya tidak akan menunggu sampai kerugian terjadi hanya karena kita takut menyinggung mitra bisnis."
Dimas mengangguk, lalu membuka catatan lain di tabletnya.
"Ada satu hal lagi, Pak. Pihak Alexander International mengajukan perubahan komposisi tim negosiasi untuk pertemuan berikutnya. Mereka meminta agar Clarissa tetap menjadi penghubung utama dengan Bapak."
Adrian menoleh. "Siapa yang mengajukan permintaan itu?"
"Perwakilan mereka di Jakarta. Alasannya, Nona Clarissa sudah memahami sejarah kerja sama kedua perusahaan."
Adrian mengembuskan napas perlahan. Kini dia memahami mengapa Clarissa begitu percaya diri datang ke ruang rapat tadi. Wanita itu bukan hanya ingin mengusik Naura. Dia juga berusaha memastikan dirinya tetap berada dalam posisi yang memungkinkannya berkomunikasi langsung dengan Adrian.
"Balas bahwa urusan teknis akan ditangani oleh tim proyek masing-masing. Untuk negosiasi strategis, saya akan menentukan sendiri siapa yang perlu hadir."
"Baik, Pak." Dimas hendak meninggalkan ruangan ketika Adrian kembali memanggilnya.
"satu lagi. Jangan biarkan persoalan ini sampai kepada Naura melalui orang lain dalam bentuk rumor. Jika ada perkembangan yang memang perlu dia ketahui, saya sendiri yang akan menjelaskannya."
Dimas mengangguk. "Saya mengerti, Pak."
Setelah asistennya pergi, Adrian kembali duduk di kursinya. Dia mengambil ponsel dan membuka foto Naura yang dijadikan latar layar. Istrinya mungkin belum memahami seluruh persoalan yang sedang berkembang, tetapi Adrian tahu bahwa Naura tidak akan memilih bersembunyi hanya karena situasi menjadi rumit. Justru itulah yang membuatnya semakin ingin menjaga wanita itu.
Bukan dengan mengurungnya di mansion atau menyembunyikan setiap masalah, melainkan dengan memastikan bahwa siapa pun yang mencoba menyeret Naura ke dalam permainan bisnis mereka harus berhadapan dengannya terlebih dulu.
Adrian baru saja hendak kembali bekerja ketika sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan. Pesan itu hanya terdiri atas satu kalimat.
Anda sebaiknya memeriksa siapa yang pertama kali memperkenalkan Alexander International kepada Mahendra Group.
Adrian membaca pesan tersebut dua kali. Sebelum dia sempat meminta Dimas melacak nomor pengirim, sebuah pesan kedua muncul.
Orang yang Anda percayai selama ini mungkin bukan orang yang Anda kira.
Tatapan Adrian berubah dingin. Dia tidak tahu apakah pesan itu berasal dari seorang yang benar-benar ingin membantunya atau dari pihak yang sengaja mengalihkan perhatiannya. Namun, satu hal membuatnya sulit mengabaikan peringatan tersebut.
Orang yang pertama kali memperkenalkan Alexander International kepada Mahendra Group bukan Clarissa. Orang itu adalah salah satu anggota keluarga Mahendra sendiri. nama tersebut tercantum dalam daftar undangan rapat keluarga yang akan berlangsung dua hari lagi.